
"Lalu?" tanya Ezra bingung hingga dia menghentikan langkah dan menoleh padanya.
Rolex berjalan mendekati sang pimpinan yang akan dia goda.
"Itu loh, rasanya gadis. Aku tahu Anda bukan yang pertama bagi Cheryl, meskipun wanita itu adalah yang pertama bagi Anda," bisik Rolex. Tak lama pria itu lari meninggalkan Ezra yang geram atas tingkah jahil Rolex.
"Dasar jomblo!" Seru Ezra di sela tawa lepas Rolex yang berhasil menoreh semburat rona malu di wajah tampannya.
"Gimana ya, gitu lah. Mine, Dilara." Terlukis bahagia di wajah lelahnya, bibirnya tak lepas menyunggingkan seulas senyuman yang jarang ia cipta.
Entah kapan rasa nyaman itu hadir. Bayangan Dila tak memakai hijab perlahan menghuni benaknya untuk waktu yang lama bagi seorang Ezra jika ia tak memiliki rasa.
"Anehnya, kamu gak mau hilang dari ingatan. Semua tingkah mu yang membuat ku kesal justru malah menarikku untuk memperhatikan lebih dari biasanya. Sayang, sedang apa di sana?"
"Semoga apa yang aku lakukan ini sepadan. Kalian penyemangatku saat ini," ujar Ezra, jemarinya mengusap layar wallpaper ponsel miliknya yang telah berganti dengan foto usg calon bayi mereka.
"Ya Allah, kangen...."
Hari-hari keduanya dilalui dengan kesibukan masing-masing. Dilara berusaha menjaga semua asupan makanan dan minumannya. Termasuk menjaga lisan juga kebiasaan.
...***...
PIK, Tower.
Dua pekan kemudian.
Sang Nyonya muda terlihat semakin terbiasa dengan aktivitas barunya. Olah raga ringan di balkon tengah saat pagi hari membuat tubuhnya lebih bugar.
Biasanya waktu dhuha, Dila murajaah di kamar. Namun hari ini, ia melakukan kegiatan itu di depan ruang televisi sehingga Bi Inah leluasa merekam diam-diam apa yang nona mudanya kerjakan.
"Kalau bicara langsung kadang gak begitu jelas tapi kalau ngaji ko lancar banget ya? apa ada bedanya?" gumam Bibi memperhatikan dari belakang tubuh Dila. Ia pun duduk di meja makan yang tak jauh dari sana.
Satu jam, wanita itu larut dalam suara jernih dan syahdu saat Dilara mengaji. Hingga ia merasakan kedamaian dan mengantuk.
Karena sudah terlalu lama mengaji, ia merasa kerongkongan nya mulai mengering. Dila bangkit hendak menuju pantry tetapi dicegah Bibi yang menyadari keinginannya.
"Mau kemana? Gak boleh ke dapur," larang Bi Inah pada gadis yang justru tersenyum manis melihat dia berkacak pinggang.
"Minum, gak ke dapur," jawab Dila sedikit tak jelas ketika melafalkan kata dapur.
__ADS_1
"Bibi ambilkan, duduk disana dan lanjutkan saja Non Dila ngajinya," ujar Bi Inah kemudian.
Gadis dalam balutan homy dress itupun menurut, Dilara kembali melanjutkan bacaannya.
Beberapa saat kemudian.
"Surat apa Non? ada maknanya gak?" tanya Bi Inah saat ia kembali ke tempat majikannya membawakan minuman.
"Ada. Al-insyirah itu maknanya kelapangan. Kisah tentang setelah berbagai macam kesulitan saat Rosulullah berdakwah ... Allah memberi kemudahan. Tafsirnya menitikberatkan agar kita selalu bersabar dan bertawakkal pada Allah." Dilara menulis kalimat panjang.
"Pesan yang tersirat juga merupakan jaminan, karena Allah menggunakan lafadz inna yang bermakna taukid (penegasan) bagi siapapun yang berusaha, diiringi doa dan tawakal pasti kemudahan menghampirinya." Lanjutnya menulis dibawah kalimat tadi.
"Jadi, Non Dila baca itu terus agar apa? kan gak lagi kerja, ngapa-ngapain?"
"Agar lapang menjalani kondisi kehamilan hingga kelahiran. Juga untuk Abang, supaya pekerjaan beliau Allah mudahkan ... imbasnya hatiku menjadi lebih tenang," jelas Dila, wajahnya tersenyum cerah melihat ke arah Bibi.
"Kan ada dua pengulangan ayat Non, apa artinya sama?" tanya Bi Inah lagi.
