SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 148. MOMENT


__ADS_3

Suasana di luar sidang kembali sunyi ketika bekas ruangan yang dipakai Ezra mendengar putusan telah digunakan untuk kasus berbeda. Dua orang pria bersetelan jas rapi kemudian menuju mobil mereka.


Saat telah didalam mobil, Ezra berniat membuka surat dari Akbar Sanjaya untuk istrinya.


"Lex, gak sopan tapi nih, buka surat Dila," Ezra meragu.


"Demi keamanan, ngintip aja kali Bos."


Setelah menimbang, akhirnya Ezra membuka salah satu surat.


Lima menit waktu yang dia habiskan untuk membaca semua barisan kalimat di sana. Isinya sesuai dugaan Ezra, hanya permohonan maaf juga agar Dilara tidak melupakannya sebagai ayah biologis.


"Status Dila sudah masuk dalam silsilah keluarga Budiharsa, menyandang gelar yang sama dengan Anastasya. Raden Ayu, karena Dila telah menikah, bahkan namaku dan Shan ada di sini ... berkas KK yang baru juga akte kelahiran Dila terlampir, nampaknya Akbar menyiapkan semua dokumen sendiri. Mertuaku juga meminta agar Dila mengunjungi sesekali ke kediamannya membawa serta Shan," Ezra membacakan kesimpulan akhir isi surat untuk Dila, lalu melipatnya lagi.


"Ckck butuh teman ternyata," sahut Rolex.


"Iya, kasihan juga sih. Kita juga pasti tua Lex, butuh teman ... aku gak akan memutus hubungan keluarga Dila, juga Shan harus tahu asal usul ibunya dengan benar." Tekad Ezra, sadar bahwa selamanya anak akan terkoneksi dengan sang Ayah.


"Anda dan Nyonya sama saja, disakiti orang terdekat tapi masih berlaku baik," cibir Rolex.


"Hidup singkat Lex. Sakit sih rasanya tapi bukankah ikhlas yang paling susah itu memaafkan dan melepas maaf ... agar hati lebih lega? yaa mesti ujungnya tetap sulit, cuma bukan berarti gak bisa," tutur Ezra seraya meminta Rolex melajukan kendaraan kembali ke kantor.


EQ Building, Jakarta.


Ezra berkonsultasi dengan lawyer saat akan membahas gugatan Zayn yang sudah lengkap.


"Paling bisa jerat dia untuk kasus perbuatan tidak menyenangkan pada Anda, fitnah juga pengintaian. Kevin dan Katrin, masuk disalah satu korbannya ... hukuman kurungan maksimal lima belas tahun juga denda lima ratus juta, tapi status dia bukan WNI, meski mempunyai beberapa property disini. Semua masih atas nama ibunya."


"Tapi bisa kan?" Ezra khawatir.


"Bisa, karena kejahatan berlaku dalam wilayah hukum Indonesia. Azas teritori namanya, Tuan muda. Beliau telah tiba disini, dan kooperatif. Kabarnya memakai team lawyer ternama."


"Terserah dia, yang penting Zayn dapat hukuman disini," Ezra bersikukuh.


Dua hari lagi, jadwal sidang Zayn dimajukan dari tanggal semula. Tersisa persiapan mental.


Dua bulan ke depan, agendanya sangat padat. Ezra melihat susunan pekerjaan yang bisa dia limpahkan ataupun sebagian di kerjakan Rolex dan lainnya.


Beberapa proyek harus membutuhkan kehadiran sesekali untuk controller. Ezra menimbang jika di waktu tersebut harus tinggal di Malaysia pasti membutuhkan waktu juga waswas akan keselamatan istrinya apabila sendirian di negeri asing.


"Lex, reschedule jadwal ku agar bisa dilakukan by online ... aku pulang ya, tiga desain ini ku kerjakan di rumah. Internal meeting juga streaming jelang ashar nanti," Ezra menyiapkan banyak berkas. Memberikan instruksi pada Angel dan asisten lainnya sebelum beranjak dari ruangan kebesaran.


