SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 70. NYANDU


__ADS_3

Pagi yang berbeda.


Ezra merasa istri kecilnya itu menghindar sejak peristiwa panas semalam. Dilara sudah meninggalkan kamarnya setelah ba'da subuh, memilih murajaah di balkon ruang keluarga. Menantu Ruhama itu membiarkan ibu hamil yang nyatanya makin seksi dalam sisa ingatan terakhir kali.


"Non, gak siapin baju suaminya? sudah jam segini Den Ezra belum turun, tumben," tegur Bibi kala Dila masih saja mengaji.


"Eh, aku udah siapin sih Bi. Bentar ku lihat," balas Nyonya muda mulai menutup mushaf dan bangkit dari sana menuju kamar di lantai dua.


Ketika dia baru membuka handle pintu kamar. Sebuah cekalan kuat menarik wanita yang tengah berbadan dua, ke dalam. Punggungnya lalu membentur dada bidang seseorang, dengan lengan kekar yang melingkar memeluk dadanya.


"Lama banget naiknya, aku jadi harus memakai baju kerjaku sendiri," bisik Ezra di telinga kanan Dila.


"Ehm, itu...."


"Simpulkan ini, ayo." Ezra mengayunkan dasi didepan wajah Dila lalu membalik tubuh berisi itu menghadapnya.


Glek.


"Duh, Abang tahu aku menghindar. Aku malu ya Allah," ucap Dila dalam hati.


"Sayang, ayo." Ezra makin gencar menggoda istrinya. Dia tahu, Dila masih merasa malu karena keintiman mereka semalam, wajah oval nan ayu kini sudah merona bak kepiting rebus.


Jemari kuning langsat berhias cincin berlian perlahan mengalungkan dasi ke leher Ezra. Tatapan intens mata elang suaminya sukses membuat Dilara kikuk.


"Salah, duh," lirihnya, bulir keringat dingin pun muncul di dahi. Ezra lalu menyekanya dengan ujung jemari, masih mengulas senyum.


"Sengaja di lamain ya? biar nempel sama aku," bisik Ezra lagi, kali ini dia mengecup kening istrinya.


"Pakai sendi-r-i aja, aku gak bisa." Dila mengelak, hendak meninggalkan sosok yang telah rapi disana.


"Pakaikan, sampai selesai."


Sengaja, putra sulung Emery hanya ingin mengisi memori dan hatinya penuh dengan sikap malu-malu Dilara. Hal yang menyenangkan baginya melihat pemandangan wajah yang mulai tembam itu terbias merah merona karena canggung.


Sekuat tenaga Nyonya kecil menyimpulkan dasi hingga sepuluh menit kemudian.


"Alhamdulillah," gumam Dilara menerbitkan senyuman samar di bibirnya yang masih sedikit bengkak akibat ulah Ezra.


C-up.


Ezra meraih dagu wajah dihadapannya. Memagut lembut bibir pink semanis cherry.


"Thanks, Sayang. Sarapan yuk," ajaknya kemudian setelah sukses membuat Dila lemas.


"Hati-hati," ucapnya lagi menahan pinggang wanita kesayangan karena sedikit terhuyung.


"Shaum, maaf, l-upa izin," cicit Dila kala jemarinya akan Ezra tarik keluar kamar.


"Temani aku," pintanya kemudian. Keduanya keluar dari kamar sedikit terlambat tak seperti kebiasaan tuan muda.


Saat akan menarik kursi makan untuk Dila dan dirinya, Bibi datang membawa secangkir teh dari ruang pantry.


"Bibi kira gak ngantor, Den. Mau dikamar seharian," goda Inah, sang asisten rumah tangga.


"Dila nya yang gak mau, meski aku maunya begitu," jawab Ezra seraya menyesap teh yang Bibi suguhkan tadi.


"Eh, aku?" wanita ayu yang sejak duduk di kursi hanya diam, mendongakkan kepalanya menoleh pada Bibi juga suaminya.


