
"Ezra!" serunya menarik perhatian beberapa khalayak disana.
Putra Emery teguh melanjutkan langkah seraya melepas mask miliknya dan Dila, membuang begitu saja ke tong sampah yang mereka lewati.
"Ayo kita ke mobil, Sonny sudah menunggu," Ezra mendekap erat wanitanya saat menunggu sekretaris pribadi itu tiba di Hall.
"Tadi?"
"Jangan hiraukan, Sayang. Kamu cintaku seorang," ucap Ezra tanpa sadar seraya membuka pintu saat mobilnya telah tiba.
Uhulk. Uhulk.
"Win, tolong ambilkan minum di dashboard." Titah Ezra ketika dirinya baru saja masuk, duduk bersebelahan dengan Dila.
"Tuan." Winda memberikan satu botol air mineral.
"Jalan, Son. Ke pin point yang aku kirim tadi." Setelah memberikan perintah, Ezra membantu Dila minum lalu membisikkan sesuatu di telinga istrinya, membuat abege hamil itu melukis sebuah senyum diwajahnya.
"Marina?" gumam Dila saat mobil berbelok ke sebuah restauran mewah di tepi Pantai.
Setelah mengantar pasangan yang mungkin sedang saling jatuh cinta, Winda dan Sonny meninggalkan keduanya.
"Mereka ko?"
"Qtime sama kamu, kita nginep di sini," Ezra menuntun ke arah table yang sudah ia pesan. Mereka menyusuri jalan setapak, di kanan kiri terhampar tumbuhan hijau juga bunga. Asri mirip taman palem di timur tengah.
Ezra membuka jasnya, lalu menyampirkan ke bahu Dila.
"Bau parfumku," ucap Dila dalam hati.
Dilara takjub melihat hamparan karpet merah membentang hampir menyentuh bibir pantai. Menyambut langkah kakinya.
"Katamu, kalau makan di bawah harus pakai sufrah, alas kain untuk hidangan. Kita lesehan ya Sayang biar kaki mu gak pegal," terang Ezra menjelaskan table diatas gazebo landai yang dia pesan sejak pagi.
"Imba-l-an ya?"
"Bukan. Tapi ucapan terimakasih, mancing rezeki dengan belajar memuliakan istri, kata Papa. Maaf yaa sudah menghabiskan tenagamu semalam, tapi gak janji gak diulangi," bisiknya mesra.
Dilara mencerna ucapan suaminya sebelum dua buah cubitan mendarat di dada Ezra. Keduanya tertawa hingga duduk di atas bale kayu bertiang, dengan tirai mengelilingi, lumayan menghalau udara dingin yang datang.
"Suka?"
"Hmm, tapi berlebihan," cicit Dila segan.
"Ulangi."
"Berlebihan."
__ADS_1
"Kamu sudah lebih baik melafalkan El dan Er, Sayang?" Ezra meminta penjelasan.
"Bisa kalau dipaksa, tapi jadi cape ke nafas aku, apa-l-agi adek suka nye-l-ip ke ki-r-i, itu makin membuat sesak," balas Dila perlahan agar suaminya mengerti.
"Bagi apapun kesusahanmu denganku, ya Dilara. Jangan lagi di pendam sendiri, Ok?"
"Abang, apa ku-r-angnya aku?"
"Hmm, kurang sering hamil aja sih," jawab Ezra enteng.
"Dih, bukan itu," Dila mulai berani merajuk.
"Alasannya tanya begitu, kenapa?" desak Ezra, dia curiga di party tadi ada yang mengintimidasi istrinya.
"Ya kan supaya...."
"Dila, just the way you are. Apa adanya saja, jangan pikirkan pendapat orang lain tentangmu, ambil positifnya, buang jauh yang jelek," tatapnya intens pada pemilik manik mata coklat tua.
"Kita lanjutkan nanti setelah makan, keburu dingin," saran Ezra ketika main course mereka tiba.
Dila memilih hanya diam selama makan, benaknya di penuhi sosok Cheryl, wanita anggun nan seksi, pantas Anastasya menyebutnya sebagai istri baru namun turun level.
"Dila."
"Ya?"
Dila tercenung, apakah kali ini suaminya akan marah atas kalimat sarkas untuk wanita itu mengingat dia adalah partner bisnisnya. Ia pun tak lagi menyentuh makanan yang masih tersisa dalam pinggan.
