
Satu pekan kemudian.
Pagi ini Dila menyiapkan semua kebutuhan Ezra di meja makan.
Mulai dari tab kerjanya yang sudah terisi full baterai, dasi yang sudah ia simpulkan juga sapu tangan. Tak lupa catatan di atas slip case.
"Maaf aku menyentuh barang Tuan. Ku pikir ini penting, jadi aku membantu mengisikan daya saat melihat benda tersebut di sofa ruang televisi. Aku tidak membuka sama sekali cover penutupnya."
"Dasi dan sapu tangan, permintaan Bibi padaku, sebelum beliau ke pasar pagi ini agar meletakkan di meja makan."
Gadis manis dalam balutan gamis hitam polos dengan variasi lengan full kancing, di percantik oleh hijab abu tua dihiasi gradasi motif pattern, membuat kulit Dila yang kuning langsat semakin kontras.
Saat Ezra turun, istri kecilnya itu tengah menata posisi cangkir kopi serta oat dengan toping buah dan sirup kurma, menu baru favoritnya.
Mendengar langkah kaki mendekat, Dila undur diri. Bermaksud membiarkan tuan mudanya sarapan sendiri karena semua telah siap.
"Duduk," Ezra menghalangi langkah Dila yang hendak masuk kembali ke kamar.
Merasa langkahnya dijegal, Dila mengangkat wajahnya.
"Temani aku," ucap Ezra pelan, saat kedua mata mereka bersitatap.
Sang Tuan Muda menarik kursi kemudian duduk di sana. Sementara Dila ragu karena Ezra pernah mengatakan tak ingin melihatnya. Ia pun menulis catatan segera.
"Maaf, Tuan. Bukankah Anda mengatakan aku harus menjaga jarak?"
Skakmat.
Pria dengan setelan jas itu terdiam. Merelakan Dila pergi. Moodnya memburuk, ia lalu membaca tulisan di atas tab miliknya.
"Biasanya jika Bibi yang memilihkan dasi, suka nabrak dengan outfit ku. Tumben hari ini pilihannya pas, bahkan kontras, juga sapu tangannya," ucap Ezra dalam hati.
Ezra hampir selesai saat Dila kembali datang, membawa ransel dan jaket, seperti berniat akan pergi.
Dia meletakkan catatan kembali di atas meja.
"Aku izin ke toko buku, setelah itu ke Sudirman, sekalian ke perpustakaan nasional." Gadis ayu itu menunggu reaksi suaminya.
Ezra menarik lengan Dila agar duduk tepat di sampingnya. "Dengan siapa?"
"Mba Winda, ojek online wanita." Tulis Dila.
"Jangan kemana-mana setelah urusanmu selesai." Ezra menulis dibawah catatan Dila.
Dia mengambil dompet dari saku dalam jasnya lalu menyerahkan lima lembar uang seratus ribu untuknya.
Dila mengangguk setelah membaca pesan Ezra, meraih tangannya untuk dia cium, namun mendorong kembali uang yang suaminya itu berikan.
Gadis itu bangkit, membereskan semua peralatan kotor dari meja lalu membawanya ke dapur.
"Dila!" seru Ezra namun di indahkan oleh gadis itu.
"Gak perlu teriak, kan Abang tahu aku gak bisa denger. Ck, suaramu itu ternyata bikin sakit telingaku," batin Dila.
Setelah merapikan kembali dapur, Nyonya muda El Qavi bergegas turun ke lobby karena Mba Winda telah menunggu.
Dila kira, suami tampannya telah pergi. Ternyata Ezra masih menunggunya di ruang tamu.
__ADS_1
"Itu." Ezra menunjuk pada satu ikat uang di atas meja. Lalu ia pergi dari hadapan gadis itu keluar Apart.
Dila mengabaikan, ia menyusul Ezra bahkan berlari mendahuluinya menuju lift yang hampir menutup.
"Ka-kamu, gak sopan emang sama suami. Eh, uangnya?" Ezra terheran. Biarlah nanti menelpon Bibi agar menyimpan uang tadi jika tak di sentuhnya.
Gadis bergamis hitam itu lebih dulu tiba di lobby, berpapasan dengan Rolex disana. Keduanya saling menyapa membungkukkan badan.
"Bukannya pamit, malah ngeluyur gitu aja," keluh Ezra saat Dila tak lagi menoleh ke arahnya.
"Ehheemmm, gak baik marahan sama istri, Bos. Masih pagi," sindir Rolex.
"Siapa?"
"Tuh, tadi tetangga ... ada yang mengeluh," cibir Rolex lagi.
...***...
