SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 26. WELCOME JEKARDAH


__ADS_3

"Ibu, masih ada aku. Aku akan mencari cara agar Ibu dapat terus berkomunikasi dengan Nona Dilara, bagaimana?" tawar Velma pada Ruhama.


"Memangnya bisa? kan Dila gak pernah pegang handphone, punya saja pun tidak Nak," ujar Ibu.


"Oh iya, nanti ku minta pada Pak Rolex agar dapat memberi Nona ponsel, tapi aku ga janji ya Bu, semoga di kabulkan," Velma menaruh harap.


"Aamiin. Salahku yang melarang dan menjaga Dilara terlalu ketat. Aku mendidiknya agar selalu waspada terhadap orang asing ... untung dikandung badan, Dila ku tidak tumbuh bagai katak dalam tempurung. Dia update informasi," tutur Velma bangga.


Obrolan hingga menjelang malam tentang masa lalu Dila, terekam rapi dalam alat recorder yang Velma siapkan sejak tadi. Sehingga Ruhama yang terlalu larut dalam kenangan indah mereka berdua, tak menyadari apa yang Velma lakukan.


...***...


PIK Tower, 10th floor, Jakarta.


Keduanya tiba di Bandara Soetta menjelang tengah malam. Sonny sekretaris Ezra di Jakarta menjemput keduanya sekaligus mengantar ke apartemen sang Tuan Muda.


"Besok aku minta laporan kerja bulanan ya, Son. Buat dua salinan, serahkan pada Rolex dan minta dia antarkan ke apart," pinta Ezra saat dia akan menaiki mobil.


"Baik, Bos," balas Sonny.


"Silakan, Nyonya Qavi," Sonny membantu membukakan pintu untuk Dila.


"Son, dia--," Ezra memperagakan isyarat bahwa gadis yang bersamanya tidak dapat mendengar.


"Aku tahu, Bos. But aku menghormati beliau.... " ujar Sonny.


"Namaku Sonny, Nyonya, sekretaris Tuan Muda di EQ building Jakarta." Sonny menulis di catatan kecil yang dia bawa. Informasi tentang keistimewaan yang Nyonya mudanya miliki ia dapat dari Rolex.


"Astaga, semua menjadi sepertinya," keluh Ezra seraya menutup pintu mobil.


"Hallo, salam kenal Tuan Sonny, panggil Dila saja jika tidak ada Abang." Dila membalas dibawah kalimat Sonny.


"Sonny saja, Nyonya." Tulis Sonny lagi.


"Baik, terimakasih." Dila membuka tangan kanannya dengan telapak mengarah ke dalam, ditempelkan pada bibir lalu digerakkan ke depan.


"Sama-sama, Nyonya." Sonny melipat tiga jemari kanannya dengan kelingking dan ibu jari menghadap atas lalu dia ayunkan ke depan.


"Wah, Pak Sonny bisa bahasaku?" Dila antusias. Dan Sonny hanya mengangguk.


"Son, jalan, ngerumpi pula," tegur Ezra saat melihat interaksi keduanya.


"Heran, kok mereka excited ya. Aku aja minder sama dia," ucap Ezra dalam hati.


Tidak ada percakapan setelah Dilara masuk dan duduk di samping Ezra. Hingga keheningan memecah kala mobil mereka tiba di basement PIK Tower.


"Silakan, Bos," Sonny membuka pintu kanan belakang kemudi, membiarkan Ezra turun.


Dila hendak membuka bagasi ketika tangan Sonny menahan kap nya.

__ADS_1


"Biar aku, silakan Anda naik dengan Tuan Muda," Sonny menulis cepat.


"Tak apa, aku bisa." Balas Dila memaksa menarik koper miliknya seorang diri.


Sonny membiarkan Dila, Rolex juga bilang tentang Nyonya muda yang tak suka disentuh oleh lelaki bukan mahram. Maka hati-hati lah, pesannya kala itu.


Ezra kesal, Dilara sangat lamban, pikirnya.


"Dila, siput, cepat." Serunya, dia lupa gadis itu tak dapat mendengar.


"Siput ... siput ... iya aku siput, tapi cantik." Batin Dila.


Mereka kemudian menaiki lift yang akan membawa ke lantai sepuluh.


Biiiiipppp.


Suara pintu terbuka setelah kartu akses ditempelkan pada panel.


"Ini unitku, jangan sampai nyasar, lantai 10 tower dua. Dila, kau paham tidak?" Ezra mengibaskan tangannya di depan muka Dilara.


"PIK tower dua, lantai 10 unit 2B, Ezra El Qavi." Dila menunjukkan catatannya pada Ezra.


"Baguslah kalau kau tahu," Ezra mengendikkan bahu saat membuka pintu unitnya.


