SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 128. SSSHAAAH


__ADS_3

Hari beranjak sore, saat Ezra berbincang dengan Akbar dan juga pemuka agama di sekitar kediaman Danuarta yang akan menikahkan pasangan muda ba'da maghrib nanti, tiba-tiba datang seorang pemuda.


Dia membungkukkan badannya rendah, melewati kerumunan pria di pendopo Joglo lalu masuk ke dalam hunian.


Dilara akan keluar menuju mobil karena di ajak Mita untuk mengambil gaun couple miliknya, hampir bertabrakan dengan pemuda tampan yang baru akan masuk.


"Astaghfirullah," sang Nyonya Qavi terkejut.


Hal sama di alami pria muda itu, netranya membelalak. Bukan karena akan menabrak sosok wanita ayu, namun dirinya kaget dengan kehadiran mahluk Tuhan nan cantik di hadapannya.


Jiwa muda Dewa merasa tertantang, berniat menahan langkah sang wanita yang belum ia ketahui identitasnya itu.


"Halo cantik, mau kemana? apakah kamu gadis yang akan dijodohkan Mama denganku? dan pria disana itu adalah ayahmu?" sapa Dewa genit, mengerlingkan satu matanya.


Dilara hanya melihat sekilas, ia memilih melangkah menyisi ke samping kiri mengikuti Mita namun tangan pemuda itu merentang menghalangi jalannya.


Ibunda Shan mendelik ke arahnya, merasa risih.


"Mommy, ikut." Shan berlari membentur kaki Dila dari arah belakang.


"Mommy? dia anakmu?" tanya sang pemuda menatap Dila. "Sudah punya anak tho, tapi masih cakep gini sih?"


"Heh, minggir jangan kurang ajar," Mita menepuk lengan Dewa dengan goodie bag yang ia bawa.


"Jangan ganggu, pergilah...." cibirnya pada Mita.


"Kak...." Ermita memanggil sang kakak, lalu beranjak dari sana.


Ezra melihat keributan di depan pintu kediaman utama. Dia tahu dari Leon, pemuda itu adalah putra sulung Davina yang akan di jodohkan dengan anak pengusaha kuliner ternama dari ibukota provinsi Jawa Barat.


Merasa istrinya di usik laki-laki lain. Dia izin pada pemuka agama untuk melerai keributan kecil disana.


"Sayang, kenapa?" tanya Ezra seraya menuruni beberapa anak tangga pendopo bagian belakang.


Dilara hanya menatap manik mata sang suami. "Mau ambil baju tapi...." lirihnya, tak ingin memperdengarkan suara lembut selain pada suaminya.


"Ada masalah dengan istriku, Tuan Muda?" tanya Ezra dari balik punggung Dewa.

__ADS_1


Samar terdengar keributan di depan rumah utama dari dalam hunian, Davina yang sedang di area teras samping dengan Deva, menengok ke sumber suara. Dia lalu bangkit berjalan ke pintu depan.


"Dewa, kamu pulang kok gak bilang Mama? lagian ngapain didepan situ? Dila mau lewat, minggir Nak," pinta sang Mama.


Dewa sejenak bingung. Ibunya mengenal sosok cantik di hadapannya? dan lelaki di belakang mengatakan bahwa dia adalah istrinya.


"Ma, mereka?"


"Dila, Pak Ezra, kenalkan dia Dewa putra sulung ku ... Dilara itu putri Budhe Devanagari yang baru ditemukan," ujar Davina mengenalkan mereka.


"Ezra dan ini anak istriku, Buddy." Ezra menjulurkan tangannya.


Dewa terkejut seraya menyambut uluran tangan Ezra, jika benar putri budhe nya berarti harta milik keluarga ini akan berkurang dan terbagi tiga. Dia dan adiknya juga Dila.


"Ma, waris berubah donk," ujar Dewa langsung to the poin, masih berdiri di depan pintu, kini menatap tak suka pada Dila. Berbanding terbalik dengan saat pertama jumpa tadi.


"Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku aja. Mama sudah selidiki betul belum? jaman sekarang penipu juga klimis," cibirnya pada Dila juga Ezra.


Ezra tak terima diremehkan.


