
"Dila ... please, honey say something, how could you do this to me?" Ezra berusaha membujuk. Dia mulai kehilangan kata-kata.
"How? you asking me how?" Dila mulai tersulut emosi.
Putra sulung Emery menahan diri, sadar telah keliru berucap. Ia pun menarik nafas panjang menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Huft.
"Maaf. Boleh kan aku, mengajak Shan main?" pria berperawakan tegap itu mencoba mengalihkan suasana, mencari pelebur kekakuan dengan topik lain. Mungkin seiring waktu matahari bergulir nanti, hati istrinya yang panas akan segera mereda mengikuti alur cuaca, who knows, pikir Ezra.
"Iya, boleh."
Saat Ezra hendak bangkit masih mendekap Shan.
"A-Abang, maaf tentang nama i-itu, s-han...." ucap Dila terbata, sadar dirinya telah mengambil keputusan sepihak kala itu.
"Aku belajar menggunakan kedua telinga dengan baik untuk mendengar semua yang ingin kau sampaikan, Sayang ... nanti, setelah aku main dengan putraku."
Ezra mengerlingkan sebelah matanya saat mereka bersitatap. Dihadiahi perlakuan genit, Dila seketika menunduk malu.
"Shan, Bundamu masih saja menggemaskan jika malu-malu begini," ujarnya seraya bangkit.
Kakak sulung Ermita membawa putranya menuju bibir pantai, menurunkan sepasang kaki bagai lemper itu menyentuh air laut.
Bayi dalam gendongan Ezra menggeliat kedinginan, wajah lucunya sukses membuat sang ayah menguar tawa.
Keduanya asik melakukan berbagai aktivitas dipantai, Shan nampak nyaman dan enggan menjauh dari Ezra. Bahkan ketika air laut menerpa keduanya yang masih duduk di bibir pantai, membuat istana pasir, mereka tak bergeming.
"Sayang, bawa baju ganti untuk Shan, kan?" teriak Ezra dari tempatnya.
"Iya. Tapi Abang tidak," balas Dila tak kalah lantang.
Ezra tak mengindahkan lagi perkataan istrinya dari kejauhan. Ia asik dengan Shan bermain air hingga pakaian keduanya basah.
Putri almarhumah Ruhama takjub. Ternyata suaminya bisa selembut itu memperlakukan putranya.
"Terlihat kaku, namun ternyata dia cukup luwes. Abang, jangan buat aku bimbang," lirih Dila. Lambat laun ia pun menikmati suasana pagi menjelang siang itu.
"Sudah yuk, mulai panas. Shan udah agak menggigil," Dilara menghampiri keduanya yang masih asik bersenda gurau.
Meskipun bayi berusia enam bulan itu belum dapat bicara, namun Ezra seakan mengerti bahasa kalbu yang Shan utarakan untuknya, membuat putra sulung mereka itu kegirangan seakan baru saja menemukan seorang penterjemah selain ibunya.
__ADS_1
"Come on, Moms. Main sama kita," Ezra berniat menarik lengan Dila, namun wanita itu berhasil menghindar.
"Aku gak bawa baju ganti, juga kita sudah bukan mahram," ujar Dila seraya menjauh.
Degh.
"Bukan mahram? apakah Dila sudah selesai iddah?"
Ezra memandang kepergian wanita muda dambaan hati. Dila terus melangkah menuju salah satu outlet souvenir di dekat dermaga. Entah apa yang dia beli.
Deburan ombak yang terus menerpa tubuh ayah dan anak itu, tak lagi asik Ezra rasakan. Otaknya telah terkontaminasi dengan sebuah kalimat yang baru saja indera pendengarannya tangkap.
"Ayo sayang, kita udahan main airnya. Shan sudah kedinginan." Ezra mengangkat putranya dari pangkuan, lalu menggendong seraya mencium pemilik pipi tomat.
Pria yang berharap masih menjadi suami Dilara ini kembali menuju tikar dan tenda mereka. Menunggu ibu Shan yang tengah berjalan ke tempat mereka semula.
"Sudah bilas? kalau belum, biar aku. Abang gantilah, dengan ini," Dila menyerahkan satu stel pakaian ganti untuk suaminya.
"Untukku?"
"Iya, Abang bawa baju ganti atau tidak? jika tidak, masa mau tetap pakai itu? bisa sakit nanti. Gantilah di sana," ucap Dila sembari menunjuk ke arah toilet.
"Karena Abang...."
