SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 67. SATU KAMAR


__ADS_3

"Karena aku bersama istriku dan dia wanita, izinkan suamimu ini jadi ayah siaga, Dilara."


Sudah tak ia pedulikan lagi tatapan sekitar, lelaki macho itu tetap melenggang menenteng tas tangan berwarna abu tua, milik Dilara.


Ketika baru memasuki kabin, Ezra bergegas mengirimkan beberapa pesan untuk Rolex, Leon dan Mita sebelum ponselnya dia flights mode. Entah apa isinya, hanya dia dan Tuhan yang tahu. (mommy pun gak tahu, haha)


Dilara gugup, ini kali kedua ia naik burung besi melintasi angkasa, memutus jarak antar kota dengan cara kilat, bagai Gatotkaca, pikirnya.


Dua jam kemudian, Surabaya.


Ezra berjalan pelan menyusuri deretan stand food and beverage sepanjang jalur ke luar menuju gate kedatangan. Dia menawarkan jika istrinya ingin berhenti sejenak di sana, namun di tolak Dilara.


Baru saja ia bertemu Leon, istrinya itu melangkah memisahkan diri dari kedua pria, mencari toilet. Menantu Emery mual dan pusing. Dia bergegas masuk ke salah satu bilik, mengabaikan panggilan Ezra dan Leon.


"Tuan, gak boleh masuk. Ladies." Tahan Leon saat Ezra akan menerobos masuk.


"Istriku di dalam, takut dia kenapa-kenapa," Ezra memaksa masuk, menepis tatapan heran bahkan larangan dari cleaning servis wanita yang bertugas.


"Segera ambil mobil saja, Leon," titahnya saat baru mendorong pintu.


"Sayang, Dila." Lelaki tampan dengan tas abu tua di tangan kiri, mengetuk pelan pintu bilik didalam toilet wanita.


"Pusing," ucap Dila lemah saat dia membuka pintu.


Wajah ayu itu memucat, beberapa bulir bening nampak di dahi perlahan turun membasahi pipinya.


Pria berbadan tegap sigap memapah Dilara, kedua tangan kekarnya bersiap mengangkat tubuh lemah itu namun Dila melarang. Hingga akhirnya dia hanya merangkul bahu, keluar toilet menuju pintu keluar.


Mercedes-benz C-class milik Emery membawa kedua insan yang akan menjadi bintang utama di kediaman pendiri Klan Qavi, beberapa hari ke depan.


"Masih pusing?... Leon, P3K please," pintanya pada sang sekretaris Papa.


Ezra menerima uluran kotak obat dari tangan aspri ayahnya. Menggeser posisi duduk agar berjarak dengan Dila.


"Turunkan spion dalam." Perintahnya pada driver agar ketika ia membuka resleting belakang gamis istrinya, mereka tak melihat. Dilara menolak saat jemari itu menyibak hijabnya ke sisi kiri, menurunkan pengait untuk membalurkan obat di punggungnya.


"Jangan," lirih Dila.


"Gak kelihatan, Sayang. Kamu keluar keringat dingin begini. Aku balur minyak penghangat dulu sementara ya," paksanya.


Ingin hati Dilara menolak, namun wajah Ezra terlihat sangat serius hingga dia sungkan bicara lebih lanjut, membiarkan lelaki itu melakukan sesukanya.


Tiga puluh menit perjalanan telah mereka tempuh.


Kendaraan roda empat berwarna hitam metalik mulai memasuki pelataran mansion milik El Qavi. Terlihat dari kejauhan, Mita dan Ruhama telah berdiri di teras depan menyambut kedatangan princess mereka.


"Dila, sudah sampai. Ada Ibu didepan," bisik Ezra di telinga Dila karena dia memilih memejamkam matanya sejak tadi. Putra sulung Emery turun lebih dulu, memutari bagian belakang guna membuka pintu samping kiri dimana Dila akan turun.


Perlahan, mata bulat milik putri Ruhama terbuka. Ia akhirnya menjejakkan kaki kembali ke rumah mewah ini, namun dengan situasi berbeda.

__ADS_1


Dia melihat sang Bunda sudah menunggunya. Perlahan, kaki kirinya menapak bumi, lengannya sudah ditarik pelan sang suami.


"Dila," seru Ibu menghambur akan memeluk putri kesayangannya.


Ezra menepi, melepaskan tubuh lemah ketika Ruhama berlari ke arahnya.


Grep.


"Ibuuuu ... Dila kangen." Wanita ayu memeluk Ibunda, meski terganjal perutnya yang membuncit.


"Cucuku? udah gede, Nduk?" Ruhama melepas pelukan, mengusap kandungan putrinya perlahan.


"Bu, masuk yuk. Dila jetlag, tadi mual muntah juga pusing, dia masih keliatan pucat," terang Ezra saat melihat keintiman mereka.