"Sayang, aku tunggu di kantor jelang jam makan siang, lalu kita ke butik. Nanti kamu di jemput oleh sonny," ujar Ezra pada Dila lalu bangkit berdiri. Ia tak menyentuh hidangannya sama sekali.

__ADS_1


"Abang gak makan?" tanya Dila menoleh mengikuti langkah suaminya.


"Enggak lapar, tadi udah sarapan kamu kan, sekarang kenyang," bisiknya seraya mengecup pucuk kepala sang Nyonya muda.


Pagi yang membuat tubuh mungil itu panas dingin. Dilara bahkan tak berani menatap wajah suami tampannya hingga beliau meninggalkan hunian.


Rasanya hanya Ezra yang sangat menikmati pagi ini semenjak kewajiban yang dia tunaikan semalam.


"Jantungku, duh," tubuh Dilara melorot di balik pintu setelah mengantar Ezra pergi.


*


Kantor EQ Building.


Ezra mendengarkan semua keluhan para pegawainya hingga kemudian, dia izin keluar ruangan saat mual menderanya.


"Bos, istirahat dulu," ujar Rolex mewakili kekhawatiran petinggi lainnya saat melihat wajah pimpinan mereka pucat pasi.


"Meeting dilanjutkan dengan management." Wakil direktur mengambil alih pertemuan itu, sementara Ezra kembali ke ruangannya.


"Aku pusing mencium beraneka wewangian di sana. Kamu juga Lex, pakai parfum apa sih, bau banget," keluhnya kesal.


"Ko aku? parfum mahal ini Bos," sungut Rolex, tak Bosnya hiraukan.


Baru saja Ezra akan masuk ke ruangan, ia harus kembali ke toilet untuk memuntahkan isi lambungnya.


Rolex memapah tubuh tegap yang terhuyung masuk ke kantor, mendudukkan lelaki itu di sofa panjang dalam ruangan. Bersamaan dengan masuknya sang sekretaris membawa beberapa berkas di tangan.


"Bau parfum siapa lagi ini?" seru Ezra mulai marah, saat indera penciumannya menghidu wangi aneh.


"Angel, Pak. Ada file yang harus ditandatangani," ucap sang gadis cantik juga seksi.


Ezra kembali bangkit, berlari menuju toilet di dalam ruangannya. Lagi, dia muntah hingga hanya cairan yang keluar dari lambungnya itu.


"Dila," lirihnya lemah disela nafas tersenggal.


Rolex baru paham, dia pun menekan angka panggilan cepat untuk Sonny agar membawa Nyonya muda segera.


Menit berikutnya, di Apartemen.


Dilara bingung ketika Sonny menjelaskan kondisi suaminya di kantor. Tadi pagi beliau baik saja, pikirnya.


Bibi meminta Nyonya mudanya bergegas pergi, membawa kotak obat yang biasa Ezra gunakan juga beberapa cemilan sehat sebagian pengganti nutrisi yang hilang.


Satu jam kemudian.


Putri Ruhama takjub saat menjejakkan kakinya pertama kali di kantor sang suami. Ia tak sempat memperhatikan sekitar, tatapan miring para karyawan yang melihatnya berjalan di belakang sang asisten pribadi CEO mereka.


Tok. Tok.


Dilara mengetuk pintu ruangan suaminya. Sementara didalam, Ezra memilih duduk dikursi kebesaran, meletakkan kepalanya bertumpu pada kedua lengan diatas meja.


"Sudah ku bilang, aku gak mau di ganggu, pergi!" sentaknya marah.


"A-...."


Seperti mendengar suara yang dia inginkan. Ezra mendongakkan kepalanya.


"Sayang," serunya riang, lupa jika tubuhnya lemas, Ezra menghambur ke pelukan Dilara yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Grep.


"Kangen kamu, kangen adek." Ia memeluk erat, menghirup wangi yang dia ingin dan rindukan.


