
Naya mengirimkan nomer ponsel pria misterius kepada suaminya bermaksud mengembalikan dana yang sudah di transfer. Ia tak sanggup mengerjakan sesuatu yang sangat terburu, apalagi yang mendesign gaun Dilara adalah Aiswa, iparnya yang mempunyai bayi.
"Dikembalikan langsung saja Sayang, aku send no rekeningnya ya, jangan lupa ucapkan permohonan maaf yang santun juga berikan sesuatu sebagai pengobat kecewanya," ucap Mahendra menyelesaikan problem Naya.
"Rasanya pernah baca namanya, tak asing tapi siapa ya?"
...***...
Keesokan Pagi.
Dilara dibuat lemas semalaman akibat ulah sang suami tampan, membuatnya sontak malas mengaji bahkan turun dari ranjang hingga ba'da subuh di lewati hanya dengan bersholawat.
Dila memilih tidur kembali setelah waktu Duha. Sementara Ezra sibuk di ruang kerja, mengarahkan pada Winda, yang akan mendampingi sang istri di venue petang nanti.
"Kamu jaga istriku ya takut aku di sana pecah fokus," pinta Ezra seraya memperlihatkan denah acara pada Winda.
"Baik, Tuan. Nona mana?"
"Istirahat ... ba'da ashar kamu sudah harus standby disini. Sekarang boleh pulang dulu atau jika mau disini, ke belakang saja, dengan Bibi," imbuhnya lagi. Ezra bangkit meninggalkan Winda yang masih nampak mempelajari lokasi.
"Mimpi apa, ketemu Non Dila sampai bisa ikut naik ke hunian mewah begini. Suaminya lebih dewasa pantesan tegas banget," kedua mata Winda mengitari ruang tamu mewah tempat dia duduk. Tak lama Bi Inah mengajak masuk setelah Ezra meminta pengasuhnya itu mengawasi Winda.
Di lantai dua. Kamar Utama.
Dilara masih tertidur pulas saat Ezra kembali masuk ke kamar mereka, membiarkan istrinya itu setelah semalam berulah.
"Cute, kalau tidur begini. Hei kamu, Nyonya Qavi, uangnya udah banyak ya? masih belum mau pakai punya aku. Seharusnya simpan saja Dila, kalian berdua itu tanggungjawab ku ... tapi kata Papa, aku gak boleh maksa kamu, Ok, pelan-pelan aja."
Lama dia menekuk lututnya di sisi ranjang, memandangi wajah damai yang tertidur pulas.
"Dila, saat aku menyebut Cheryl malam itu bukan karena aku masih mengingatnya, namun karena...."
"Ughh ... sakit," keluhnya seraya telapak tangan kiri Dilara memegang perut.
"Sayang, kenapa?"
"Gak tahu," Dila membuka mata perlahan, menggeser tubuhnya ke arah kiri membelakangi Ezra.
Dan keadaan kembali senyap.
"Eh, lanjut tidur lagi?" lelaki berusia matang yang masih berjongkok di sisi ranjang itu terheran sekaligus merasa terhibur. Terkadang istrinya itu dewasa, judes tak jarang terlihat manis dan menggemaskan.
*
Menjelang petang.
Ezra sudah rapi, hanya menunggu waktu maghrib hadir. Keduanya sengaja memilih datang terlambat karena ingin sholat maghrib di rumah. Entah kemana istrinya itu, setelah mandi saat ashar tadi, Ezra tak melihatnya di kamar.
Tepat pukul tujuh, generasi kedua klan El Qavi, turun ke lantai dasar. Tanpa Dilara, karena dia meminta Bibi yang membantunya berganti pakaian dikamar bawah.
"Sayang," panggilnya pada Dila yang sedang mengobrol dengan Winda si sofa ruang keluarga.
"Ya?" Dila menoleh ke arah suara, ia menarik bo-kongnya dari sofa.
"Di-la ... siapa yang make-up-in?"
__ADS_1
"Aku, gak smooth ya? be-l-aja-r tuto yutub tadi so-r-e," sahutnya merasa tidak pede, meraih clutch silver di atas meja.
"Bukan, flawless. Can-tik banget Dila," bisiknya kagum, memindai looks istrinya dari atas hingga bawah.
Rolex yang baru saja masuk berniat menjemput mereka, terpana melihat nyonya kecilnya yang memesona.
"Lihat apa Lex? ayo jalan," sengitnya pada Rolex.
Beberapa saat berlalu.
Ezra membantu Dila saat akan keluar dari mobil. Meletakkan tangannya diatas kepala agar tak membentur pintu.
"Pakai ini sekarang atau nanti?"
"Nanti, jika sudah masuk venue. Aku masih ingin melihatmu," rangkulnya pada pinggang Dila, mengelus lembut di sana.
Rolex sudah meregistrasi kedatangan mereka saat pasangan itu mulai memasuki gedung.
"Welcome Mr. and Mrs. El Qavi, Mr. Rolex, drive up to the side entrance, please." (Selamat datang Tuan dan Nyonya Qavi, silakan masuk dari pintu samping)
Sang aspri berjalan di depan keduanya, hingga sapaan captain, menyambut mereka.
"We have a table ready for you, this way please Mr. Rolex and also Mr. and Mrs. Qavi," ujar seorang pria dengan setelan rapi, membawa ketiganya menuju meja yang telah di siapkan.
"Sayang, jika merasa enggan kemana-mana, duduk disini ya dengan Winda. Atau minta Winda mengambilkan makanan untukmu," ujar Ezra saat menarik kursi untuk Dilara.
