
"Selamat malam, Sayang," Ezra berat meninggalkan istrinya di sana. Masih memeluk juga menghadiahi kecupan di kening gadis itu, lalu dengan berat langkah meninggalkannya.
Dilara menutup pintu pelan, setelah melihat suaminya perlahan menjauh dan hilang dari pandangan.
"Aku salah ya? gak nurut suami, padahal Abang minta aku tidur dengannya ... hmm, masih rikuh. Adek, ayah itu terlalu tampan buat Bunda," lirih Dila mengusap perut dan melepas hijab yang ia kenakan.
Rasa hati ingin tidur namun notif email di ponselnya berbunyi. Jari manis kiri yang telah tersemat cincin berlian itu menggeser kursor ke atas layar, membuka aplikasi email dan membacanya.
"Alhamdulillah, gak ada revisi dan dilanjutkan hingga bab akhir. Sekitar 20 bab lagi dan eh, uangnya langsung cair? ya Allah nikmat, bisa ngasih Ibu lebih cepat...." Dilara tak henti bersholawat, mengucap syukur gaji translator nya bulan ini di cairkan dua kali.
"Masuk 4 juta untuk dua buku dalam satu bulan, alhamdulillah ... meski buku yang di garap jumlah halaman kurang dari seratus, dan masih dalam masa training, aku gak sangka secepat ini menerima fasilitas kantor," putri Ruhama mengecek notif lainnya, dia mendapatkan uang tunjangan kesehatan, transport, juga pulsa untuk komunikasi antar editor senior di kantor.
"Allahumma ba'daha, total hampir enam juta ... Ibu, berkat doamu, aku bisa begini." Tak henti gadis itu mengucap syukur.
"Aku tahu, gajiku ini terbilang masih sedikit namun sungguh semua Allah yang maha memudahkan. Ok deh, lanjut kerjakan kewajiban dulu ... mangats Dilara, kamu bisa!" Gadis ayu menyemangati diri sendiri dalam ruangan sempit miliknya.
Karena asik mengerjakan sesuatu, tanpa terasa jarum jam di atas dinding kamar, telah menunjuk ke angka sebelas.
Kryuuk.
"Yah, lapar lagi ... kita makan cream sup yuk, Bunda hangatkan dulu sebentar," ucap Dila, menekan tuas handle pintu agar terbuka.
Dia berjalan pelan menuju dapur, membuka kitchen set atas dan mengambil satu cup cream sup.
Setelah melarutkan dengan sedikit air, ujung kuku nya menyalakan microwave, Dilara kemudian memilih menu, memasukkan bowl ke dalamnya.
"Kita tunggu sebentar ... hmmm bikin sosis panggang enak kali ya," lirihnya sembari menuju kulkas, mengambil dua potong sosis dari sana sementara menunggu timer microwave habis.
Ibu hamil yang kelaparan menjelang tengah malam, menyiapkan makanannya sendiri hingga beberapa saat berlalu, semua yang di buatnya tadi, ludes tak bersisa.
Merasa sangat kenyang, Dila menuju ruang keluarga seraya menunggu isi lambungnya turun. Ia duduk di sofa dan menyalakan televisi. Lambat laun, kelopak matanya terasa berat seiring rasa malas beranjak dari sana. Dilara tertidur begitu saja di temani televisi yang masih menyala.
Sepuluh menit berikutnya.
Ezra terbangun, karena merasa haus. Namun Bi Inah lupa menyiapkan air minum baginya. Terpaksa, sang tuan muda pun turun ke lantai dasar menuju pantry.
"TV nyala?" gumamnya sesaat sebelum kaki menyentuh anak tangga terakhir.
Lelaki yang masih sedikit mengantuk itu melanjutkan langkah melewati ruang keluarga.
__ADS_1
"Dila? ko tidur di sini?" Ia terkejut mendapati istrinya di sofa, tidur dalam posisi duduk bersandar.
Dia mengabaikan dahulu wanita hamil yang terlelap, terus berjalan menuju pantry karena haus yang kian terasa. Setelah meneguk air minum hingga tenggorokannya kembali basah, Ezra menuju kamar Dila, mengambil selimut dari sana.
"Aku temani ya, Sayang."
Pria yang belum mengenakan piyama tidur itu mendekat kembali dimana sang istri berada, menyelimuti sebagian tubuhnya lalu dengan sangat hati-hati ia membenarkan posisi tidur agar Dilara nyaman.
"Kalau diangkat, pasti bangun. Gini aja deh. Bentar Sayang, aku ambil selimutku dulu."
