
"Den," seru Bi Inah.
"Bi, jangan ke sini. Tinggalkan aku," pinta Ezra, terlihat sangat menahan kesakitan.
Bi Inah pun berbalik arah, menuruni tangga dengan kecepatan tak biasa. Seketika ia lupa akan nyeri sendi yang kerap hadir jika dirinya bergerak terlalu cepat.
Kamar Dilara, sang nyonya muda yang dia tuju. Dengan nafas tuanya, ia menggedor kencang pintu itu berharap sang empu bangun.
Dug. Dug. Dug.
Dila terhenyak, ia memang belum melepas alat bantu dengar telinga kiri yang bentuknya lebih kecil.
Mendengar gedoran pintu, Dila tergopoh bangkit masih dengan wajah mengantuk.
"Non," Bibi menerobos masuk saat celah pintu sedikit terbuka.
Sang Nona terhuyung ke belakang, hampir jatuh akibat dorongan wanita paruh baya di hadapannya kini.
"Tolong ... to-long, Nak Ezra, tolong, Bibi mohon," Bi Inah menangis. Tangisan pertama yang Dila dengar dari mulut keriputnya.
Mata bulat gadis ayu yang masih berdiri mematung itu mengerjap beberapa kali.
"Kenapa?"
"Dia di racuni, kata Sonny kali ini rival bisnisnya menginginkan Nak Ezra cacat otak juga mental, tolong...." Bibi semakin terisak.
Nyonya muda El Qavi tak dapat mencerna dengan baik apa yang tengah terjadi. Ia hanya mengangguk lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat sunnah lebih dulu.
"Sebentar, Dila mau minta tolong sama Allah juga. Kher In sya Allah, Abang kuat bertahan," ucapnya pelan, kali ini intonasi pelafalannya sedikit tegas.
Sudah sepuluh menit berlalu sejak ia menggelar sajadah. Dilara belum juga usai.
Hingga detik berikutnya, pintu kamar itu pun terbuka. Saat melihat sang Nyonya muda dan Bibi keluar, Rolex, juga Sonny bersimpuh di hadapannya.
"Tolong tuan muda, Nyonya. Kasihani beliau," ujar Rolex.
"Aku gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun aku berusaha," jawab Dila.
Dengan langkah gontai akibat mengantuk ia menaiki tangga menuju kamar suaminya.
Ceklak.
"Assalamu'alaikum," gumam Dila, membuka pintu kamar.
"Innalillahi." Dia berlari saat melihat Ezra jatuh di lantai, dengan keringat dingin membanjiri wajah dan bajunya.
"Sajadah nya juga basah, dia nampak kesakitan," batin Dila.
Tubuh kekar itu menggigil saat telapak tangan hangat nan lembut menyentuh kulitnya. Netra elangnya memerah, menahan perih.
Pria yang tengah kesakitan ini pun berusaha membuka mata, mengenali siapa yang menjamahnya.
__ADS_1
"Jangan, Dila, pergi." Ezra menepis tangan Dila yang hendak memapahnya bangkit.
"Aku gak akan ninggalin Abang," tekad Dila dalam hati.
Tak ia pedulikan dorongan kuat Ezra hingga tubuh ringkih itu berkali membentur tembok, lemari bahkan tepi ranjang. Ia tetap mengulangi apa saja yang bisa dilakukan, memapah, menyeka keringatnya, menarik ke atas ranjang.
Hingga suara parau itu tak lagi mampu menahan sesuatu.
"Dilara, ma-af. Ma-af," ucap Ezra terbata.
"Aku meminta hakku, melanggar janjiku."
Grep.
Ezra menarik tubuh sintal yang pernah di lihatnya dalam pelukan.
Gadis ayu yang ditarik olehnya pun paham, apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa," gumam Dila saat hijab serta baju tidur yang ia pakai, ditarik dan robek paksa oleh Ezra.
Entah karena efek reaksi racun yang di sampaikan Rolex atau memang dorongan hasrat yang tak bisa lagi dibendung.
Tubuh mungil itu mulai pasrah. Ia hanya dapat memandang pias sekaligus kasihan pada wajah pria yang telah lama sah berstatus sebagai suaminya.
Meski rasa nikmat turut hadir akibat dera-an Ezra yang menggempur raga, namun rasa sakit hebat tetap melanda bagian bawah tubuhnya.
Dilara menangis, memohon pada suaminya agar berhenti. Namun di saat yang sama ia juga tak tahu bagaimana harus menjabarkan sensasi aneh yang menjalar menerjang sukmanya.
