SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 15. KEPUTUSAN


__ADS_3

Setelah perutnya terasa kenyang, Dilara bangkit keluar dari private room cafe lalu menunggu angkutan umum ditepi jalan tak jauh dari bangunan berwarna peach yang baru saja dia tinggalkan. Angkot yang akan membawanya kembali pulang.


Dirinya memang masih merasakan sedikit pusing akibat jelang masa pe-em-es. Namun dia tak ingin di labeli sebagai gadis yang suka memanfaatkan keadaan. Ajakan Velma dan driver Ezra menawarkan mengantar dirinya pulang dengan mobil mereka, Dila tolak halus.


Tak ingin menjadi beban orang lain bahkan menggantungkan diri pada fasilitas yang bukan miliknya. Dila cukup tahu diri apalagi dengan status disabilitas yang dia sandang makin membuatnya bertekad untuk selalu mandiri.


Nyaris satu jam Dila baru menjejakkan kaki kembali dirumahnya yang asri. Ibu belum pulang, mungkin menjelang ashar beliau akan tiba.


Setelah mengunci pintu, Dila langsung menuju kamar, meletakkan dua map yang ia bawa menindih laptopnya di atas meja belajar.


Dila lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah di atas pembaringan. Tangan kirinya terulur ke udara, memastikan sisa waktu yang ia punya sebelum berangkat kembali ke ponpes mengikuti kajian ba'da dzuhur.


Masih ada waktu enam puluh menit, netranya kembali terpusat pada map coklat yang ia letakkan tadi.


Rasa penasaran kembali menyergap, terlebih Tuan Ezra memintanya untuk memberikan jawaban esok hari.


Jawaban apa sih? menikah dengannya?


Ia memaksakan tubuhnya kembali bangkit. Jemarinya terulur mengambil benda yang masih tergeletak di tempatnya.


Dila membuka pengaitnya perlahan, matanya memicing, mengintip kumpulan paragraf dalam map coklat yang belum ia jamah sedari di cafe tadi.


Tangannya mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sana, gerakan matanya mengikuti rentetan kalimat bertinta hitam yang berjajar rapi tanpa typo.


Innalillahi ... astaghfirullah ... Ibu? kenapa ga bilang sama Dila?


Dila mengganti posisi lembaran yang dipegangnya dengan kertas serupa di bawahnya.


Ini, rekam medis Ibu? demikian parah kah?


Ibu, maafkan Dila. Tidak peka akan kondisi Ibu, jangan tinggalin Dila, aku ga punya siapapun didunia ini kecuali Ibu. Hanya Ibu, yang selalu mengerti aku.


Dila menangis tanpa suara, hanya air mata berderai diwajahnya yang perlahan menganak sungai.


Banyak sesal yang datang menerjang hatinya yang kian sesak, nyaris penuh akan bongkahan rasa bersalah.


Badannya pun jatuh luruh membentur lantai, kakinya ia tekuk hingga batas dada, lalu membenturkan kepala beberapa kali disisi dipan, merutuki kebodohannya selama ini.


Lama dia menangis ditempatnya hingga bunyi alarm yang berasal dari jam tangan menyadarkan kewarasan gadis itu.


Aku harus ngaji dulu, sekaligus menanyakan pada Nyai nanti.


Gadis berkerudung merah itu lalu menuju kamar mandi. Membasuh muka bercampur peluh, debu serta linangan air mata yang masih meninggalkan jejak diwajah ayunya.


Setelah merasa bebas dari hadas kecil, ia pun berwudhu, berniat menemui Robbnya untuk mengadu.

__ADS_1


Hingga gerakan salam akhir ke kirinya sempurna, Dila masih setia diatas sajadah. Membuka kedua tangan memanjatkan kegundahan berharap Sang Khalik memberikan rahmat baginya agar ia bisa tenang dalam mengambil keputusan nanti.


Bismillahirrahmanirrahim...


Gadis pemberani bernama Dilara bangkit bersiap, meraih kitab Fathul qoribnya lagi lalu menuju pintu belakang mengeluarkan sepeda ungu kesayangannya.


Dua puluh menit kemudian.


Dila tiba di pintu belakang ponpes. Khidmah yang berjaga di sana pun telah faham bahwa gadis itu akan ikut kajian ustadz Zaky siang ini di Aula.


"Dila, rajinnya. Ayo, bentar lagi mulai," sapa santri khidmah ramah memberi Dila semangat.


"Syukron Mba," jawab Dila tak kalah riang sembari menurunkan tungkai sepeda di tempat parkir tak jauh dari gerbang.


Langkahnya pasti, setelan gamis navy yang Ibunya belikan minggu lalu semakin membuat kontras wajah cantik Dila siang itu.


