SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 84. LEMBARAN DUA


__ADS_3

Tepat adzan dzuhur menggema.


Ezra keluar dari kamar Dila dengan penampilan berantakan. Wajah lelah, baju kusut, rambut bagai tak tersentuh sisir berminggu-minggu.


"Den." Bibi memanggilnya ketika anak asuh itu melintas di belakang sofa yang dia duduki.


"Ya, Bi. Loh, Bibi kan belum banyak boleh bergerak, aku antar masuk kamar ya," ajak Ezra khawatir akan kondisi ibu asuhnya itu.


"Sudah baikan. Jangan lagi memanjakan Bibi, dosa sudah banyak. Semua jadi gini," ujarnya.


Ezra duduk disamping wanita itu. Merebahkan kepalanya di pangkuan, berharap menemukan sedikit rasa nyaman setelah kehilangan separuh jiwa.


"Den, bukan mahram loh." Inah perlahan beringsut, mengganti tumpuan untuk kepala majikannya dengan sebuah bantal, lalu bergeser menjaga jarak.


"Sudah ketularan Dila ya Bi. Dulu aku boleh begini, sekarang sudah paham jadi ada batasan," gumam Ezra.


"Ya memang Bibi salah, gak mencari tahu, meski sudah tua ya tetap saja laki perempuan bukan? kata Non Dila kan begitu," ucapnya ragu.


"Aku mengabaikannya Bi. Banyak menyakitinya, tanpa sadar. Aku lupa, menganggapnya bagai gadis normal padahal dia membutuhkan perhatian khusus dari ku."


"Sejak awal, hubungan kalian gak baik. Niat Nak Ezra saat dulu menikahi Non Dila itu apa tho? balas budi bukan? kalau sekarang begini, ya mungkin teguran ... dulu bilang gak mau dekat, jijik tapi Tuhan menjadikan Non Dila penyelamat hidup, apa ini kebetulan? enggak kan?" Bibi mencoba mengulas masa lalu mereka.


Ezra diam mendengarkan nasihat wanita paruh baya didekatnya.


"Non Dila gak sepenuhnya salah. Kalau Bibi di posisinya belum tentu bisa. Bukannya ijab qobul itu janji sama Tuhan, Den? tapi pada pelaksanaanya banyak menyimpang ... diterima dulu, sana sholat lalu cari dia. Semoga belum jauh karena Non Dila gak punya sanak saudara di sini."


"Aku memang salah. Tapi anehnya Dila nyinggung masalah video ya Bi? juga menikah lagi? aku gak menduakannya padahal ... banyak surat yang Dila tinggalkan disana, belum ku baca seluruhnya," balas Ezra masih memejamkan mata, ia menghembus nafas kasar berharap sesaknya mereda.


"Gih, wudhu, sholat. Minta sama Allah agar di mudahkan. Mba Ruhama itu cerita bahwa ketakutan dia bakalan seperti ini. Anak gadisnya tidak dapat mengimbangi cara pikir orang dewasa apalagi kalian itu baru dekat setelah Non Dila hamil enam bulan," ungkap Bibi.


"Yang masalah minuman itu benar Bi?" tanya Ezra.


"Bibi kalau gak salah simpen poto nya di hape, Den. Tapi dari interkom soalnya tumben ko klien ke rumah, pikir Bibi saat itu. Jadi iseng aja moto orangnya keingetan Den Ezra bilang kalau orang asing datang ya poto saja," balas wanita senja itu pelan.


Ezra tergagap bangun dari posisinya. Memastikan pendengaran tentang pengakuan saksi kunci.


"Ok, aku mandi dulu. Sekalian mau baca semua surat Dila lagi," ujar Ezra semangat. Pria itu lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Sebelum mandi, dia sempatkan untuk meminta bantuan pada Sonny agar mencari teman driver online istrinya, Winda.


"Lex, lekas kembali. Aku menunggumu." Kali ini sang CEO mengirimkan pesan pada aspri yang tengah menggantikan dirinya bersama Anastasya di sebuah lokasi project mereka.


After lunch.


Ezra telah ada di kamar Dila kembali. Membuka lembaran kedua, yang ternyata itu adalah catatan tentang pengeluaran selama ia memakai uang yang Ezra berikan.


"Ya Allah, sampai di tulis begini semua dan ini dikembalikan padaku lagi," ucapnya saat melihat catatan bahwa uang yang Bibi selipkan, masih utuh didalam laci.


"Ini adalah catatan pengeluaran kala aku menggunakan uang yang Abang beri via Bibi. Aku hanya tak ingin dituduh sebagai pengerukan harta atau sekedar panjat sosial. Jadi semuanya aku catat. Aku tahu, Abang sedang mencoba ku kala itu kan? apakah aku dapat mengelola hartamu dengan baik."


"Kartu yang pernah Abang berikan, aku kembalikan karena tak pernah memakainya juga bukan lagi hakku, sisa uang untuk kebutuhan rumah ini setiap bulan, ada di amplopnya masing-masing."