Menjelang petang.
Ezra sudah di rumah saat Dila baru tiba. Gadis itu terlihat lelah membawa banyak buku di tangannya.
"Baru pulang? ngelayab dulu? kan ku bilang jangan kemana-mana," tegur Ezra saat berpapasan dan menahan langkah Dila.
Fisiknya lelah, Dila tak ingin berdebat. Ia mengacuhkan suaminya itu.
"Dila, gak sopan! suamimu sedang bicara," seru Ezra.
"Susah banget diaturnya!" teriak Ezra lagi.
Sementara di kamar.
"Aku capek. Serasa di marahin Ibu kalau pulang telat, tapi aku kan gak kemana-mana."
Merasa tubuhnya lelah, naskah baru yang muncul kali ini sedikit membuatnya kesulitan.
Ia pun memilih membersihkan diri lebih dahulu, agar tubuhnya kembali bugar karena guyuran air. Selepas itu, Ia membawa laptopnya menuju ruang tamu. Dila butuh udara segar.
"Mau kemana lagi?" cegah Ezra saat Dila melintasi ruang keluarga.
"Dila!"
"Ish, teriak mulu."
Degh.
Dilara berhenti, segera berbalik kembali ke kamar. Lupa jika ada Ezra dirumah, dia tak boleh muncul di hadapannya.
Salah paham yang akan terus menumpuk hingga saatnya membumbung tinggi dan akan luruh kembali menyentuh bumi, bermula.
*
Sudah dua hari Ezra tak melihat istri kecilnya itu. Kali ini dia meminta pada Bi Inah agar memanggil Dilara.
"Bi, tolong panggilkan dia, aku ingin bicara di ruang kerja," pinta Ezra.
Pria berbadan tegap yang telah rapi memakai outfit casual pagi ini, rambutnya tersugar kokoh dengan sedikit pomade. Ia duduk di sofa panjang saat gadis yang di tunggunya masuk.
__ADS_1
"Duduk." Ezra membuka tangannya, mengisyaratkan agar gadis itu duduk.
"Aku akan pergi dua minggu untuk acara bisnis. Jangan kemana-mana," pesan Ezra. Dia pun menulis di atas kertas.
"Hari ini aku pergi. Ini untukmu, pinnya sama dengan password apart."
Ezra menyerahkan satu kartu platinum untuk Dila.
"Kita lihat, apakah kau bijak dalam menggunakan fasilitasku," batin Ezra.
Tanpa banyak kata, Dila mengangguk lalu meninggalkan Ezra begitu saja.
"Udah, gitu aja? gak ada basa-basi nya?" heran Ezra.
CEO El Qavi pun akhirnya pergi meninggalkan huniannya, turun ke lobby menemui Rolex yang telah menunggu.
...***...
Hampir tiga minggu berlalu.
Baik Ezra maupun Dila yang tak menganggap berarti keberadaan masing-masing, acuh akan kabar satu sama lain.
Hingga suatu malam, pukul satu dini hari.
Tok. Tok. Tok.
"Bi, Bibi...." terdengar ketukan bertubi serta suara kepanikan, di pintu kamar Bi Inah.
Sayup suara seorang pria entah apa yang dibicarakan, Dilara tak berniat mendengarkan keributan di pagi buta. Matanya baru saja sukses memejam, kini sudah terusik kembali.
"Kita di jebak. Aku berhasil membawa Tuan Muda dengan Sonny. Kami di kecohnya," panik Rolex pada Bi Inah.
"Jadi maksudnya, Nak Ezra terluka?"
"Iya. Jika fisiknya kuat, dia akan lolos dari kondisi kritis ini namun jika tidak, organ vitalnya terganggu dan berakibat fatal ... Sonny memindai cairan itu, bukan hanya berisi sesuatu tapi juga serum yang bisa membuat efek lebih parah jika tak...."
"Apa?" tanya Bibi.
"Son, kamu saja," Rolex tak sanggup melanjutkan.
"Tujuan musuh kali ini adalah membuat Tuan Muda lumpuh dan terjadi kerusakan pada otak sehingga beliau akan cacat," tutur Sonny.
"Innalillahi, lalu dimana dia? kalian sudah melakukan apa?" Bibi histeris.
"Sonny sudah membuat penawar sebelum kami membawa pulang ke sini. Namun ... coba Bibi lihat," ujar mereka berdua.
Saat ketiga orang ini mencapai kamar Ezra, mereka mendapati Tuan Muda El Qavi itu sedang bersimpuh.
"Den...." seru Bibi.
.
.
...___________________________...
...Kasih panas🔥...
__ADS_1