SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 68. KANGEN AYAHNYA


__ADS_3

Sejak ba'da ashar tadi, Dila sudah lebih baik. Dia dan Mita kini berada di kamar Ruhama. Ibu hamil itu hanya keluar saat sholat berjamaah juga makan malam, itupun menempel pada ibunya. Semua serba Ibu.


Pukul sepuluh malam, teras samping mansion utama.


"Za, besok itukan acara di sini pagi, terus langsung ke panti-panti kita keliling, Dilara gak apa kan? gak usah turun dari mobil jika lelah," ucap Emery setelah makan malam, mereka berdua berbincang di teras samping.


"Dila sehat, Pa. Kenapa gak ngundang sih Pa?"


"Kita yang punya hajat, sehat dan mampu harusnya kita yang datang, bukan mereka. Kamu perhatikan itu," ujar sang Ayah.


"Seorang hamba yang bersedekah dengan kebaikan niscaya Allah akan memberikan penerus yang baik dari keturunan nya ... ini kan anak-anak yatim Za ... jadi caranya, memenuhi sandang pangan, memuliakan, mengusap kepala yang belum baligh, sesuai anjuran Nabi menurut riwayat Abu Hurairah...."


"Ada juga cara paling utama, Za," lanjut Emery.


"Apa, Pa?"


"Membawa mereka masuk ke dalam keluarga, menyetarakan kedudukan serta hak dan kewajibannya dengan anak kandung. Yayasan Qavi berusaha mewujudkan itu," pungkasnya.


"Paham, Pa. Sorry, masih saja khilaf...." balas Ezra.


"Itu tadi hadist. Kamu sedang menunggu generasi penerus. Melihat cara Dilara mengisi waktu selepas sholat tadi, Papa bersyukur dia menjadi menantuku," imbuh pemilik mansion.


Sedang asik berbincang, sang anak sulung justru mulai gelisah padahal baru pukul sepuluh malam, Emery terusik untuk menggodanya.


"Gih, ketok aja pintu kamar Ibunya. Siapa tahu ketiduran di sana, lagian belum juga sehari udah nyariin mulu ... perasaan dulu ada yang ogah deketan," sindir pria dengan wajah kalem itu, seraya menyesap kopinya yang perlahan dingin.


"Ck, Pa. Dulu itu," lirih Ezra seakan malu.


"Jaga dia, Za. Sulit mendapatkan yang seperti Dilara ... tidak silau dunia, tak banyak bicara yang unfaedah namun santun dan bakti padamu, bahkan keluarga kita. Juga, jika bukan karena Dila, mungkin aku tak lagi punya penerus selain Mita," tegas Emery.


Degh.


"Pa."


"Jangan kira Papa tidak tahu. Saat ini tidak banyak yang bisa Papa lakukan. Kau yang harus waspada, menjaga milikmu sendiri ... karena jika Papa bertindak, kebencian itu semakin menjadi. Salahku, memang tak tegas sejak dulu," sesal Emery mengingat insiden yang menimpa putranya akibat seseorang, dan diapun mengenalnya dengan baik.


"Dia tidak akan berani, itu mungkin hanya peringatan darinya saja," elak Ezra.


"Jangan terkecoh, dia membencimu. Waspadai juga Sanjaya grup. Meskipun sekarang pimpinannya wanita, dia hasil didikan ayahnya...."


"Baik, Pa. Do'akan aku," Ezra sudah menduga. Rivalnya kali ini bagai memakai jubah Harry Potter. Invisible alias tak terlihat.


Tepat pukul sebelas malam.


Tok. Tok.


Ezra mengetuk pintu kamar tamu dimana mertuanya menginap.


Papan kayu berwarna putih itu perlahan terbuka, muncul Ibu dengan wajah yang masih mengantuk.


"Dila lagi witir, tadi ketiduran bentar. Tuh, Non Mita udah mimpi kemana, pules banget," ucap Ibu kala melihat Ezra. Wanita yang baru saja sembuh itu paham, jika dia mencari putrinya.

__ADS_1


"Ku kira tidur di sini, Bu," balasnya sungkan karena malu.


"Enggak, tidur dengan suaminya. Gak boleh sama Ibu. Biasanya jabang bayi pengen sama ayahnya kalau malam," goda Ruhama kemudian. Dila baru saja selesai, dia segera merapikan mukena lalu menghampiri kedua orang yang berdiri di pintu.


"Gih, di bawa, udah teler juga cuma tadi kebangun," ujar Ibu mendorong pelan punggung Dila yang masih ragu keluar dari kamar.


"Makasih, Bu," Ezra menjawab pelan dengan wajah ceria. Dia segera meraih lengan istrinya.


Setelah di kamar.


"Ganti baju dulu gak, Dila? di lemari sebelah kiri, semua baju kamu ya. Aku ambil minum," ujar Ezra saat melihat Dila bingung.


Sang suami siaga, kembali keluar kamar menuju pantry guna mengambil pitcher dan tumbler air putih.