"Bro. Bawa dokter manapun yang kamu mau. Mumpung ada kedua orang tua kandung Dila disini, kita test DNA ... agar kau yakin bahwa tidak ada rekayasa, silakan aku tunggu ... In sya Allah aku telah menjamin kehidupan anak istriku hingga lima generasi setelahnya ... meski istriku punya hak disini, kau tak usah risau Dila merebut yang bukan haknya. Istriku fahim ilmu asal kau tahu," tutur Ezra, pelan namun menohok tepat di hati.


Davina tak enak hati. Harta sang Ayah telah dibagi pada tiga anaknya jauh sebelum mereka meninggal dunia agar tidak ada keributan di masa depan.


"Ya Allah, Dewa! ... maafin ya Dila, Pak Ezra, mulut bocah ingusan gak sopan ... ayo masuk!" Davina menarik lengan putranya masuk, menyingkir dari sana.


"Maafkan Dewa ya ... nanti malam, kita bicarakan ini juga setelah acara kalian," terang Vina seraya menempelkan kedua telapak tangan didepan dada.


Ezra hanya mengangguk menanggapi penjelasan sang Bibi Dilara sebelum ia kembali masuk ke dalam.


Setelah tuduhan rendah yang dilayangkan pada Dila. Ezra mendekat, "Aku tak salah ucap kan?"


"Iya enggak. Hmmm, aku ke Mita ya," balas Dila cepat menghindari tatapan pria yang membuat debaran jantungnya kembali tak menentu.


Ezra tersenyum, ia tahu istrinya malu. "Sayang, nanti malam loh, aku tagih," godanya lagi.


Putri angkat Ruhama berpura tak mendengar, suara berat juga wangi tubuh yang sudah lama tak Dila hirup, berhasil merobohkan pertahanan hati agar terlihat tenang, namun tetap saja tak mampu. Ia berlari kecil menuju mobil dimana Mita menunggu dengan Shan yang mengikutinya.

__ADS_1


Persiapan sederhana yang dilakukan keluarga Danuarta selesai tepat saat adzan maghrib. Para pemuka agama tidak meninggalkan kediaman sang pejabat pembantu wedana. Mereka melakukan sholat masjid berjama'ah di pendopoan, mengikuti arahan Davina.


Tepat setelah dzikir selesai. Acara inti di gelar. Mengawali perbuatan baik dengan istigfar, sholawat juga syahadat. Suasana pendopo Joglo syahdu.


Dila dan Shan berada di kamar hunian utama, ditemani Mita juga Devana, sang Mama. Mereka saling menggenggam erat. Ini bukan pernikahan pertama bagi Dilara, tapi entah mengapa suasana hati kali ini sangat bahagia ia rasakan.


Menemukan kedua orang tua kandungnya, dengan Wali nikah adalah sang ayah langsung, Dila terharu.


Entah dengan Anastasya, Dila tak peduli. Hatinya sejenak ingin merasakan kedamaian bahwa bahagia akan dia jelang.


"SAH. SAH. SAH."


Dalam lamunan Dila, juga nuansa khidmat didalam kamar. Riuh terdengar suara para pria dari pendopo.


Mita bersorak. "Kak, sah. Aaahhh, Kak Dila jadi kakak iparku lagi," seru Mita memeluk wanita ayu di sampingnya.


"Selamat ya Nduk, Mama ikut happy," ucap Deva terharu mencium pipi anak gadis yang baru saja kembali dalam pelukannya.


Euforia bahagia kental terasa memenuhi kamar ketika handle pintu di buka seseorang dari luar.


"Dila, sebentar lagi nak Ezra kemari, sudah siap kan?" tanya Deva, menghampiri dan meraih wajah ayu yang duduk di sisi ranjang kamar tamu. "Cantiknya."


"Banyak ya tamu diluar?" tanya Dila mendengar suara ramai dari kejauhan.


"Hanya tetangga, pemuka agama juga aparat desa. Ada anak yatim juga barangkali Dila mau bagi uang Mahar?" jelas sang Bibi.


"Iya ... Mahar dari Abang dibagikan saja ke mereka, tapi nanti ya Bulek, aku belum menerima hakku," jawab Dila.


Mereka lalu mengucap banyak syukur, meski ini pernikahan ulang secara agama, namun situasi yang melatari terjadinya moment sakral sangat berbeda dari kebanyakan kisah akad nikah biasa.


"Assalamu'alaikum."


.


.


..._________________________...

__ADS_1


...Za, pinter ya, lagi musim hujan 🤭😂...


__ADS_2