
PoV.
Mereka memanggilku Tuan Muda Abdeen. Usiaku 25 tahun, setelah kepergian mereka kini aku memegang tanggungjawab sebagai pucuk pimpinan perusahaan milik Papa, King Abdeen Property.
Tak pernah ada wanita yang bertahan lama di sisiku, jika bukan karena uang pastilah mereka mendekat sebab kekuasaan.
Termasuk wanita itu, mungkin hanya dia yang mempunyai motif lain, mendekatiku hanya sebagai selingan di kala bosan.
Selama kedua belah pihak meraih keuntungan, kepuasan juga kendali atas para penyembah itu. Aku memenuhi keinginan mereka.
Hingga suatu hari.
Aku melihatmu pertama kali saat mengunjungi tua bangka Haji Djarot yang berhutang sangat banyak padaku.
Saat itu, kamu memakai gamis Navy dengan hijab senada menuntun sepeda ungu menemui seorang wanita yang ku tahu bahwa dia Ibumu.
Beliau, Ibu yang baik untukmu terlihat dari cara mengasihi dan menyayangimu hingga sebutir debu pun, tak rela menyentuh pakaian anaknya.
Senyum itu, mata bulat yang mengerjap disertai rengekan manja saat meminta Ibu pulang. Juga saat kau hanya duduk terdiam. Entah mengapa bayangan itu enggan menghilang dari ingatan.
Dilara, ternyata itu namamu. Salahku, tak berani bertanya bahkan sekedar menyapa kala itu.
Andai, aku muncul di hadapanmu, akankah hatimu tetap berpaling padanya? mengapa, dia begitu mudah mendapatkan semua yang ingin ku raih tanpa bersusah payah.
Tak ku sangka, Ezra ternyata mengenal dan menjadikanmu sebagai Nyonya Muda El Qavi.
Jika, aku menampakkan diriku saat itu, apakah kamu menjauh dariku? atau bahkan takut padaku.
Entah bagaimana jalan kisah antara perjumpaan kalian, akan aku pastikan kali ini kamu yang datang padaku
Tunggulah Dila, aku memperbaiki diri agar pantas untuk berdiri di hadapanmu nanti.
"El Qavi, luka ini terlalu menganga...."
*
Pria muda yang terbaring di ranjang sebuah rumah sakit elite di luar negeri. Masih setia dengan ingatan lama yang menyergap nya.
Ada rasa tak suka ketika mendengar gadis yang ia suka sejak pertama melihatnya itu mengandung benih sang musuh.
Meski ia baru mengetahui keistimewaan yang Dilara miliki, tak terbersit sedikitpun rasa malu untuk memiliki gadisnya.
Bahkan ia telah bertekad menyusun sebuah team ahli agar wanitanya dapat mendengar kembali.
Se cinta itu pada sosok Dila, yang berhasil menariknya dari lembah nista yang bernama dendam. Semudah itu, dia memotivasi dirinya di saat orang-orang sekeliling telah bosan bahkan dirinya sendiri pun amat sangat pesimis dapat bangkit.
"Tuan. Ini laporan yang Anda minta. Juga rencana yang akan kita jalankan," lapor pria berjas hitam.
"Kapan kau masuk?" tanya tuan muda.
__ADS_1
"Sejak Anda tersenyum, entah membayangkan siapa. Ku rasa, hanya Nona yang mampu menoreh bahagia diwajah Anda," ia menanggapi pertanyaan bosnya.
"ehhem...."
Pria tampan meski banyak balutan perban di tubuhnya, membaca detil tulisan yang tertata rapi dalam map.
Wajah maskulin itu menampilkan gurat misterius sekaligus kepuasan. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk smirk menyebalkan.
"Lihat saja. Bagaimana kau akan terluka, lagi...."
"Kerjakan, perlahan, halus. Lenyapkan semua bukti," pintanya dengan sorot mata seorang pembunuh.
...***...
Dini hari, PIK Tower.
Ezra sangat lelah ketika ia membuka handle pintu unitnya. Harapan dapat bertemu Dila hancur sudah.
Lelaki tegap itu menuju kamar istrinya dengan langkah gontai. Mencoba melihat wanita mungil yang tengah mengandung calon anaknya sebelum ia beristirahat.
Pelan, tangannya menekan tuas pegangan pintu ke arah bawah. Berharap tak menimbulkan suara yang membuat sang empu kamar terjaga.
"Hai Dila," gumamnya saat ia berhasil membuka sedikit celah pintu.
