
Satu pekan kemudian. Soetta, Jakarta jelang senja.
Selama satu minggu berada di Surabaya, Dilara selalu menempel erat pada sang Bunda jika siang hari. Dan ketika malam, giliran Ezra yang tak mengizinkannya lepas dari pelukan.
Kini keduanya kembali ke kota asal. Rolex menjemput majikannya di Bandara kemudian mengantar mereka menuju apartemen.
PIK Tower, lantai 10.
Biiipp.
Bi inah menyambut kedatangan majikannya. Tangan tuanya menerima dua kantung berisi makanan, oleh-oleh dari kampung halaman tuan muda.
"Naik ya Sayang," pinta Ezra sekilas ketika melihat Dila berjalan menuju kamarnya, bersama Bibi.
"Dila," panggilnya lagi.
"Bajuku," sahut Dila menoleh ke arah suaminya.
"Sudah ada didalam sana ... Lex, bentar ya, tunggu aku di ruang kerja," pinta Ezra pada asprinya. Rolex hanya mengangguk seraya masuk ke ruang yang Ezra maksud.
Lelaki keturunan Jawa itu mengejar Dilara, menarik tangannya agar naik ke kamar lantai dua. "Ayo."
Sementara Bi Inah terus melangkah, wajah senjanya mencetak senyum simpul melihat kemajuan pesat hubungan mereka.
"Iya, iya."
"Apa iya? tapi malah nyelonong ke belakang. Kan sudah ku bilang, ke atas," sungut Ezra kesal. Dilara kembali tak menurut padanya.
Huft.
Percuma melawan keinginan sang tuan muda, Ibu hamil itu tak punya pilihan. Dia mengikuti langkah suaminya menaiki belasan anak tangga menuju lantai dua.
Tangan kanan lelaki itu membuka handle pintu.
"Ganti baju kemudian langsung istirahat. Aku di bawah, ngobrol dengan Rolex dulu," ujar Ezra saat mereka telah di dalam kamar.
Dilara hanya mengiyakan dengan isyarat matanya. Baru saja ia meletakkan tasnya di meja sofa, duduk di salah satu kursi hendak melepas kaus kaki, Ezra berbalik kembali.
"Sini, aku saja. Kamu udah susah karena adek," ujar nya membungkukkan badan, duduk pada kedua pahanya. Lalu ia menarik telapak kaki Dila, melepaskan satu persatu balutan kain dari kedua tungkai mulus itu.
"Sudah selesai." Mengecup kandungan Dila. Lalu Ezra berdiri, memutar tubuhnya guna mencari pengait gamis, kemudian benda kecil itu ditarik ke bawah.
"Aku bisa," elak Dila masih saja tak nyaman dengan perlakuan manis suaminya.
"Mandi ya, biar segar. Nanti ba'da maghrib kita jalan sebentar ke bawah. Aku ketemu Rolex dulu," cakap Ezra sebelum meninggalkan wanita yang semakin cantik dalam pandangannya itu.
*
Ruang kerja.
Bibi telah mengantarkan dua cangkir kopi ke dalam sana, ketika tuan muda sampai. Mimik wajah Rolex terlihat tak sabar ingin mengutarakan sesuatu.
__ADS_1
"Ada kejadian apa selama aku pergi?"
"Karyawan demo Bos, ada yang menghasut namun aku sudah membereskannya. Bayaran seseorang, dan dia pelakunya. Anak buah Sanjaya," ungkap Rolex, melayangkan sebuah foto.
"Apa tuntutan nya? ... baiknya atur pertemuan dengan perwakilan mereka dulu. Setelah itu, kita temui keseluruhan pekerja jika telah mencapai kesepakatan," pinta Ezra.
"Tunjangan kesehatan, juga lembur, cuti hamil dsb, kurasa itu mengada-ada Bos. Semua sudah sesuai prosedur bahkan Anda melebihkan ... ini hanya akal-akalan saja," Rolex mendengus kasar.
"Biarkan, aku ingin mendengarkan keluhan mereka, apakah semua dana mengucur maksimal atau ada hal lainnya. Ada lagi?"
"Ini, dua buah mask, untuk acara launching rename Abdeen property menjadi King Abdeen. Mereka mewajibkan memakainya sebelum acara inti," jelas Rolex.
"Ckck, ada-ada saja ulahnya. Masih sama seperti dulu. Fantasy always. Aku gak akan lama di sana, Lex. Khawatir Dila kurang nyaman," ujar Ezra lagi.
"Tapi pertemuan itu bagus untuk menjalin relasi, Bos. Aku akan minta Velma kemari, untuk menjaga Nyonya."
"No, Velma jaga Ibu di sana. Hmm cari driver ojek online yang biasa Dila pakai ... siapa namanya? Winda jika tak salah, dia mengerti karakter istriku dan sudah paham bagaimana Dila. Kerjakan dengan baik," pinta Ezra lagi.
"Baik."
"Ada lagi, Lex?" tanya Ezra.
