SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 126. MAMAKU


__ADS_3

"Mama akan selalu menerima kondisi putrinya ... sudah siap?" Kedua pasang netra bulat saling bersitatap penuh pengharapan.


Dilara terdiam, menata hati kuat agar ketika berjumpa dengan sang Bunda, ia dapat membagi ketegaran dengannya.


Davina menepuk tautan tangan Dila diatas pangkuan. Lalu dia bangkit melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar tak jauh dari sana.


Sebelum masuk, Davina membuka kunci pintu lalu mendorong pelan, selintas ia menoleh pada Dila, tersenyum seraya mengangguk samar.


Didalam kamar. .


Davina melihat sang kakak baru saja menutup mushafnya. Duduk di tepi ranjang.


"Vina, lama sekali. Bayiku nanti kelaparan, mana dia?" Wanita yang masih sangat cantik itu nampak merajuk, barang di dalam kamarnya berserakan.


Devana, sesekali kerap mengamuk jika ingatan itu muncul kembali. Terkadang dia hanya sholat dan mengaji sepanjang waktu. Namun tak jarang, dia menangis seharian penuh hingga tubuhnya lelah.


Jika sedang dalam kondisi buruk, seperti saat ini. Devana selalu meminta bayi disertai tangisan pilu. Beberapa luka di tubuhnya tercipta dari hasil pelampiasan atas rasa keputusasaan.


Tidak seperti biasanya, Vina yang kerap meladeni ocehan sang kakak. Kali ini, dia memeluk Devana sambil menangis kencang.


"Vina, kenapa? ada apa dengan bayiku? dia sakit ya?" ujar sang kakak, memeluknya erat.


"Vina, kenapa. Aku gak pernah melihat bayiku lagi semenjak dia di lahirkan. Kamu janji nyari anakku bukan? apa sudah ketemu?" tanya Deva sadar.


Seperti inilah. Terkadang ia sangat dapat di ajak bicara, ingatannya utuh hingga mereka berdua berbincang lama dengan canda tawa. Tak jarang, goncangan mental atas sakit kehilangan bayi muncul di sela percakapan.


Davina mengurai pelukan mereka. Menatap wajah ayu sang kakak yang tak pernah terpapar sinar mentari. Dia membelai kulit mulus terbalut hijab, menghapus jejak air mata dari sana.


"Deva, bayi kamu ajaib, dia telah tumbuh menjadi wanita cantik saat ini. Kamu mau gak, bertemu dia?" lirihnya menahan tangis.


"Bayimu yang hilang, sudah ketemu tapi dia telah dewasa ... mempunyai suami tampan juga seorang putra. Kamu punya cucu," suara lembut Davina tercekat. Serak menahan agar nada bicaranya tak sumbang.


Devana memasang telinga sungguh-sungguh. Ada ragu terbersit di wajah ayu itu. Mungkin otaknya sedang mencerna penggalan kalimat yang dilontarkan sang adik.


Devanagari, mulai menanggapi.


"Sudah dewasa? kamu merawat putriku dengan baik ya Vina, dimana dia?" Devana mulai menangis.


"Vina ... kamu gak bohong kan? aku punya cucu? eh tadi, bayiku punya bayi? bagaimana caranya?" tanyanya bingung.


Davina menjelaskan kembali berulang-ulang hingga sang kakak mengerti. Tetap dengan nada lembut dan perlahan. Dia selalu berpikir bahwa kakaknya tidak mempunyai gangguan mental berat.

__ADS_1


Devana hanya terguncang, dia telah mendapatkan terapi mental dan kondisinya kian membaik di tahun-tahun terakhir. Hanya saja, rasa kehilangan itu masih kerap muncul.


"Oh aku mengerti. Putriku kamu rawat hingga dewasa. Lalu menikah dan punya anak ya. Sekarang dimana? aku ingin ketemu?" isakannya mulai intens terdengar. Apa yang Davina sampaikan, perlahan dia mengerti.


Sang adik mewanti, agar ketika bertemu wajah nanti Deva harus tetap tenang. Tidak boleh berteriak atau menyerang.


Wanita ayu itu mengangguk antusias atas permintaan adiknya.


"Aku waras. Aku sehat kan ya Vina? gak gila, putriku pasti menerimaku kan, karena ibunya bukan orang gendheng," ujarnya lagi, air mata sudah banjir membasahi wajah dan hijabnya.


Davina menangis, melihat keteguhan sang kakak, dia tahu bahwa Devana berusaha tegar, bertaruh hati antara kewarasan juga rasa putus asa.