"Suuudddah," tenaganya habis. Namun sang suami justru semakin kuat mengungkung tubuh yang mungil.
Efek mematikan obat pe-rang-sang dosis tinggi jika di modifikasi dengan serum racikan, bisa mematikan siapapun yang menyentuh cairan haram ini.
Tak akan ada yang sadar apa dilakukan saat dalam pengaruhnya.
Sorot mata Ezra masih di liputi nafsu, senyum kepuasan bahwa ia tengah menikmati dahaga akan hasrat kelelakian seakan membius Dila.
"Suamiku memang tampan."
Sang suami terus mendominasi, menghujam tanpa ampun, melesakkan miliknya paksa menguasai tubuh yang ia jamah. Peluh membanjiri kedua insan yang tengah beribadah halal meski salah satunya merasa berat.
Dilara mendorong sekuat tenaga agar Ezra berhenti namun sia-sia. Tubuhnya kian berdenyut hebat berusaha mengingkari apa yang mulut dan otaknya mau.
"Allahumma ij alhaa dzurriyatan thayyibah, in kunta qaddarta an tukhrija dzaalika min shulbi," ucap Dila dalam hati, diujung kewarasan.
Hingga.
Keduanya menjerit meloloskan satu leng-uhan meski berbeda makna. Satu karena kelegaan, sedang lainnya sebab sakit dan merasa diperlakukan kasar.
"Cheryl...."
"Hah, Cheryl," lirih Dila dalam lelah.
__ADS_1
Ezra ambruk disamping tubuh Dilara. Tangan kekarnya masih mencengkram sisi kemolekan bagian kiri wanita yang merasa terhina setelah sebuah nama lolos dari mulut suaminya itu.
"Abang membayangkan melakukan dengan Cheryl kah?"
Banjir sudah air mata Dilara malam itu. Perih hebat terasa semakin menusuk hingga ke sumsum tulang, sekujur tubuhnya babak belur sekaligus hati hancur luluh lantak.
Dilara, beringsut melepaskan diri dari cekalan tangan kekar yang masih menahannya.
Brugh.
Wanita yang telah resmi menjadi istri Ezra sepenuhnya itu jatuh di sisi ranjang. Kakinya lunglai, tak mampu menopang tubuh yang kemerahan.
Dia berusaha merangkak menuju bathroom dengan linangan air mata yang terus berderai, jatuh meninggalkan jejak sepanjang ia menyeret tubuh kuyunya.
Dalam guyuran shower, Dilara menangis. Jiwa raga terluka.
"Dengan wajah apa aku menemui Abang lagi nanti? marah atau benci? sanggupkah aku?"
Tangisan pilu dini hari seorang Dilara huwaida memecah sunyi meski nyatanya ia kerap sendiri.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan bathrobe hitam milik Ezra di toilet. Wanita yang baru saja menunaikan kewajibannya itu menarik selimut menutupi tubuh polos suaminya. Ia pun keluar kamar dengan langkah tertatih.
"Ibu, sakit...." isaknya mengiringi langkah menuruni belasan anak tangga.
Brakk.
Dilara mengunci pintu kamarnya. Ia menangis sejadinya. Bukan tak ikhlas, melainkan Ezra telah menyebut sebuah nama yang melukainya.
"Abang masih cinta kah dengannya? hingga di bawah pengaruh obat pun, dia mengingatnya," Dila memukul dadanya pelan.
"Sakit ya Allah ... saakkiiitt, hatiku sakit," sang Nona yang baru mengenal cinta, ia berikan pada pasangan halalnya justru dicabik-cabik tanpa sisa.
Rasa cinta yang ia punya ternyata masih dalam bayang semu. Tak akan terlihat sebab kisah masa lalu.
...***...
Keesokan Pagi.
Rolex dan Sonny telah memanggil dokter pribadi mereka untuk melakukan tindakan lanjutan bagi tuannya.
Kedua pria itu masuk ke kamar tuan muda yang belum siuman. Tak sengaja melihat jejak semalam di sana. Mereka saling pandang, sekaligus khawatir pada sang Nyonya muda.
"Baiknya tanya Bibi, dan minta agar dokter memeriksa kondisinya?" ujar Rolex pada Sonny.
"Kasihan Nyonya, gimana nahan sakitnya sampai begitu," sahut Sonny mengiyakan permintaan Rolex, rekannya.
"Dila...."
.
.
__ADS_1
...____________________________...
...Sana sini panas... Awas kalau jempol gak aktif, mommy ngambek 😂😂.. canda #ngambek.. ðŸ¤...