"Masih mual? tadi gak sa-r-apan kan? aku bawa ini, mau gak?"


"Mau, suapin."


Ezra menarik tangan berbalut gamis dengan pita di pergelangan tangannya menuju sofa.


"Bos," Rolex menyembul dari celah pintu yang masih terbuka.


"Sini, aku bawakan buat kalian juga," ucap Dila, menyodorkan wadah bekal.


"Gak boleh, semuanya punyaku," Ezra menahan lengan Dila.


"Jangan pelit, Bos. Nyonya baik pada kami. Oh iya, petugas butik kemari. Dengan Bu Naya langsung ... mau aku panggilkan sekarang?" tanya Rolex, seraya mengambil wadah bekal yang Nyonya kecilnya sodorkan.


"Iya boleh Tuan Rolex, biar sekalian urusan Abang selesai jadi setelah ini bisa pulang untuk istirahat," kali ini Dila yang menjawab.


"Makasih Sayang. Aku lapar," rengeknya agar Dila segera menyuapkan makanan. Sementara dirinya asik mengelus perut buncit Dila yang membuat risih pemiliknya.


Pemilik Queenny dan dua asistennya masuk ke dalam ruangan CEO Qavi saat Ezra sudah setengah menghabiskan makan siangnya.


"Wah ganggu romantisme nih," ucap Naya kala memasuki ruangan.


"Bu Naya, selamat siang. Waduh, kehormatan buat aku di sambangi ownernya langsung, duduk Bu. Maaf ya berantakan," sambut Ezra bangkit menyilakan tamunya.


"Mba Dilara ya? cantiknya, aku beruntung bisa ketemu istri rahasianya Pak Ezra nih," seloroh Naya kala melihat Nyonya muda.


"Halo, siang Bu Naya," balas Dila ramah.


"Jika sudah selesai, kita langsung fitting baju, semoga gak ada yang di rombak karena sepertinya sesuai," ujar owner Queenny saat melihat gestur tubuh kliennya.


"Minta disesuaikan dengan mask nya saja Bu Naya, maaf mendadak karena aku baru dapat ini." Ezra menyodorkan sebuah gambar untuk acara besok.


Dilara dibantu oleh dua asisten butik saat mencoba gaun malam yang akan dikenakan esok sore.


"Maa sya Allah, cantiknya, pas ya alhamdulillah ... berarti PR ku hanya menambah aksesoris saja," pungkasnya di angguki oleh Ezra.


Gaun sepanjang mata kaki berwarna hitam dengan lipit dari atas bahu kanan menyerong ke arah kiri, di sekat oleh taburan kristal dibagian tengah. Lengan berhias pita dengan cutting semi balon menjadikan gaun yang Dilara kenakan, elegan.


"Cantik, Sayang," puji Ezra takjub.


Setelah mencapai kesepakatan, Owner Queenny pamit dari ruangan pimpinan El Qavi.


"Pu-l-ang ya, Abang masuk angin itu," ucap Dila setelah tamu mereka pergi, ia lalu membereskan segala barang bawaanya, masih dengan tangan Ezra yang tak henti mengusik perutnya.


...***...


Baru beberapa langkah sejak keluar ruangan CEO, saat hendak masuk ke lift. Ponsel Naya berdering.


"Selamat siang Bu Naya, tolong buatkan aku satu kemeja yang senada dengan gaun Nyonya Dilara, kirimkan ke alamat yang aku maksud, berikut resi pembayaran sudah aku transfer ke rekening Queenny. Aku tunggu karya Anda esok pagi. Terimakasih."


"Hai ga- ... yah, gimana ini...." Naya terheran. Hingga dia masuk ke dalam lift seraya mengecek pesan yang masuk dari pria misterius tadi.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


...Dila, jangan bikin dua pria, Nyandu sama kamoh... Mommy ampe kelebihan kata nih, kudunya jadi 2 part.. 😪 jejelin manis sampe enek dulu 😌...


__ADS_2