SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 78. PEMICU, LAGI


__ADS_3

Sebelum peristiwa pembunuhan, di rumah sakit lainnya.


Suasana duka masih menyelimuti Dilara. Meskipun demikian dia berusaha tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengajak Bi Inah serta agar selalu mengingat Allah.


Ezra memperhatikan setiap jum'at ba'da ashar, dzikir Dila tak seperti biasanya.


"Dila, kalau jum'at kenapa dzikirnya lain?" Ezra menunggu jawaban darinya seraya menyodorkan noted di ponsel.


Putri almarhumah Ruhama menerima uluran benda dari tangan sang suami, tanpa menyentuhnya.


"Sa'ah fathimiyyah. Ba'da ashar adalah waktu mustajab untuk berdoa sebagaimana Ibnu Qayyim berkata : waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama. Aku melafalkan sholawat juga istighfar, karena sebaik-baiknya dzikir adalah menyebut keesaan serta kekasih Allah juga istighfar sebagai pembersih jiwa."


"Bacaannya adalah allahumma sholli ala sayyidina Muhammadinil nabiyyil ummiyyi wa ala alihi wasallim taslima dan istighfar hingga waktu ashar habis."


"Dawamkan dalam hati, semua keinginan untuk akhirat nanti. Terutama mati secara husnul khotimah, doa untuk akhirat dahulu baru dunia."


Dila menyerahkan kembali gawai milik suaminya.


Tuan muda Qavi selalu ingin tahu apa yang istrinya ucapkan. Tidak ada perkataan sia-sia keluar dari mulut abege kesayangan. Bukan karena dia memiliki kekurangan namun jika diperhatikan, Dilara kian menjaga lisan sejak dia tahu mengandung.


Bi Inah pernah bilang bahwa dia menjadi lebih pendiam, mungkin karena inilah alasannya. Masih mengenakan koko dan sarung, ia menempeli Dilara kembali, bahkan menyandarkan dagunya dipundak Dila. Mengikuti irama bacaan istrinya.


Menjelang tengah malam.


Nyonya muda tidak dapat tidur, rasa tidak nyaman menyergap dirinya. Ia bangkit melepaskan pelukan Ezra, turun perlahan dari atas tempat tidur menuju bathroom untuk berwudhu dan murajaah.


"Dila, ngaji lagi? kenapa?" Ezra menyadari istrinya tak berada di ranjang, ia pun terbangun.


"Gak enak, entah kenapa." Dia masih melanjutkan bacaan surohnya.


"Aku temani, wudhu dulu ya, Sayang." Ezra turun dari brangkar, menghampiri Bi Inah sejenak sebelum menuju toilet.


"Yusuf? seneng banget ngaji ini, kenapa?"


Dilara meraih ponsel miliknya. Lalu membuka fitur pesan. Ia menulis paragraf panjang disana, berniat berkirim pesan ke nomer suaminya.


"Berdasarkan kisah Nabi Yusuf dan kesesuaian dalam kehidupan. Karena harapanku ingin memiliki anak dengan sikap terbuka, seperti Nabi Yusuf kepada ayahnya Nabi Ya'qub tentang apa yang beliau alami ... sifat penyabar ... teguh dalam menjaga diri ... membalas kejahatan dengan kebaikan, suka memaafkan orang lain ... dan mampu menahan amarah ... cerdik dalam berdakwah, serta mendoakan kebaikan untuk orang yang berbuat zalim kepadanya."


"Aku ingin adek punya sifat itu," ucap Dila singkat.


"Allahumma aamiin." Ezra mengamini lalu mengikuti bacaan Dila seperti kebiasaan barunya kini.


"Sa-l-ah, Abang. Bukan gitu bacanya, ayat 17 banyak banget hukum tajwidnya," ujar Dila meralat pelafalan Ezra.


"Gimana Sayang?"


"Qoluu, ini mad asli karena lam sukun ketemu wau, dibaca dua harokat ... lalu ingda mataa, sifat ikhfa mendengung tahan tiga harakat nyambung dengan mad asli lagi ... jadi Inggdaaa mataa, sebab ta fathah ketemu alif namun tak ada sukun, waqaf atau tashdid."

__ADS_1


"Mu'minil lanaa ... ini idgham bilaghunnah karena huruf nun kasrah tanwin bertemu lam tasydid. Di baca nya melebur tanpa dengung lagi dan sifat tanwin hilang, kenapa? karena bertemu dengan mad asli ... lanaa, ditahan dua harokat."


"Aku cape nafas kalau jelasin panjang, maaf ya pakai note jadinya." Dilara kembali menulis di ponselnya.


Ezra hanya tersenyum mengusap kepala istrinya membaca banyak kalimat tajwid. "Aku kudu banyak belajar tajwid lagi ya, Sayang."


"Gak apa, sambil belajar ya Abang." Sambungnya lagi, menulis.


Sedang asik murajaah bersama. Bibi tiba-tiba memanggil Dila.


"Nooooonn," panggilnya panjang satu tarikan nafas.


