
Dilara hanya menanggapi dengan senyuman atau bahkan tawa renyah saat pertanyaan mengejutkan di sodorkan Shan padanya.
"Bukan tidak punya uang, but Daddy have many project, look at over there, your daddy built likes all of this from nothing. He's a architect, Shan," terang Dilara seraya membawa Shan ke tepi jendela, menunjukkan deretan gedung pencakar langit di sekitar apartemen mereka.
(ayah sedang menyelesaikan banyak pekerjaan, seperti deretan gedung diluar sana, dia membangun semua dari nol.)
"Wow, wonderful. He's great," serunya disertai sorot mata berbinar.
"Keren kan? bilang sama Ayah, Shan happy," ajak Dila agar putranya menatap kamera pada laptopnya.
"Daaaaddy, Shan happy to you ... kenapa tidak selesai cepat saja? di cetak Mommy, like magic sand," selorohnya lagi.
Lagi-lagi, kalimat mengundang tawa yang terlontar dari mulutnya.
"Berbeda caranya Shan ... Daddy works 16 hours a day so he can build a dream house for when you grow up ... banyak berdoa, makanya Shan harus rajin ngaji Ok? Bunda janji akan perlahan mengajari Shan, deal?" Dilara mengajukan penawaran kala Shan mogok mengaji.
(Ayah bekerja enam belas jam sehari agar dia bisa membangun rumah impian ketika Shan besar nanti).
Cucu Emery itu mengangguk antusias.
"I would like to build simple and friendly homes just as my Dad, did. Shan love Daddy," ujarnya menatap layar laptop dengan sorot mata tajam.
(aku suka, juga akan membangun bangunan yang sederhana dan nyaman seperti yang ayah lakukan)
"Daddy, we love you...." Dilara memeluk putra semata wayangnya seraya menghadap pada layar laptop.
Kemudian mereka melanjutkan bacaan surat yang sempat terjeda.
Belajar sambil bermain, bahkan mengobrol, bercerita tentang asbabun nuzul sebuah ayat. Meski dia belum sepenuhnya mengerti, namun ibu muda ini tetap menstimulasi Shan kecil sedikit demi sedikit. Menanamkan banyak kisah inspiratif juga adab yang sesuai dengan teladan Rosululloh.
"Lelah? catatan untuk Shan, bacaan al fatihah nya belum sempurna. Kita lanjutkan besok saat di ruang tunggu Bandara. Ok?"
Batita menggemaskan itu mengangguk dengan senyum menghiasi wajah bule nya. Semakin besar, perawakan Shan mirip Ezra. "Big hug karena Shan anak baik," ujar Dila membuka lengan lebar menyambut putranya masuk dalam pelukan.
Sementara di tempat lain. EQ building.
Lelaki berperawakan tegap yang baru saja selesai meeting, memasuki ruangan kembali. Ia tergesa menuju mejanya.
__ADS_1
Ezra mengeluarkan laptop rahasia miliknya, menekan satu tuts diatas keyboard guna menampilkan capture yang berhasil benda itu rekam.
Bibirnya mengulas senyum, tak jarang ia tertawa melihat dan mendengar celotehan putranya. Terkadang perdebatan kecil terjadi di antara ibu dan anak itu, membuat Ezra haru.
"Sorry, Daddy belum bisa berada di dekat kalian, lebih sering."
"Dila ... Cheryl cacat akibat kecelakaan itu dan dikabarkan tengah berputus asa menjalani hidupnya. Meski keluarganya mencurigai sesuatu dan aku ikut dilibatkan menjadi saksi sehingga sempat menjadi tahanan kota karena fitnah seseorang ... berkat team lawyer, asset ku aman juga status tadi, di cabut karena sama sekali tidak ada bukti konkrit."
"Kamu sudah semakin besar ya Shan. Bunda cerita sama Ayah bahwa kewalahan menerima semua pertanyaan darimu ... giat mengaji ya Nak, konten yang kalian buat itu banyak memotivasi ibu muda untuk mengikuti metode belajar seperti kalian pakai, terlebih karena Bunda memiliki kekurangan tapi mampu mendidik Shan sedemikian rupa," Ezra bermonolog kala melihat hasil pindai rekaman aktivitas mereka hari ini.
"Besok terbang ya Sayang. Hati-hati disana, Sabrina akan menjagamu kembali ... aku akan datang jika ada celah, love you Dilara, terimakasih untuk segala hal manis selama ini."
