SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 146. TERLANJUR


__ADS_3

PIK Tower, makan malam.


Seharian di kamar tanpa aktivitas berarti membuat Dilara semakin produktif.


Dengan izin Ezra, juga laptop baru. Putri Devana itu kini mampu menyelesaikan satu buah buku dalam sehari, dengan jumlah halaman kurang dari seratus, untuk di sadur ulang atau di terjemahkan.


Sesekali terdengar lembut lantunan ayat suci satu surat bahkan menyambung hingga dua, tiga surat ia lafalkan. Tak ayal, Shan pun reflek mengikuti suara sang Bunda meski ia sedang bermain.


Dilantai bawah, Ezra sibuk menyiapkan hidangan, suplemen, susu Shan hingga potongan apel, booster bagi Dila sebelum makan.


Terdengar suara pintu dibuka.


"Sayang ... maaf lama ya," Ezra masuk dalam kamar diikuti Mama.


"Nduk, sudah dulu. Makan lagi biar kandungan kamu kuat dan sehat," Devana membawakan satu nampan dessert yang di buat Katrin khusus untuknya.


"Mulai besok aku coba shaum ya. Satu hari puasa esoknya buka, seperti saat Shan dulu. Juga ingin tiga kali khatam setiap bulan sampai jelang empat bulanan nanti," tutur Dila dengan wajah datar, menerima uluran baki dari tangan Mama.


Ezra diam, menoleh pada sang mertua.


"Puasa Daud? Jangan dipaksain, pelan Nduk. Kan sikon kamu sekarang lain dengan Shan dulu," Deva cemas.


Putrinya akhir-akhir ini semakin getol, jemari tak lepas dari tasbih, mulut selalu basah dengan kalam Allah bahkan jika air wudhu sudah mengering, dia merengek minta di papah ke kamar mandi untuk membasahi anggota tubuhnya lagi dengan berwudhu.


"Aku gak terpaksa, justru merasa ringan juga tenang ... Shan lebih tertarik belajar menggunakan audio. Jika berbicara normal masih banyak kata yang kurang jelas, berbeda saat mengaji, Ma ... lebih mudah mengajari Shan ... lagipula sementara gak bisa kemana-mana kan? jadi biar setiap detik berharga," tutur Dila panjang.


Ezra menengahi.


Jika untuk urusan menjaga kehamilan, dia tak akan mendebat Dila. Karena terbukti, Shan sangat mudah menghafal surat pendek bahkan panjang, juga kemampuan verbalnya mengalahkan anak seusia. Mungkin ini rahasia Dilara, sangat menjaga lisan dan amalan.


"Makan dulu, nanti lagi dibahas. Asyraf Hamid juga ingin bicara denganmu Sayang."


Kegiatan makan berlangsung lama, Shan ingin disuapin oleh Dila namun Bundanya enggan. Shan pun mengamuk, bocah itu merasa bahwa ibunya mulai tak sayang lagi.


"Bunda sayang Shan tapi lagi gak mau di ganggu. Maaf ya, bukan maunya Bunda begini ... sorry, Baby," Dila menangis melihat putranya histeris. Tangisan kedua Shan, sama persis seperti saat dia gagal test masuk seleksi beberapa bulan silam.


Devana pun dibuat bingung. Kelakuan ibu hamil selamanya berada di atas nalar. Kebanyakan yang di jauhi adalah para suami, lain hal dengan Dila. Dia justru enggan berdekatan dengan Shan.


"Mommy, sayang Shan kan? mau bujuk adek bayi boleh? aku juga sayang sama adek," ucapnya pilu.


"Sayang, coba deh. Kasian loh, pipinya kempes nanti, liat tuh mata Shan udah segede bola tenis, bengkak karena nangisin kamu mulu ni bocah," ujar Ezra menghibur keduanya.


"I'm so ugly Daddy? makanya Mommy gak mau sama aku?"


Ezra tertawa. "Eh ni bocah ... Ayah lagi bujuk Bunda, biar mau dipeluk Shan. Bukan ngatain kamu jelek," kilahnya.


Dengan bujuk rayu Ezra, akhirnya Shan berhasil mendekat bahkan memeluk ibunya. Bocah gendut itu seakan rindu bau Dilara, tak ingin lepas dan sangat hati-hati terutama pada bagian depan tubuh mommy kesayangan.


Setelah makan malam.


Mama meninggalkan mereka, begitupun Ezra. Memberi kesempatan Qtime bagi ibu dan anak.


Sementara di kamar.


"Shan, mau bobok sama Bunda?"


"Hu um ... Hai, I'm your brother, Shan," bisiknya terus menerus disamping tubuh sang Bunda, hingga dia lelap tertidur, masih dengan telapak tangan mungil mengelus perut rata mommy Dila.


