SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 88. ASYRAF HAMID


__ADS_3

Dubai.


Dilara bingung, Rengganis bilang jarak tempuh antara Bandara dengan lokasi mereka tidak memakan waktu lama jika menggunakan mobil. Juga asrama dan lembaga sekolah milik sang donatur letaknya tak berjauhan.


Jika tidak salah melihat jam tangan tadi, Dilara menduga sudah menempuh perjalanan selama dua jam dan nampaknya jarak yang akan mereka jangkau masih panjang, hatinya mulai risau.


Satu jam kemudian.


Mobil mewah milik sang Nyonya Asyraf mulai memasuki komplek hunian mewah. Banyaknya penjaga di setiap gerbang cluster membuat Dila begidik ngeri. Akan di bawa kemana dirinya kelak.


Kendaraan beroda empat itu akhirnya berhenti tepat di sebuah rumah dengan gaya American classic yang di dominasi warna putih dan emas, mulai dari ornamen yang terdapat pada pagar hingga fasad depan bangunan yang tinggi menjulang.


Handle pintu mobil bagian kiri, dibuka oleh driver yang telah menundukkan pandangannya terhadap Dila, menyilakan sang menantu Emery keluar dari sana.


"Mari, Dila. Ini rumah pribadiku, hanya segelintir orang yang ku bawa kemari bahkan meski para pekerja kepercayaan atau kolega sekalipun. Aku mendapat amanah untuk menjagamu," ujarnya ramah seraya mengulurkan tangan kanannya untuk membantu wanita polos itu keluar.


"Terimakasih banyak, satu kehormatan buat aku yang bukan siapa-siapa," balas Dila sungkan. Dia mendekap erat El, hatinya was-was namun segera ia tepis. Ada Allah yang akan menjaganya.


Beberapa maid telah menyambut kedatangan mereka. Kedua wanita cantik mulai menapaki anak tangga menuju ke foye hunian. Melanjutkan langkah terus masuk kedalam ruang tamu luas, lalu melewati ruang keluarga lengkap dengan televisi super lebar dengan dua set sofa yang terlihat cozy, hingga tiba di depan pintu besar berwarna putih, yang terbelah dua. Ketika maid membukanya, Dilara terpana.


"Ini kamar mu selama tinggal di sini. Kamarku di lantai dua. Buatlah dirimu nyaman ya, mereka berdua maid yang akan membantu keseharian mu nanti. Namanya Marini dan Kesih, orang Jawa juga karena aku suka tiba-tiba rindu suasana Indonesia. Karena kami juga berasal dari sana," sang Nyonya menjelaskan semua informasi dasar tentang kamar juga dirinya, yang mungkin ingin Dilara ketahui.


Wanita muda tengah menggendong bayi itu hanya diam, mengangguk seraya tersenyum. Disaat yang sama, El mulai bangun merengek meminta asi darinya tanda bayi mungil itu lapar.


"Istirahat ya Dila, kasihan anakmu. Jangan tergesa-gesa, kamu belum pulih benar. Malam nanti ada dokter yang akan memeriksa kondisi kalian berdua, aku khawatir padanya," terang Nyonya besar, mengelus kepala El penuh kelembutan.


"Baik, terimakasih banyak." Hanya kata-kata itu yang sedari tadi Dila ucapkan. Dirinya terlalu kagum pada sosok sang donatur.

__ADS_1


Asyraf Hamid pun undur diri dari hadapan sang tamu. Janda kaya dengan kekayaan melimpah, mulai menaiki satu persatu barisan anak tangga menuju kamarnya.


Sepanjang perjalanan tadi mereka hanya saling diam, berkutat dengan pemikiran masing-masing.


"Kamu, mengingatkan ku pada seseorang, Dilara."


Setelah Asyraf Hamid tiba di kamar super mewah, dirinya meminta pada sang sekretaris pribadi agar betul-betul menjaga dan melayani tamunya dengan baik.


"Perhatikan segala kebutuhannya. Jaga dia seperti kau menjagaku, juga aku gak ingin Dila di ganggu oleh siapapun termasuk Zaky dan istrinya dalam waktu dekat, biarkan fisiknya betul-betul pulih dulu ... aku juga ingin dia tenang menjalani iddahnya itu. Apa yang dialami Dila, persis denganku dulu ... siapa sosok Ezra itu? aku jadi ingin memberikannya pelajaran."


