SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 100. VIDEO


__ADS_3

"Menepi, sejenak ... yah, boleh?" Dilara memandang sosok teduh disampingnya, yang seketika menunduk kala ia mengucapkan kalimat itu.


Jeda beberapa detik.


Kepalanya kembali dia tegakkan, Ezra juga memandang ke arah yang sama.


"Sayang, beri aku kesempatan menjelaskan semuanya. Jika setelah itu kau tetap bersikukuh dengan keputusanmu, kita cari jalan terbaik. Bagaimana?" lelaki satu-satunya keturunan El Qavi mencoba memahami isi kepala istri abege nya kali ini.


Ezra sadar, hal yang Dila mau tidak bisa ia penuhi bahkan gantikan. Memang berat namun memiliki pemikiran itu pun tidaklah sepenuhnya salah.


"Ok."


Lelaki tampan itu mengulas senyum. Dia membelai kepala Shan dari balik kain penutup, yang mulai mengantuk meski masih menyusu pada ibunya.


"Tentang video pernikahan, juga adegan syur. Itu bukan aku, Sayang."


"Jangan bercanda dengan perkawinan, Abang! jelas ko itu, Cheryl dan ... astaghfirullah aku jadi keinget lagi kan?" Ia menggelengkan kepala samar.


Ezra tertawa melihat wajah Dila bersemu merona. Mungkin dia malu, kala melihat adegan panas seseorang yang mirip dirinya.


"Ck, Sayang. Apakah malam panas kita tak pernah berkesan dalam ingatanmu? hingga kau lupa, rasanya? ben-...." Ezra masih senang menggoda istrinya itu, semakin di goda, Dilara semakin kikuk.


"Cukup! Ish, Abang, gak sopan!"


Tawanya kembali terdengar, kali ini lebih lepas.


"Dia bukan aku. Hanya mirip. Coba deh kamu perhatikan lagi, Dilaaa masa aku gitu sih? lagipula, cepet banget selesai. Kalau aku gitu, kamu gak bakalan melay--," bisik Ezra di telinga Dilara.


"Abang, ish!"


Ezra masih setia dengan tawanya, hiburan tersendiri melihat wanitanya malu-malu.


"Please, lihat lagi, sejenak." Desak Ezra masih menggoda.


"Enggak! jijik dan risih!" seru sang Nyonya muda.


"Kalau kita begituan, kamu ... risih juga?" cecar Ezra lagi.


"Ya enggak lah ... eh."

__ADS_1


Dila terbawa suasana, hatinya tak memungkiri bahwa sang suami pria romantis dan istimewa di ranjang.


Kedua insan yang terlibat obrolan absurd itu akhirnya tertawa akibat ulah ucapan jahil Ezra. Suasana kaku mulai mencair.


"Shan udah tidur? letakkan di mana? atau digendong sama aku, gantian?" Ezra hendak meraih bayi mereka yang telah lelap dari gendongan Dilara.


"Di atas selimutnya saja, aku bawa matras tipis di tas. Tolong Abang hamparkan," pinta Dila pada suaminya.


Setelah menyiapkan tempat tidur bagi Shan. Ezra memesan makanan untuk mereka berdua seraya meletakkan ponselnya di atas tikar.


"Sayang, coba lihat ini. Lalu kamu simpulkan," Ezra membuka satu folder video.


Dia mendekat pada istrinya, menekan tombol pada layar gawai agar tampilan itu berputar. Mata bulat Dilara fokus pada layar gawai yang Ezra berikan.


Sementara ibu muda itu serius dengan benda ditangan. Ezra meletakkan telapak tangannya di pipi, menyangga kepalanya agar tegap memandang wajah yang kian ayu setelah berbulan tak melihat secara langsung.


"A-bang ... i-ni?" Kedua manik mata mereka bersirobok, saling menatap dalam.


"Iya Sayang, bukan aku kan? dia Kevin, lelaki yang diciptakan mirip dengan wajahku, oleh seseorang yang menginginkan kita berpisah. Juga memanfaatkan Cheryl, mantan istriku untuk melukaimu ... geser lagi ke kanan, video pengakuan Cheryl yang juga tak mengira jika itu bukan aku. Dia sama di bodohi," terang Ezra lembut. (lupa episode berapa 😅)


"Maa sya Allah, cantiknya Dilara. Mungkin Allah menjadikan cobaan ini agar aku melihat dirimu yang sesungguhnya ya Sayang. Agar pandangan dan jiwa raga ku hanya untuk istriku," ucap Ezra dalam hati.


"Jangan liatin kayak gitu, gak baik."


"Lihat istriku masa gak boleh ... gimana? sudah lihat semua videonya?" tanya Ezra.


