SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 54. ERMITA TAHU


__ADS_3

Tengah malam.


Saat semua jiwa melanglang antar dunia, mengarungi alam mimpi. Raga lelah terbujur lemah dalam rengkuhan pembaringan. Sekelebat pemandangan yang nampak aneh muncul dalam ingatan Ezra saat otaknya dalam kondisi alpha.


"Dimana aku?"


Di depan matanya terhampar jalanan luas nan indah, air mancur raksasa menyambut dirinya saat keluar dari sebuah bangunan megah.


"Mengapa aku sampai disini?" lelaki dalam mimpi yang mirip dirinya itu limbung. Bingung dengan sekitar yang amat asing baginya.


"Hai, kau siapa? mengapa begitu mirip denganku?"


Dalam kebingungan teramat sangat, dia dikejutkan oleh suara seorang anak lelaki yang menghampirinya.


Ia menelusuri setiap lekuk wajah bocah di hadapannya. Tubuh jangkung itu menunduk, menekuk kedua lututnya lalu mencoba mensejajarkan posisi agar dapat melihat lebih jelas.


"Kamu siapa? mana Bundamu?" tanya sang pria.


"Itu." Tunjuknya pada sesosok wanita dalam balutan gamis hitam yang berdiri membelakangi mereka, menghadap ke tepian kolam air mancur raksasa.


"Ayahmu?"


"Entah. Bunda mengatakan padaku bahwa Ayah akan menjemput kami bila waktunya tiba. Aku sangat rindu, Ayah."


Bocah tampan dengan rambut lebat itu melayangkan pandang jauh ke depan. Lalu dia berlari mendekati ibunya.


Sang pria dalam mimpi itu menunggu wanita di depan sana menoleh padanya. Entah, dia sangat penasaran akan sosok ibu dari anak kecil yang menghampirinya tadi


Tiba-tiba.


"Dillaaaaa!"


Ezra terbangun tengah malam. Mengagetkan Rolex yang sejatinya lelap karena efek obat.


"Bos?"


Bukannya menjawab pertanyaan Rolex, Ezra justru terdiam. Berkelabat ingatan tentang mimpinya.


"Semoga hanya bunga tidur."


"Bos?" Rolex mengulangi pertanyaan yang sama.


"Ya? oh, gak apa Lex. Maaf, tidur saja lagi. Hanya bunga tidur."


Ezra mencoba melupakan yang baru saja terjadi. Ia kembali menarik selimut masuk ke alam mimpi.


...***...


Eropa.


VVIP rumah sakit.


Team dokter yang menangani perawatan pasca operasi seorang pria dengan kekuasaan mumpuni, siang ini menggelar rapat terakhir.


Para pria berjubah putih itu menyimpulkan bahwa hasil operasi pencangkokan tulang belakang yang dilakukan olehnya beberapa waktu lalu telah berhasil.

__ADS_1


Fisioterapi selama tiga bulan terakhir pun menunjukkan hasil yang sama baik.


"Bagaimana keadaanku?" tanya sang pria tampan.


"Selamat Tuan, Anda dinyatakan telah sembuh dan dapat melakukan aktivitas selayaknya sebelum terjadi cedera. Hanya saja, menjaga kondisi tubuh agar tetap stabil kunci utama," jelas kepala team dokter yang menanganinya.


"Apa pantangan ku?"


"Tidak ada. Untuk beberapa bulan ini, jangan banyak melakukan kegiatan atau olah raga berat yang bertumpu pada tulang belakang. Misal, golf, tenis dan lainnya," terang salah satu dokter.


"Baik. Ada lagi?"


"Tidak ada, Tuan. Jika Anda mempunyai keluhan di kemudian hari, kami berharap Anda tidak abai dan langsung menghubungi kami kembali agar dilakukan observasi lebih lanjut."


"Copied. Thankyou Gentleman's atas bantuan kalian. Aku terkesan," balas sang tuan muda.


Beberapa menit selanjutnya, penandatanganan kesepakatan tanda telah berakhirnya masa pengobatan selesai di lakukan.


Asisten sang tuan muda pun mulai membenahi semua perlengkapan milik majikannya. Dua hari lagi, mereka akan meninggalkan negara ini.


"Roy, urus kepulangan ku segera. Lalu adakan pertemuan dengan semua petinggi King Abdeen Properti."


"Baik, Tuan muda. Ada lagi?"


"Tidak, itu saja."


Sudah banyak rencana tersusun didalam kepala pria muda yang berwajah tak kalah tampan bak Arjuna.


Termasuk untuk urusan asmara. Dia kini mengamati siapa saja musuhnya selain Ezra, yang akan menghalangi segala niatan untuk memiliki gadis idaman seutuhnya.


...***...


