
Dipersingkat ya, di potong banyak part. Bismillah.
...**********...
Satu bulan setelah peristiwa Jogja. Pasangan muda telah selesai sarapan dan akan bersiap menuju Malaysia ba'da dzuhur nanti.
Dilara melanjutkan packing sedangkan Ezra menuju ruang kerja, menyiapkan semua berkas dokumen yang harus dia sign sebelum pergi siang ini.
Devanagari berniat meminta pada Ezra agar Shan tetap bersama menemani di rumah. Bocah kecil menggemaskan itu sangat membuat Devana kecanduan memeluk. Dia pun mengikuti menantunya ke ruang baca.
"Za, jangan di bawa ya, Shan dengan Mama disini. Serah deh, kalian mau kemana, lama atau sebentar perginya, Mama gak bakal ngerecokin. Lagian ada Rolex yang tidur disini jadi bisa Mama mintain tolong. Di rumah juga ada Inah, boleh?" pinta sang Mama setelah menghadap Ezra di ruang kerja.
Sungguh bagai mendapat lampu hijau ditengah kemacetan. Meski dalam hati ingin bersorak, sekuat tenaga Ezra menahan sikapnya. Harus tetap cool di hadapan sang mertua.
"Jangan Ma, Shan itu moody. Sekarang dia gak nyariin Bundanya, nanti kalau malam ngamuk seperti pulang dari Jogja itu, gimana? cuma Dila yang bisa bujuk anak itu," Ezra berpura teguh pendirian.
"Lah, Mama kan sekarang udah bestfriend dengan Shan. Tiap malam dia minta tidur sama Mama ... in sya Allah bisa, lagian Shan mau ikut test Hafiz cilik kan? nah, agar fokus hafalannya biarkan Mama yang mandu, tajwid anakmu itu bagus banget. Sayang kalau gak sempet muroja'ah malah jalan-jalan mulu nanti," Mama mertua pun bersikukuh.
Ezra kembali diam, satu sisi bahagia namun sekaligus takut merepotkan beliau.
"Tanya Dila ya Ma, aku gak berani memutuskan sendiri jika menyangkut Shan. Tapi jawabanku, kalau Mama meyakini sanggup mengendalikan emosi Shan, aku izinkan dia tinggal...." ujar Ezra mengalah.
Devanagari bersorak bertepuk tangan, wajahnya berseri dengan senyum terkembang. "Syukron," jawabnya seraya keluar dari ruang kerja.
Ezra ikut tersenyum melihat mertuanya sangat bahagia.
"Senyum Mama itu kenapa selalu nular ya. Kalau anakny, bikin nyandu," gumam Ezra, dia melanjutkan pekerjaan memeriksa dokumen diatas meja, setelah kepergian sang mertua.
Atas saran Ezra, Devana mencari putrinya. Dia menuju tangga, bersiap menapaki belasan undakan beton berlapis karpet, satu persatu ke lantai dua, dimana kamar Dila berada.
Hosh. Hosh.
"Duh, karena terbawa euforia nih, jadi ngos-ngosan," lirihnya disela tarikan nafas.
Tok. Tok.
"Dila, ini Mama," panggil Deva.
Tak lama pintu bercat putih itu terbuka, memunculkan sosok ayu dengan rambut hitam sebahu.
"Masuk Ma, maaf ya berantakan. Tadi Shan mainan disini sebelum ketiduran di sofa. Dila belum selesai packing baju Abang. Karena dia mau ketemu klien juga di sana," ucap Dila seraya membereskan mainan putranya.
"Dila, Shan jangan di ajak ya. Biar Mama yang bantu dia muroja'ah sebelum test seleksi ... agar Mama gak kesepian, kalian pergilah berdua. Kamu jarang banget jalan berduaan dengan Ezra. Menantu Mama padahal sering ngajakin tapi kamunya begitu," Deva menegur putrinya yang seakan bersikap kurang manis pada Ezra.