"Eh, iya ya Allah, Ibu balur nanti ya," balas sang Bunda yang di angguki antusias oleh putrinya.


Ermita batal memeluk sang kakak ipar, karena melihat kondisinya yang lelah. Gadis itu memilih menyiapkan kamar yang akan Dila gunakan.


"Kamar Nak Ezra dimana? Dila di balur di sana aja ya, jangan kamar Ibu biar gak susah mindahin nanti," pinta Ruhama saat mulai masuk ke ruang tamu.


"Kamarku? di ... di-sana," sahut Ezra kikuk, ia tak yakin. Beberapa kali melihat ke wajah Dilara, namun istrinya itu tak juga menoleh ke arahnya, hingga mereka tiba di depan pintu kamar Ezra.


Mita yang mendengar penuturan Ibu kakak iparnya itu, hanya tersenyum simpul. Lalu berbisik pada sang kakak ketika dia membuka handle pintu kamarnya.


"Selamat ya, akhirnya satu kamar," bisik adik bungsu. Mita kemudian melenggang pergi memanggil sang Ayah yang masih berada dalam kamarnya.


Sementara itu, Ezra terdiam, bingung. Berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar.


"Eh, iya," jawab Ezra terbata.


Canggung.


Yang Ezra rasakan saat dirinya di minta membuka kaus kaki, bahkan melepas hijab dan menurunkan resleting baju Dilara.


Glekk.


"Tahan Za, tahan ... ya Allah, mulusnya ... tahan ya kamu, hayy, yang dibawah sana...."


"Ayo, ko bengong? buka," desak Ibu padanya. Gamis bagian atas terpaksa Ezra turunkan. Wangi apel masih lekat di tubuh setengah polos istrinya itu, membuat hasrat kelelakiannya kian kuat hadir.


"Sayang, maaf yaa, aku terpaksa. Gak lihat, beneran." Ezra berbisik di telinga Dila saat dia menyangga tubuh lemas itu.


"Bu, aku bisa," lirih Dila tak bertenaga. Kepalanya sangat pusing hingga membuka mata pun ia enggan.


"Dikit lagi beres."


Ruhama begitu cekatan mengganti semua pakaian yang melekat di tubuh putrinya. Hingga di menit berikutnya, tangan renta itu telah membalur minyak gosok ke seluruh punggung juga tengkuk anak semata wayang.


"Nak Ezra, nanti kalau Dila begini lagi. Yang di balur ini ya, juga ini ... dadanya kalau mau tidur malam harus hangat." Ruhama memberi wejangan.

__ADS_1


"I-iya Bu."


Siksaan terdahsyat, tak jua berlalu hingga satu jam kedepan.


...*...


Tepat pukul dua, Dilara membuka mata. Ia bangkit perlahan dari posisinya, menurunkan kaki menyentuh lantai granit yang dingin.


"Mau kemana? aku bantu," tanya Ezra dari arah samping.


"Sholat," lirih Dila menjawab.


"Yuk, jalan pelan atau mau aku gendong?"


"Jalan," Dila hanya bisa berisyarat. Jemarinya terulur menggantung diudara meminta bantuan.


"Alhamdulillah, pelan Sayang," Ezra sumringah, Dila mulai menganggapnya ada.


Lelaki dengan status suami Dilara hanya diam mengamati setiap gerak gerik istrinya. Mencoba menafsirkan setiap sikap agar dia tak salah arti.


Setelah sholat, Dila kembali berbaring, menarik selimut hingga ke dada. Ezra mendekat, duduk di sisi ranjang lalu meletakkan telapak tangannya di dahi Dila.


"Gak demam."


"Dingin," gumam Dila, separuh wajahnya tertutupi anak rambut yang menjuntai. Lelaki itu menyingkirkan surai ke belakang telinga, lalu meraih remote untuk menurunkan suhu.


Tangannya mengusap punggung Dila agar hangat.


"Dingin," bibir mungil itu mulai bergetar samar. Ezra bingung harus bagaimana, ingin memeluk namun takut istrinya marah. Antara tidak tega dan takut.


"Aku peluk ya," akhirnya kalimat yang dia tahan, meluncur juga.


Tik Tok Tik Tok. Tak ada balasan.


Ia memberanikan naik ke ranjang, menyingkap selimut.


Ezra lalu menarik kepala Dilara agar bertumpu pada lengannya, memudahkan agar dia leluasa saat merapatkan tubuhnya.


Jeda.


Hening.


Hanya terdengar deru nafas halus dari pemilik raga yang ia dekap.


"Eh, udah pules lagi? semoga seterusnya begini ya Sayang, gak cuma kalau lagi sakit."


.


.

__ADS_1


...__________________...


...Ikutan ngantuk 😴... lope sekebon buat yang nebar bibit kembang atau ngaduk kopi... 🤭...


__ADS_2