SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 112. MY DADDY


__ADS_3

"Mam, you! ... with a boy wearing the turtle bags, stop."


Degh.


"Mommy," Shan ketakutan, ia mendekat, memeluk kaki bundanya erat.


"Its Ok." Dilara menenangkan sang putra, lalu berbalik badan melihat siapa yang menjegal langkahnya.


Orang Sabrina yang menyamar, tak jauh darinya pun terlihat ikut cemas. Beberapa pasang mata penumpang lain melayangkan tatapan menyelidik pada pasangan ibu anak itu.


"Yes, if everything is Ok?" (apakah semua baik saja?)


"Is this yours, Mam?" tanya sang petugas menyerahkan topi Shan yang tertinggal di kursi. (Milik Andakah, ini?)


"Oh my goss, this is my son's hat. Thank you," ucapnya menerima uluran topi dari tangan petugas yang menegurnya. (Oh ya ampun, ini adalah topi putraku)


Setelah berterima kasih dan memakaikan topi hitam pada kepala Shan. Mereka melanjutkan langkah memasuki tunnel menuju pesawat yang akan take-off.


Shan meminta Dilara menggendongnya saat akan memasuki kabin. Mungkin bocah polos ini merasa bahwa dia akan menerima kejutan, Shan terlihat gelisah hingga beberapa jam kedepan saat pesawat telah lepas landas diudara.


"Are you Ok, Baby?"


"Ok but Shan was nervous, Mommy."


"This is not your first trip Shan, isn't? you can tell and express what you feel now, Baby." Dilara tahu apa yang putranya rasakan, Shan amat peka. (ini bukan penerbangan pertamamu Shan, kamu bisa mengatakan semua yang kau rasa)


Tidak ada kata yang terucap dari mulut mungilnya selain meminta susu dan snack sebelum ia tidur.


"Shan, we're going to visit your dad," bisik Dila saat putranya baru saja terlelap.


Menghabiskan waktu sepuluh jam perjalanan membuat bocah kecil yang berusia hampir dua tahun itu bosan. Dila membawa semua permainan yang dia siapkan namun tetap saja hanya mengalihkan kejenuhan sementara putranya.


Satu jam berikutnya. Landing.


Pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda tepat pukul delapan malam waktu setempat.


Setelah melalui banyaknya pintu pemeriksaan, keduanya berjalan santai keluar gate kedatangan.


Netra bulat putri Ruhama menyisir deretan bangku tunggu di ruang terbuka yang mereka lewati, berharap menemukan sosok yang ia cari. Shan sudah lesu, tubuh kecilnya pasti lelah hingga ibu muda itu memutuskan masuk ke sebuah outlet minuman dan duduk sejenak di sana, agar putranya kembali segar.


Sementara di tempat lain, yang tak jauh dari sana.


Dua pasang mata mengamati langkah demi langkah ibu dan anak itu semenjak keluar dari gate kedatangan.

__ADS_1


Mita dan sang kakak sengaja tak langsung menemui keduanya. Ezra bilang, ia ingin memandang istrinya lebih lama dari kejauhan.


"Kak, Dila makin cantik aja ya. Keibuan banget, kalem pula. Dudududu kek nya ada yang nyesel ini main talak," cibir Mita sambil terkekeh geli.


"Diem Mit, gue sumpal juga tuh mulut ... Shan, kamu...." Ezra melihat kedua tambatan hatinya, dengan rasa yang sulit di gambarkan.


"Shan, ya ampun gemasnya, keliatan agak bule Arab ya sekarang. Kelamaan gaul sama pangeran Arab sih," lagi-lagi Mita berceloteh yang membuat Ezra dongkol, gadis itu terbahak di balik stand minuman tak jauh dari sana.


Ezra meninggalkan adik rese-nya, melangkah pelan mendekati kedua insan yang sangat dia rindu dan damba.


"Assalamu'alaikum, Sayang." Ezra menyapa dari arah belakang tubuh Dila.


"Uhuk Uhuk." Dila terkejut dengan suara maskulin yang dia kenal.


"Mommy, are you Ok?" suara menggemaskan bocah disamping Dilara, menepuk punggung ibunya pelan dengan telapak tangan mungil miliknya.


"I'm Ok Boy, thanks ... wa-alaikumussalaam," jawab Dila saat Ezra telah duduk di hadapan mereka.