Mita telah mendapatkan izin dari sang Ayah untuk mengunjungi kediaman kakaknya. Siang ini, dia telah tiba di Bandara Soetta. Bahkan ia sengaja tidak mengabarkan pada Ezra.


PIK Tower.


Biiiipp. Pintu apartemen terbuka.


Gadis manis itu menyembulkan kepala dari balik pintu.


"Sepi, kemana semua ya? Bi Inah kan masih disini?" gumamnya saat kaki kanan melangkah masuk.


"Assalamu'alaikum." Mita mengucap salam mencoba menarik perhatian penghuni rumah.


Wanita sepuh yang sedang berada di dapur pun bersegera mencuci tangannya lalu ia menuju asal suara. Rasanya sang majikan muda itu tak keluar kamar namun mengapa telinga tua ini justru mendengar suara lembut seorang wanita.


"Wa'alaikumussalam ... Non Mita," seru Bi Inah girang bukan kepalang melihat anak yang ia asuh sudah beranjak dewasa.


"Bibiiiiiii, aku kangeeeeenn," Mita melempar ransel di sofa ruang tamu lalu berlari memeluk sang pengasuh kecilnya itu.


"Ya Allah, anak gadisku. Ayu tenan," ucap Bibi memeluk erat.


Kedua wanita yang baru dipertemukan kembali sejak beberapa tahun belakang akhirnya bernostalgia.


"Sama siapa? Tuan Besar?" tanya Inah seraya mengurai pelukan.

__ADS_1


"Sendiri, sudah di izinkan Papa," ucapnya masih bergelayut manja memeluk tubuh yang lebih kurus sejak ia melihatnya saat terakhir.


"Alhamdulillah, makan ya. Bibi masak kesukaan kamu, mau?" tawar sang pengasuh.


Gadis cantik berambut coklat tua itu antusias menganggukkan kepalanya. Ia merangkul bahu wanita yang bertubuh lebih rendah darinya menuju ruang makan, lalu duduk di salah satu kursinya.


"Bi, Dila mana?"


"Hmm, ada dikamar...."


Tanpa Inah duga, Mita bangkit beranjak dari sana, berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Ke kamar sang kakak.


"Eh, Noooonnn," teriak Bibi namun percuma, Mita tak mendengar.


Tak berapa lama.


"Biiii, mana Dila, ko gak ada di kamar kakak," tanya Mita tak mengerti, ia kecewa Dilara tak ada disana.


Asisten pribadi Ezra ini pun merasa kikuk. Ia tak menemukan cara untuk membantu menyembunyikan hubungan kedua pasangan yang tak sewajarnya.


"Bii, mana Dila." Mita mulai penasaran akan aksi Bibi yang lebih banyak diam.


"Ada."


"Dimana? jangan menyembunyikan sesuatu sama aku. Bibi pasti sedang menghindari kebenaran bukan? jangan mengingkari kenyataan loh. Aku gak suka dibohongi," desak Mita, menatap lekat wajah tua meski tetap bersahaja itu.


"Itu, kamar Non Dila. Tapi jangan ganggu, lagi tidur."


"Loh, ko di sana? wah pasti ada apa-apa ini. Ceritakan padaku, semuanya. Jangan ada yang di tutupi, karena kalau tidak, aku akan mengadu pada Papa agar memulangkan Bibi," ancam Mita untuk sang asisten rumah tangga kakaknya itu.


"Jangan Non. Baik, Bibi cerita tapi janji dulu Non Mita gak ikut campur atas masalah mereka," pintanya was-was.


"Janji, aku hanya akan menjadi pendengar yang baik." Mita mengangkat jemari kanan, melipat ke empatnya dan menyisakan kelingking, meminta pinky promise.


Setelah kesepakatan keduanya, Bi Inah memulai kisah sepanjang yang dia tahu. Selama mendengarkan penuturan Bibi, sesekali terlihat wajah sedih, namun tak urung rona bahagia juga hadir di wajah ayu Mita.


"Alhamdulillah, aku mau punya ponakan," girang Mita sampai bersorak tepuk tangan.


"Iya, belum syukuran pula itu. Tapi hubungan keduanya makin membaik," ucap Bibi lagi.


Saat Mita akan menimpali Bibi. Suara pintu kamar belakang terbuka. Adik kandung Ezra itu menangkap sosok yang ia tunggu.


"Dilaaaaaaaaaa...."


"Loh," Dilara terkejut melihat Mita berada di kediaman mereka, tengah bercengkrama dengan Bibi.


"Dilaaaaa," seru Mita lagi beranjak dari kursi hendak memeluknya.


"Mi-ta...."


Brakk. Dilara kembali menutup pintu kamarnya.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


...Mommy ngantuk, @homann 2nd floor... Yang Di Bandung, meet up yuk... 😁...


__ADS_2