
Kencan setelah menikah memang istimewa, tiada penghalang. Pun yang dirasakan pasangan Qavi. Biarlah umur pernikahan mereka sudah lewat beberapa tahun, namun kebersamaan juga intensitas serta kadar cinta satu sama lain baru bersemi, bagai bibit tanaman yang baru tumbuh.
Kini keduanya makin lengket mengumbar kemesraan meski ditempat umum. Seperti saat ini, berada di lantai bawah resto Hotel. Menunggu Sabrina.
"Mau nunggu di sini atau ke spa?" tanya Ezra melihat Dila hanya duduk diam dengan tenang.
"Eumm, disini dulu sekalian ketemu dengan sepupu Abang kan, masih lama?" balas Dila, memainkan dessert spoon yang masih tertata rapi di atas meja.
"Bentar lagi ... udah bosen ya? mau pesan dessert? yang segar?" tawar ayah Shan, melihat Dila lesu. Menjulurkan tangan mengusap pipi lembutnya.
"Es krim, boleh? yang ini kayaknya enak ... Double choco Fruity ice cream less sugar, banyak toping fruit chopped nya," ucap Dila dengan sorot mata berbinar.
"Bawaan kayaknya ya ... pesan aja Sayang, mau itu?"
Bunda Shan mengangguk cepat, senyuman manis ia hadiahkan pada pria yang menempel ketat padanya, sejak mereka memasuki resto.
Ezra melihat pada waitress section. Gadis berseragam yang bertanggungjawab atas beberapa table, mungkin meja Ezra salah satunya, ia melihat ke arah sang customer. Ezra menaikkan dua jari kanan, isyarat agar pelayan mendekat.
"May i help you, Sir?" tanya gadis itu ramah.
"Do you have any recommendations on a special menu? especially dessert?" Ezra meminta menu card. (Apakah kalian punya menu dessert andalan?)
Sang waitress, meraih menu best seller resto dari atas meja. Menunjukan pada Ezra.
"For dessert, we have the best of manggo-dell juice with manggo slice and moussed, and then brownie choco deep with berry sauce or ice cream less sugar with chopped mix fresh fruit ... would you like to try them?" jawab waitress muda.
"Mau yang tadi aja, Dila? atau semua?" Ezra memastikan pada wanita yang kini malah terlihat malas.
"Hem, yang tadi aja."
"This one ... please add more mix fruit chopped and then i would like order an iced coffee ... espresso not too sweet," pinta Ezra.
"Will do, Sir. Is there anything else that you want to order?" tanya sang waitress seraya mengulang pesanan customer. (Baik, Pak. Apakah ada pesanan tambahan?)
"No, that is all." Ezra menutup buku menu, lalu menyerahkan kembali pada gadis berseragam. (Tidak, itu saja.)
"Okay. I will be back with your order." (Oke. Saya akan kembali dengan pesanan Anda.)
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang, Dilara menyandarkan kepala di bahu kiri Ezra. Sejujurnya dia letih, juga akhir-akhir ini sering merasakan kantuk lebih cepat datang.
"Kenapa sih? lemes amat?" Ezra mengusap lembut kepala Dilara, membuka lengan kirinya agar ia nyaman bersandar.
"Kan udah bilang, mau tidur tapi Abang ganggu mulu. Sarapan udah, cuma lapar lagi tapi males ngunyah," keluh Dilara lesu. Ezra hanya mendengar semua keluhannya, senyum mengembang tak surut dari wajah tampan keturunan Turki itu.
Mungkin setelah ini, dia harus melatih kesabaran menghadapi mood Bunda Shan. Jemari kirinya masih mengusap kepala sang istri pelan.
Kriing. Suara ponsel Ezra berdering.
Nama sang sepupu terpampang jelas ketika layar gawai dia tegakkan.
"Halo, masuk ke resto aja, sebelah kanan di balik partisi," jelas Ezra pada panggilan sepupu.
Tak lama.
"Assalamu'alaikum, Za." Suara seorang wanita menepuk bahu kanan suami Dila.
Ezra menoleh, "Wa'alaikumsalam, dari mana Lo? lama amat," sungut sang sepupu.
"Ngawal Bos dulu, kan kunker, kunjungan kerja ... gue lagi cuti tapi di minta ikut ke sini, padahal cuma main golf sambil ngomongin kerjasama kok ya jauh-jauh. Bahkan keduanya bukan dari negara ini," keluh sang petugas di central police Dubai sesaat setelah ia duduk.
