
"Dila, jangan sakit...."
Ezra berada disana hingga sang istri tertidur. Susah payah menahan deru nafas agar Dila tak menyadari keberadaannya.
Bi Inah saksi kedua insan yang mulai saling memendam rasa hanya bisa tersenyum melihat mereka.
"Den, istirahat gih. Biar Non Dila sama Bibi," pinta Bi Inah menyuruh Ezra naik ke kekamarnya setelah melihat pria itu sempat menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Dila.
Satu pekan berlalu begitu saja. Tanpa Dila ketahui, setiap malam jika ia sudah terlelap. Bi Inah membantu Ezra memasuki kamar Dila. Sekedar menemani atau memandang gadis itu hingga ia merasa lelah dan kembali naik ke tempat peristirahatan di lantai dua.
Hari ini rencananya Ezra akan ke kantor. Ia sangat berharap dapat melihat Dilara sebelum pergi karena mega proyek kali ini membutuhkan perjuangan ekstra.
Rolex dan team bekerja keras selama tiga bulan terakhir. Konsep tower yang Ezra miliki memang unik. Bahkan dirinya menamakan karya tangan halusnya itu sebagai Masterpiece El Qavi.
"Bi, Dila belum bangun?" tanya Ezra karena tiga hari terakhir ia tak pernah lagi memasuki kamar istrinya itu.
"Dari kemarin mual muntah kalau mau subuh, Den. Bibi udah minta Non Dila agar periksa ke dokter barangkali belum sembuh benar karena akhir-akhir ini sering banget begadang. Katanya gak bisa tidur, laper terus tapi males makan," jelas Bi Inah.
"Dila, apa kamu...."
Ezra tersenyum samar mendengar penuturan pengasuhnya itu.
Saat ia menyesap kopinya. Rolex datang menghampiri sang tuan muda di meja makan. Ia meminta Bi Inah menyiapkan sarapan baginya.
Kedua pria itu akhirnya menunda keberangkatan ke kantor dikarenakan beberapa berita yang Rolex bawa.
...***...
Sementara di kamar Dila.
Gadis itu terdiam, duduk dilantai masih mengenakan mukena saat sebuah benda yang ia khawatirkan menunjukkan hasil seperti dugaannya.
Dirinya menemukan alat test kehamilan dari dalam tasnya, bersama obat serta vitamin saat pulang dari rumah sakit.
Ia pun menaruh curiga, hingga baru pagi tadi menggunakan alat tersebut.
"Garis dua, aku hamil? mana ya surat dari rumah sakit itu."
Dilara bangkit mencari surat yang diberikan Winda saat pulang dari hospitals.
"Gak ada, dimana ya? apa mungkin di mobil. Tadi seperti ada suara Tuan Rolex. Aku tanyakan saja padanya atau gimana ya?" Dila bingung memastikan keadaan dirinya.
__ADS_1
Ia pun melepaskan mukena, kembali memandang alat test kehamilan. Memang Dila akui, masa haid yang seharusnya telah datang bulan ini sangat terlambat dari tanggal biasanya.
"Emang udah telat hampir dua minggu sih gak haid. Masa sekali jadi ya? eh, tapi waktu itu aku ... astaghfirullah, masa suburku," Dila memekik tertahan. Kedua tangannya menutup mulut menahan suara agar tak didengar Bibi.
Gadis ayu itu kembali melihat kalender, memastikan dengan menghitung manual siklus haidnya.
"Ya Allah, benar. Alhamdulillah," ucapnya haru. Dila mengusap perutnya yang masih rata.
"Kalau Ayah marah. Adek sama Bunda, Ok. Kita bisa bertahan berdua saja."
Entah mengapa ia berkata demikian. Hatinya mengatakan bahwa Ezra kemungkinan tak siap dengan berita ini atau mungkin tak menghendaki kehadiran calon bayi mereka.
Dilara pun keluar dari kamarnya menuju ruang kerja Ezra. Ia membawa sebuah catatan. Jika suaminya tak di sana, maka catatan itulah pesan yang akan dia tinggalkan. Namun, jika pria tampan itu ada dan mau mendengarnya maka lebih baik mengatakan langsung.
Pintu ruang kerja Ezra terbuka. Dila sumringah, berarti sang suami sedang berada di sana.
Didalam ruang kerja.
Rolex menunjukkan sebuah surat yang dia temukan dari jok belakang pada tuan muda, saat ia akan membersihkan mobil majikannya itu.
Ezra membaca pelan keterangan didalamnya tentang hasil diagnosa dokter jaga agar Dilara memeriksakan kondisinya ke dokter Obgyn, berikut surat rujukan untuk sang Nyonya.