"Iya." Ada rasa menyesal mulai merasuk kalbu Dila.


"Rolex, dan Sonny menyimpulkan demikian. Geser lagi videonya, Sayang." Ezra telah menyiapkan segala bukti saat mematahkan gugatan cerai yang Dilara ajukan.


"Jadi, ini konspirasi atas sebuah dendam? termasuk saat Abang itu?" Dila berusaha menebak alur semua ini.


"Iya, hingga lahirlah El ... eh Shan. Sayang, tentang malam pertama kita, yang mungkin tak kau inginkan ... saat aku menyebut Cheryl, itu bukan karena aku ingat padanya...." imbuh Ezra, masih menatap lekat cintanya.


"Eh, Abang ingat? ... lalu? biasanya kalau sedang gitu, pas inget seseorang adalah karena dia berkesan. Mungkin saat intim atau karena masih cinta," cicit Dila menundukkan wajah, ia rikuh di tatap intens oleh Ezra.


Huftt.


"Ingat donk, Sayang ... pasti kamu sakit banget mikirin itu ya? maaf Dila, semua sudah sangat terlambat," ingatannya kembali kala dia ******* dengan Dila, saat pertama kali melakukan penyatuan.

__ADS_1


Yang di tatap hanya diam, Dilara bingung merespon dengan apa, nyatanya hatinya sangat sakit bahkan hingga saat ini.


"Untuk Kasus ku bukan. Aku ingat, sebelum dinner, melihat Cheryl bicara dengan seseorang. Lalu tiba-tiba ada waitress memberikan satu gelas air mineral dingin untukku ... kebetulan aku meminta tambahan air minum kala itu, tetapi bukan pada orang yang sama. Ragu, namun karena Rolex mengajak bicara, aku meneguknya satu kali."


"Dan?"


"Reaksinya seperti yang terjadi. Sonny memberikan penawar namun efeknya tak langsung hilang. Itu diciptakan agar aku masuk ke kamar hotel dimana Cheryl telah menunggu, melakukan sesuatu dengannya lalu yaa seperti kejadian ini pada akhirnya ... melukaimu dan kita berpisah. Cheryl mendapatkan aku kembali atau aku mati, dan kau menjadi miliknya."


"Untung malam itu, Sonny sigap membawaku menuju kamarnya sebelum aku diantar pulang dan melakukan itu dengan istriku. Ah, aku sangat bersyukur untuk kalimat yang terakhir," Ezra mengulas senyum.


Dilara melihat senyum menawan itu sekilas sebelum meletakkan ponsel milik suaminya. Dia memejamkan mata sejenak, bertepatan dengan waiter mengantarkan pesanan mereka.


"Makan ya, aku suapi. Lalu kita lanjutkan lagi," ujar putra Emery menenangkan kegundahan yang dia tangkap dari gestur istrinya.


"Pria gila ini mengenalmu. Dia terobsesi atas sebuah luka masa lalu, menggunakan keluarga agar aku merasakan kehilangan. Dia juga ada di sekitarmu Sayang."


"Aku kesulitan menembus wall Asyraf Hamid, namun kamu jangan khawatir karena seseorang menjagamu dari dekat," ungkap putra sulung Emery.


"Siapa?" tanya Dilara penasaran. Sambil meraih pinggan Ezra.


"Aaa, buka mulut ... Abang makan dulu, takut masuk angin. Aku gak kemana-mana, mendengarkan apa yang ingin Abang sampaikan."


Ada bahagia menyelinap dalam hati, kala Dila masih mau berdekatan dengannya saat ini. Melayaninya makan, seperti saat kebersamaan terakhir mereka.


"Dia adik kevin, yang wajahnya mirip denganku. Aku mendapatkan semua kabar tentang mu darinya. Jangan cari dia, ya Dila. Jaga rahasianya agar kamu dan Shan, aman."


"Kemana pria itu dan man-," tanya Dila ragu.


"Dibunuh setelah diselamatkan oleh Rolex, kalau Cheryl, ya masih aku sekap sebagai bukti itupun kalau dia gak kabur," jawab Ezra masih mengunyah sisa makanan dalam mulutnya.


Keduanya lalu diam, melanjutkan makan siang masing-masing. Kemudian bergantian sholat dzuhur seraya pindah ke dalam cafe yang lebih teduh.


Pembicaraan diantara mereka belum usai. Jika Ezra telah mengutarakan sebagian bukti yang ia punya, tak demikian dengan Dila.


Wanita muda itu, bahkan belum bersuara atas apa yang mendasarinya melakukan ini. Mungkin di jarak inilah, keakraban yang tak tercipta di masa lalu mulai hadir.


.


.

__ADS_1


..._________________...


__ADS_2