
Satu bulan berlalu begitu cepat.
Dilara memandang keluar melalui jendela kecil kamarnya. Meski yang tampak hanyalah bangunan pencakar langit, ia justru menikmati itu.
"Tinggi, menjulang namun sepi di titik ini. Abang, semoga kamu baik saja. Maaf aku belum siap menampakkan muka sejak hari itu. Rasanya sangat sakit," gumam Dila dengan wajah sendu tercetak jelas.
Drrtt. Notif pesan masuk.
"Oh Mba Winda sudah nunggu, hampir lupa." Dila meraih tas, jaket serta beberapa buku. Ia hari ini akan ke perpustakaan mengembalikan buku yang dipinjam sejak satu bulan lalu. Sudah sangat terlambat dari jadwal pengembaliannya, mungkin ia akan dikenakan sanksi atau denda kali ini.
Sebelum keluar kamar, Dila menyempatkan berkirim pesan pada Mahira.
"Sayangku, titip pesan untuk Ibu ya. Do'a kan aku juga." Dilara menulis dua pesan untuk sahabatnya di Surabaya.
"Ibu, berkat metode AVT aku sudah banyak kemajuan dalam melafalkan kata. Semoga bisa berbicara lebih baik, mendekati orang normal sembari mengumpulkan keberanian untuk pencangkokan koklea. Do'a kan hasil pemeriksaan hari ini baik ya, Bu. Dila sayang Ibu. Kalau Abang sudah luang, Dila ingin pulang, kangen Ibu."
Ketika tangannya meraih handle pintu, gadis yang mengenakan gamis lilac tua dengan hijab polos senada itupun menarik nafas panjang.
Sejak hari itu, ini adalah kali pertama ia akan melintasi banyak ruang untuk mencapai pintu Unit.
"Semoga aku bisa melewati ini. Bismillah."
Cekliikk. Dila sangat pelan membuka dan menutup pintu kamarnya.
"Non," tegur Bibi dari ruang cuci.
"Astaghfirullah, Bi," Dila terkejut, mata bulat itu sukses membola. Ia memegang dadanya seraya menepuk pelan berharap detakan jantungnya kembali normal.
"Kaget ya. Maaf. Mau kemana?" bisik Bi Inah masih dengan wajah tersenyum melihat majikan kecilnya terkejut.
Dilara memperlihatkan tulisan di catatan kecil miliknya pada Bibi.
"Oh, hati-hati."
Gadis ayu itu mengangguk pelan, meraih tangan wanita paruh baya dihadapannya lalu melangkah menuju pintu keluar.
Saat melintasi ruang kerja Ezra. Hati Dilara was-was, takut pria itu ada di dalam sana dan mengetahui keberadaan dirinya.
"Ah lega," gumamnya kala berhasil melintasi ruangan itu dengan mulus.
"Dila."
Pasca pemulihan beberapa minggu lalu, Ezra memilih bekerja dari rumah. Pagi ini saat menuruni tangga hendak ke ruang kerja, ia tak sengaja melihat Dila melintas. Membawa jaket dan ransel, berpakaian rapi seperti akan pergi. Lelaki itupun mempercepat langkah agar dapat menyusulnya.
Degh.
Dilara mengabaikan, ia masih berpura tak mendengar. Tangan kanannya meraih handle pintu agar ia dapat segera meninggalkan apart.
__ADS_1
Brakk.
Pintu yang telah sedikit terbuka, di dorong kuat oleh tangan kekar seorang pria.
"Mau kemana?" Tanya Ezra, berdiri menghalangi.
Dila masih berdiam diri di tempatnya. Tak berniat menyahuti pertanyaan pria ini.
Jemari tuan muda El Qavi lalu meraih wajah mungil yang masih menunduk seakan enggan menatap dirinya.
Mau tak mau, kedua pasang mata itu pun bersitatap. Dila memalingkan wajah, menunjukkan tulisan yang sama pada Ezra, juga saat di tanya oleh Bibi.
"Dengan siapa? Winda?" tanya Ezra lembut.
Dila hanya mengangguk samar, meraih tangan Ezra untuk salim lalu mencoba memutar kembali handle pintu agar terbuka.
Ezra pun menggeser posisinya berdiri agar pintu apart membuka lebih lebar.
"Jangan lama-lama. Kita perlu bicara." Ezra menahan bahu gadis itu. Meraih pulpen yang tersemat diatas catatan Dila, dan menuliskan niatannya.
Gadis itu hanya diam membacanya lalu mengangguk pelan dan melesat pergi, menghilang di balik pintu.