Sudut bibir pimpinan El Qavi itu tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman namun hatinya khawatir.
"Bos, selamat ya. Maaf aku tadi membukanya sebelum menyerahkan pada Anda," ujar Rolex memberikan selamat atas kehamilan Nyonya mudanya itu.
"Thanks Lex ... tapi aku," jawab Ezra ragu.
"Kenapa Bos, Anda keberatan?" tanya Rolex.
"Tentu saja ti- ... A-," Ezra menghentikan ucapannya saat menangkap sosok Dila didepan pintu dari ekor matanya.
Degh.
"Dila, perlu sama aku?" tanya Ezra hendak menghampirinya.
"Sudah ku duga," batin Dila.
Baru saja ia akan mengetuk pintu, namun tangannya menggantung di udara mendengar pernyataan Ezra yang keberatan dengan kabar kehamilan ini.
Gadis itu diam mematung, beringsut memundurkan langkahnya. Ia menggenggam kuat alat tes kehamilan hingga patah serta mere-mas catatan yang akan diberikan.
__ADS_1
"Gawat, Nyonya salah paham. Beliau sudah bisa mendengar."
"Sini masuk," ajak Ezra hendak meraih tangannya.
Dilara menunduk lalu memalingkan muka dan berlari kecil meninggalkan Ezra yang menatapnya heran di depan pintu.
Ezra bingung terhadap tingkah laku istri kecilnya yang kerap tak ia pahami. Inginnya mengejar namun karena jadwal yang sangat padat, Ezra mengabaikan sikap aneh Dila padanya.
"Lepas kerja nanti, aku akan bicara padanya," gumam sang CEO.
"Bos, keberatan gimana maksudnya? jangan sampai Nyonya salah paham loh. Bisa berabe," saran Rolex saat melihat Ezra kembali memegang surat dari rumah sakit.
"Aku bukan keberatan karena dia hamil. Gak mungkin juga membenci calon anakku bukan? aku gak sekejam itu Lex. Hanya saja, kau tahu ... dia membabi buta. Jangan sampai kehamilan Dilara diketahui olehnya."
"Cukup aku sasarannya, jangan Dila atau anakku. Keadaan belum aman, Lex. Dilara prioritas saat ini tapi pekerjaan kita? kau lihatlah ... aku gak bisa dampingi dia melewati masa sulit trimester kehamilan, juga tak bisa menjaga Dila dua puluh empat jam meski aku bisa memberikan banyak pengawal baginya ... tetap saja takut kecolongan, bagaimana ini," Ezra bimbang. Ia duduk di sofa dengan wajah cemas kentara menyelimuti ketampanannya.
Rolex mengerti. Hatinya ikut merasakan bahagia, ternyata tuan mudanya cukup bijak. Tak ia pungkiri, kerugian besar saat Ezra di Surabaya mau tak mau membuat pria dihadapannya ini berjibaku agar perusahaan miliknya tak bangkrut.
Semua proyek dia samber demi kelangsungan hajat hidup ratusan pegawainya. Tak banyak yang tahu betapa besar pengorbanan Ezra disini, hingga mengabaikan kehadiran Dilara disisinya.
Salah satu alasan logis, beberapa rival bisnis kebakaran jenggot padanya karena Ezra selalu total dalam setiap projek yang digarap. Hingga memicu kejadian satu bulan lalu.
Karena ia dan Ezra tahu, siapa dalangnya. Inilah yang menjadi alasan kecemasan bagi Ezra, memikirkan keselamatan Dila.
"Bos, semua yang Anda kerjakan adalah baik. Jangan sampai berlarut-larut kesalahpahaman yang tercipta di antara kalian berdua."
"Kita ke kantor segera, Lex. Aku ingin semua cepat selesai," ujar Ezra bangkit dari sofa dan melangkah menuju pintu keluar unitnya bersama Rolex.
"Dila, titip adek ya. Aku akan jelaskan nanti," Ezra berucap dalam hati.
Ezra tak mengetahui bahwa saat ia meninggalkan hunian nya. Dilara tengah menangis tersedu di dalam kamar.
"Adek sama Bunda aja ya, Ayah belum mau menerima kita," ucapnya sendu diiringi isak tangis pilu.
.
.
..._________________________...
...Terus aja terus, tumpuk salah paham sampai meledak. Satu sangat sibuk dan hanya ingin bertatap muka ketika bicara serius, namun tak kunjung punya waktu. Satunya suka menarik kesimpulan, pikiran dan hati versi wanita....
__ADS_1
...eh, mommy juga wanita ya 😂, mon maap, yang nulis labil......