SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 137. KOMPENSASI


__ADS_3

"Jadi?"


"Seperti itu kenyataannya, Zayn." Emery melepaskan Shan yang merengek ingin bersama Ezra.


"Sudahlah, kalian saudara," ucap Dilara mengalungkan sebagian lengan kanannya pada lengan kiri Ezra, dia menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba pening di bahu tegap itu.


Al Zayn terdiam, sejenak ia berpikir berusaha merangkai puzzle kepingan ingatan yang perlahan memudar.


"Kenapa? pusing lagi?" tanya Ezra lembut, diangguki oleh Bunda Shan.


Sejujurnya dia pun sangksi atas sangkalan orang-orang sekitar Manaf dulu. Kecelakaan itu penyebab kebenciannya membumbung tinggi.


"Kecelakaan itu, kau kan yang sabotase?" tuduh Al Zayn kemudian.


"Jika aku sabotase, sudah ku singkirkan kamu sejak bayi, Zayn ... kau punya uang kan? kenapa tidak menyelidiki keluarga ayahmu, picik sekali, calon pewaris tahta ko bo-doh," cibir Ezra.


"Kau!"


Putra sulung Emery hanya tersenyum sinis, memang terkadang otak tak berfungsi ketika kebencian membuncah terhadap satu orang. Dalang sebenarnya pun menjadi tersamarkan dan dengan leluasa mengatur strategi.


"Alyssa, tanya padanya. Siapa yang mendampingi gadis itu saat akan operasi? apakah ada keluarga ayahmu datang? gak ada Zayn ... hanya aku dan Papa, menemani disaat kau tak sadarkan diri," ungkap Ezra lagi.


"Bukan salah kami, mobil kalian tergelincir ... kamu mendapat luka bakar, Alyssa harus menjalani operasi tulang belakang dan Mamaku, iya, Mamaku ikut meninggal ... aku, punya kesempatan bicara lagi dan menyebutnya dengan panggilan Mama, untuk terakhir kali. Bukan hanya kamu, yang hancur tapi kami juga terlebih Mita sama sekali tidak punya kesempatan."


"Bahkan hingga akhir hayatnya, wanita itu, tak jua memanggil namaku. Aku tak terlihat, bagai bayangan bahkan lebih mirip sebuah halte pemberhentian sesaat untuk disinggahi lalu di lupakan ... mungkin Mama mengandungku juga karena terpaksa," masih, nada kebencian bercampur penyesalan menyelimuti hati Ezra.


"Za, bukan begitu. Kamu buah cinta kami saat itu," ucap Emery.


"Lalu Mita? buah cinta kalian juga? tapi mengapa dia tega membuang Mita dan memilih kembali padanya, Pa?" cecar Ezra.


Emery diam, benar kata Inah. Dirinya terlalu baik hati pada wanita macam Fransiska hingga di manfaatkan berkali namun tak jua menyadari bahwa cinta yang dia miliki palsu.


Dilara makin mengeratkan pelukan di lengan prianya. Mengecup bahu lelaki itu bertubi berharap Ezra tegar mendapatkan suport darinya.


Devanagari, menyeka bulir bening di wajah ayu Mita. Memeluk gadis itu, terlihat sangat rapuh jua tatapan matanya kosong. Deva yakin Mita sangat merindukan kasih sayang seorang Ibu.


Ibunda kandung Dila mengusap pelan dan mengecup pucuk kepala putri bungsu Emery. Tangisan Mita kembali terdengar, kali ini lirih, sangat pilu dan menggores hati.


"Pulang lah Zayn. Fokus pada Alyssa ya, jangan cemari dirinya dengan kebencian yang sama. Lelah, karena semua ini tidaklah tepat ... bukan kamu yang dibuang, tapi kami."

__ADS_1


Ezra menarik lengannya dari dekapan Dila, ia bangkit hendak menuju kamar dan meminta sang istri agar memapahnya berjalan.


Shan mengerti bahwa daddynya sedang kesakitan, bocah gempal itu pun meraih tangan Ezra lalu menggenggam erat seakan menyalurkan kekuatan. Sementara di sisi kiri, Dila sudah mengalungkan lengan kanan Ezra pada bahunya, juga tangan kiri Dila melingkar dipinggang tubuh kekar itu.


"Good Boy...."


"Serah kamu mau gimana, Zayn. Aku lelah, ingin menikmati pijatan istriku...." ucap Ezra seraya melangkah tertatih.


Al Zayn mengusap wajah kasar.


"Dila masih hutang kerjasama denganku, Za. Kembalikan dia," ujarnya lagi saat pasangan itu hendak mencapai pintu kamar.


"Kompensasi? sebutkan saja berapa?" Ezra berbalik badan menghadap sumber suara.