...***...


Dua hari kemudian.


Pagi ini sidang perdana Al Zayn akan berlangsung. Ezra datang dengan team lawyer yang dia sewa atas anjuran sang Ayah.


Nampak di ujung sana, Al Zayn didampingi rombongan nya.


Lelaki muda nan tampan, menghampiri Ezra yang tengah berbicara di telepon. Rolex hendak mencegah namun isyarat sang pimpinan agar membiarkan Zayn, menahan langkahnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Kak."


"Sayang, sudah dulu ya. Ada Zayn," ujar Ezra menutup panggilan dengan Dila.


"Wa'alaikumsalam ... sudah sadar Lo?"


Zayn tersenyum sinis, duduk disamping kakak satu ibunya itu.


"Hmm, sadar lama setelah sekian kejahatan. Maaf, juga tolong sampaikan untuk Kakak ipar. Aku masih boleh kan mengaguminya?"


Ezra mendelik, tak suka bila ada yang mengagumi Dila.


"Lagi hamil, jangan di usik Zayn ... Karena hal apa kamu sadar? Alyssa atau Izrail datang bareng dengan Rokib dan Atid?" cibir Ezra padanya.


Zayn tertawa lepas. "Ckck kasihan amat Dila, dibujuk pulang cuma untuk dihamili."


"Ketagihan tandanya." Bangganya.


" ... karena catatan Mama. Ini Kak ... aku menemukannya saat mencari gips karena kakiku sakit. Ingat Mama pernah menyimpan satu saat Papa cedera terkilir setelah main golf, disana jurnal beliau tersembunyi ... Maaf Kak, ternyata kalian berdua sama terluka lebih dari aku," sesalnya tiada berguna.


"Butuh waktu sangat lama ya Zayn. Bahkan ketika rasa sakit yang kau yakini telah sirna nyatanya masih ada ... sama seperti lukaku karena mu dan dia. Meski begitu, aku berusaha melepaskan segala sesak bukan karena kamu sih," Ezra menoleh sekilas padanya.


"Karena?"


"Dila dan Shan, juga semua orang yang ku sayang ... termasuk Alyssa, kasihan sekali nasib dia punya kakak macam kamu. Hatiku harus waras dan kosong agar cinta dan kasih sayang Dila leluasa masuk dan memenuhi setiap inci nya ... juga, usia kita sangat pendek, jika aku mempertahankan kecewa didalam sana, mungkin nikmat Tuhan lainnya tak dapat aku syukuri dengan benar karena sifat manusia itu, melupakan sejuta kebaikan namun mengingat satu keburukan," tutur Ezra panjang.


"Semoga aku bebas ya Kak," tawanya terdengar lagi, berharap semu.


Zayn hanya mengangguk seraya tersenyum samar, tiada lagi wajah ambisi terukir disana. Al Zayn mungkin perlahan berubah.


"Sini," Ezra memeluk adiknya, menepuk punggung dan bahunya pelan.


"Aku merugi. Dia tetaplah kakakku yang baik hati sejak dulu," batin Zayn.


Dia terharu, mendapatkan perlakuan manis dari Ezra. Ia pun mengurai pelukan tak ingin larut dalam penyesalan.


"Good Luck, Kak."


"Kamu juga," sahut Ezra kemudian.


Putra sulung Emery menghela nafas kasar. Teringat sikap ayahnya yang tak pernah dapat berlaku kasar pada Zayn. Ternyata, anak itu butuh kasih sayang.


"Bos, mana ada sama musuh pelukan, becanda gitu sih," protes Rolex.


"Dia adikku, Lex."


"Jangan sampai ya, majelis mengira bahwa ini akala-akalan kalian saja," lanjutnya lagi.


"Ok lah. Aku keluar saja. Masih pembacaan dakwaan kan? gak tega liat muka di itu," Ezra izin bangkit keluar pada Jaksa juga lawyer nya menggunakan alasan keluhan Dilara meminta ke rumah sakit.


Tepat pukul sembilan malam.