"Ya Bi," Dilara dibantu Ezra mendekat brangkarnya. Bi inah seakan ingin membisikkan sesuatu, Dila mendekatkan telinga ke mulut wanita yang tergolek lemah.


"Aku tidak ... A-anastasya?"


Wajah menantu Emery seketika pucat pasi, tangannya mengepal geram hingga nafas Dila tersenggal menahan amarah.


Tubuh ibu hamil itu bergetar, wajahnya merah padam, sorot matanya penuh kebencian.


"Sayang ... Bi, bicara apa sama Dila?" Ezra menepuk lengan pengasuhnya namun Bibi hanya menangis.


Seketika...


"Ab-ang, sakit," keluh Dila tiba-tiba membungkuk menahan sakit.


Secepat kilat kontraksi itu datang bergulung. Hingga Ezra panik di tengah malam. Tak ia hiraukan lagi kantuk yang masih menyergap netranya. Ia menemani sang istri ke ruang persalinan.


Nyonya muda mendapatkan tindakan langsung tanpa menunggu dokter Obgyn karena jalan lahir bukaan langsung lengkap.


"Bu bidan, apa ini akan SC atau bagaimana? bayiku oblique sungsang," Ezra khawatir karena istrinya sudah merasakan kontraksi hebat.


Sementara itu, Nyonya muda sudah dipindahkan ke ranjang tindakan bersalin dibantu beberapa suster.


"Gak sempat SC sepertinya karena intervalnya bagus dan stabil, aku berusaha. Tenanglah, banyak kasus begini namun bisa melakukan kelahiran normal." Bidan kepala bergegas melakukan persiapan.


"Do the best, please," pinta Ezra gugup, seraya mengambil posisi menyangga tubuh Dila sesuai arahan suster.


Menit berikutnya. Suasana tegang masih menyelimuti.


"Tuan, aku gak tahu ini apa yang akan teraih, entah bahu dulu atau bo-kongnya?"


"Lakukan apapun asal istriku tak lama menderita," ujar Ezra gelisah, sementara Dila melafalkan doa yang Ezra tak tahu.


"Hana waladat Maryam ... sakkiit," keluhnya di sela gempuran ajakan baby untuk mengejan.


"Say aaah, Nyonya...."

__ADS_1


Dilara mengikuti semua arahan bidan kepala, meski sangat kesakitan hingga dua kali tarikan nafas. Dibantu suster yang menekan perutnya pelan.


"Oh bo-kongnya. Ayo semangat Nyonya, sedikit lagi...."


"Bisa ya Dila, ayo Sayang." Ezra tak kalah memberi support.


"Satu kali, Aah...." ucap Bidan bersemangat. Dila susah payah mengatur nafas hingga...


"Oeeee," suara nyaring tangisan bayi.


"Alhamdulillah." Dila melemas, ia menangis bahagia, sedangkan Ezra langsung memeluknya, menciumi wajah ayu nan pucat meski terdapat banyak peluh juga lelehan air mata, disana.


"Adzan, iqamah, dan al qadr. A-bang," bisiknya lemah masih terisak.


"Iya Sayang, terimakasih, terimakasih," perasaan haru menyergap, tak dapat Ezra bendung bulir bening yang jatuh membasahi pipi Dilara.


Pria yang baru berstatus ayah membelai wajah tampan putra pertamanya seraya melantunkan apa yang Dilara minta di kedua telinga mungil itu, saat bayi merah diletakkan suster pada dada istrinya.


"Tampannya putra Bunda," Dilara kembali menangis haru, saat melihat wajah kecil nan menggemaskan dalam pelukan pertama kali.


Buah cinta lahir meski tanpa cinta pada awalnya hingga perasaan euforia menyertai kehadiran keturunan El Qavi ke dunia.


...***...


Keesokan pagi.


Rolex mendapat kabar dari rumah sakit perihal pasien dalam tanggungannya, telah meninggal dunia akibat gagal jantung.


Kedua bodyguard yang menjaga, pingsan tak sadarkan diri meski sudah beberapa jam berlalu sejak insiden semalam.


Di satu sisi, dia mendapatkan kabar bahagia atas kelahiran putra sang Bos. Namun sebaliknya, Rolex juga kehilangan seseorang yang ia temukan dan mungkin akan menyelamatkan kondisi mereka di masa depan.


"Itu Kakakmu bukan?" ucap Rolex pada seorang gadis asing yang datang bersamanya.


"Ka-kaak. Kau tega meninggalkan aku?" isak seorang gadis belia, disisi jenazah pria yang Rolex selamatkan.


"Kenapa?" jeritnya pilu.


Rolex membiarkan gadis itu menekuri nasib keluarganya. Paling tidak, dia sadar siapa dirinya kini.


Setelah permintaan lelaki itu, Aspri El Qavi menyebar anak buah untuk menemukan sang gadis. Rolex terpaksa menebusnya dengan harga fantastis, meski dia tak pernah tahu apa keuntungan baginya melakukan semua ini.


"Kuharap, kalian berguna."


.


.

__ADS_1


...___________________________...


__ADS_2