"Kamu cerdas banget sih, Shan. Belum genap tiga tahun dan mirip Ayah banget. Takut gak di akuin," senyumnya tercetak jelas, mengelus punggung putra sulung.


Tepat pukul sembilan malam.


Ezra menunggu Sonny di ruang tamu. Dia akan menyerahkan desain DIY bongkar pasang untuk kamar sang Tuan Muda.


Biiipp.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bos." Suara Sonny saat melihat Ezra di ruang tamu, kala ia baru saja masuk ke apart.


"Sudah jadi? coba lihat hasilnya." Ezra meminta file berkas interior yang ia pesan tempo hari. "Keren, Son ... besok dikerjakan bisa? setelah sidang lusa, aku cuti hingga Dila sehat ... kamu koordinasi dengan Angel dan Rolex tentang schedule aku," titahnya pada Aspri.


Sonny mengangguk dan menjulurkan file dokumen yang diminta seraya duduk di samping pimpinannya itu.


"Bos, laper. Ada makanan gak?" Sonny bersiap bangkit lagi.


"Minta pada Katrin. Kamu ke sini modus ya Son? sama dengan Rolex. Kalau suka Katrin, utarakan saja jangan sampai kalian baku hantam," sindir Ezra saat Sonny beranjak.


Lelaki itu hanya tersenyum, memegang pelipisnya sambil berlalu.


Tak lama. Biiipp.


"Assalamu'alaikum ... Eh, Bos disini?" suara Rolex terkejut.


"Wa'alaikumsalam, loh Lex ... kamu sudah baikan? dan itu tadi ... bawa siapa?" tebak Ezra sekilas ia melihat seseorang masih di luar.


"Aku gak apa Bos. Lapar, dan butuh booster, makanya ke sini," kilahnya sebab melihat Mama datang dari dalam menghampiri mereka.


Bersamaan dengan itu.


Karena melihat menantunya sibuk di ruang tamu, Devana mengantar kopi kesukaan. "Za, kopi nya."


"Lex, kamu masih di perban gitu pelipisnya. Gak pusing apa kelayapan?" tegur Mama pada aspri Ezra.


"Hmmm, ada yang urgent, Ma." Rolex terlihat tak enak hati.


"Den, ini kata Non Dila. Salad buahnya habiskan, jangan di buang," Bi Inah meletakkan satu cup salad buah di hadapan Ezra, berdampingan dengan kopi yang Devana bawakan.


"Lex ... siapa diluar? ... makasih Ma, Bi."


Rolex tak menjawab, sementara kedua wanita menatap ke arahnya. Karena merasa terdesak, lelaki itu membuka pintu apart kembali.


Degh. Seorang wanita masuk.


"Kamu?" suara Ezra, dia memperbaiki duduk santainya. Mengurungkan punggung bersandar pada sofa.


"Se-lamat mal-am," ucapnya terbata.


Rolex menyilakan Ana untuk duduk, disusul Mama dan Inah, bersebelahan dengan Ezra di sofa panjang. Pengasuh Tuan Muda Qavi itu gemetar namun dia penasaran sehingga mencengkram kuat lengan baju Devana.


Huft. Ehhemm.


"Malam, duduk Nona Sanjaya," Ezra menyilakan.


"Apa tujuanmu?" bukankah kamu sudah jadi tahanan?" tanya Mama.


"Ditangguhkan sebab jaminan, sehingga menjadi tahanan kota Ma. Di luar ada dua orang Intel mengawal kemari," jelas Rolex pada Mama.


Anastasya menunduk, lalu mengangkat kepalanya menatap semua penghuni bergantian.


"Minta maaf." Anastasya menepis malu.


"Kami sudah memaafkan. Pergilah, tiada lagi urusan denganmu," sergah Deva.


"Aku tidak. Kamu gak tahu bagaimana menahan kesakitan, bayangkan kalau itu terjadi pada Non Dila? pembunuh dua nyawa ... kamu bukan manusia, Non Dila limbung karena kehilangan Ibu, keluarga satu-satunya," geram Bibi.


Ezra membiarkan kedua wanita ini meluapkan sejenak kemarahan yang tertahan.


"Aku menyesal. Maafkan aku," cicitnya lagi. Kali ini disertai isakan.


"Air mata buaya! Za, usir dia ... Lex, seret keluar," titah sang Mama ikut gemas, dengan drama anak mantan suaminya.


Tak ingin berlarut, akhirnya Ezra angkat bicara.

__ADS_1


"Ma, Bi dan kamu, Ana ... dengar ini ... istriku berpesan saat sebelum sidang agar aku mendengarkan apabila kalian mengajukan mediasi ... sekarang selain minta maaf, apa tujuanmu?"


"Memaafkan Papa, dan menerimanya, itu saja."