"Iya," jawab Dila singkat. Belum juga lima menit, dirinya sudah merasa tak nyaman.
Banyak tatapan sinis untuknya, saat Ezra setia menemani dan meladeni kebutuhannya.
Acara dimulai dengan slide di layar besar yang menceritakan sejarah serta kiprah Abdeen Properti dimulai sejak dua puluh tahun silam.
Beberapa menit selanjutnya, acara telah berubah menjadi ramah tamah dengan para tamu. Rolex mengajak Ezra membaur, meski enggan namun dia harus menjalin relasi.
"Sayang, sebentar ya. Aku kesana," ujarnya saat akan meninggalkan Dila.
Tepat saat sang Tuan Muda pergi. Seorang pria meminta izin duduk di hadapannya.
"Hai, Anda sendiri?" sapanya ramah.
"Beliau sudah bersuami," jawab Winda mulai waspada.
"Aku tahu, Nyonya rahasia milik Tuan Qavi bukan? aku hanya sekedar menyapa," jawabnya lugas.
"Sudah coba menu yang ini? sangat baik untuk ibu hamil, rasanya segar," sambungnya meski Dilara masih tetap diam. Ia menyodorkan sebuah daftar menu ke hadapan Dila.
"Anda sangat tidak sopan, Nyonya, tidak menanggapi lawan bicara Anda dengan benar" sindir pria asing itu.
"Anda lebih tidak sopan, Tuan. Duduk di hadapan yang bukan mahram, tanpa izinnya," Dilara bicara tegas.
"Maaf, jika begitu. Semoga harimu menyenangkan, Nyonya Qavi." Lelaki asing bangkit, membungkuk pelan lalu meninggalkan meja Dila.
Mungkin memang dirinya sangat menarik perhatian karena hadir dengan Ezra. Baru saja pria itu pergi, muncul seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang menghampiri.
"Selamat malam, Anda istri baru Ezra bukan? kenalkan, Anastasya Sanjaya," ujar nya mengulurkan tangan ke hadapan Dila.
__ADS_1
Gadis manis nan ayu hanya menyambut seperlunya, tersenyum manis tanpa menyebutkan nama.
"Aku gak sangka, seorang Ezra mempunyai selera sepertimu. Oh, bukan maksud menghina. Hanya saja, aku gak tahu jika level wanitanya berubah," ucapnya lagi.
Dilara masih diam tak menanggapi, gak penting pikirnya. Dia tahu, tidak setara dengan sang suami namun kebas rasa bila hinaan itu tak keluar dari mulutnya.
"Anda membuang waktu jika hanya ingin membuatku marah atau insecure," jawab Dila seraya tersenyum.
"Percaya diri sekali. Mungkin Ezra belum memberitahu jika aku adalah partner kerjanya. Kami akan lama berada di lokasi terpencil suatu saat nanti, kurasa kau tak perlu khawatir akan keadaan suamimu karena akan ada yang menjaganya," imbuhnya memanasi.
"Terimakasih. Suamiku masih menjadi pemegang utama semua proyek dengan Sanjaya Grup, jangan kira aku tak tahu. Wajar, jika suamiku membutuhkan anjing penjaga di luaran sana," balas Dila santai.
"Kau!"
"Ezra menikahimu hanya sebagai upah balas budi, abege yang mudah diperdaya," cibirnya lagi.
"Maksudnya, Anda pernah di beri upah, begitu? Nona Anastasya, Anda sangat cantik ... tapi dimataku seolah tidak laku, kau tahu, Nona? ciri wanita tidak laku biasanya menjatuhkan pilihan pada suami orang karena jika memang ia merasa cantik dan sempurna, tentu akan ada pria single yang bisa mengambil hatinya."
Pffft.
Winda menahan tawa atas jawaban pedas Dilara, majikan wanitanya saat ini.
"Kau!... lihat saja nanti, sejauh mana Ezra akan bertahan denganmu," ucap Anastasya geram mengepalkan tangan disertai wajah merah padam karena malu, sebelum ia meninggalkan rivalnya.
Dilara tak lagi menggubris ucapan wanita itu, hatinya kesal, tenaganya habis untuk mengucapkan kalimat panjang dengan nada tegas seperti tadi. Dia hanya ingin menyamarkan kekurangan, agar Ezra tak mendapat cibiran bahwa istrinya seorang penyandang disabilitas.
Selepas kepergian wanita setan, Winda tahu, nyonya mudanya lelah. Ia mengambil infuse water juga fruit slice untuk Dilara.
Saat asisten dadakan Dila kembali, buket karangan bunga hadir di meja, seiring kedatangan Ezra.
"A.Z, dari siapa Sayang?"
"Entah, aku gak kenal. Juga ini bukan bunga kesukaanku," jawab dila singkat.
"Pulang yuk, kita dinner di luar," ajak Ezra kemudian.
"Re-l-asi Abang?" tanya Dila seakan tak percaya suaminya memahami jika ia tak nyaman.
"Ada Rolex, kemon Sayang," Ezra bangkit, menarik kursi istrinya pelan agar dia dapat ruang lebih untuk berdiri.
Baru melangkah hendak mencapai pintu. Sebuah suara manja, menghadangnya.
"Hai, Sayang?"
"Minggir," Winda sengaja menumpahkan gelas minuman hingga mengenai bajunya. Sementara pasangan itu melenggang pergi.
"Ezra!" serunya.
.
.
...______________________...
...Byuh, resiko hot duda and abege 😪...
__ADS_1