Saat Ezra kembali, ditemani maid. Dirinya melihat Dila sudah berganti baju duduk di sisi tempat tidur, seperti sedang menahan sakit.


"Bi, tolong ambilkan tabung oksigen portable di meja sana," tunjuk Ezra meminta tolong pada maid.


"Sayang, kenapa?" tanyanya lembut, mendekat ke sisi ranjang.


"Sakit, dia sedang main, tapi ka-l-i ini sesak ... uuhh," Dila menahan sakit, meski ingat pesan dokter. Perutnya mulai kram, mungkin baby nya sedang mencari jalan memutar menuju mulut rahim.


"Pakai oksigen dulu ya," Ezra menerima tabung oksigen dari tangan maid. Dia kini ikut duduk di tepi ranjang mereka.


"Sudah Mba, gak apa, biar sama aku aja," ucap Ezra pada maid saat melihatnya masih mematung di tempat.


Suami siaga itu membantu Dila bersandar di kepala ranjang, memasang corong pada tabung dan memencet tombolnya.


"Sudah enakan?" tanyanya lagi, karena Dilara telah beberapa kali menghirup oksigen.


Dilara menggeleng pelan.


Semua petunjuk dokter sudah dia lakukan, namun kondisi istrinya masih terlihat kesakitan.


"Dia gak mau gese-r, sesak," ucap Dila mulai terbata.


"Apakah ini saatnya?" batin Ezra.


Kakak sulung Ermita itu mencoba mendekat, hati-hati karena meragu. Perlahan dia meletakkan telapak tangannya pada perut buncit Dilara yang dominan menonjol ke kiri. Badan tegap itu menunduk, membungkuk pelan hampir menyentuh kandungan.


"Hai, ini Ayah ... kamu sedang main ya? didalam sana mulai sempit, jadi pelan-pelan saja ya karena Bunda kesakitan jika Adek begini. Sudah malam, bobok yuk, sama Ayah ... besok boleh main lagi, Ok?" Ezra mengulangi kalimatnya beberapa kali, penuh kelembutan.


Dilara hanya diam, melihat interaksi manis yang suaminya coba ciptakan dengan bayi dalam kandungan. Hingga lima menit berikutnya.


"Aagh." Dilara menahan nafas, terasa perutnya bergejolak, seakan ada yang jatuh dari sana hingga berujung nafasnya kembali lega.


"Alhamdulillah, makasih sayang, Ayah juga gak sabar ketemu kamu. Sehat didalam sana ya, jangan nakal sama Bunda karena kamu anak baik," ucap Ezra lagi, penuh penekanan di setiap kata seraya tetap mengusap dan menciumi kandungan istrinya.


"Sudah, dia tenang," lirih Dila lega.


"Ngambek kayaknya ini, gak ketemu Ayahnya lama." Ezra mencoba peruntungan, semoga Dila mengerti.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Gak ada maksud, lupakan. Tidur yuk."


"Aku sesak, di sofa saja. Abang, tidu-r-l-ah," ujar Dila seraya menurunkan kaki.


"Tidur disini sama aku." Tangannya menahan gerakan Ibu hamil yang akan menghindar. Dia menyiapkan semuanya agar sang istri nyaman.


"Sini, Sayang." Ezra menepuk atas ranjang, kepala tempat tidur sudah di susun bantal agar Dila nyaman bersandar.


Putri Ruhama tak punya pilihan, tubuhnya memang lelah dan sangat mengantuk. Dia pun mengikuti arahan Ezra. Perlahan merebahkan punggungnya disana.


"Nyaman?"


"Iya."


"Geser," ucapnya seraya menempel ketat dengan Dila. Tangan kanan Ezra menarik selimut hingga menutupi keduanya.


"Sini, sandaran sama aku." Dia menarik kepala dilara, membiarkan bahunya bersandar pada dada bidang seorang Ezra Qavi. Tangan pria itu kembali mengusap kandungan istrinya pelan dan lembut.


Tak lama kemudian.


"Cepet banget pulesnya. Kali emang kudu bobok sama aku. Kamu pinter Nak," gumam Ezra tersenyum manis, lalu menyusul istrinya masuk ke alam mimpi.


...***...


Seorang pria muda, masih terjaga setelah kemarin lusa dia kembali ke tanah air.


"Bos, istirahat. Mereka di Surabaya," lapor sang ajudan.


"Apakah dia akan datang? kirimkan topeng ke semua tamu undangan, belum saatnya dia melihatku," titahnya lagi.


"Semoga saja datang. Baik, Bos."


"Itu saja dulu, berikan rasa nyaman padanya jika dia terpisah dengan pria itu," pinta sang tuan muda lagi.


"Siap laksanakan, Bos."


"Dilara, aku rindu...."


.


.


...______________________...


...Ihya ulumuddin, bab sedekah dan zakat....


...Ezra El Qavi...


__ADS_1


__ADS_2