"Bohong! Aku gak percaya, pasti Akbar ingin agar Dila memaafkan kamu dan mencabut gugatan, bukan? merayu dengan harta juga status sosial keningratannya itu," seru Devana, mulai tak bisa meredam emosi.


Ezra menepuk lembut telapak tangan Mama yang mengepal.


"Jika ingin minta maaf, harusnya Akbar datang kemari langsung. Juga peristiwa kecelakaan kemarin tidak akan terjadi andai menganggap aku sebagai menantunya, masih juga tega dia mencelakaiku? ... ingin Dila menjadi janda? lalu dia bisa mengatur hidup anak istriku, menikah lagi sekedar bisnis? jangan mimpi, Ana."


"Ke-celakaan apa? aku gak ngerti." Ana terkejut, Ayahnya juga stress setelah sidang, mereka lama duduk di taman.


"Hmmm, Bos. Maaf sabotase bukan karena mereka. Orang Velma, wanita itu lolos dari kritis namun masih mampu meminta anak buahnya melakukan sesuatu. Mengadu domba kalian ... namun kini, kondisinya drop. Dia koma," terang Rolex menyerahkan ponselnya, disana pindai cctv terpampang jelas.


"Zayn tahu ini?" tanya Ezra sembari menerima uluran ponsel dan melihat records.


"Tidak. Murni Velma," tegas Rolex.


Pimpinan EQ Building ini nampak berpikir serius.


"Ana. Kami memaafkanmu, semoga ayahmu lekas pulih. Tapi maaf, proses hukum tetap akan berjalan seperti semestinya ... kesalahanmu dua, fatal."


"Pertama, rencana meracuni Dila agar terjadi pendarahan hebat, bayiku prematur dan keduanya meninggal atau jika bertahan, rahim Dila rusak parah."


"Kedua, saat di Jogja. Serum yang kau dapat dari Cheryl, agar Dila tidak dapat lagi mengandung dan dalam jangka waktu beberapa bulan, molekul Serum itu akan berubah menjadi cancer bilamana tak segara mendapatkan penawar ... kau akan memberikan penawar dengan menukar posisi agar kamu menjadi istriku. Aku harus bercerai dengan Dila, selanjutnya mungkin kau akan melenyapkan saudaramu."


"Kurang ajar!!"


Plakk.


Devanagari menampar Ana, menjambak rambutnya hingga gadis itu menjerit kesakitan.


"Maaaa, sudah. Maa...." Rolex melerai, sementara Ezra hanya diam.


"Sakitmu tidak setara dengan rasa kehilangan Dila saat Ibu meninggal ... aku baru tahu, bahwa Cheryl tewas karena kanker ganas dengan cepat menjalar ditubuhnya juga akibat penumpukan zat asing yang abnormal. Sama dengan isi minuman Dila di Jogja. Ana, pergilah sebelum aku murka!!"


Ezra mengepal geram, wajahnya merah padam mengetahui kenyataan dibalik kejahatan saudara satu ayah Dilara.


"Ada satu jalan, agar hukuman mu lebih ringan." Rolex angkat bicara.


Ezra diam, mempertimbangkan ini jauh hari. Dirinya pun memikirkan Akbar jika di tinggalkan Anastasya sedangkan ia, tak akan mengizinkan Dila jika tinggal bersama lelaki tua itu.


"Be-benarkah? a-aku, bagaimana caranya?" binar mata yang basah karena air mata itu menoleh ke arah Rolex. Tak lagi ia pedulikan penampilan acak-acakan kini. Hanya ingin, bebas.


"Bantulah Tuan Muda, untuk melawan Zayn. Mungkin hukuman mu akan berkurang. Kau akan jadi saksi bahwa pemuda itu memproduksi cairan laknat, terbukti karena kamu membelinya," saran Rolex.


Wajah sembab itu nampak menimbang. Tiada pilihan lebih baik baginya kini. Ia memejam, menarik nafas panjang seraya kembali menangis.


"I will, baik. Asal aku tidak meninggalkan Papa dalam waktu lama," tangisnya pecah.


Perjanjian kesepakatan saksi, di ajukan Ezra. Penandatanganan dokumen pun kini sah dan siap di ajukan pekan depan saat sidang Al Zayn.


"Pulanglah." Ezra bangkit meninggalkan dirinya yang terisak. Diikuti Mama juga Inah.


"Za, kamu tak kasihankah padaku?" lirihnya.


"Tidak! ayo Nona." Rolex mengantar putri Sanjaya keluar apart.


Blugh.


Aspri Ezra menutup kembali pintu setelah Anastasya pergi. Matanya membelalak kala melihat seseorang disana.


"Haiii."


.

__ADS_1


.


..._______________________...


__ADS_2