"No, Bos. Silakan unboxing kedua, aku pamit. Sampai jumpa di kantor," ucapnya seraya mempercepat langkah keluar ruangan.
Ezra hanya tersenyum simpul menanggapi celoteh asisten pribadinya. Dia merenung, banyak hal terjadi setelah enam bulan ini, termasuk hatinya yang perlahan berubah.
Putra sulung Emery keluar dari ruang kerjanya, naik keatas menuju kamar.
"Ada masa-l-ah?" tanya Dila melihat wajah suaminya lesu.
"Hmm, demo pekerja meminta tambahan hak cuti juga tunjangan lainnya. Besok di telaah pengajuan mereka pada rapat management."
Dila meraih kertas dan pulpen dari atas meja sofa.
"Teguran itu jika menurut Ihya ulumuddin, esensinya ada empat tingkatan. Masuk dalam pembahasan amar ma'ruf nahi mungkar. Memberitahu, menasehati, bersikap tegas dalam ucapan serta mencegah dengan tindakan."
"Mereka sudah betul, memberitahu, memberi solusi dengan opsi sama dengan tahapan kedua, menasehati ... asalkan mereka tak melampaui batas dengan menggunakan kekerasan, Abang wajib mendengarkan."
"Management bersikap tegas, ini juga harus menjadi pertimbangan Abang nanti dalam mengambil keputusan agar tidak sampai menimbulkan dampak negatif."
"Afdholu jihadi kalimatul haqi ingda sulthani jaiz ... mereka sedang jihad memperjuangkan haknya, maka wajib di dengar. Itu adalah tugas penguasa atau pemimpin yang baik. Kheir, in sya Allah. Abang akan nemu solusinya." Dila menyerahkan apa yang baru saja dia tulis.
Ezra membaca pelan runutan kalimat indah yang istrinya torehkan di atas kertas. Dia tak mengira, sosok muda itu justru bisa menentramkan hatinya yang gelisah.
"Indah banget, makasih Sayang ... besok ikut ke kantor yuk karena lusa kita ada pertemuan yang minggu lalu aku bilang itu. Sekalian fitting baju di butik Queeny," ajak Ezra.
"In sya Allah."
*
Malam pun merangsek pelan mengajak ke peraduan. Menantu Emery menolak halus ajakan suaminya untuk jalan ba'da maghrib tadi.
__ADS_1
Karena lelah, Dila sudah menyandarkan punggungnya dikepala dipan. Masih dengan laptop jadul, dia berusaha menyelesaikan tuntutan pekerjaan mumpung Ezra tak mengganggunya.
Ting. Notif masuk ke ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Dilara."
"Wa'alaikumussalaam, dengan siapa? maaf." Balas Dila.
"Seseorang yang Anda tolong, jika ingat. Oh, jangan salah paham. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih sudah sangat memotivasi untuk bangkit." Kalimat panjang dari orang asing.
Dila tak mengerti, ia memilih mengabaikan pesan misterius tadi dan melanjutkan aktivitasnya hingga tak lama kemudian, Ezra masuk ke kamar mereka lagi.
"Sudah malam, Sayang. Udah dulu ya, tuh jam sebelas. Aku aja udahan bikin sketsa di bawah tadi," bujuk Ezra hendak mengambil laptop milik istrinya.
Wanita dengan rambut hitam sebahu itu menurut, menyimpan file lalu mematikan benda kotak jadul miliknya dan meletakkan di atas meja nakas disamping ranjang.
Suasana kamar yang temaram, karena Ezra mematikan lampu utama, seketika membuat Dila canggung.
Pria tampan berstatus suaminya itu kian mendekat padanya.
"Dila, boleh gak?"
"Apa?"
Tuan muda Qavi menahan sekian lama keinginannya saat di Surabaya. Di suguhi pemandangan wanita seksi yang setiap malam selalu wangi membuat pertahanan dirinya kian lemah.
Inginnya menunggu Dila siap, namun lambat laun rasa tak sanggup selalu mendorongnya.
"Ini," pria dengan sikap lembut hanya untuk Dilara memulai apa yang dia maksud. Mengecap pelan bibir mungil yang pernah dia rasa. Tidak hanya itu, semua bagian wajah ayu istrinya tak luput oleh kecupan mesra.
"Boleh?" lirih suara Ezra, mulai berat.
Dila bingung, antara takut dan tak kuasa menolak. Dia hanya diam.
Merasa tak mendapatkan penolakan dari sikap dan bahasa tubuh istrinya, Ezra meneruskan apa yang seharusnya mereka lakukan sejak lama.
"Bismillah...." lirih Dila saat suaminya intens memberikan sentuhan sensual.
...***...
Di kediaman lainnya.
Pria muda yang berdiri di tepi jendela, melayangkan pandang pada rembulan meski cahayanya tak seterang malam kemarin. Dia masih setia di sana, seraya memegang benda pipih seakan menunggu seseorang.
"Aku tak menarik kah di matamu? bahkan pesan pun tak kau balas...."
.
.
...______________________...
__ADS_1
...Oyy, Dila lagi indehoy 😅 jan ditungguin.....