Inginnya masuk, namun terlalu takut karena gadis itu peka terhadap gerakan asing di sekitarnya.
"Maaf, belum sempat bicara denganmu. Besok aku harus pergi. Jaga diri baik-baik ya."
"Den," tegur suara wanita tua dari arah belakang.
"Astaghfirullah," Ezra memekik karena terkejut.
"Lagi apa? masuk saja. Dia tidur pules ko itu. Gak akan bangun karena memang lagi doyan tidur," ucap Bibi.
"Beneran?"
"Iya, sana kalau mau cium," goda Bi Inah lagi.
"Ish, mesum terus."
"Loh, kan istrinya. Bebas mau ngapain juga, tuh buktinya langsung hamil padahal suka marah-marah. Cuek, akhirnya sekali jadi deh," sindir Bibi lagi.
Ezra tak mengindahkan lagi ocehan pengasuh kecilnya itu. Ia masuk ke kamar Dila, menutup pintunya pelan.
Tubuh tegap seorang El Qavi mendekat ke sisi ranjang. Menekuk kedua lutut untuk menyetarakan tingginya.
"Titip dia ya, Dila." Jemari kekar itu bergetar menggantung diudara, saat akan menyentuh tubuh istrinya. Sekian menit ia ragu.
Pemilik raga yang tengah tertidur tak merasakan apapun saat tangan pria yang selalu ia tunggu berlaku lembut padanya, mengusap beberapa kali bagian tubuh tempat bersemayam calon bayi mereka.
__ADS_1
C-up. Ezra mendaratkan ciuman sayang di kening Dilara.
"Sehat lah selalu, jangan stres. Aku menjaga kalian sebisaku. Aku pergi ya, doakan semua lancar agar kita segera bertemu lagi."
Ezra bangkit, menarik selimut yang menutup tak sempurna.
Lama dia memandang wajah ayu yang terlelap, sebelum mengabadikan dengan gawai miliknya yang hampir padam karena kehabisan daya.
Cinta. Dia masih enggan mengakui perasaannya dengan satu kata sakti bagi insan yang tengah dimabuk asmara.
Tuan muda hanya menyadari, ada perasaan nyaman ketika memikirkan dan melihatnya. Hatinya kerap menghangat.
Setelah kejadian malam itu. Kepingan ingatan perlahan kembali datang, membuatnya lebih empati pada sosok Dila. Ia tak menyangka bahwa gadis itu bersedia berkorban banyak untuknya.
Bahkan ketika Rolex memberi kabar bahwa Dila sakit setelahnya. Rasa bersalah telah melanggar janji meski itu adalah haknya juga menghantui benak Ezra.
...***...
Keesokan Pagi.
Putra Mahkota El Qavi telah rapi dengan membawa satu travel bag besar yang Rolex tarik keluar apart.
Dia menitipkan sebuah surat untuk istrinya. Menyesal tak dapat bicara banyak karena keterbatasan waktu yang ia punya.
"Bi, titip ya buat Dila. Ingat rencana kita. Ok?" sahut Ezra saat wanita paruh baya itu melepasnya keluar hunian.
"Iya, in sya Allah Bibi jaga, Den. Yang tenang biar cepat selesai. Lekas kembali ya," ujar Bi Inah melepas kepergian majikannya itu.
Berat rasanya, bukan hanya Ezra. Semua penghuni yang melihat kedua insan yang saling suka namun masih enggan bertemu sebab dihadang waktu itu seakan tak rela mereka dalam situasi demikian.
Apa boleh buat, hanya berusaha saling percaya modal yang mereka miliki saat ini.
Satu jam kemudian, waktu Duha.
Dilara keluar kamar karena sangat mual. Perasaanya seakan ia tengah menaiki sesuatu yang membawanya terbang. Kepalanya pening, badan lemah itu terhuyung hampir saja jatuh.
"Non!" teriak Bibi berusaha mengejar Dila di pintu toilet dari arah depan.
Grep. Tangan tua wanita itu menahan sekuat tenaga bobot tubuh majikannya.
"Kenapa?"
"Mual, kayak naik wahana di Dufan yang ditarik ke atas," ucap Dila menahan gejolak perutnya.
"Hmmm, Ayahnya baru naik pesawat itu. Nyetrum ya?" ujar Bibi memijat tengkuk Dila yang sedang berusaha mengeluarkan muntahan isi perutnya.
"Hah? pergi lagi?"
.
__ADS_1
.
...__________________________...