Dilara berlari kecil menuju lift yang akan membawanya turun. Ia terburu menekan tombol pada dinding panel.
Ting. Tak lama, pintu besi itu terbuka, dan ia masuk.
"Aduh, kenapa bisa sih, Abang di sana. Tenanglah jantungku," Dila menepuk pelan dadanya.
Ternyata tak melihat pria itu dalam waktu yang lama justru membuat debaran jantung Nyonya muda semakin sulit dikendalikan saat berada di dekatnya.
Sementara di apart.
Ezra terpaku memandang daun pintu apart yang sejak tadi telah menutup.
Wangi apel segar yang lama tak tercium oleh inderanya sejenak menghipnotis pemilik raga tegap itu.
"Kamu pasti membenciku ya Dila, melihatku saja enggan," keluh Ezra.
"Salahku...."
Ia pun berbalik badan menuju ruang kerjanya. Berkutat sepanjang hari didalam dinding beton mengerjakan semua projek yang telah lama tak terjamah.
...***...
Rumah sakit.
Seharusnya satu pekan setelah ia mengenakan alat bantu dengar, Dila kembali ke Dokter THT untuk memeriksakan kondisinya.
__ADS_1
Kini, gadis itu telah duduk manis ditemani Winda didepan Poly bersama pasien lainnya.
"Non, keren. Banyak perubahan padahal baru sebulan lebih ya kursus itu," kagum Winda.
"Lumayan Mba, Dila cuma bisa bayar kelas untuk tiga sesi selama seminggu. Jadi banyak belajar dari modul dan lihat records aja ... setiap satu minggu sekali, kita di beri kesempatan bicara dalam forum. Meski online tapi semua anggota semangat belajar ... Dila kagum pada anak usia enam tahun. Kondisinya lumayan parah, tapi sudah dapat bicara kayak Dila gini, Maa sya Allah kan," Dilara antusias bercerita pada Winda.
Driver ojek online itupun memeluk sang Nona muda sebagai ungkapan rasa bahagianya.
"Pokoknya Winda happy banget, Non Dila kayak gini," ucapnya lagi.
"Nona Dilara," seru suster seraya memperlihatkan nama pasien pada papan white board.
Winda menyahuti panggilan suster lalu mengajak Nona nya itu bangkit masuk ke ruang tindakan.
Lima belas menit berlalu. Dokter memberikan kesimpulan.
"Selamat ya Nona, alatnya tidak menimbulkan alergi dan iritasi. Juga berfungsi dengan baik. Semangat menjalani aktivitas layaknya orang normal," ucap dokter mengulurkan tangan pada Dila.
"Terimakasih banyak, Dokter. Aku akan kembali kemari jika dana untuk operasi sudah siap," tegas Dila.
"Baik, Nona. Semoga semua lancar sesuai keinginan Anda," sahut sang dokter.
Kedua wanita itu keluar dari ruangan dengan wajah berseri. Dilara dengan rasa percaya diri yang semakin kuat, sedangkan Winda merasa beruntung bisa berkawan dengan orang baik seperti Dilara.
Mereka pun menuruni escalator menuju basement. Saat melewati depan ruang IGD, Dila terhuyung, untunglah Winda sigap menahan tubuhnya hingga tak terjatuh keras membentur lantai.
"Non," seru Winda panik melihat Nona mudanya lemas, pucat dan berkeringat dingin.
Ia pun segera meminta bantuan pada suster jaga tak jauh dari sana. Dilara lalu dinaikkan ke brangkar dan didorong masuk ke ruang IGD.
"Non kenapa? jangan sakit Non," pinta Winda lirih memohon. Memegangi tangan pucat pelanggan rasa sahabat itu.
Dilara merasakan kepalanya tiba-tiba sangat berat. Pandangannya berkunang-kunang hingga tanpa sadar ia terjatuh saat berjalan tadi.
Dokter jaga wanita, yang diminta oleh Winda masih memeriksa kondisi istri Ezra El Qavi. Tak lama, ia menulis sesuatu diatas kertas lalu menyerahkannya pada Winda yang setia menemani di sisi brangkar pasien.
"Kenapa dengan saya, Dokter?" tanya Dila.
"Banyak istirahat, jangan stress. Saya permisi," Dokter menepuk lengan Dila lembut kemudian menarik tirai dan meninggalkan bilik.
"Mba, aku kenapa?" tanya Dila berpaling wajah pada Winda yang masih membaca catatan yang diserahkan oleh dokter. Wanita itu terpaku di tempatnya, tak mendengar pertanyaan Dilara.
.
.
..._______________________...
__ADS_1