SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 63. MULAI PAMER


__ADS_3

"Pak ... Pak...." tegur seseorang.


Ezra menoleh ke sumber suara. "Ada masalah? dia istriku," jawab Ezra tak suka di usik.


"Tempat umum, silakan turun ke lantai dua, check-in hotel dahulu jika ingin dilanjutkan," balas security yang kebetulan melintas.


"Ck, halal dimana saja," sungut Ezra kesal, ia menarik jemari Dilara pergi dari sana. Masih dengan omelan yang dia tujukan untuk sang keamanan Mall.


"Bikin ma-l-u," Dilara menunduk sepanjang jalan.


"Apa salahnya sih? kan cuma ki-ss aja. Kamu malu, Dila? jalan sama aku?" Ezra mulai senewen.


"Ma-l-u ka-rena kepe-r-gok, bukan ja-l-an sama Abang," cicitnya masih dengan wajah menunduk.


"Kan udah sah, sah sah ... ngapain malu." Pria tampan itu masih bersikukuh dengan pendapatnya namun tak lagi Dila hiraukan.


Setelah aksi memalukan, mereka pun tiba di lantai tiga, berbelok ke arah kiri menuju studio bioskop. Ezra mengamati judul film yang akan mereka tonton. Sedangkan Dilara sudah mengantri di barisan loket, salah satu judul film horor menjadi pilihannya.


"No, enggak boleh. Kata dokter itu bisa memicu kontraksi," Ezra menarik lengan Dila keluar barisan lalu kembali masuk dalam antrian film kartun Wa.lt Dis.ney.


"F-r-ozen? Abang yakin?" tanya Dila tersenyum manis, namun nampaknya Ezra tak peduli dengan opini sekitar.


"Yakin, daripada nanti kamu pindah tidur ke kamarku karena ketakutan, mending liat kartun. Animasinya keren, nih coba baca ulasannya," ujar pria tinggi tegap itu menarik punggung Dilara agar berada di depannya, memberitahu komentar netizen di kolom review.


"Ya bagus sih. Pindah ke kama-r? enggak ya, aku be-r-ani," cebik Dila tak terima di tuduh penakut.


Dia belum sadar, moment ini Ezra gunakan untuk kembali bermesraan dengannya. Lengan kekar kakak Ermita ini memeluk bagian atas tubuh wanitanya. Menyandarkan dagu pada kepala Dila, memungkinkan ia bisa menciumi pipi wanita hamil itu sesukanya.


Kriiing.


Masih dalam posisinya meski Dila terus menggeliat tanda ia mulai tak nyaman. Ezra tak menggubrisnya, memilih tetap menerima panggilan telepon.


"Ya Mit? lagi sama Dila ... iya lusa pulang," jawab Ezra pelan. Ia mengikuti langkah wanita dalam pelukannya saat antrian bergerak maju.


Terdengar samar, suara Mita meminta panggilan berubah menjadi video call. Sang kakak pun menuruti keinginan adik semata wayangnya itu. Layar gawai yang di pegang, Ezra arahkan menghadap wajah Dilara.


"Hai Kakak ipar, cantik banget. Kencan niye," ujar Mita dengan wajah sumringah di ujung sana.


"Hai Kak Mita...."


"Mita saja, Sayang," bisik Ezra seraya memberikan ponselnya ke telapak tangan Dila hingga dia leluasa menciumi pipi wanita itu, menelusupkan kepalanya pada ceruk leher yang tertutup hijab.


"Kak, mesum di tempat umum. Dila, mau aja, gak malu?" tanya Mita.


"Susah lepas," ujar Dila.

__ADS_1


"Papa bikin syukuran nanti, Ibu udah diajak nginep di rumah mulai malam ini loh. Sedang dijemput Velma. Kalian jadi pulang kan besok?" tegas Mita.


Istri Ezra ini sumringah namun ia belum tahu, apakah suaminya memang akan mengajaknya pulang ke Surabaya meski dirinya telah mendapatkan surat rujukan izin terbang di tengah kondisi hamil trimester ketiga.


Dilara menoleh hendak meminta persetujuan namun bibirnya tanpa sengaja malah menempel di pipi Ezra.


"Eh."


"Makasih Sayang," balasnya, seraya kembali mencium balik pipi istrinya.


"Hey, ada aku!" protes Mita.


"Iya pulang, brisik. Bye, Assalamu'alaikum." Ezra mematikan panggilan sepihak. Dan mendorong tubuh istrinya bergerak maju karena mereka telah sampai di depan loket tiket.


Dua karcis film kartun sudah di kantongi Putri Ruhama. Dia kemudian menuju stand minuman juga snack, meninggalkan Ezra seperti biasanya.


"Mau kopi dingin, itu," tunjuk Dila pada etalase kaca seraya mengeluarkan dompetnya untuk membayar minuman yang ia pesan.


"Aku saja, simpan uangmu."