"Apa?" desak Ezra.
"Ayah Shan. Juga mantan suamiku," cicit Dila.
"Gak ada mantan, kamu tetap istriku. Kita menikah lagi ya, Sayang. Memperbaiki semuanya. Aku sudah membayar kafarah ... hmm, ganti baju dulu deh lalu kita bicara," ucap Ezra kemudian. Tangannya terulur meminta sepasang pakaian yang Dila beli untuknya.
Sementara putri Ruhama dan Shan menuju tempat pembilasan terbuka tak jauh dari tendanya. Ezra berlari ke toilet dekat dermaga.
Tak ingin melewatkan waktu special dengan kedua sosok pujaan, putra Emery bergegas kembali tepat saat Dila sedang menyeka air dari tubuh bayi gemuk mereka.
"Baby, say Hai ... Shan, ganti baju ya. Seru kan tadi main dengan Ayah?" Ezra berkesempatan mengabadikan moment mereka dengan kamera ponselnya.
Bayi tampan itu bersuara, mengoceh dengan bahasa yang hanya di mengerti olehnya dan Ezra. Karena kedua pria keturunan trah Qavi itu terkekeh entah sedang membicarakan apa.
"Honey, boleh gak, belajar pakaikan Shan baju? but, kamu yang lanjutin take ya," pintanya ragu.
"Hmm, boleh. Letakkan ponselnya di bawah, pause dahulu saja," balas Dila seraya menggeser posisi duduknya.
__ADS_1
Ibu muda itu menginstruksikan agar Ezra mengoleskan beberapa tahapan skincare untuk bayinya. Sang hot daddy, mendengarkan seksama dan mengikuti arahan Dilara hingga semua tuntas.
"My son, tampannya. Habis ini apa? makan ya? atau susu?" Ezra kembali mengajak bayinya bicara.
"Aku gak pakai susu formula untuk Shan. Asi ekslusif dan Mp-asi buatan sendiri. Kayaknya Shan ngantuk ... sini Nak, sama Bunda yuk," Bunda Shareef Shan meraih putranya dalam dekapan Ezra.
"Aku aja yang gendong sambil pegang botol Asi, gak boleh?" Ezra enggan melepaskan putranya.
"Abang bisa kasih dia Asi langsung? kalau bisa, boleh. Karena aku gak pumping," ketus Dila mematahkan argumentasi Ezra.
"Eh, Ok, Shan haus? sama Bunda dulu ya," Ezra menyerahkan perlahan tubuh putranya untuk Dila gendong.
"Gak boleh lihat," larang Dila saat Ezra mendekat.
"Iya Sayang, iya. Masih galak aja sih? kapan melunak Dila? kita butuh banyak bicara."
"Bicara saja, aku mendengarkan." Dilara mulai menyusui Shan. Dia merasakan tarikan kencang dari mulut putranya itu di dadanya, tanda ia haus.
"Kita mulai dari ucapanku. Aku, minta maaf karena kedangkalan ilmuku mengakibatkan semua ini. Kamu, sudah selesai iddah, Sayang?"
"Iya, sepekan lalu. Aku terpaksa keluar rumah, tak menjaga iddahku dengan baik, karena tuntutan hidup. Abang pasti tahu kan siapa Asyraf Hamid?" terang Dila, perlahan sembari menyusui Shan. Mereka duduk bersisian kini.
"Aku tahu. Keberadaan ku di sini berkat izinnya meski hanya dua hari, besok kita jalan ya ke wahana bermain. Meskipun menurutmu aku bukan lagi suami sah secara agama, namun status kita masih terikat secara hukum. Sayang," ungkap Ezra, berharap waktu 48 jam baginya dapat di maksimalkan.
"Syukurlah, meski aku meragu akan sikap baik yang berlebihan padaku. Bisakah Abang mencari tahu latar belakangnya? agar aku bisa menjaga jarak?" pinta Dila kemudian.
"Bisa, in sya Allah. Sayang, kamu sudah semakin jelas ketika berbicara ya? aku tahu, istriku gigih," ujar Ezra bangga, seraya melihat ke arah kanan dimana Dila duduk.
Huft. Dila menghela nafas.
"Maka, izinkan aku...."
"Untuk?" suara berat Ezra kembali melemah.
"Menepi, sejenak ... yah, boleh?" Dilara memandang sosok teduh disampingnya, yang seketika menunduk kala ia mengucapkan kalimat itu.
.
.
..._________________________...
__ADS_1