"Tunggu ya Kak, aku panggilkan ... namanya Dilara Huwaida, dipanggil Dila. Kakak ingat?" tegas Vina menatap manik mata bulat sang kakak.


"Iya ... ingat, Dilara putriku...." jawabnya cepat seraya mengangguk. Ia pun menyeka air matanya.


"Aku masih muda kan? masih cantik? sudah rapi belum, Vina?" Deva bangkit dari ranjang, mematut dirinya di depan cermin. Meyakinkan diri bahwa penampilannya sempurna.


"Devanagari selalu cantik di mata kami. Tunggu ya, yang tenang," ucap Vina beranjak dari sisi tempat tidur. Ia membuka pintu, memanggil Dila dan Mita agar masuk ke dalam.


Dilara menoleh ke arah suara yang memanggil, ia bangkit dan mendekat pada Davina di balik pintu.


"Dila, masuk sini yuk. Dan Mita, nanti nyusul yaa tapi pelan-pelan setelah mereka saling mengenal," ujar Vina pada keduanya. Dia lalu membuka pintu lebar agar Dila dapat masuk.


Wajah wanita itu sangat ayu, persis dirinya meski gurat halus samar tercetak di sana. Dila meragu, langkahnya terhenti di depan pintu hingga Davina mendorong pelan punggung keponakan agar terus mendekati Deva.


"Dilara?" suara lembut itu terdengar, mimik wajah kalem berubah menahan tangis. Bibir merah itu mulai bergetar memanggil nama seorang putri.


"Ma-ma?"


Tidak ada jawaban lain, Devanagari membuka kedua lengan lebar, meminta Dila menyambut ajakannya.


"Ma-ma-ku?"


Langkah Dila tertatih, sedikit meragu namun hatinya mulai menghangat. Degup jantung berdetak cepat, memompa darah kencang hingga berdesir ke ujung nadi.


Deva mengangguk. "A-aku ... ma-ma," ia sudah banjir air mata, suara tangis itu meminta tempat berlabuh.


Sang putri sulung Danuarta, bangkit dari duduknya. Ia berdiri, meski kaki tak yakin mampu menopang beban tubuh karena pilu.


"Mamaaaa," Dilara setengah berlari, membuka rentangan tangan menyambut pelukan Sang bunda.

__ADS_1


Grep.


Mereka saling memeluk. Membagi tangisan di bahu masing-masing. Mita mulai masuk ke dalam kamar, ketika pemandangan syahdu itu tercipta.


Dia mengabadikan moment haru, meski air mata pun tak luput bersembunyi dari netra sipitnya. Jangan tanyakan bagaimana suasana kamar, hanya isakan menyayat hati menguar memenuhi udara.


Kedua wanita itu rubuh menyentuh lantai, masih saling memeluk erat.


Devanagari enggan melepaskan tautan tubuh mereka, ia takut akan kehilangan putrinya kembali.


"Mama, Dila punya Mama," isak Dilara perih.


"Ini Mama, Nak. Mama, maaf mama jahat gak ngurusin Dila ya," Deva tak kalah sendu.


"Dila, putriku Dila."


Pelukan hangat seorang ibu, kembali Dila rengkuh setelah kehilangan Ruhama. Betapa ia rindu belaian tangan lembut tanpa pamrih yang selalu mendukung dirinya dulu.


Kini, takdir membawanya pada kisah baru. Menemukan Sang Bunda kandung meski hati berkali menepis harapan akan berjumpa dengan keluarga aslinya kelak. Tuhan Maha Baik, Dila sangat bersyukur.


"Ma," putri Devanagari, mengurai pelukan.


"Iya Nak." Jemari lembut kakak Vina, mengusap air mata di pipi putrinya.


"A-aku ... ma-sih gak per-caya kete-mu Mama disini," ucap ibunda Shan pelan dan terbata seraya menatap dalam manik mata wanita didepannya.


"Mama juga. Happy, ma-ma Ha-pp-yy," suara lembut itu kembali tercekat, air mata pun luruh tanpa bisa di bendung lagi.


Devanagari meraih wajah Sang putri, menciumi semua bagiannya tanpa tersisa. Menarik telapak tangan Dilara agar merasakan degup jantung dirinya.


Kesedihan kental terasa, wajah sembab tak lagi di hiraukan. Air mata jatuh berkubik namun tak jua tanda akan surut tercipta.


Dila mengangguk cepat, ia memeluk Sang Mama kembali. Kali ini lebih erat.


"Mamaku, mama."


.


.


..._________________________...

__ADS_1


...😭 matane burem, ngembun. ...


__ADS_2