
"Lanjutkan, Za! AYO, jika kau berani?!" sengit Al Zayn pada Ezra dengan sorot mata penuh amarah.
"Kau yakin? karena mungkin aku akan leluasa membencimu setelah ini. Berjanjilah untuk menjauh dari perbuatan tidak baik ya Zayn. Jangan lagi sakiti orang lain sebelum kamu betul-betul membuka hati dan telinga juga mata untuk mengetahui detail kisah dari dua kubu," pesan Ezra panjang padanya.
"Ck bacottt! aku gak butuh di kasihani," seru Zayn sinis, sorot mata malas dia hadiahkan untuk putra sulung Emery itu.
Huft.
"Inginnya aku juga begitu. Menutup mata dan telinga, terlebih hati untuk manusia busuk macam kamu! sama saja seperti wanita itu," Mita masih diliputi amarah.
"Mita! wanita itu juga ibumu!" sentak Emery dengan wajah marah. Shan yang tengah dia gendong bun terkejut oleh suara menggelegar.
"KALIAN ITU SAUDARA!" Emery tak kuasa menahan geram, inginnya tidak emosi kala menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya namun keadaan tak lagi dapat dia prediksi dan kendalikan.
"Mommy...." Shan meronta ingin turun dari gendongan sang kakek karena dia takut.
Menyadari kesalahan sebab telah membentak, Emery meminta maaf pada Shan. "Maafkan Opa ya Shan," bujuknya untuk cucu kesayangan yang baru dia jumpai.
Dengan netra memejam, helaan nafas kasar, pimpinan Qavi bicara. "Duduk... kalian semua, duduk!"
Bocah kecil itu pun mengangguk dan kembali tenang dalam pelukan kakeknya sembari perlahan duduk di sofa.
Hanya Ezra yang tahu kisah sebenarnya, Ermita saat itu belum cukup usia untuk mengerti, juga dia terlanjur menaruh sakit akibat perlakuan wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya.
"Za ... kamu sampaikan, nanti Papa luruskan. Ini tanggung jawab kamu sebagai Kakak," pinta sang ayah pada putra sulungnya.
Mendengar permintaan sang Ayah, Ezra menoleh pada Dila yang berada di sisinya. "Sayang," lirih suara ragu keluar dari bibir sensual tuan muda Qavi.
Dilara menatap dalam, jemarinya dia selipkan diantara telapak tangan suami tampan itu. Terlihat ketegasan di wajah oval berkulit kuning langsat. Perlahan, Dila mengangguk. "Bismillah, Abang bisa. Jangan biarkan kesalahpahaman berlarut-larut," ucap ibunda Shan.
Merasa mendapatkan booster, Ezra pun menghela nafas kembali. Bahu tegap itu terlihat menghentak naik turun mengikuti irama tarikan diafragma.
"Mita ... Dila ... dia itu Al Zayn Abdeen Manaf ... putra sulung King Abdul Manaf, salah satu keturunan pangeran Sharjah generasi ke empat puluh ---"
(mommy pernah sebut nama lengkap, clue Manaf)
__ADS_1
"Betul kan? kalian pengecut! tidak mau mengakui aku....!"
"Zayn, dengar dulu ... Aku baru saja akan menceritakan kisah bermula," cegah Ezra karena dia menyela.
"Cuh ... Manaf hanyalah nama yang disematkan karena kehormatan, karena beliau kasihan pada ibuku, atas perlakuan mu Emery!" sentak Zayn.
Ezra diam. Membiarkan pemuda itu melanjutkan perihnya dahulu.
Beberapa detik, hening.
"Sudah? aku akan melanjutkan," ucap Ezra kemudian.
Semua penghuni di ruangan itu diam seribu bahasa, tak terkecuali Mita. Gadis muda itu terlihat shock atas pernyataan kakak sulungnya.
"Kak, dd-ii-aaa?" Mita tergagap.
"Kakakmu," jawab Ezra cepat.
Dila menoleh pada suaminya. Dia bingung. Jika Zayn adik Ezra mengapa Mita berada di bawah Zayn? bukankah orang tua mereka bercerai?
"Aku tahu kalian bingung. Jadi bisa bayangkan bukan bagaimana rasa hatiku kala Papa menceritakan segalanya dulu? sedangkan aku harus menerima fakta bahwa beliau ibuku dan kamu adikku ... disaat usia sebayaku menikmati masa muda, aku berkutat dengan hubungan keluarga yang rumit, melihat Papa hancur terpuruk ... kehilangan Mama, juga harus mengakui bahwa aku punya adik laki-laki," terang Ezra dengan suara lirih, dirinya ternyata masih merasakan sakit teramat bila mengingat ibundanya.
