SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 119. MENGGEBU


__ADS_3

Ezra menjelaskan singkat hasil analisa dan kesimpulan argumen atas dasar informasi yang datang padanya.


Dalam ketergesaan, Kriing.


Ponsel suami Dilara, yang hanya sah dimata hukum itu berbunyi. Jemarinya bergerak cepat menggeser tombol hijau ke arah atas gawai.


"Ya? ... apa dia luka parah? Ok, atur agar ke Jogja, orang ku akan menjemputnya di sana ... thanks Sabrina," ujarnya saat menutup panggilan.


Tak ingin menyimpan rahasia apapun dari Dila, Ezra membuka suara saat istrinya itu tengah packing di bantu Mita.


"Honey, Katrin...."


Dilara menoleh ke arah suaminya yang berdiri bersandar pada daun pintu kamar Ibu. "Kenapa dengan Katrin, bener kan dugaanku, dia orang Abang. Apa dia terluka?" tanya Dila beruntun.


"Hem, tapi Sabrina bilang tidak ada bagian tubuh yang retak atau organ vital terluka parah. Hanya memar di bagian pipi juga perut belum membaik akibat tendangan Andre ... Aku meminta Katrin menyusul ke Jogja, berjaga bila Abdeen mengejarku ... aku akan membongkar semua jika dia masuk dalam trap," ujar Ezra kemudian.


Mita begidik seram melihat sisi kakaknya yang tak pernah dia temui sejak lama, saat terkahir insiden besar keluarga itu terjadi.


Mita mengenang peristiwa kelam dalam ingatannya, Ezra terluka kala membela dirinya juga Papa dari pria itu.


"Abdeen. Masih kurangkah, pengorbanan kakak untuk mu?"


Huft.


"Kenapa Katrin di minta ke Jogja? Jakarta saja kan bisa jika hanya untuk berobat. Kasihan dia itu menahan sakit," sanggah Dila tak setuju.


"Kamu akan tahu alasannya. Betapa aku paham isi hati gadis itu, jika dia tahu wajah orang yang membunuh kakaknya," smirk menyeramkan Ezra muncul.


Dilara hanya mengendikkan bahunya ke atas, berusaha abai meski hatinya mulai gelisah. Mita pun sadar ketakutan kian datang menyelimuti mereka.


Dua jam kemudian, mereka siap bertolak ke Jogjakarta.


Rupanya ibu dan anak dilanda jetlag setelah kedatangan mereka kemarin. Dila terlihat pucat saat akan check in, juga Shan yang tak banyak bicara meski Ezra selalu mengajaknya bercanda. Batita itu hanya tertawa tanpa berniat membalas gurauan sang Ayah.


Leon berkali-kali memastikan semua situasi jelang keberangkatan ini aman. Meski dirinya mengkhawatirkan kemungkinan mereka akan berpapasan di Bandara.


Pesawat menuju Jogjakarta mulai prepare, passenger di arahkan menuju gate keberangkatan, tepat saat jet Asyraf Hamid berusaha mendapatkan izin landing.


...***...


Bandara, saat yang sama.


Private Jet milik Asyraf hamid baru saja mendapatkan izin landing di sayap kiri Airports. Jarak yang sedikit lebih jauh dengan bangunan megah yang menjulang sehingga mereka membutuhkan moda trasnportasi penghubung.


Tiga puluh menit menunggu akhirnya rombongan saudagar dari Sharjah tiba di gate kedatangan. Regulasi berjalan lancar jika Andre yang mengurus segalanya.


"Kemana kita?" tanya Asyraf hamid, sesaat kala mereka masuk satu persatu ke dalam mobil sewaan.


"Mansion El Qavi," sahut Andre.

__ADS_1


"Mereka tidak di sana, informan ku mengatakan Ezra singgah di rumah Dila, sekitar pesantren As-salam. Coba saja cari di maps," Al Zayn menimpali.


Sunyi. Kosong.


Asyraf hamid terheran. Darimana Al Zayn mengetahui detail mengenai kehidupan Dilara di negara ini sebelumnya. Informan? siapa? dia? menaruh orang di sini hanya untuk gadis yang baru dikenalnya itu?


Vega gianina nampak menimbang kejanggalan yang menyeruak, mengusik rasa ingin tahunya lebih dalam. Ada hubungan apa sebenarnya antara Dila dan Al Zayn juga Ezra?


"Apa yang kau tutupi dariku? aku sudah lama menjalin kerjasama dengan mendiang ayahmu, ku tahu ibumu berasal dari Indonesia dan kau pun memiliki banyak asset di negara ini ... tell me," selidik sang Nyonya besar.


"Its not your bussiness, Mam," ketus sang keturunan pangeran.


"Jika ini bukan urusanku, pergilah sesukamu. Turun!" sentak janda kaya itu padanya.


"Ok. Aku turun. Tepi!" serunya pada driver setelah mobil yang dia tumpangi keluar Bandara.


