
"Dila...."
"Sayang, Dila...." Ezra mengigau.
"Dila...." lirihnya masih dalam keadaan setengah sadar.
Rolex meminta Sonny agar membantunya merapikan kamar yang berantakan. Mereka berdua berjibaku melayani sang majikan yang terkapar seakan tak bernyawa.
"Demi balas budi ku, aku rela memakaikan bajumu, Tuan Muda," gumam Rolex yang dihadiahi tawa renyah Sonny.
"Minta Nyonya saja, Bro," saran Sonny ketika melihat Rolex ragu saat hendak memakaikan Ezra underwear.
Lelaki gagah itu sempat memejamkan mata, merasa risih dan seakan menyesal melakukan hal tersebut.
"Nyonya terluka, Son. Aku merasa bersalah padanya," sesal Rolex memintanya melakukan kewajiban sebagai seorang istri meski tahu mereka berdua terikat sebuah janji.
"Iya sih tapi liat kamu itu, ya ampun. Kita kan sesama, sudahlah. Kerjakan yang betul," usil Sonny melihat Rolex masih terlihat setengah hati.
"Kamu saja lah," sergah Rolex.
"Eh, kan yang hutang budi kamu loh," elak Sonny lagi.
"Kau juga sama. Kalau bukan beliau yang membayar semua obat malaria sebab kelangkaan pasokan saat itu. Kau telah tewas di negara antah berantah. Bagus gak di buang ke Zimbabwe," sungut Rolex seraya sedikit demi sedikit melakukan tugasnya hingga semua selesai.
Degh.
"Panggil dokter itu masuk. Kamar sudah rapi. Sepreinya juga sudah ku ganti. Untung Tuan Muda masih setengah sadar, aku guling-gulingkan mengikuti cara suster jika mengganti seprei di rumah sakit, eh belum siuman juga." Rolex khawatir, penawar yang Sonny buat efeknya tidak maksimal.
"Bro, obatku gak ngefek kayaknya. Aku minta bantuan Leon?" tanya Sonny.
"Jangan sampai Tuan Besar tahu," ujar Rolex.
"Kau menyembunyikan sesuatu dari ku dan Tuan?" tuduh Sonny.
"Kau akan tahu alasannya nanti. Tuan Muda akan memaafkan, semoga. Karena bagaimanapun juga, beliau tetap lah Ezra El Qavi yang berhati lembut," ucap Rolex berlalu keluar kamar, membawa baju kotor yang berserakan juga seprei penuh noda ke ruang cuci.
Dia, akan mencuci sendiri jejak semalam pasangan majikannya itu. Rolex seakan tak rela bila aib mereka berdua dilihat selain dirinya. Cukup Sonny saja yang tahu, karena ia yakin pemuda itu sama seperti dirinya.
Mengabdi pada Ezra bukan hanya untuk mendapatkan uang sebab pekerjaan namun juga telah menganggap El Qavi sebagai keluarga meski tak sedarah.
...*...
Menjelang petang.
Bibi tak melihat Dila seharian ini. Pintu kamarnya terkunci rapat. Sejak siang, Rolex sudah bolak balik memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Nyonya muda mereka. Namun tidak ada sahutan, seakan tak ada kehidupan dalam kamar sang Nona.
__ADS_1
"Bi, dobrak saja," pinta Rolex.
"Susah, kayak di tahan oleh sesuatu. Nih, handle nya juga gak bisa di gerakkan bukan?" ujar Bi Inah, mencoba menekan ke bawah gagang pintu berwarna silver itu.
"Apa beliau baik saja? Bibi kan tahu nomer ponselnya? mana, sini aku yang call," ujar Rolex tak habis ide.
"Gak punya, Lex. Itulah, Bibi lupa terus mau minta," keluh Bi Inah.
"Ya ampun. Gimana ini jadinya?"
Saat Rolex tengah berpikir keras bagaimana cara menghubungi Dila, Sonny berteriak memanggilnya.
"Lex, Bos sadar. Lex, Rolex. Lekas, beliau memanggilmu," seru Sonny berlari ke arahnya.
Rolex yang mendengar permintaan rekannya itu bergegas naik meninggalkan Bi Inah yang masih terpaku di depan kamar Nyonya muda mereka.
"Son, pikirkan cara agar Nona Dila membuka pintu kamar," ujar Rolex sambil lalu.
Tap. Tap. Tap.
Suara alas kaki sepatu Rolex beradu dengan lantai menimbulkan suara nyaring.
