SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 50. KONSPIRASI


__ADS_3

Di sebuah club, Jakarta.


Seorang wanita dengan tubuh seksi, semampai dan berambut panjang tengah asik menikmati dentuman musik yang memekakkan telinga.


Di salah satu meja, sudut ruangan temaram. Kedua kelopak mata sipit yang dihiasi dengan eyeliner itu melirik tajam pada sosok wanita dengan rambut bergelombang, tubuh sintal dalam balutan gaun merah tua, tengah meliukkan badannya di lantai dansa.


"Cheryl Patricia, apa kabar?" gumamnya dengan sudut bibir tertarik keatas membentuk seulas senyuman mengejek.


"Mungkinkah kau lupa padaku. Mantan istri yang getol ingin kembali. Kau tau, suamimu itu sudah menikah lagi?"


Dia mematikan puntung rokok di jemari kirinya dalam asbak diatas meja. Menghembuskan kepulan asap ke udara, lalu meneguk satu sloki tequila sebelum bergabung dengan Cheryl yang kian menjadi pusat perhatian.


Sungguh Ezra bernasib malang bertemu wanita sepertinya. Liar meski seksi, jauh dari citra El Qavi yang menawan.


Larut dalam irama musik beat, keduanya lalu berhadapan.


"Hai," sapa wanita dengan rambut panjang.


"Hai," balas Cheryl.


"Kau tak ingat aku?"


"Who? lupa, sorry," ucap mantan istri Ezra, cepat.


"Kau mau taruhan lagi denganku? uang atau mantanmu?"


"Fu-ckk, apa maksudnya?" Cheryl menghentikan aksi dancenya. Ia melengos, meninggalkan wanita pembawa huru hara dan perusak mood.


Gadis usia matang itu mengikuti kemana Cheryl melangkah. Dia menarik kursi tepat di sebelah sang janda El Qavi.


"Hai, jangan kurang ajar!" sentak Cheryl tak terima, privasinya di usik.


Ini adalah club langganannya. Dirinya sangat hafal siapa saja yang kerap datang, bersenang-senang bahkan mencari keributan.


"Easy, Mantan Nyonya ... aku hanya ingin say Hai ... kita pernah satu almamater jika kau lupa," nada bicara wanita ini sangat santai, seakan mencerminkan bahwa semua dalam kendalinya.


"Aku lupa, siapa kau?" tanya Cheryl lagi.


"Gak penting, mungkin kau akan ingat jika aku mengajukan penawaran denganmu," ujarnya lagi.


"Apa?"


"Berikan aku serum itu. Yang kerap ia gunakan padamu," bisiknya dengan nada mengejek.


"Siapa maksud mu?"


"Jangan pura-pura naif, Cheryl. Bukankah kau mendekatinya hanya untuk selingan di kala Ezra pergi? hanya untuk has-rat mu yang tak terkendali itu!... atau meminta bantuan untuk perusahaan ayahmu adalah hanya sebuah dalih saja? agar dia menerimamu," wanita bermata sipit ini menganalisa.


"Dia memang tampan, muda dan bergairah. Cocok untuk menjadi sasaran meraih kenikmatan bukan?" tuduh nya lagi.

__ADS_1


"Untuk apa kau minta aku mengambil serum itu?"


"Sesuatu ... wanita bodoh sepertimu tak akan mengerti," ejeknya lagi.


"Siapkan saja satu milyar, untuk satu ampul serum, atau kau bisa mengambilnya dariku. Darahku terlalu terkontaminasi oleh cairan laknat itu," tegas Cheryl, menyunggingkan senyuman mengejek.


"Jangan kurang ajar ... jika aku tak dapat benda yang ku inginkan. Darahmu bukan hanya akan aku ambil, namun sekaligus dikucurkan dari lubang inti. Begini...."


Sang wanita misterius, bagi Cheryl, memperagakan bagaimana ia akan mengulitinya bila mengendus kecurangan.


Dia menusuk buah olive, dengan tusuk gigi hingga memun-cratkan cairan dari dalam buah lalu memutar posisinya jungkir balik.


Glekk.


"Jangan macam-macam denganku. Aku tunggu hasil pekerjaanmu segera. Dan kita bertemu lagi pekan depan disini," tegasnya dengan sorot mata tajam, menusuk manik mata seorang sosialita yang bernama Cheryl Patricia.


Bulu kuduknya meremang selaras langkah wanita itu menjauh. Tangannya mengepal, gigi vaneer pun ikut bergemerutuk menahan geram.


"Wajahnya familiar, siapa ya? si-all, hidup ku kenapa begini, di ancam sana sini, fu-ckk!" ia menggebrak meja.


Wanita dengan rambut bergelombang yang tengah duduk di meja bartender itu melabuhkan kepalanya diatas meja.