"You will did it, Shan. Kamu pasti lebih cemerlang di banding Ayah," ujarnya kala sang putra mengatakan akan membangun sebuah rumah yang nyaman dan sederhana seperti dirinya.
...***...
Keesokan hari.
Sudah dua belas jam waktu yang telah mereka tempuh. Shan mulai rewel, ia berkali berpindah tempat. Sebentar dengan Katrin, berganti lagi dengan Kesih ataupun sebaliknya.
Rupa menggemaskan juga celotehan khas anak kecil, menarik perhatian beberapa flights attendance wanita hingga Dila sedikit lega, kala Shan diajak oleh mereka berjalan di sepanjang koridor kabin pesawat, mengenalkan berbagai benda yang Shan ingin tahu.
"Alhamdulillah ... keluarga ayahnya masih ada keturunan bangsawan Turki, kata Bibi. Jika aku gak salah dengar," balas Dila mengingat cerita pengasuh kecil Ezra itu, saat dia baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Dua jam berikutnya. Sharjah, UEA.
Terlihat Andre juga Nyonya Asyraf Hamid nampak dikejauhan kala rombongan Dilara jelang keluar dari gate kedatangan internasional malam itu. Sang janda kaya antusias melambaikan tangan ketika pandangan mata mereka bertemu.
"Cucu Oma," sambut Asyraf Hamid kala mereka kian dekat. Wanita itu memeluk penuh kasih Dilara yang menggendong Shan.
"Om-a?" sahut Shan, dia mengantuk dalam gendongan Dila.
"Denganku saja, Nona. Shan berat," ucap Andre menawarkan diri untuk membawa putra sang Nona muda.
"Shan, with uncle. Ok?"
Bayi berusia lebih dari satu tahun, hanya mengangguk. Dia terlalu lelah meski hanya untuk sekedar membuka mata.
__ADS_1
"Denganku saja, come on, my baby boy." Al Zayn tiba-tiba datang, meraih Shan dalam gendongan Dila dari arah samping, menggeser Andre hingga lelaki paruh baya itu terhuyung.
"Eehh, gak usah Tuan Muda." Dilara menahan badan Shan kala pria tampan itu meraih kedua bahu, menggamit kedua lengan putranya.
"Lepaskan Dila, kasihan Shan, sakit. Apa bedanya Andre dan aku? justru aku lebih tegap memeluk Shan karena putraku berat," balas Zayn telak, membungkam Asyraf Hamid yang hendak bicara.
"Putra Ezra El Qavi, bukan Anda, maaf Tuan Muda," sengit Dilara tak suka lelaki itu mengklaim Shan, sebagai putranya.
"Mommy," Shan merengek tubuhnya ditarik dua orang dewasa.
Akhirnya Dilara mengalah kali ini, dia menahan Shan pun percuma, bayinya akan sakit. Zayn tersenyum samar, kemudian menciumi wajah Shan selayaknya putra kandung.
"Your Daddy's here. We're go home now," bisik Zayn di telinga Shan.
"Daddy." Lirih Shan lemah, kembali tertidur.
"Uncle, Shan. Just, Uncle." Dila menggenggam tangan mungil Shan yang menggantung di udara dari belakang tubuh Al Zayn.
Rombongan itu masuk ke mobil masing-masing. Kecuali Dila, bingung akan masuk kemana, hingga dia menarik lengan Katrin agar mengikuti Al Zayn ke mobilnya.
Ibu muda ini tak ingin, sang putra di sandera oleh lelaki asing itu. Terpaksa dirinya mengikuti permainan sang Tuan Muda, kali ini.
"Abang, doakan aku. Shan, semoga tak mudah luluh padanya," batin Dilara.
"Kau takut aku menculik anakmu? dia juga putraku, tak mungkin aku memisahkan dengan Ibu kandungnya," cibir Al Zayn saat Dila mengikuti dirinya masuk ke dalam mobil.
"Jika Anda tahu itu putraku, maka tak patut berlaku demikian. Lagipula, Shan mengenali siapa Ayah sesungguhnya," balas Dila.
"Ayah yang mana? yang tak ada di sisinya? dia akan kalah, Dilara."
"Tidak akan."
Jika Dila menatap penuh permusuhan pada sosok dihadapannya, berbeda dengan Katrin. Dia hanya dapat menunduk. Nano microphone rahasia miliknya telah ON sejak mereka tiba di Bandara.
.
.
__ADS_1
...______________________...