"Juga uang mahar yang Abang berikan dulu, dalam amplop putih polos juga aku letakkan sejajar dengan bundel lainnya. Aku tak meminta nafkah atau hadiah apapun setelah gugatan di setujui nanti."


"Jika harus mediasi, aku akan berusaha datang. Sebutlah aku sesuka Abang. Mengambil keputusan emosi lah, sepihak atau apapun itu. Iya, gegabah. Karena otakku buntu, mungkin sudah setengah waras."


"Katakanlah aku bukan istri baik, apalagi anak baik karena banyak menyalahi pemikiran orang dewasa bahkan sikapku mungkin mengingkari terhadap suatu ilmu yang pernah aku pelajari dan pahami. Aku akui, tidak ada pembelaan dari ku, sebutlah aku demikian. Tak apa."


"Dilara tak memakai otak, ilmu bahkan adabnya meski dia paham. Makian begitu pun, boleh. Terlanjur, jangankan manusia lain yang tak mengerti apa rasa hatiku, bahkan Allah pun murka dengan melarang wanita yang menggugat cerai suaminya, tak dapat mencium wangi surga."


"Kamu sudah terlalu sakit ternyata ya, Sayang." Netranya kembali mengabut, kali ini ia betul-betul merasakan kesakitan yang Dila rasa.


"Baiklah Dila, aku gak nyalahin kamu. Banyak andil ku yang membuatmu bersikap demikian. Aku akan mencarimu, sampai dapat."


"Gugatanmu akan aku penuhi, sekaligus patahkan kala mediasi di majelis agar aku terlihat berjuang di mata Allah hingga sang pemilik jagat ini, mengembalikan engkau dan El padaku lagi."


"Aku juga tak melakukan tugasku dengan baik padamu. Ya Robb, ampuni. Jangan sampai istriku berdosa sebab kepergiannya, aku redho padanya. Dia telah berkorban banyak untukku."


"Dila ku hanya sedang khilaf, jagalah dia dan anakku dimanapun berada. Dekatkan dengan orang-orang baik yang memudahkan segala urusannya. Titip Dila dan El ya Allah ... aku akan mencari mereka dan membawanya kembali pulang, dalam dekapan ku."


"Karena Engkau sebaik-baiknya penjaga amanah. Aamiin."


Ezra meletakkan lembar kedua diatas meja serta menarik laci. Semua yang Dila tulis tadi, ada di sana. Lelaki itu mencoba berkirim pesan pada istrinya, bahkan melakukan panggilan namun nomernya sudah tidak lagi aktif. Seperti yang dia duga.


Tok. Tok.

__ADS_1


Velma mengetuk pintu kamar Dilara yang terbuka.


"Tuan, ada Winda didepan dengan Sonny," suara Velma membuyarkan dirinya.


"Ok, tunggu sebentar. Velma, makanlah dulu, jaga diri baik-baik. Aku tahu kamu juga mencari Dila," ucapnya tak melihat pada wajah sang bodyguard.


"I-iya. Sudah, Tuan. Terimakasih." Gadis itu lalu menghilang pergi.


Ketika Ezra akan bangkit, ekor matanya melirik ke sebuah jinjingan di sudut meja. Jemari kanan berhias cincin couple itu menariknya ke hadapan.


"Laptop, Diary, punya Dila kah? Ok, aku akan melihatnya nanti setelah menemui Winda."


Pria itu menutup kembali pintu kamar Dila, bahkan kini menguncinya dari luar. Ia tak rela bila kenangan terakhir istrinya diusik orang lain.


...***...


Sekretariat Masjid.


Persiapan keberangkatan sahabat dan suaminya ke Dubai telah siap. Mereka akan boarding malam nanti disusul dirinya dua hari kemudian.


"Jaga diri ya Dila. Sampai jumpa di sana," Rengganis memeluk erat sahabatnya itu.


"Fii amanillah," balas Dilara seraya menggendong El dalam pelukan.


Setelah meninggalkan kediaman sementara sang sahabat, Rengganis bertanya pada suaminya.


"Mas, statusnya bagaimana? bukannya kita berdosa mendiamkan mereka?" bisik Rengganis.


"Pengakuan Dila begitu, aku akan mendengarkan penuturan suaminya juga, Dek. Aku sudah mencari tahu dimana dia tinggal dan berusaha menghubungi Tuan Ezra, tapi kita mau berangkat besok. Semoga setelah kembali atau jika dia menyusul kita, aku akan bantu mereka mediasi, ya. Kamu tenanglah," ujar ustadz Zaky.


"Paling tidak, Dila aman bersama kita. Aku juga sudah bilang pada Nyonya Asyraf tentang kondisi Dilara. Dia mengerti, dan akan membantu menjaga iddahnya selama di sana."


"Oh ok, Dila memang sedang disisipi nafsu, kita wajib menjaganya."


"Ujian keimanan, itu datang pada siapapun. Khilaf nya mungkin Allah akan jadikan ibroh bagi semua, entah aku dan kamu atau sekitar karena semua ini bukan kebetulan," balas sang suami Rengganis, seiring langkah menjauh dari sana.


.

__ADS_1


.


..._______________________...


__ADS_2