"Kalau diladenin terus, Mama gak akan lihat aku seharian eh mungkin seminggu. Bisa jadi karena aku sakit atau lemas hingga tidak dapat turun dari tempat tidur," jawab Dila masih berkutat dengan pekerjaannya. Mondar mandir walk in closet dan meja sofa, menyiapkan semua perlengkapan mereka.
__ADS_1
Devana tersenyum. "Masa sih, Ezra gitu? ya keliatan kalau dia bucin tapi gak segitunya kali Dila," sangkal Mama tak yakin.
"Ish, aku pernah dibuat lemas dua hari saat baru pulang dari Surabaya. Abang itu keliatan cool diluar doank, tapi manja gak ketulungan. Untung Shan gak ngikutin kelakuan ayahnya."
Dila menutup koper, memasang gembok kecil masih dengan keluhannya, lalu menaruh ransel juga handbag diatas koper dan menariknya ke sisi pintu.
Ibu kandungnya tertawa lepas. "Shan gimana? boleh?"
"Kata Abang gimana? kalau diizinkan, ya Dila ok aja asal Mama janji jangan gendong Shan lagi ketika turun tangga, dan gak boleh kecapean," pesan Dila, menghampiri Mama yang duduk disofa dekat dengan kaki Shan, bocah itu tertidur di sana.
Dilara, duduk dilantai, menaruh kepala tanpa hijab dipangkuan Mama.
"Dulu, aku sering begini sama Ibu, sampai tidur. Sekarang dengan Mama, alhamdulillah," lirih Dila, memeluk kaki sang Bunda.
"Alhamdulillah, makasih ya Nduk. Mama bakal inget pesen kamu. Sing enggal isi adek Shan, kayaknya Ezra ngebet banget kamu hamil lagi. Bahagia in sya Allah, doa Mama selalu buat kalian," Deva membelai lembut kepala putrinya sayang. Sebutir tetes bening kembali menyembul. Dia bahagia, di masa senja menghabiskan waktu dengan keluarga putrinya. Menebus banyak waktu terbuang kala nasib mempermainkan mereka.
Dua jam berikutnya. Bandara.
Shan melambai pada ayahnya dari layar gawai sebelum mereka boarding. "Jangan nakal jagoan, baik-baik sama Eyang ya. Jangan lupa hafalan, see you My Boy," Ezra melayangkan kis-s bye disusul Dila.
Tak lama, panggilan announcement mengudara. Kedua pasangan mulai masuk ke tunnel penghubung.
"Jangan jauh-jauh," Ezra menarik pinggang Dila agar menempel padanya.
"Ringan sayang, masih beratan kamu kalau ..." bisik Ezra membuat pipi kuning langsat dengan hijab hitam itu merona.
"Ish, aku gendats?"
"Bukan, kalau sedang itu, mau gak mau nahan beban kamu juga kan?" Ezra tertawa, menarik pinggang yang sempat menjauh itu kembali rapat lalu mendaratkan ciuman di kening Dila.
Putri Ruhama tersipu sekaligus kesal, ia mencubit pinggang Ezra. Bukannya mereda malah semakin menjadi. Kakak Ermita kian menghujani dengan kecupan di tempat yang sama.
Sapaan flights attendance, memutus kemesraan Ezra kala keduanya telah tiba di pintu pesawat, mulai memasuki kabin kelas bisnis diujung sana.
Karena situasi kelas bisnis lengang, Ezra berpindah tempat mendesak Dila yang bersiap tidur sejenak.
"Geser, Sayang," desak Ezra di kursi Dila.
"Lah, di sana lega Honey, aku mau tidur bentar," pinta Dila tak habis pikir, pria berbadan kekar kok gemar menempel padanya akhir-akhir ini.