"Kamu bisa membela diri, aku lega. Tapi seperti ku bilang tadi, apa adanya dirimu karena itulah yang membuatku jatuh cinta padamu, Dilara Huwaida."
Ezra memperbaiki posisi duduknya, kini dia menghadap Dila yang masih diam menunduk duduk menyamping menatap hidangan di atas meja.
"Lihat aku," Ezra menarik lutut Dila merubah posisi duduk agar menghadapnya.
"Aku tahu, kamu belum sepenuhnya percaya padaku ... awalnya akupun ragu namun seiring waktu, hati ini tak lagi mampu menepis rasa ... love you sayang, jangan tinggalkan aku ya," ucapnya penuh penegasan.
Apakah telinganya tak salah dengar? lelaki itu menyebut kata cinta untuknya? Dilara hanya mengerjapkan kedua kelopak matanya, mencerna dan menyinkronkan dengan semua peristiwa.
"Terimakasih masih bersedia menjadi istriku, mengandung calon anakku sebab satu peristiwa yang tak kau inginkan ... Aku tahu, kamu tak cinta padaku. Namun semua kewajiban mu telah kau tunaikan dengan baik," Ezra telah siap apapun jawaban istrinya itu. Dia sudah pasrah jika memang setelah melahirkan nanti, Dila meminta berpisah.
"A-ku sayang, Abang."
Hanya kalimat pendek yang bisa keluar dari mulut dengan wajah tertunduk malu.
"Sa-sayang, kau bilang apa?" Ezra membola, terkejut atas jawaban Dila.
"Ya itu tadi," lirihnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Kedua mata elang milik keturunan Emery itu menatap tajam pada sosok cantik di depannya. Semakin di tatap, dia semakin malu, Ezra makin gemas.
"Mau meluk, susah ya. Balik badan Sayang."
Dilara mengikuti keinginan sang tuan muda, mantan majikannya. Kedua lengan kekar itu memeluknya, menyandarkan kepala disisi pipi kiri, mengucap satu kalimat yang dia tunggu selama ini.
"Love you, Dilara Huwaida."
"My Hubbie."
Lelaki berusia matang, baru saja luluh akibat pesona abege yang pernah dipaksa menikah dengannya. Juga terpaksa melayani hasrat kelelakian, akhirnya lega setelah mendengar jawaban langsung dari sang istri.
Ezra mungkin tak akan mengira, dirinya yang terluka perlahan kembali merasakan kehangatan akan sosok tulus dan apa adanya.
"Milikku, yang baru di sadari."
Malam romantis bagi keduanya, pasangan beda usia yang baru menyatakan cinta setelah hampir satu tahun bersama. Entah apa sebabnya namun bisa jadi karena keteguhan sang wanita untuk tetap berada di sisinya meski keadaan tak memihak, kala itu.
...***...
Dalam bangunan mewah.
Saat semua tamu telah pergi. Sang tuan muda kembali naik ke atas kamar hotel yang telah ia reservasi.
"Roy, dia tak mengenaliku. Padahal beberapa kali berjumpa ... ck, baru begini, tapi hatiku sakit. Aku yang lebih dulu mengenalnya namun kenapa harus Ezra yang memilikinya? kenapa aku selalu kalah dengan pria itu?" ia bertanya pada sang asisten pribadi.
"Gunakan cara lain, Bos."
"I will, tapi tidak sekarang. Tunggu saat hatinya labil. Minta wanita itu bersiap...."
"Baik."
"Dila, aku akan datang padamu, dengan cara yang berbeda. Aku tak akan merusak mu, hanya ingin kau melihatku saja. Bahagiamu yang utama, meski entah di dalam hatimu, apakah aku akan menjadi penghuninya?"
"Lelaki itu, Bos?" Roy memastikan. (bab 40)
"Lenyapkan saja, tak perlu mencari adiknya lagi. Gak penting, sedari awal aku tak pernah menjanjikan menemukan gadis cilik itu, dia saja yang salah dengar.
"Baik, laksanakan," Roy telah mengantongi mandat sang tuan muda.
Tuan muda telah tertinggal satu start, Dilara telah mengukuhkan hatinya hanya untuk Ezra El Qavi.
.
.
...___________________________...
__ADS_1
...Dah siap belom? ðŸ¤...