"Aku tak menerima kompensasi, cuma ingin Dila." Zayn bersikukuh.


Saat Ezra hendak membalas perkataan Zayn, tiba-tiba datang Katrin dari pintu belakang homestay.


"Jika kau minta kompensasi pada Tuan Muda, bagaimana denganku?" sengit Katrin.


Nafas gadis itu terengah, bajunya kotor, wajah membiru di rahang kiri, pelipis pun berdarah. Dan yang paling menyeramkan, Katrin memegang pisau berlumur darah. Bau anyir seketika menguar ke penjuru ruangan.


Mita turun dari kursi tinggi di mini bar, mengurai pelukan Devanagari.


"Bawa Shan masuk, Sayang." Ezra mendorong pinggang Dila agar lebih dulu masuk ke dalam kamar dengan Shan. Rasanya dia harus menenangkan singa betina yang baru saja bangun.


"Katrin, letakkan itu. Kita bicara," bujuk Ezra.


Leon menghampiri perlahan dimana gadis itu teguh berdiri. Badan boleh mungil, namun tak di nyana keberanian juga kekuatan gadis ini mumpuni.


"Jangan coba mendekat, atau membujuk ku ... dia memperdaya Kakak agar bersedia melakukan sesuatu untuknya. Tujuan kakak untuk mendapatkan bayaran agar dapat melunasi hutang kami namun semua sia-sia ... dia di tipu dan mati di tangannya," cecar Katrin berapi-api. Sorot mata pembunuh memancar, membuat Leon mengurungkan niat terus maju.


"Jika bukan karena Rolex menyelamatkan aku disaat yang tepat, mungkin kini aku telah menjadi penjaja kenikmatan di sana," tangisan Katrin pecah, tangannya tetap mencengkram pisau berlumuran darah.


"Kau ba-ji-ngan!!!" Katrin melemparkan pisau tepat ke arah Zayn yang masih duduk disana.


Leon sekuat tenaga menendang kursi dimana Al Zayn duduk, berharap dada bidang lelaki itu tidak dihiasi tusukan belati.


Brakk. Kursi Zayn membentur meja kayu jati. "Awh!" pekiknya menahan sakit akibat benturan.

__ADS_1


Prannngggg. Suara pisau tergelincir.


Karena lemparan pisau tadi meleset, Katrin berniat mengajar Zayn dengan tangan kosong.


Leon hendak mencegah, namun dia kalah cepat dari Mita karena posisinya jatuh terduduk saat menendang kursi Zayn tadi.


"No, jangan!" Mita mencegah dengan menarik lengan Katrin lalu mendekap.


"Lepaskan aku!" sentak Katrin.


"Jangan kotori tanganmu. Biarkan Kakak yang mengurusnya. Dia bukan lawan sepadan untuk pejuang kehormatan seperti mu, sadar Katrin," Mita mengguncang tubuh ringkih itu, dia paham, Katrin menegarkan diri agar tetap terlihat kuat meski jiwanya hancur.


Kedua tubuh wanita itu pun luruh jatuh menyentuh lantai, saling memeluk dan menangis.


Satu tangisan atas kesedihan dan kebencian. Satu lagi raungan penyesalan sebab tidak dapat membalaskan dendam sang kakak.


"Zayn, pergilah. Kita bicara lain kali," usul Emery. Dia melihat pemuda itu sama kesakitan namun tak ada kubu yang membelanya.


"Ketemu di pengadilan ya Zayn, dengan Velma agar kalian dapat memadu kasih dibalik jeruji besi," imbuh Ezra dari depan pintu kamar.


"Velma, dia sudah berangkat ke neraka. Siapa suruh kabur dan apesnya, bertemu denganku ... jika kau ingin membawa kenangan manis dengannya, darah itu milik kekasih gilamu," Katrin bersuara, kali ini hanya sorot mata kosong menatap nanar pada pisau penuh darah tergeletak dilantai.


Glekkk.


Semua penghuni homestay terpana, meneguk saliva susah payah. Ngeri, hanya kata itu terlintas dalam benak.


"Dasar psiko," cibir Zayn, dia bangkit dari kursi. Berjalan tertatih layaknya Ezra, dibantu oleh seorang bodyguard dengan kondisi tak jauh berbeda.


"Lawan aku dengan pantas, Za."


"Next, kau tidak kebal hukum di Indonesia. Ingat itu Zayn...." senyum Ezra mengembang. Misi menarik dirinya agar datang ke indo berhasil, ia mendapatkan banyak bukti atas kejahatan keturunan pangeran itu di negara ini.


"Dam-n ... Fu-ckkk."


.


.


..._________________________...

__ADS_1


__ADS_2