
"Sayang!" Ezra menahan beban tubuh istrinya, yang terhuyung saat berdiri tiba-tiba dari duduk tadi.
"Ngantuk, pu-sing. Gimana sih, bingung. Gitu lah pokoknya," bisiknya menggelayut pada lengan Ezra, tak memedulikan sekitar.
Seruan Ayah Shan tadi sejenak mengundang perhatian banyak pasang mata di resto Hotel.
"Manja amat Bun, tumben. Ya udah, naik ya. Sore nanti kalau kamu baikan, kita pergi," balasnya.
Dilara mengabaikan ucapan Ezra, masih asik menikmati hangat tubuh Ayah Shan yang memeluknya erat.
Pasangan Qavi berjalan pelan, saling melingkarkan tangan ke belakang tubuh. Lain hal dengan Dilara, kedua lengannya ia kalungkan mengelilingi pinggang Ezra.
"Semoga ya Allah. Semoga. Entah kenapa kali ini aku antusias banget kalau Dila ... melihat bagaimana istriku menjaga kehamilannya hingga kelahiran saat mengandung Shan dulu, aku jadi ingin punya banyak buah hati darinya."
Meski risih dengan tatapan orang-orang yang mereka temui saat berpapasan, Ezra tak ambil pusing. Toh mereka pasangan halal meski perbedaan usia terpaut jarak lumayan jauh.
"Kamu masih keliatan kayak anak SMA, jadi aku dikira sugar daddy gatel," keluh Ezra ketika didalam lift. Menyimpulkan beragam jenis pandangan sepanjang perjalanan dari resto menuju lift.
Dilara tertawa, "Nasib aku donk ya, dapat sugar daddy yang super cakep, give me a ki-ss," ucap Dila manja.
Gak salah dengarkah pendengarannya? Dilara meminta?
"Hmm bener kayaknya ini. Tapi nanti aja deh, sekarang waktunya siaga dulu. Moga kuat ya. Kamu jangan mancing loh, Sayang."
"Bener apa sih? mancing apa? aku minta ki-ss aja gak di kasih," sungut Bunda Shan kesal namun tetap tak melepaskan tautan lengannya dari pinggang Ezra.
Ting. Pintu lift terbuka.
Lagi, pandangan aneh tamu Hotel yang melihat kemesraan mereka berdua. Dilara tak suka dengan tatapan remeh itu.
"Halal," ucap Dila seraya mengangkat dan melebarkan telapak tangan kanan yang tersemat cincin nikah couple di depan dada Ezra, agar beberapa pasangan yang menunggu mereka keluar lift melihat benda berkilau itu.
Seketika pandangan mereka berubah, Ezra hanya tersenyum atas kelakuan istri kecilnya itu. Perlahan Qavi's couple keluar dari lift.
"Sorry, excuse me," ucap Ezra membelah kerumunan di depan lift.
"Juliders, dasar netizen ... bentar lagi nanti jadi lambe, alias ghibah padahal gak ngerti sebenarnya. Nyebelin," celoteh Dila tak seperti biasanya, menanggapi orang lain yang tak berkepentingan.
Ayah Shan hanya mengusap kepalanya pelan, mencium di sana sambil menempelkan card akses agar pintu kamar terbuka.
"Bobok."
Dila menarik tangan Ezra, mengajak tidur. Memeluk dirinya. Tidak ada bantahan dari pria keturunan Qavi, dia mengikuti semua keinginan istrinya meski kantuk belum menyergap raga.
Sepuluh menit berlalu.
Tubuh tegapnya masih sangat erat di peluk, bergeser sekedar mengambil ponsel dari saku celana pun sulit.
"Sudah tidur? cepet banget."
Merasa Bunda Shan sudah pulas, Ezra perlahan menggeser posisinya. Dia lupa mengabarkan pada Shan dan mertuanya bahwa lusa mereka akan kembali.
Baru saja kaki di turunkan pelan hendak menyentuh lantai. Sebuah suara mengagetkan nya.
__ADS_1
"A-aabbaaaang, mau kemana? kan aku bilang mau tidur," seru Dila.
"Ya ampun, gak kemana-mana. Mau call Shan, lusa kan kita pulang. Bentar ya," ujar Ezra, kali ini sudah berdiri di sisi ranjang.
Dila menangis.
"Lah, jadi begini?"
Putra Emery urung melanjutkan niat. Dia pun kembali ke tempatnya semula, memeluk Dila.
"Sini, tidur lagi."
Dila menepis ajakan Ezra. "Mana handphone nya?"
"Buat apa?... ini?" balas Ezra sembari menyerahkan ponsel miliknya.
Gawai canggih bercasing hitam itu Dila rampas dan sembunyikan di bawah bantal.
"Gak boleh call siapapun. Abang punya aku, titik!"