Merasa privasinya terusik, Al Zayn memutuskan berpisah tujuan dengan sang Nyonya besar. Dia memilih meninggalkan wanita itu dan pulang ke kediamannya di kota ini guna menyusun rencana juga menanti seseorang. Informan yang dia andalkan selama ini.


Asyraf hamid gusar, tak menyangka pemuda itu memilih berpisah arah. Ingin menahan karena dirinya tak tahu harus kemana mencari, namun rasa gengsi menyelimuti pekat hatinya.


"Bye."


"Hem, bye," jawab Asyraf saat Al Zayn turun dari mobil yang membawanya.


Perlahan, kendaraan roda empat itu melaju kembali menuju titik lokasi yang di sebutkan Al Zayn tadi.


Tiga puluh menit berlalu. Malam hari.


Mobil sewaan Asyraf hamid tiba di gang yang hanya dapat dilewati satu mobil, menuju pesantren. Wanita itu memutuskan turun berjalan kaki menuju titik pencarian. Berbekal jawaban dari para penduduk yang melintas saat para bodyguard bertanya, akhirnya rombongan janda kaya itu tiba.


Sesampainya disana, tak dia temui siapapun. Nafasnya terengah akibat berjalan kaki sejauh dua ratus meter dari jalan raya tempat mobilnya terparkir.


Wanita itu duduk di teras, mengusap peluh di dahinya yang mulai turun membasahi wajah ayu. Dia lalu menerima uluran air mineral dari Andre seraya mengatur nafas. Lampu rumah menyala namun tak tampak tanda kehidupan.


"Inikah rumah Dilara? kuno sekali," cibir sang Nyonya.


Andre menyisir lokasi namun tak jua dia temui hal yang mencurigakan di sana hingga.


"Kayaknya mereka baru aja pergi, Nyonya. Ini sampahnya masih baru," ujar Andre.


"Kata tetangga, sore tadi Nona Dila terlihat meninggalkan rumah dengan suaminya. Entah kemana pergi, hanya bilang keluar kota," bodyguard melaporkan pada ajudan sang Nyonya.


"Kemana kira-kira mereka?" gumam Vega.


"Jika dibaca dari jurnal akhir, sepertinya Ezra telah mengetahui status tentang istrinya. Apa mungkin ke kota...." tebak Andre.


"Jogja. Tempat tinggal Devana," lirih Vega masih duduk di teras dan memegang botol air mineral.


"Tuan Akbar juga di deteksi melakukan penerbangan ke sana, Nyonya."

__ADS_1


"Susul Dre, lekas." Asyraf hamid bangkit, melepas sepatu heels nya lalu menenteng dengan tangan kiri, dia berjalan tanpa alas kaki.


"Ayo, Dre." Mantan sekretaris seksi itu berlari, meninggalkan sang ajudan juga bodyguard dibelakang.


"Nyonya, kaki Anda," seru Andre tak di hiraukan wanita itu.


"Jangan sampai wanita itu mendahului argumen ku terhadap Dilara. Ayo!" Vega semakin jauh meninggalkan mereka.


...***...


Mansion El Qavi.


Terjadi keributan dini hari di kediaman Ezra. Tuan besar Emery dilarang turun oleh Jhonson yang diminta Ezra menemani sang Papa.


"Jangan Tuan. Pria gila itu akan mencelakai Anda...." larang Jhonson saat Emery memaksa menemuinya.


Brakk. Suara pintu depan rumah, di tendang paksa oleh seseorang.


"Emery, keluar!!!"


"Heh, kupra, ganggu orang tidur aja ... eh, ganteng, bobok aja yuk, mau akikah kelonin?" Eldo menahan Al Zayn, menggodanya di ruang tamu sebelum pria itu menerobos masuk dengan para bodyguardnya.


"MINGGIR!!" Dia mendorong Eldo hingga tubuh jangkis pria itu membentur lemari besar.


"Auwh, suka main kasar rupanya," keluh Eldo, ia menarik lengan sang Tuan Muda.


"Lepas, atau babak belur?" ancamnya dengan tatapan membunuh. Rahang mengetat, tangan mengepal juga sorot mata tajam, dilayangkan pada sekretaris abu-abu Ezra.


Eldo tak gentar, ia justru mencengkram lengan pria tampan di hadapannya, tak lupa senyum menawan menghiasi wajah setengah maskulin.


Bugh. Dugh. Brakk.


Terjadi perkelahian antara Eldo dengan dua orang bodyguard sementara Al Zayn melenggang masuk.


"Tuan!" suara Jhonson mencegah Emery menghampiri pria itu.


"STOP! Zayn, dengerin dulu," pinta sang tuan besar.


"Dimana dia? aku tanya baik-baik. DIMANA?!" pemuda tampan itu gusar.


"Zayn, please ... duduk ya, kita bicara. Jangan begini Nak. Ayo, sini...." ajak Emery lembut, perlahan dia menarik lengan sang pemuda tampan agar duduk di sofa dengannya.


"Nak...."


.


.


..._______________________...

__ADS_1


__ADS_2