Seperti biasa, Dila duduk paling belakang. Kali ini dia sengaja menunggu ustadz Zaky keluar dari aula usai kajian nanti. Ada yang ingin dia tanyakan padanya.


Adzan Ashar berkumandang tanda kajian usai.


Dilara bergegas bangkit menuju pintu yang biasa ustadz Zaky gunakan untuk meninggalkan majlis.


"Dila," tegur ustadz heran, tumben gadis ini menghampiri yang bukan mahramnya.


"Afwan Ustadz, aku mau tanya," suara Dila terbata.


"Tulis saja, ini...." Dila menyerahkan selembar kertas berisi catatan tentang beberapa pertanyaan di sana.


"Jawab sekarang aja ya. Bismillah... bakti pada orang tua hukumnya fardhu 'ain, Al isra ayat 23-24 serta banyak hadist mengenai ini juga. Menikah tanpa cinta?" tanya ustadz Zaky heran.


"Ini hadistnya Dila, tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah (dimintai pendapatnya), dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan hingga diminta izinnya."


"... tanda ridhanya gadis itu untuk dinikahkan, apabila ia malu untuk menjawab, adalah dari diamnya ... juga harus ada izin dari wali, ini semua perkataan Rosulullah dalam riwayat hadist Bukhari."


"Paham apa yang ana sampaikan, Dila? ana tuliskan saja yaa, sebentar," Ustadz Zaky membawa kertas berisi pertanyaan Dilara masuk ke Aula.


Tak lama ia pun keluar menyerahkan kembali kertas berisi jawaban tadi pada Dilara.


"Kuncinya, ikhlas, menerima, ga ngeluh dan habiskan waktu bersama. Basanya cinta akan tumbuh dengan sendirinya, pertanyaan ini untuk tugaskah, Dila?" tanya ustadz ketika gadis itu terdiam.


"Iya, tugas. Syukron tadz," ucap Dila mengangguk seraya menangkupkan tangan di depan dada.


"Afwan, Dila. Ana pamit, assalamu'alaikum," imbuh Ustadz Zaky meninggalkan Dila di sana.


"Wa'alaikumussalam," lirih Dila melanjutkan langkah kembali menuju parkiran belakang. Niat bertanya pada Nyai dia urungkan, meminimalisir kecurigaan sebab keputusan Dila nanti harus ada izin dari walinya.

__ADS_1


Pulang dari kajian, Dilara melihat Velma sudah berada di teras rumahnya.


"Siang Nona," sapa sang ajudan santun meski Dila bukan siapa-siapa baginya.


"Siang, Kak," balas Dila dengan isyarat tangan dan gerakan bibir, setelah melepaskan sandal dan akan membuka pintu.


"Aku diminta Tuan Muda merekam jawaban Anda, silakan," ulur Velma dengan handphonenya ke arah Dila setelah dirinya dipersilakan masuk.


"Aku boleh tanya dulu engga Kak?" Dila menulis di sebuah kertas catatannya lalu menunjukkan pada Velma.


"Boleh, silakan Nona."


"Apakah Ibu akan sembuh? dan apakah nanti aku akan berpisah dengan Ibu?" Dilara bertanya pada Velma melalui catatannya.


"Akan aku foto lalu kirimkan ke Pak Rolex lebih dulu ya Nona, mohon menunggu," Velma menjelaskan bahwa ia harus melaporkan dahulu pada atasannya.


"Satu lagi. Apakah aku masih boleh bertemu Ibu? pekerjaan dan mengajiku bagaimana?" Dila kembali menambahkan kalimat pertanyaan nya.


"Ini bukan satu Nona, tapi dua," kekeh Velma melihat kepolosan Dila.


Gadis didepan Velma hanya tersenyum manis, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih.


Nona Dilara, Anda sangat cantik jika tersenyum. Velma mengagumi kecantikan Dilara.


"Aku bikin minum dulu Kak," ucap Dila bangkit berdiri hendak menyiapkan minum untuk tamunya.


Semangat meluluhkan hati Tuan muda, Nona.


Velma masih menunggu jawaban dari Rolex atas pertanyaan Dila, namun sejurus kemudian ponselnya berdering dari seseorang yang namanya keramat untuk dia sebut.


Glek.


"Mana dia?" terdengar suara lantang dari ujung sana.


"Kak, minum," Dila menyodorkan satu cangkir teh hangat ke hadapan Velma yang wajahnya sudah pucat pasi.


"Nona, ini." Velma menyerahkan ponselnya pada Dila.


"Dilara....!" teriak suara pria dari benda pipih yang hendak dia tempelkan ke telinga.


"Assalamu'alaikum...." suara seorang wanita.


Degh.


.

__ADS_1


.


...________________________...


__ADS_2