Seharian pria itu menempel ketat padanya. Tak terkecuali saat film berlangsung, Dilara tidak menikmati alur cerita dengan benar. Ada saja tingkah Ezra yang mengganggunya, mulai dari memilin ujung hijab hingga bahu tersingkap dan dia menggigitnya atau mencoba membuka kancing pergelangan tangan, alasannya hanya sekedar ingin melihat gelang pemberian setelah mereka ijab kabul dulu.


Dua jam dilewati menantu Emery begitu saja, tanpa kesan. Ia mulai jengah, lelah, hingga berjalan sesukanya turun ke lantai dua. Meninggalkan pria tampan yang banyak menarik perhatian kaum hawa, kecuali dirinya.


Dila tak memperdulikan panggilan dari belakang tubuhnya. Hingga sebuah manequin yang terpajang di salah satu toko, menarik perhatian wanita cantik dengan pashmina coklat tua itu.


Tak banyak kata, wanita dengan perut buncit itu masuk ke dalam toko dan meminta size M untuk motif serupa namun berbeda warna.


Ia menyodorkan kartu debit gold miliknya saat tangan kekar, menarik mundur sebelum kasir menerima uluran tangan customer mereka.


"Pakai ini, Dila." Pria itu menarik kartu platinum miliknya dari dompet berwarna merah yang Dilara pegang. Lalu menyerahkan pada kasir.


"Aku minta lihat series terbaru, bisa?"


"Boleh, Tuan. Silakan menunggu di sofa," ujar seorang wanita mengajak mereka singgah lebih lama di tokonya.


Beberapa series, Ezra pilih untuk Dila namun istrinya itu terlihat kurang suka hingga ia akhirnya mengurungkan niat.


"Cari yang lain, yuk." Ajak Ezra saat keluar toko.


Pria mapan juga matang secara usia, mulai mengerti selera sang istri. Gamis yang Dila pakai rata-rata polos tanpa motif. Pun yang baru saja dibayar, variasinya hanya dari material bawaan, tak banyak model cutting apalagi motif yang semarak.


Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.


Jam di pergelangan tangan Dilara menunjuk waktu Ashar, saat mata bulat itu tak sengaja melihat dari ujung lengan yang tersingkap. Wanita hamil dengan jemari dalam genggaman Ezra mulai terlihat lelah.

__ADS_1


"Pu-l-ang. Cape," keluh Dila, ia jalan melambat. Menahan cekalan dengan kuat.


"Mau makan dulu gak?"


"Enggak, pu-l-ang aja."


"Tunggu di pintu masuk ya, aku ambil mobil. Jangan kemana-mana," pintanya saat akan menuju pintu keluar. Netra elangnya melihat security wanita yang berjaga disana. Dia menarik Dila mendekati meja satpam dan menitipkan sang istri jelita padanya sementara ia mengambil kendaraan mereka.


"Silakan, Pak. Ibu dengan saya, aman," ujar security saat Ezra memintanya menjaga seorang wanita hamil.


"Maaf ya Mba, dia lebay," ujar putri angkat Ruhama setelah Ezra menjauh.


"Sayang banget berarti ya, Bu." Obrolan ringan terjadi di antara mereka hingga mobil sport itu hadir di hadapan Nyonya muda.


Tak berselang lama, mereka pun meninggalkan Mall kembali pulang menuju kediaman.


Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan yang mengiringi. Dilara sibuk dengan gawainya, nampak mengerjakan sesuatu.


Saat tiba di rumah pun, wanita itu hanya diam. Terus melangkah masuk meninggalkan suaminya sendiri dengan semua barang belanjaan.


"Sayang, cape ya? istirahat gih." Ezra mengejarnya hingga ke depan kamar belakang.


"Be-l-um ngaji, hutang banyak juz buat adek."


Degh.


Ia kira istri kecilnya itu marah, sebab sejak keluar Mall hanya diam. Ternyata karena rasa bersalah belum menyentuh mushafnya dalam waktu lama.


"Maaf ya, kelamaan jalan. Aku gak akan ganggu lagi." Ia mengusap kepala gadis abege di depannya, lalu melangkah menuju ruang cuci. Meletakkan semua paperbag di sana agar Bi Inah mencuci semua baju baru yang Ezra belikan, terlebih dahulu.


"Syuk-r-on," ucap Dila sebelum ia masuk kamar, saat melihat Ezra kembali dari arah belakang.


"Afwan, Sayang. Nanti sholat maghrib berjama'ah ya Dila," pintanya sambil lalu namun masih dapat menangkap anggukan samar dari sudut matanya.


Saat kaki panjang milik architect muda itu menaiki tangga, tangannya meraih gawai dari saku celana kiri bagian depan, menghubungi salah satu sekretaris kantor.


"Halo, Angel, tolong kirim katalog gamis brand ternama juga beberapa style gaun pesta syar'i ke email ku."


"Bismillah, siapkan dirimu, Sayang."


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2