__ADS_1


Rolex datang ke apartemen langsung menuju ruang kerja, membawa setupuk berkas yang harus Ezra tanda tangani termasuk urusan lamaran dirinya dan putusan sidang siang tadi.


"Bos itu sign. Dan ini undangan aku, menikah dengan Katrin dua pekan lagi ... private party dihadiri keluarga, yang menjadi wali nikah paman dia dari pihak ayah ... semua sudah selesai kami atur," ungkap Rolex menjelaskan rencananya.


"Ngebet amat sudah kelar aja sih ... oh ya, satu design sekolah, baru rampung, kamu selesaikan pewarnaannya menurut bagan ini." Ezra mendorong file dalam map biru ke hadapan Rolex.


"Dari aku dan Dila ... untuk hadiah kalian," Ezra menyerahkan sebuah kunci rumah juga tiker honeymoon.


Rolex meraih map yang diatasnya terdapat kunci rumah juga sebuah amplop. Lalu membukanya.


"Kun-ci rumah Bos? dan tiket perjalanan?"


"Iya. Apart kamu yang di sebelah buat Sonny agar aku mudah memintanya datang ... pindahlah ke sektor 6 PIK Residence, Lex. Aku siapkan rumahmu di sana meski masih satu kawasan, tapi kita sudah gak satu gedung lagi ... butuh waktu jika situasi urgent."


Rolex hanya diam. Semua fasilitas yang dia miliki semua pemberian Ezra, baik mobil atau motor sport nya bahkan perkara treatment kendaraan yang ia miliki. Sekarang ditambah hunian.


Dirinya dan Katrin sudah memilih rumah di sekitar kawasan kediaman sang pimpinan, namun harga yang ditawarkan over budget dan jujur mereka kebingungan untuk saat ini. Beruntung, Ezra peka terhadapnya.


"Kenapa? kurang besar? pilih ulang dan atur suratnya juga karena yang ini sudah atas nama kamu, Lex."


"Bu-bukan Bos. I-ini lebih dari cukup untuk kami ... atas namaku?" Rolex terpana.


"Iya. Hadiah bonus akumulasi tahun ini juga karena handle semua pekerjaan aku selama tiga bulan kedepan," Ezra tertawa.


"Ckck, aku kira tulus. But, thanks a lot Bos. Ini too much untukku."


Ezra tersenyum melihat asistennya itu shock. Dia lalu membuka laci, mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Dari Papa." Ezra menyerahkan kunci mobil city car berwarna silver metalik.


"Dari Mama dan Bibi, rumah baru itu belum lengkap perabotan juga furniturenya. Mereka kasih subsidi agar kalian gak keluar banyak biaya untuk isi rumah," Ezra mendorong sepuluh kupon belanja di atas meja dari toko perlengkapan rumah tangga.


Rolex mematung. Dia tak dapat menyembunyikan bahagia. Ayahnya hanya seorang driver keluarga Qavi namun Emery mengubah derajat keluarga. Rolex di asuh bersama Ezra tanpa membedakan status sosial hingga dia mengabdi sebagai balas budi dari banyak hal yang telah mereka perbuat untuknya


Asisten tuan muda pun terisak. Tangis kedua setelah kepergian ayah beberapa puluh tahun silam.


"Lex."


"B-bos. Makasih banyak."


"Berbahagialah dengan Katrin. Katakan padaku jika ingin mundur dan membuat usaha sendiri ya, jangan sungkan ... kamu keluarga bagiku," Ezra membereskan semua berkas dari atas meja. Lalu bangkit dan menepuk bahu aspri hebatnya itu.


"Tentang Zayn. Kita kawal saja hingga tuntas, toh semua sudah di ajukan termasuk kesaksian Anastasya nanti ... sepertinya Zayn tak akan banyak melawan agar hukumannya lebih ringan," menantu Devana tak banyak sikap untuk hal satu ini.


"Baik."


"Istirahat, Lex. Jangan sampai saat MP kamu loyo, payah." Ezra tergelak seraya keluar dari ruang kerjanya.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2