Pria mapan sekaligus tampan, berlari naik ke kamar di lantai dua. Secepat kilat ia kembali turun dengan membawa bantal, selimut juga telah berganti pakaian training panjang dan kaos oblong.
Di ruang keluarga, pukul satu dini hari.
Ezra terlihat sibuk, mendorong meja agar tercipta ruang di sisi sofa, menata kasur lipat yang dia ambil dari lemari tengah, sebagai alas untuk tidur dilantai.
"Nah siap, mimpiin aku ya, Sayang."
Dia merebahkan tubuhnya miring ke kanan diatas kasur busa tipis tepat di bawah sofa yang Dila tiduri. Tangan kanan istrinya, Ezra genggam erat.
Dingin yang menusuk, terhalau oleh selimut masing-masing juga kehangatan akibat berbagi suhu tubuh dari keduanya. Mereka kian terlelap ke alam mimpi dalam sekejap.
Bibi bangun untuk bersiap subuh, terkejut melihat televisi masih menyala juga letak perabot yang tak semestinya. Ternyata pasangan majikannya sedang berulah.
"Astaghfirullah, kurang empuk apa itu kasur di kamar, malah pada tidur di sini."
"Den, subuh." Bibi menggoyang bahu Ezra agar bangun. Mungkin suaranya terlalu kuat, pasangan itu bangun bersamaan.
"Eh, ko tidur disini?" Dilara terkejut melihat tubuhnya dalam balutan selimut diatas sofa ruang keluarga.
"Pagi, Sayang." Suara berat Ezra, khas bangun tidur.
"Kenapa tidur disini? Den, Non?... kan mau pergi, kalau masuk angin gimana?" Bi Inah mulai mengomel. Biarlah statusnya adalah asisten rumah tangga. Namun rasa sayang wanita renta itu mencerminkan betapa dia khawatir.
"Nemenin istriku, gak boleh?" Ezra masih berbaring, dengan tangan kanan yang menggenggam jemari Dilara.
"Aku kayaknya ketiduran, habis makan semalam," jawab Dila.
"Ayo lekas mandi, lalu sholat subuh dan siap-siap berangkat," titah sang Bibi rasa Ibu kandung pada keduanya. Ia meninggalkan mereka yang masih mengumpulkan nyawa.
__ADS_1
Ezra melepaskan cekalan tangannya, dia duduk dan menyingkap selimut. Perlahan bangkit mendahului Dila yang juga hendak beranjak dari sofa.
"Thanks, aku bisa tidur nyenyak malam tadi. Dandan yang cantik ya, Sayang. Pesawat kita terbang jam sembilan pagi ini," ucap Ezra, membelai kepala Dilara lalu mengecupnya.
...***...
Soetta, Jakarta.
Setelah apa yang suaminya lakukan semalam, Dilara berpikir keras, ada rasa bersalah menyelinap masuk dalam hatinya.
"Abang nemenin aku tidur, rela berbaring di lantai. Salahku, gak mengikuti kemauannya. Semoga dia gak sakit," ucap Dila dalam hati.
Keduanya telah berada dalam ruang tunggu keberangkatan. Dila menyibukkan diri dengan membaca mushaf kecil yang ia pegang sedari duduk di sofa panjang.
Ezra hanya diam, mendengarkan seksama bacaan sang istri dan mengamati dari ekor matanya.
"Semoga adek jadi anak yang sholih sholihah ya, kemarin gak ketahuan sih laki atau perempuan ... Ayah berharap kamu dapat mewujudkan keinginan Bunda, karena dia telah mengajarimu mengaji sejak dalam kandungan," batin Ezra.
Melihat betapa rutin dan giat Dilara memperdengarkan kalam Allah setiap saat, dirinya kagum dan sangat bersyukur.
"Aku beruntung, kamu yang mengandung anakku, Dila."
Suara announcement mengudara. Ezra meraih pinggang istrinya yang seakan tak peduli pada sekitar, agar bangkit.
"Simpan dulu mushafnya, Sayang. Mau masuk," bisiknya pelan. Tangan kirinya meraih tas tangan Dila.
"Aku saja," cegah Ezra saat Dila akan meraih bawaannya.
"Tapi itu tas wanita," ucap Dila.
"Karena aku bersama istriku dan dia wanita, izinkan suamimu ini jadi ayah siaga, Dilara."
.
.
...______________________...
...Jejelin yang manis dulu, ðŸ¤...
__ADS_1