Asyraf Hamid seketika kesal, inginnya tidak ikut campur namun dia mengingat kejadian yang sama menimpa hidupnya hingga terlunta-lunta akibat kebodohannya mencintai seorang pria.


"Nona muda, rupanya sangat menarik perhatian Anda, Nyonya."


"Entah, hatiku mengatakan bahwa harus menghujani dirinya dengan kasih sayang sejak pertama kali melihat foto gadis itu. Ketika Zaky mengutarakan latar belakang masalah Dilara, aku simpati. Dan kala melihat El, aku bagai melihat cucuku sendiri ... ah, pokoknya aku ingin menjaganya. Dia sangat manis, cantik, polos, dan juga cerdas," tutur sang Nyonya besar dengan wajah berseri-seri.


"Baik. Sesuai arahan Anda. Nomer ponselnya akankah tetap di modifikasi, Nyonya? agar seakan beliau dapat berkomunikasi dengan Rengganis?" tanya sang Aspri.


"Apa yang akan Anda sampaikan pada Ustadz Zaky?"


"Urusanku nanti, Dre."


"Baik, aku akan mengatur sisanya. Termasuk memberitahukan susunan menu sehat untuk beliau pada Retha. Alhamdulillah, akhirnya Anda tidak kesepian. Semoga Nona Dilara bukan seorang yang menyakiti Anda dikemudian hari, Nyonya."


Setelah sang asisten undur diri, wanita yang selalu memakai identitas suaminya itu pun merebahkan dirinya di atas pembaringan bak kepunyaan Ratu. Ingatannya menerawang jauh.


...*...

__ADS_1


Bila Dilara telah aman berada dalam pengawasan juga perlindungan Asyraf Hamid. Lain halnya dengan kepanikan yang di rasakan oleh Rengganis juga ustad Zaky.


Mereka telah menunggu Dilara hampir tiga jam, bahkan mencari ke seluruh Bandara, namun tak kunjung bertemu.


"Kamu yakin Dek, Dila memberitahu saat akan terbang dari Indonesia? di jam yang sama? atau dia mengganti pesawat dan jadwal penerbangan? ko gak ada? kemana dia?" panik Zaky saat ia telah lelah mencari.


Pertanyaan yang sama berulang kali terlontar dari mulutnya itu hingga membuat Rengganis menangis.


"Aku berulang kali bilang sama Mas, bahkan menunjukkan chat akhir kita. Jawabanku sama," isak sahabat Dila saat Aliyah, pada suaminya.


"Tuan Ezra, besok datang kemari, dia sangat berharap dapat menarik ucapannya kembali saat aku telah menjelaskan titik perkara tentang rumah tangga mereka loh. Gimana ini jadinya? istrinya beneran menghilang," Zaky merasa putus asa sekaligus bersalah karena mereka telat menjemput tadi.


"Kita telat cuma sepuluh menit padahal, dan sekarang semua passenger yang sesuai keberangkatan dengan Dila sudah bubar. Dalam manifest, memang betul ada namanya, Dek. Jadi gimana kita? disini atau meminta bantuan pada pihak Bandara untuk melihat cctv mungkin?" tanya Zaky pada istrinya.


"Coba saja Mas, ke kantornya kita tanya," balas istri ustadz Zaky seraya beranjak dari tempat diskusi mereka di sebuah meja cafe.


Keduanya menuju ke pusat informasi untuk menanyakan tentang akses dan perijinan untuk melihat rekaman cctv agar dapat melihat kemana sahabatnya pergi.


Setelah penjelasan alot antara dirinya dengan petugas, Zaky mengalah.


"Harus pakai wali, Dek. Berarti hanya bisa menunggu Tuan Ezra datang esok pagi. Karena hanya dia walinya, anggap saja begitu."


Pasangan itu kecewa akan regulasi pihak maskapai yang tak memberikan akses mudah bagi urusan mereka.


Karena merasa telah berusaha banyak, melaporkan ke pihak berwenang pun sudah dilakukan, mereka akhirnya pergi meninggalkan Bandara setelah menitipkan pesan agar segera menghubungi dirinya jika ada informasi tentang sosok yang di cari.


.

__ADS_1


.


...___________________________...


__ADS_2