"Namanya juga bisnis, butuh jalan biar klimis ... nih, yang Lo minta," Ezra berucap seraya melirik ke arah kirinya.
Sabrina mengalihkan pandangan ke arah kiri Ezra. Saling tersenyum manis kala tatapan mata bertemu, sebagai tanda perkenalan mereka.
"Yassalam, gini ya gak pacaran tapi langsung lengket aja. Apa ini karena nyesel dulu ogah terus kepisah?" sindir Sabrina melihat Dilara masih enggan lepas dari pelukan Ezra.
Entah kenapa kali ini Dila cuek. Putri Devanagari itu tak biasa berlaku kurang baik terhadap seseorang yang Ezra temui, meski dia tidak nyaman terhadapnya.
"Baby, dia Sabrina. Sepupu yang membantu pelarianmu, ayahnya adalah adik Papa," terang Ezra mengenalkan keduanya.
"Hmm, maaf ya Mbak Sabrina, aku gak sopan tapi lagi mager banget ini gak tahu. Terimakasih banyak sudah bantu aku selama di Sharjah," balas Dila, masih menempel pada Ezra.
"Enggak apa, santuy aja Dila."
"Tau dari mana Lo?" desak Ezra, dia curiga Emery membocorkan kisah cintanya dengan Dilara pada semua keluarga di Turki.
__ADS_1
"Papa kamu, cerita sama Daddy, gue ngakak tapi salut sama kalian ... bisa gini juga Lo, Za?" Sabrina puas menyindir sang sepupu. Bertepatan dengan menu dessert yang dipesan Ezra, tiba.
Dila antusias melihat menu penggugah selera tiba, lupa akan sekitar, asik dengan dunianya menikmati dessert nan segar.
"Sudah ku dugong, Papa mulutnya ember ... pesan gih, Na ... sambil lihat ini," Ezra menyerahkan tab miliknya yang berisi semua temuan juga slide tentang isi kandungan dua serum cairan racikan. Termasuk saat ia di racuni dulu.
Sabrina hanya memesan kopi seperti milik Ezra pada waitress, seraya menerima uluran gadget milik sepupunya. Memeriksa dan membaca slide demi slide disana.
Beberapa menit berlalu.
"Za, ada tiga cairan berbeda yang di produksi dia berarti ya? yang satu ini, temuan Sonny hanya bisa digunakan apabila ada pemicu ... lainnya tidak, Ok akan aku selidiki. Kirim file by email saja ke IP address yang ini," Sabrina meminta izin langsung mengamankan semua hasil temuan Ezra.
"Pemicunya rokok, asap rokok atau air mineral dingin, dua itu. Karena ruangan ber-ac, gak bisa merokok jadilah di booster pakai air suhu rendah," ungkap Ezra mengenang kejadian silam.
Minuman Sabrina pun datang, mmbuat mereka seakan melupakan kehadiran Dilara disana.
Kedua saudara asik membahas semua langkah gugatan kasus untuk Al Zayn. Sabrina akan mencari celah dan petugas no korup agar ini dapat berjalan. Kasus dugaan kekerasan terhadap para pekerja migran yang dia tarik juga akan di tambahkan dalam tuntutan nanti.
"Aku bakal ngurus yang disini, lusa kita balik, dan berkas tambahan telah disiapkan Rolex. Dia kesini pekan depan memenuhi panggilan somasi," terang Ezra sembari menikmati cecapan akhir minuman dingin miliknya.
Tepat adzan dzuhur, Sabrina pamit undur diri. Dilara pun tersenyum manis padanya sebagai tanda perpisahan.
"Ayu," bisik Sabrina kala menepuk lengan Ezra sebelum dia melenggang pergi.
Setelah kepergian sang sepupu, Ezra mengajak Dila langsung menuju rumah sakit untuk memeriksakan kondisi pendengaran dan lainnya, juga konsultasi dengan dokter terbaik di sini.
"A-bang. Pu-sing, boleh nanti gak ke ru-mah sakit-nya?"
"Sayang!"
.
.
...__________________...
...Sekedar melunasi kewajiban, semoga perjalanan ini mempertemukan aku dengan yang se-frekuensi, aamiin. ...
__ADS_1