"Selamat malam Den, Non, selamat datang ... saya Bi Inah," sapa Bi Inah saat melihat majikannya masuk.


"Itu artinya, salam ya Non, wa'alaikumussalam," jawab Bi inah.


Sementara Ezra entah kemana saat kedua wanita ini berkenalan. Bi inah lalu mengantarkan Dilara naik ke lantai dua dimana kamar sang majikan pria berada.


"Eh Bi, ngapain dia dibawa kesini? tidur di bawah saja, pakai kamar sebelah Bi inah itu. Jangan kamar tamu, takut Papa kemari," ujar Ezra saat Bi Inah mengetuk pintu kamarnya.


"Den, gak baik. Kalian ini suami istri kan? masa pisah ranjang," tegur Bi Inah pada Ezra.


"Sudah kesepakatan, tanya saja padanya," balas Ezra seraya menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Astaghfirullah, Den," Bi Inah tetap mengetuk beberapa kali hingga Dila menepuk bahunya.


"Biarkan saja Bi, dimana kamarku? Bang Ezra memang sudah bilang padaku agar tak menyentuh semua barang-barang miliknya." Dila menulis kembali.


"Ya Allah, yowes Non sing sabar ya, yuk turun," ucap Bi Inah mengajak Dila kembali ke lantai dasar.


Mereka berjalan melewati ruang makan, dapur dan sampailah Dila di sebuah kamar dengan single bed juga sebuah lemari kecil di sana.


"Ini kamar Non Dila ya, silakan istirahat," Bi Inah meletakkan koper Dila di sudut kamar.


Setelah kepergian sang ART, Dila memandangi kamarnya. Disinilah perjuanganku dimulai, tekadnya.


Dia lalu keluar kamar menuju bathroom yang bersebelahan dengan kamar Bi Inah. Berwudhu, witir lalu bersiap tidur.

__ADS_1


Keesokan Pagi, Ba'da subuh.


Dila membuka pintu balkon di ruang tengah, ia memandang semburat cahaya oren disela gedung yang menjulang tinggi, ditemani oleh secangkir kopi kesukaannya.


"Selamat pagi bintang penuntun ku, tanpamu aku mungkin akan tersesat dalam gelapnya malam meski sang dewi bulan menyambutku dengan hangat, namun sinarmu lah yang menyalakan gairah hidupku," lirih Dila saat netranya memendar jauh melintasi angkasa luas yang tak berujung.


Sadar akan tugasnya sebagai istri. Dila menyesap cepat cairan hitam pekat yang mulai kehilangan kepulan asapnya. Lalu bergegas menyiapkan breakfast untuk sang suami.


Bi Inah telah menyerahkan sejumlah menu yang sering Ezra minta kala makan di rumah, padanya.


Pagi ini Dilara membuat sandwich panggang yang sedikit dia modifikasi menggunakan sirup kurma dibanding dengan maple.


"Non, ini enak, lebih enak," Bi Inah mengacungkan dua jempol atas hasil masakan Dila.


"Alhamdulillah," bisiknya pelan.


Semua sudah Dila tata di atas meja makan saat Ezra turun.


"Maa sya Allah, suamiku tampan sekali," batin Dila hingga membuat pipinya merona saat melihat Ezra mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja abu tua dari sela pantry.


Ia menghindar, takut akan respon Ezra jika mengetahui apa yang ia lakukan.


"Bi, resep baru? enak banget. Gitu donk, modifikasi ... kopinya juga kali ini pas," ujar Ezra saat mulai menyantap hidangannya.


Bi Inah hanya diam, sengaja menyembunyikan identitas sang koki mulai hari ini. Bi Inah akan menjadikan lambung Ezra terbiasa atas masakan Dila, itu adalah misinya.


"Alhamdulillah," jawab Bi Inah seraya mengacungkan jempol pada Dila, yang bersembunyi di balik dinding pantry.


"Mana dia? malas sekali belum bangun jam segini," Ezra mencari Dilara.


"Sedang ganti baju, Den."


"Aku pergi," ujar Ezra setelah ia menghabiskan sarapannya.


"Salim," tulis Dila sudah menunggu Ezra saat ia baru saja bangkit.


"Emang aku bapakmu? salim segala, minggir," singkirnya pada Dila hingga gadis itu terhuyung.


"Bos! kasar sekali dengan istri," sindir Rolex yang baru saja tiba.


"Istrimu atau aku?" cibir Ezra sambil lalu.


.


.


...______________________...


...Boleh ralat ya jika gerakan tangan bahasa isyarat nya kurang pas, mommy baru belajar, demi Dilara 😁....

__ADS_1


__ADS_2