
Malam hari, di Mansion.
Dila tiba di kediaman mewah keluarga El Qavi menjelang dini hari. Disaat semua penghuni kian lelap berselimut mimpi.
Ia dibawa oleh salah satu maid yang bertugas, menuju kamar Ezra di lantai dasar melewati ruang keluarga yang megah, meski dalam hati Dila enggan.
"Silakan, Nyonya. Tuan muda di ruang kerja dengan Rolex, permisi," ujarnya undur diri setelah meletakkan koper Dila serta milik suaminya di sembarang tempat kamar itu.
Dila hanya menanggapi maid dengan anggukan samar serta senyuman manis dari bibirnya.
Netranya berkeliling menyapu seluruh detail bagian kamar. Beberapa foto maskulin Ezra terpajang di salah satu dinding kamar membuat Dila mengagumi betapa tampan dan gagah suaminya.
Langkah kaki itu terus menyusuri meja display berbagai miniatur project yang telah berhasil suaminya garap hingga membawanya pada pintu yang mengarah ke balkon.
Dila menyibak tirai putih yang menjuntai, membuka panel pintu berwarna putih.
Wuuussh.
Seketika angin malam menyapu ujung hijabnya yang tak tersemat pin. Membelai kulit wajah Dila yang terasa kebas.
"Wahai malam, inginku hanya kamu saja yang menemani membuka pagi hingga melepas senja, menenangkan hatiku kala malam dan membagi cerita," lirihnya memandang bulan yang malu-malu menampakkan sinarnya.
"Dilara, mulai besok simpanlah suaramu, jangan pernah menjadi nada dering untuk seseorang yang menyukai mode hening," Dila menguatkan tekad.
Mungkin hidup jauh dengan keluarganya, akan membuat Ezra bersikap lebih baik ataupun sebaliknya meski Dilara tak pernah berani berharap.
Tepukan di bahu mengejutkan Dila. Rupanya Ia terlalu menikmati malam dingin nan sunyi, merasakan kedamaian dalam keheningan hingga tidak sadar Ezra sudah berada di sebelahnya.
"Kau tidur di sofa malam ini. Ingat, jangan pernah menyentuh barang-barang ku," titah Ezra menghampiri Dila yang masih termenung di balkon.
Gadis itu terkejut, pipinya membias merona, hatinya berdesir. Berada sedekat ini dengan Ezra, menghirup wangi parfum suaminya dan ditatap intens oleh kedua manik mata hitam legam milik seorang tuan muda El Qavi, membuat jantung Dila berdegup kencang.
"Aku ga harus mengulangi perkataanku bukan?" tegas Ezra masih menatap Dila.
Dila hanya mampu menganggukkan kepala. Otaknya sedang tidak sinkron.
__ADS_1
"Masuk, mulai dingin. Eh jangan salah, aku bukan perhatian. Hanya enggan mengurusmu jika sakit, merepotkan saja," Ezra menarik ujung hijab Dila hingga pin nya lepas dan penutup kepala gadis itu terbuka menampilkan rambut hitam panjang yang terikat rapi.
"Eh," pekik Dila tertahan kala menyadari hijabnya akan lepas.
Ezra memalingkan tubuhnya, mendengar suara tercekat milik seseorang.
Degh.
"Rambut dia panjang?" ucap Ezra dalam hati.
Pria itu sempat menangkap ujung rambut Dila kala istrinya memalingkan tubuh membelakangi saat membenarkan kerudungnya.
Menyadari kebodohannya, Ezra melanjutkan langkah menuju bathroom untuk membersihkan diri sebelum ia tidur.
"Hampir saja, duh selamat, selamat. Ini memang hakmu, tapi kau yang mengatakan bahwa tidak sudi menyentuhku. Artinya kau juga tak menginginkan apa yang ada pada diriku," batin Dila.
Tidak ada yang terjadi diantara mereka hingga menjelang pagi. Malam yang sangat biasa meskipun status mereka adalah pengantin baru.
Keesokan Pagi.
"Dila, tidur di kamarku saja ya mulai malam ini karena biasanya Kak Ezra itu masuk ke kamar menjelang pagi," ajak Mita antusias.