Kedua orang dewasa itu hanya diam, sesaat bertukar pandang. Ezra menatap lekat sosok wanita cantik di hadapannya yang malah menundukkan kepala.


"Masih aja malu, gemesin ya Shan, Bunda kamu," ucapnya menggoda Dila.


Bocah kecil yang merasa namanya di sebut pun mengalihkan pandangan pada sosok di hadapannya.


Tatapan mata bulat seperti milik Dilara, mengerjap beberapa kali, mulut mungil penuh makanan itu pun mengunyah pelan. Dia sedang mengamati seseorang yang mungkin di kenalnya.


"Kamu tahu beliau siapa, Shan?"


Shan menggelengkan kepala, ia ragu. Muncul ide di otak jenius putra sulung Dila itu, dia kemudian meminta pada bundanya agar membuka galery ponsel.


Ezra membiarkan Shan melakukan apa yang dia mau untuk mengenali dirinya. Hati pria itu sudah tak tentu rasa, detak jantung mulai berdegup kencang menanti reaksi putra semata wayang.


Jemari gendut nan mungil itu membuka galery, melihat satu foto. Kepalanya menengadah menatap wajah Ezra sesaat, lalu menunduk kembali ke layar gawai yang dipegangnya seperti sedang memindai sebuah wajah.


Tiba-tiba.


"Mommy...." Shan menoleh ke arah Dila, sorot matanya sudah berkaca-kaca.


"Ya sayang."


"He's really my daddy?" lirih Shan menoleh pada ibunya. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi gembul.


Dilara berbagi tatapan syahdu untuk Shan, ia mengangguk pelan, bersama bulir bening yang juga luruh menetes di pipinya. Shan tiba-tiba memeluk sang Bunda seakan mengatakan bahwa dia happy.

__ADS_1


"Go on, sapa Ayah," bisik Dila mengusap punggung putranya lembut.


"Hai Shan, glad to see you...." suara Ezra tercekat di pangkal kerongkongan.


Cucu kandung Emery mengurai perlahan pelukan dengan Bundanya. Dia menoleh ke arah Ezra, ragu meski tatapan mata bulat itu seakan ingin mendekat.


Ermita bergabung dengan keluarga kecil sang kakak, menyentuh bahu Dilara dari samping. Ibu muda itu menoleh, menengadah ke arah pemilik telapak tangan di bahu kanannya.


"Hai." Bibir Ermita mengisyaratkan sapaan untuknya. Dilara hanya tersenyum.


Kedua wanita muda mengalihkan pandangan pada dua lelaki beda usia yang akan melepas rindu.


"Dad-dy?"


Ezra mengangguk dengan sorot mata penuh kerinduan, ia menekuk lutut beranjak dari kursi. Menyetarakan tinggi dengan sang putra, kemudian membuka kedua lengannya lebar, bersiap menyambut pelukan batitanya.


Air mata bocah lelaki itu sudah berderai ketika tangan mungilnya terulur.


Ezra menyambut uluran jemari mungil di hadapannya, mengecup bolak balik telapak tangan milik sang putra.


"Daddyyyyyyyy." Shan menghambur masuk dalam pelukan.


Freeze. Seakan waktu membeku.


"S-han ... Ayah ka-ngen banget sama Shan," Ezra terbata, mengungkapkan betapa ia bahagia dapat merengkuh dirinya.


Bocah kecil itu memeluk erat leher sang ayah. Menangis pilu di bahu tegapnya. Suara tangis Shan berhasil menyayat hati tiga orang dewasa yang menyaksikan pertemuan perdana mereka setelah sekian lama.


"Daddy, why you so long," bisik Shan di sela isakan.


Air mata menantu Ruhama pun luruh. Ezra mengusap punggung putranya lembut, terus mengatakan permintaan maaf, baru dapat menjumpai mereka di sini. Hatinya tercubit atas pernyataan sendu sang anak kesayangan.


"Daddy would really like to talk to you, Baby, So sorry," Ezra berulang kali mengatakan kalimat yang sama.


"Daddy, Shan miss you," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut mungilnya.


.


.


...________________________...


...😭😭😭...

__ADS_1


...Dilara Huwaida. Hot moms....



__ADS_2