Hening.
Menjeda lama.
"Zayn, apa Ibumu tidak pernah bercerita tentang kami? mengenai asal usul kehadiran kamu dan Alyssa? juga Mita?" tanya Ezra.
Al Zayn hanya diam. Dia bosan mengulang cerita yang sama, terlebih Emery juga tahu apa yang saat itu mereka perdebatkan.
"Jangan banyak cakap, aku berbaik hati duduk disini mendengarkan ocehan gak mutu kalian. Lanjutkan saja sinopsis cerita lengkap versi Emery," cibirnya lagi.
Sang putra sulung, kembali melanjutkan kisah yang belum sempurna.
"Mama meminta cerai pada Papa dan beliau mengabulkan karena Papa tahu, Mama telah bersama ayahmu sejak perusahaan Qavi nyaris bangkrut ... Mama meninggalkan aku dan Papa, membawa semua sisa harta yang kami miliki, untuk menyusul ayahmu. Namun...."
__ADS_1
Nafas Ezra mulan tercekat di pangkal kerogkongan. Untuk bagian ini, dia merasa sangat berat menyampaikan kebenaran.
"Apa Kak?" Mita meminta kelanjutan kisah pada sang kakak.
"Selang beberapa bulan sejak perceraian mereka, Mama kembali pada Papa namun tidak rujuk karena tengah mengandung kamu, Zayn...."
"Mama kehabisan uang, saat mencari ayahmu. Dia tidak tahu bahwa beliau adalah keturunan bangsawan. Langkah Mama di jegal oleh leluhur ayahmu ... akhirnya beliau memutuskan kembali ke Indonesia menemui Papa, memohon perlindungan agar dapat melahirkan dengan aman juga supaya kamu memiliki nama keluarga," imbuh Ezra.
"Mendengar cerita Mama, Papa iba ... karena pernah mencintai wanita sekaligus terkhianati, Papa menepis rasa sakit hati dan memutuskan menolong Ibu kita. Memberikan semua yang dibutuhkan beliau lewat asisten pribadi Papa, hingga kamu lahir. Bahkan Papa yang meng-adzani pertama kalinya," Ezra menarik nafas dalam, menghantarkan sesaknya ke udara.
"Karangan yang bagus, go on, lanjutkan Za," sinis Al Zayn Manaf.
"Bisakah kau coba dengarkan dulu? hatiku sakit berkali lipat, saat membuka kisah ini. Inginnya aku membencimu, tapi kamu adikku dan aku ... aku yang menggendong dan menjagamu setiap malam, Zayn. Karena saat itu aku tidak mengerti ... yang ku pahami, aku punya adik laki-laki," ungkap Ezra, kali ini suara parau menahan isak terdengar.
Dila tahu, suaminya terluka. Putri Devanagari itu hendak bangkit mengambil air mineral di lemari pendingin yang tak jauh dari sana, ketika sentuhan tangan di bahu mengurungkan niat untuk beranjak dari sisi Ezra.
"Biar Mama yang ambilkan air minum, kamu temani Ezra saja," bisik sang Mama yang mengerti keinginan putrinya, dari gestur tubuh Dila.
"Aku bahagia dengan kehadiran mu kala itu, Zayn. Itulah alasan bahwa aku selalu mengalah untukmu, karena kamu adikku meski berbeda ayah...."
"Alasan itu pula yang menyebabkan Papa tidak dapat memberikan nama Qavi di belakang nama mu," pungkas Ezra.
Prok. Prok. Prok.
Al Zayn bertepuk tangan, entah apa yang wanita itu katakan padanya hingga kebencian mendarah daging seperti ini. Ezra tak habis pikir.
"Sungguh ironi. Jadi kau mengatakan bahwa Ibuku murahan? beliau wanita berkelas asal kau tahu. Ibu kerap menangis setiap malam menyebut nama Qavi, namamu... EZRA EL QAVI!" Zayn berteriak, memekakkan telinga.
"Aku, aku yang di buang Qavi dan diurus Manaf ... Manaf menyelamatkan Ibuku... memberinya tempat tinggal," Al Zayn menyalak penuh kebencian, sorot mata itu, persis Fransiska saat menyebut Emery sebagai pria tak berguna karena tidak dapat memenuhi gaya hedonis kala itu.
"Begitukah, yang dia sampaikan padamu, Zayn?" Emery menatap sendu.
.
.
__ADS_1
..._____________________...
...Hore, lunas... selesai. ...