Moodnya menurun drastis, godaan lelaki pemuas nafsu pun tak ia hiraukan malam ini.


...***...


China.


Jangankan untuk menyesap cairan pahit itu, baru wanginya saja menyentuh indera penciuman. Ezra kerap mual muntah, namun keinginan tetap teguh. Secangkir kopi.


"Bos, rehat saja," saran Rolex melihat Ezra uring-uringan.


"Tujuanku meminta kopi agar waktuku lebih efektif. Hari ini aku sangat produktif, Lex. Kau malah menghancurkannya dengan kopimu yang aneh itu," sungut sang architect kesal merasa dipermainkan Rolex.


"Bukan aku, tapi Anda ... tubuh itu ... yaa, itu ... yang aneh," balas Rolex tak terima dituduh, justru ia memberikan isyarat dengan ekor matanya bahwa bisa jadi sistem pencernaan beliau terganggu.


"Aku tiba-tiba pusing." Ezra membenamkan wajahnya bertumpu pada kedua lengan yang sedang berada di atas meja kerja.


Barisan puluhan kopi berjajar rapi disana.


"Bos, ini. Mumpung ada signal, silakan," Rolex menyodorkan laptopnya tepat ke hadapan Ezra.


Sorot mata suami yang jauh dari istri itu berbinar saat melihat rekaman mulai berputar. Sang pengasuh yang sangat mengerti keadaan mereka menjadi oase baginya.


"Lex, suara Dila kalau ngaji tegas ya. Mendekati sempurna, tapi kenapa dia enggan bicara denganku?"


Rolex tak menanggapi ocehan Ezra. Dia sibuk menata cangkir kopi yang masih hangat agar berada dalam jangkauan tangan Bos nya itu.


"Bos, kopinya, nanti dingin," ucap Rolex seraya mendorong cawan.

__ADS_1


Pimpinan El Qavi ini tanpa sadar menggerakkan tangan kanannya menyentuh satu cangkir minuman hitam pekat itu. Menghirup aroma dalam, lalu menyesap perlahan.


"Wow, ajaib," gumam Rolex melihat hal yang sangat berbeda telah terjadi.


Padahal tadi, jangankan mencicipi, baru baunya saja dia bilang membuat mual dan sebagainya. Namun kini, minuman itu bahkan hampir habis hanya menyisakan ampas.


"Enak, Bos?" pancing Rolex.


"Lumayan, gak seperti bau got tadi," jawabnya tak memalingkan muka dari laptop yang masih memutar video.


"Padahal cuma ngeliat punggung Nyonya doank ya, Bos. Banyak banget ngaruhnya," sindir Rolex lagi berusaha menyadarkan Ezra.


"Diam, Dila sedang ngaji."


Kesempatan bagi Rolex.


Lelaki itu menyodorkan sebuah cek, agar di tanda tangani oleh Ezra. Bonus yang lama tak kunjung cair, berharap akhir bulan nanti dapat ia nikmati.


"Apa ini? nanti saja sekalian aku transfer dengan salarymu," ujar Ezra menyingkirkan buku cek miliknya.


"Yah, Bos. Menahan hak orang itu gak baik," Rolex tak gentar membujuk.


"Kerja dulu, kamu makan gaji buta selama kita di Surabaya karena Papa yang membayarmu. Aku pun, terlanjur mentransfer salary padamu," tegas Ezra.


Rolex tak habis cara. Ia meraih pulpen hitam ber-ikon apel lalu kembali menyodorkan hal yang sama.


Ezra kali ini menandatangani lembaran kertas cek itu. Rolex bersorak dalam hati.


"Yes." Bibirnya berucap isyarat. Ia pun membungkukkan badan seolah mengatakan betapa ia bahagia.


Namun baru saja asisten itu hendak beranjak dari sisi sang pimpinan. Sebuah kalimat menohoknya tepat di jantung sekaligus membuat Rolex lunglai.


"Jangan girang dulu ... lihat tanggal pencairannya...." bisik Ezra masih tak melepaskan pandangan dari laptop dengan tangan kiri yang menopang dagu.


Rolex berhenti melangkah. Ia membuka kembali tulisan diatas kertas yang baru saja di robek dari buku induknya.


"What! tahun depan? Bos!" teriak Rolex membuat Ezra menutup telinga.


Pria itu hendak mengambil laptopnya, namun Ezra cekatan menghindar.


"Bos! ... Nona! suami Anda kekanak-kanakan," seru Rolex mengejar kawan masa kecilnya. Hingga Rolex berhasil mengambil benda keramat dari tangan Ezra.


"Dila, No, Dila ku. Lex, berani?"


"Pilih Nona atau perbaiki ini?" tawar Rolex dengan senyum menyebalkan. Mengangkat laptop di tangan kanan dan cek pada jemari satunya.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2