Teguran dari pramugari menyudahi sesi debat keduanya. Dia bertanya mengapa kisruh sementara pemandangan di angkasa sangat indah dan mereka dapat menikmati dengan leluasa jika duduk nyaman di kursi masing-masing.
Sungguh teguran secara halus, namun Ezra tak kalah jurus.
"Istriku berniat tidur sejenak juga anakku ingin memeluk ayahnya," jawab Ezra seraya mengusap perut Dila.
__ADS_1
Pramugari itu terkejut, dia tidak mendapatkan laporan bahwa ada wanita hamil dalam penerbangan kali ini. Gadis itu pun meminta maaf atas keteledoran maskapai yang mereka gunakan.
Ezra berkilah. "Bakal calon Miss, karena aku telah menitipkan banyak benih kala bercocok tanam semalam," balas suami Dilara asal.
Pramugari hanya tersenyum canggung seraya mengusap pelipisnya yang masih terpoles make-up. Semenit kemudian dia menarik diri dari hadapan pasangan absurd penumpang pesawat.
Dila menahan tawa atas ucapan sang suami yang berhasil membungkam flights attendance meski semua susunan kalimatnya norak.
Seratus delapan puluh menit berlalu. KLIA, Malaysia.
Bellboy Hotel tempat mereka menginap telah standby di gate kedatangan internasional. Setelah beberapa menit berbincang, ketiganya meluncur ke parking lot area dan segera berpindah tempat.
Sesampainya di Hotel, pasangan muda ini langsung menuju kamar di lantai lima. Mereka menolak di antar oleh bellboy menuju kamar, namun tetap memberikan tips padanya saat keluar dari lift.
Memasuki lorong antar kamar. Menantu Emery berjalan pelan dibelakang suaminya. Sejurus kemudian...
CEO EQ building tidak sabar menunggu Dila, seakan Nyonya muda itu berjalan sangat lambat hingga tarikan tangan tergesa darinya mengejutkan ibunda Shan.
Ezra membuka pintu kamar dan mendorong koper hingga jatuh tergeletak di balik pintu. Tangan kekar itu meraih tubuh ramping nan sintal, mendekatkan wajahnya pada pemilik mata bulat.
"A-bbaang, hmmmppt."
Tubuh Nyonya Qavi ditopang oleh rengkuhan lengan sang suami, perlahan terdorong menuju sisi ranjang. Bibir sensual nan menggoda itu dilu-mat habis oleh Ezra hingga Dila jatuh terbaring disana.
Siang menggelora kembali dijalani putri Devana hari itu. Melayani sang suami tercinta.
Satu jam berlalu.
Tubuhnya lemas dengan kepala sedikit pusing akibat aksi panas di siang bolong. Dila memutuskan untuk mandi air hangat agar badan terasa lebih segar sebelum tidur sejenak menunggu waktu Ashar habis.
Sementara Ezra berada di balkon kamar, menghubungi Andre, asisten Asyraf Hamid. Keduanya sepakat akan bertemu di restauran bawah Hotel dimana mereka menginap, Ba'da maghrib nanti.
Selang beberapa menit kemudian.
Ezra menutup panggilan, dan kembali masuk ke dalam kamar. Melihat istri cantik telah terpejam, dia pun membersihkan diri sebelum bergabung dengannya.
"Sayang, maaf yaa bikin kamu capek terus. Gemesin sih, apalagi kalau kamu kelelahan dan tertidur setelah itu, adem banget ... semoga ya Honey," bisik Ezra seraya menarik selimut, mengusap perut rata Dilara lalu ikut bergelung dengan istri moleknya itu.
"Love you putrinya Raden Akbar. Aku menunggu kamu siap, untuk menggugat Anastasya. Jangan lagi, ada kesedihan di mata cantikmu ini ya Sayang. Aku janji." Mata elang keturunan Emery mengecup mesra pucuk kepala wanitanya yang memiliki rambut beraroma apel segar.
.
.
..._______________________...
__ADS_1