Ceklak.
"Dokter, bagaimana?" tanya Rolex, terengah saat telah berada di kamar Ezra.
"Kenapa dengan livernya?" cecar Rolex tak sabar atas penjelasan setengah-setengah dari sang Dokter.
"Sirosis hati, rusak parah ... Aku akan teliti ini segera. Permisi, Tuan Rolex," ucapnya pamit undur diri keluar ruangan setelah membereskan semua peralatannya.
"Rahasiakan ini," pinta Rolex mencekal lengan pria sebayanya saat akan mencapai pintu kamar.
"Ck, pastilah. Ezra itu bagai kakakku ... gelar yang aku punya, atas support beliau. Jaga Abangku ya Lex. Jangan sampai dia menderita seperti ini lagi ... salam untuk istri rahasianya, sampaikan rasa terimakasih dan hormat ku pada beliau. Aku tahu dia telah menikah karena Ezra tak mungkin berzina," imbuhnya lagi.
...*...
Malam hari.
Sonny membongkar handle pintu kamar sang Nyonya muda. Mendorong sekuat tenaga bersama Rolex benda besar yang menghalangi pintu, hingga meja belajar itu bergeser dan mereka berhasil masuk.
"Non," Bi inah panik melihat Dila masih mengenakan mukenah, terkapar dilantai.
"Innalillahi, Nyonya," lirih Rolex.
"Lex, panggilkan siapa gitu. Staff wanita buat angkat Non Dila, ini badannya panas banget. Wajahnya pucat ... Sonny, panggil dokter wanita, lekas," seru Bi Inah saat melihat kedua pria itu justru diam mematung.
__ADS_1
Pukul sepuluh malam tepat. Dokter wanita keluar dari kamar Dilara.
"Beliau dehidrasi, belum ada makanan yang masuk ke lambungnya? atau sedang shaum tapi kelewat jam buka puasa?" tanya dokter wanita yang memeriksa Dila.
Bi Inah dan Rolex saling pandang. Mereka tak mengetahui apapun tentang Nyonya mudanya.
"Saya beri infus dulu ya. Obat demamnya sudah disuntikkan sekalian dalam cairan infus ini. Hubungi PIK Medical saja jika urgent karena saya bertugas disana malam ini ... terimakasih, saya permisi" ucap sang dokter setelah memberikan resep vitamin juga tablet pereda demam.
Bi inah kemudian mengantar sang dokter wanita keluar dari unit mereka seraya mengucapkan terimakasih.
Hampir tengah malam.
Dua jam penuh ketegangan telah berlalu, hingga semua penghuni rumah itu lega. Ketiga pengikut setia El Qavi ini pun berkumpul di ruang keluarga.
"Ada apa ini sebenarnya?" Bibi terduduk lemas di sofa, menghela nafas berat nan panjang.
"Entahlah. Semoga mereka berdua baik saja, dan keadaan membaik pada akhirnya," Rolex berucap penuh harap.
Sonny sibuk memikirkan tentang kecurigaan mereka. Makanan dan minuman yang sama, mengapa hanya Ezra yang menanggung efek mematikan itu?
"Siapa?" tanya Rolex saat melihat sekretaris tuan muda itu berpikir keras hingga dahinya berkerut.
"Kita makan dari menu yang sama. Bahkan orang-orang itu. Namun kenapa hanya beliau?" ucapnya lagi.
Sonny membuka laptopnya, memindai satu persatu dugaan racikan yang ada dalam sampel makanan yang sempat Ezra muntahkan. Ia sempat meneliti dan menciptakan penawar sederhana.
"Apa ada pemicu lain, Son? sebelum makan, tuan muda ngapain aja?" tanya Rolex.
"Wait, aku membuat bagan dulu," ujar Sonny. Ia meraih catatan, mulai menulis semua kemungkinan diatas kertas itu.
"Bibi, liat Non Dila ya," ujar Bi Inah bangkit menuju kamar sang Nona. Sementara kedua pria muda itu sibuk dengan analisa mereka.
Setelah masuk ke kamar sang majikan kecilnya itu, Bibi duduk di sisi ranjang.
Meraba kening yang mulai berkeringat. Demamnya berangsur turun karena cairan infus telah sebagian masuk ke tubuh kuyu gadis yang terbaring lemah.
"Sakit, sakitttt, Ibu...." Dilara mengigau.
"Abang, A-bang...."
.
.
...___________________________...
__ADS_1
...Mommy noted penjelasan medis setelah ini ya.. ...