"Aku ga bisa Kak, malam nanti ikut dengan Abang pulang ke Jakarta. Lain kali aja ya," tulis Dila pada buku catatan Mita karena ia tergesa keluar dari kamar tak membawa serta dua benda kesayangannya.
"Loh, bukannya Ibu masih sakit? kan Ibu baru mulai perawatan? Kak Ezra ga salah tuh?" Mita terheran.
"Ibu ditemani oleh Kak Velma. Abang bilang ada urusan mendadak yang tidak bisa beliau tinggal dan harus segera diselesaikan. Juga Abang gak bisa kembali ke sini dalam waktu dekat jadi aku harus ikut," Dila menulis panjang lebar menjelaskan agar Mita tidak salah tangkap.
"Uh, so sweet, honeymoon di sana ya Dila, biar lembur sampai pagi gak ada yang ganggu," Mita terkekeh.
"Lembur apa Kak? aku gak ngerti pekerjaan Abang. Juga belum punya kerjaan di sana, gimana bisa lembur," sambung Dila.
"Ish Dila, polosnya ... apa? kerja? Abang nyuruh kamu kerja? aku aduin ke Papa tau rasa," Mita terkejut akan niatan Dila.
"Bukan, aku yang ingin ... daripada bengong kan mending aku kursus apa gitu biar ga malu-maluin nanti," ungkap Dila lagi.
__ADS_1
"Dila, jangan bohong padaku ya, bilang sejujurnya jika Kak Ezra menyakitimu atau kasar padamu. Hatinya lembut namun karena dua kali dikecewakan, membuatnya menutup diri dengan segala sifat dinginnya itu," Mita memperhatikan wajah ayu Dilara. Ada rasa tak tega menggelayut dalam relung hati Mita melepaskan gadis belia itu jauh dari ibunya.
"Doakan kami ya Kak Mita," Dila mencoba bahasa isyarat yang dia bisa dihadapan Mita.
"Tentu, aku mendoakanmu," balas Mita.
"Kak Mita paham?"
"Enggak, hanya feeling saja karena kamu menyentuh dahi dan menegakkan jari ke atas serta membuka telapak tangan dan membentuk kepalan dengan jempol, itu artinya kau sedang memohon pada Allah bukan? berdoa," tulis Mita pada catatan miliknya.
"Wah maa sya Allah, Kak Mita hebat," Dilara bertepuk tangan membaca tulisan Mita.
"Karena Dila, yang menggugah ku untuk lebih memahamimu, semangat ya Kakak iparku," sambung Mita lagi.
Keduanya asik menghabiskan waktu bersama hingga jelang kepergian Dilara ke rumah sakit.
Dilara mengatakan semua kegundahan pada Ruhama tentang kepindahannya. Tidak ada kesedihan di wajah senja ibunya. Hanya sorot mata teduh menyertai Dila bahkan untaian doa meluncur lancar dari mulut wanita paruh baya itu.
"Allah lindungi Dila di sana, jaga sholatmu yaa. Dekati majlis ilmu agar hatimu tetap damai, Ibu mendoakanmu selalu, Ibu akan sehat kembali, pergilah ikuti suamimu Nak," pesan Ruhama saat akan melepas Dila pergi.
"Titip Dila," ucap Ibu pada Ezra.
"Kami pergi ya Bu, in sya Allah jika ada waktu aku akan pulang dengan Dila. Ada Velma yang akan menemani Ibu di sini hingga betul-betul pulih," tutur Ezra kala hendak keluar dari ruangan.
"Iya, tak apa, terimakasih."
Dila menangis, hatinya sakit melihat Ibu terbaring lemah dan dia tak disisinya. Apalah daya Dila, batinnya.
Setelah kepergian Dilara, Ruhama terisak. Hatinya sesak, betapa dia ingin anak itu menemani namun apa mau dikata, Ezra lebih berhak atasnya kini. Lagipula dirinya tak ingin terlihat lemah di depan putri satu-satunya.
"Dila, Ibu kangen, padahal kamu baru saja pergi ... Allah bagaimana kelangsungan hidupku tanpa Dilara di sisiku," tangisan Ruhama menyayat hati Velma yang mendengarnya.
.
.
__ADS_1
...___________________________...