"Penegasan, agar jangan jadi pribadi pesimis menghadapi segala himpitan hidup karena pasti ada solusinya."
"Aku ciptakan satu kesulitan, namun bersamaan dengan hal itu, aku ciptakan dua kemudahan, dan tiada satu kesulitan dapat mengalahkan dua kemudahan ... ini kata Ibnu Abbas dalam hadist Qudsi ... kholaqtu ‘usran wahidan, wa khalaqtu yusraini, walan yaghliba ‘usrun yusraini." Sambung Dila atas jawaban.
Dilara mengangguk dan tersenyum manis pada wanita sepuh dihadapannya. Tangan kanannya lalu meraih gelas berisi air putih yang dia tunggu sejak tadi. Perlahan meminumnya hingga tandas.
"Non, belajar dimana?" tanya Bibi.
"Dari Nyai. Jika beliau mengajarkan aku satu ayat, pasti sekalian menulis asbabun nuzulnya. Nyai itu mengajarkan tentang tajwid dan makhrojl huruf, khusus untuk para santriwati. Aku sangat beruntung bisa belajar dari beliau langsung meski bukan anak pondok."
"Punya teman lain gak Non? disana?" Bibi berusaha mencari informasi tentang dirinya.
"Gak punya, hanya Mahira yang mengerti dan mau berkawan denganku. Lainnya hanya selintas menyapa," jawabnya lugas.
"Bi, kabar Mita bagaimana?" tanya Dila.
"Non Mita, katanya mau kesini tapi gak tahu juga kapan. Punya nomernya gak Non? barangkali mau kirim pesan atau lainnya, Bibi punya," sahut Bibi.
"Hmm, nanti aja minta sama Abang," jawabnya singkat. Dila belum ingin terbuka pada keluarga mereka.
...***...
__ADS_1
Surabaya.
Ruhama duduk di ruang tamu, memandangi foto usg putri angkatnya melalui ponsel Velma. Setetes bulir bening jatuh membasahi pipi tuanya yang mulai banyak di hiasi kerutan halus.
Ponsel Mahira hilang di curi saat naik angkutan umum. Akhirnya Dila kembali mengirimkan pesan juga video call menggunakan Velma sebagai perantara komunikasi mereka.
Putri manisnya itu memang telah menawarkan akan memberinya sebuah ponsel namun Ruhama menolak. Bukan karena tidak dapat mengoperasikan benda pipih canggih itu namun lebih kepada, ia enggan menerima banyak hal dari putrinya. Terlebih dari Ezra.
Ruhama masih ingat betapa dia kurang suka pada sosok tampan dan maskulin penerus klan El Qavi itu.
Meskipun ia yakin baik Dila dan Ezra saat ini telah melupakan sikap acuhnya dahulu saat mereka meminta restu.
Berhubungan jarak jauhnya dengan Dilara, nyata membawa banyak perubahan pada kedekatan mereka yang sempat merenggang bahkan memanas beberapa waktu lalu.
Kini Ia menyesal.
"Dila, akhirnya. Ibu punya cucu," lirihnya seraya menghapus jejak air mata.
"Bu, selamat ya. Saya ikut bahagia," ujar Velma.
"Nak Velma, udah gak usah jagain Ibu. Kan sudah sehat, meski sekarang Ibu gak kemana-mana karena di larang oleh Dilara, Nak Velma bisa pulang," Ruhama tak enak hati pada gadis belia ini yang masih saja menjaganya.
"Ini rumahku. Jika Ibu gak keberatan karena sesungguhnya aku juga sebatang kara," jujur Velma menceritakan sekilas kisah hidupnya.
"Ya sudah. Ini rumahmu juga. Tinggal disini sampai kamu bosan...."
"Terimakasih Bu. Sudah ku duga, Tuan Ezra akan jatuh cinta pada Nona. Karena selain ayu, beliau juga cerdas," imbuh Velma ikut merasakan bahagia.
"Ibu gak sangka, sebab Ezra kan tampan, kaya, gagah. Dia terlalu tinggi untuk anakku, namun melihat ini, harapanku rumah tangga mereka akan langgeng. Dila sudah bisa mendengar saja sangat membahagiakan hati ini," sambung Ruhama.
"Aamiin ... semoga mereka bahagia seterusnya," Velma menyambung doa.
"Tuan Besar, Anda sudah tahukah kabar inj?"
.
.
..._______________________...
__ADS_1
...Maaf baru UP, mommy mobile seharian ini... mangats 🔥🔥...