"Call Shan dan Mama loh Sayang. Tadi beliau kirim pesan sama aku belum sempat di balas, " bujuk Ezra khawatir bilamana keluarganya menemui kesulitan di sana.
"Gak boleh. Abang milikku!" Seru Dila, kali ini disertai suara serak menahan isak.
"Sabar, Za ... sabar..."
Alih-alih kesal, Ezra justru girang. Wajah tampan itu berseri melihat Dila merajuk padanya.
"Iya iya, aku milik Dilara huwaida seorang. Sejuta persen cuma punya Dila, Bundanya Shan...."
"Just Dila, cuma milikku," Bunda Shan menyeka bulir bening yang muncul disudut mata. Beringsut menempelkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Kembali memejam.
"Shan kan bukan siapa-siapa, Sayang. Ko jealous?"
"Dia juga laki-laki."
Ezra tertawa. "Astaghfirullah, Dila. Shan masih kecil, lagipula sesama lelaki memang mau apa?"
"Dia laki-laki dalam wujud kecil. Tetap saja jiwanya lelaki, kalian para lelaki kalau sudah bertemu, mengabaikan aku."
Kali ini putra Emery tak lagi dapat menahan tawa. Mendengar kalimat konyol keluar dari mulut Dila, padahal dia juga ibunya. Hubungan ayah anak kan wajar jika terjalin erat. Ezra menerangkan.
Degh.
Dilara menyibak selimut kasar hingga terbuka lebar.
"Apa aku tidak seksi lagi?" Dila bangkit dari posisinya. Melepas hijab ... dan ...
Glek.
"Sayang, jangan mancing."
"Apa aku kurang menarik kini?" lepas sudah gamis yang Dilara kenakan. Hanya tersisa dua helai benang disana, tidak menutup sempurna gundukan kenyal nan menggoda.
__ADS_1
Menantu Devana menengadahkan kepala. Memijat pelipis pelan. "Sabbaaaarrrr ya Allah, tahan."
Ezra segera menarik tubuh setengah polos itu, dan menutupi dengan selimut. Namun agaknya itu bukan langkah tepat karena Dila kini berada di atas tubuh Ayah Shan.
"Aku gak ngantuk. Jawab pertanyaan tadi, apa aku sudah tidak menarik lagi buat Abang?"
"Sayang, turun."
Bukannya menyudahi aksi, Bunda Shan malah semakin menjadi. Rasa berdesir menjalar ke seluruh tubuh, memompa laju jantung lebih cepat untuk mensuplai oksigen juga mengalirkan darah ke setiap sendi. Menggetarkan syaraf agar kesensitifan meningkat tajam.
Euughhmm. "Jangan salahkan aku ya," Ezra terbakar.
Set. Dila berhenti, beringsut dari tubuh setengah menegang.
"Hmm, gak ah. Mau mandi dulu, gak enak banget rasanya lengket," Dila menyudahi aksinya, dia turun dari ranjang meninggalkan Ezra begitu saja menuju bathroom.
Hah.
Ezra membola. "Astaghfirullah ... ini tuh belum pasti ya, masih abu-abu tapi kelakuannya sudah begitu ... Sayang, aku sesak!" serunya.
Mau kesal dan marah pada siapa, dia yang menginginkannya. Ezra hanya mengusap wajah kasar, menetralisir rasa dan debaran jantung agar tenang kembali.
...***...
Ba'da Maghrib, rumah sakit.
Meski Dila menolak memeriksakan kondisi pendengaran hari ini, namun Ezra memaksa karena dia telah membuat janji konsul dengan dokter terbaik.
Sudah satu jam, istri yang sedang banyak tingkah itu melakukan berbagai test di ruangan dokter.
"Beliau bukan cacat bawaan bukan? hasil test hari ini akan kami kirimkan ke email Pak Ezra ya, sementara itu saja dulu. Semoga bisa dilakukan pencangkokan koklea, terutama untuk telinga kanan yang tidak begitu parah," terang dokter menjelaskan.
"Baik, Dok. Adakan persyaratan lain jika ingin tindakan lanjutan?" tanya Ezra sebelum mereka pergi.
"Riwayat rekam medis juga rujukan terhadap tindakan yang telah dilakukan sebelumnya saja, boleh disiapkan jika ingin kembali," sambung Dokter.
Setelah semua jelas, dan Ezra catat dalam notes ponselnya. Mereka pamit dan keluar dari ruangan.
Tidak ada percakapan selama menyusuri lorong hingga basement, bahkan saat mobil sewaan Ezra kembali memasuki pelataran lobby Hotel.
"Sayang, kok diem sih?" Ezra menoleh ke arah kirinya sebelum turun dari mobil.
"Aku pengen cepet ke kamar," tunduknya malu.
"Jangan PHP, Dila."
"Enggak." Senyuman manis Bunda Shan menghiasi wajah oval yang semakin ayu dimata Ezra.
Glek.
.
.
__ADS_1
...____________________________...