SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 117. PAWON RATU


__ADS_3

Asyraf hamid menarik Al Zayn ke dalam ruang kerjanya. Terjadi ketegangan antara kedua pelaku bisnis elite timur tengah itu.


Al Zayn bersikeras bahwa ia ikut karena mempunyai satu kisah yang harus di tuntaskan hingga mengusik rasa ingin tahu Vega Gianina. Namun sang keturunan pangeran tak berkenan membagi tujuannya kali ini, membuat Vega geram.


Sementara di ruang keluarga.


Andre masih berhadapan dengan ketiga wanita. Dua gadis belia dan satu paruh baya. Suara menggema karena ceiling yang tinggi kian membuat suasana mencekam. Rasa takut hebat mencengkram tengkuk Katrin kala mendengar nada tinggi Andre kian menggelegar.


"Katrin, katakan siapa yang memintamu menjadi penghubung Nona Dilara!"


Sunyi. Tak ada jawaban.


"Keras kepala!" sentak Andre, tangan kekar itu seketika menarik rambut Katrin. Tubuh ringkih yang tak siap menerima serangan, dengan mudah dihempas hingga kepalanya membentur lantai.


Dugh.


"Awwhh!! Bunuh saja aku, sejak semula memang tujuanku ke sini adalah untuk mati. Asal kau tahu!" cibir Katrin, menatap nyalang pada Andre. Sorot mata keputusasaan, hampa juga kepedihan mendalam menguar saat kedua pasang netra itu beradu.


Kesih dan Mbak Mun, menggelengkan kepala kala melihat Katrin berkata demikian. Dia telah membangunkan panther yang dahaga.


Andre kembali menarik rambut kepala gadis yang telah tersungkur, menengadahkan wajah lebam dengan bekas dar-ah di ujung bibirnya.


"Kau menantangku? berapa banyak Ezra membayar mu?"


"Cuh, berani cuma sama anak kecil!" Katrin meludahi wajah Andre.


"Kurang ajar!"


Dughkk. Satu tendangan kaki berbalut pantofl mendarat di perut gadis itu.


"Argghhh. Kevin." Seru Katrin menyebut nama almarhum kakaknya. Bulir bening itu akhirnya luruh, bayangan sang kakak mendapatkan penyiksaan dari Abdeen memenuhi benaknya.


"Jangan, Tuan. Ku mohon, jangan." Mbak Mun mencegah sang Aspri yang sudah di ujung amarah saat kakinya akan di daratkan pada kepala pegawai belia itu.


Merasa tak dapat meluapkan amarah, akhirnya Mbak Mun dan Kesih pun tak luput dari amukan Andre.


Plakk. Plakk.


Para maid, terjatuh di lantai akibat kerasnya tamparan asisten pribadi Asyraf hamid.

__ADS_1


"Dre, siap belum?" tegas sang Nyonya besar.


"Kita berangkat sekarang," jawabnya cepat seraya mengibaskan tangan kanannya akibat rasa panas yang menjalar setelah aksi brutal dirinya tadi.


"Katrin!"


Gadis yang lunglai menahan rasa sakit itu menengadah muka menghadap asal suara. "Apa!" suara Katrin serak tanda ia kesakitan.


Asyraf hamid menatap gadis belia yang sempat membuat ia takjub atas skill memasaknya itu. Tatapan Nyonya besar yang tak dapat dilukiskan, antara happy berterimakasih telah merawat Shan juga marah sebab berkhianat padanya.


Setelah kepergian mereka. Kediaman Asyraf hamid di jaga puluhan bodyguard. Sulit bagi Katrin untuk keluar menyelamatkan diri.


Namun, bukan Ezra jika ia tak memiliki rencana cadangan. Saat situasi terjepit, Ezra mengatakan mungkin dia akan di hajar jika misinya terbongkar. Di situasi itu, putra sulung El Qavi berpesan agar Katrin sedikit menahan luka, berpura kesakitan parah hingga di larikan ke klinik terdekat. Di sana orang Sabrina akan membantu keluar dari negara itu dengan aman.


"Katrin!" seru Kesih melihat gadis itu tergeletak. Mbak Mun bangkit terhuyung meminta bantuan pada salah satu bodyguard agar membawa anak malang itu ke klinik.


"Panggil dokter saja," ujar sang bodyguard.


"Kau gila! bisa digorok Andre jika orang asing tahu kediaman Nyonya?" Kesih tak kalah lantang meminta agar lelaki itu lekas membawa kawannya.


Tak punya opsi lebih baik, akhirnya Katrin di bawa keluar hunian menuju klinik. Gadis itu lunglai, meski masih dalam kesadaran minim.


...***...


Indonesia. Saat yang sama.


Sejak siang, Ezra membuat bagan di atas kertas gambar yang Mahira bawa, berusaha menghubungkan semua kisah. Situasi rumah lengang, karena kedua gadis itu pergi jalan-jalan ke kota dengan Shan, mengajaknya bermain di wahana sebab bocah kecil mulai bosan.


Leon mengawasi kepergian para wanita serta anaknya ke publik area. Dilara sakit, akibat pola makan juga istirahat yang kurang baik sejak kemarin. Dia tidur di temani santri khidmah di dalam kamar.


Ezra menyalakan tab nya, streaming dengan Rolex.


"Anastasya, putri Arabella. Usianya dua tahun diatas Dila berarti putri Akbar ini lahir lebih dulu dibanding istriku. Tapi Dila bukan berasal dari rahim yang sama dengannya ... karena gak mungkin dia tega, kecuali jika...." Ezra mulai bersuara.


"Oh No. Lex ... Arabella juga bukan keturunan ningrat, sedangkan selendang juga liontin itu menunjukkan sebaliknya." Putra Emery masih menganalisa dan Rolex mendengarkan.


"Surat itu mengatakan istriku bukan lahir dari hubungan gelap ... Ok, gotcha, ketemu ... honey, ketemu...." Netranya membola, Ezra menarik satu garis menuju bagan sosok misterius. Ibu kandung Dila.


"Nomer plat itu teridentifikasi milik Sanjaya Budiharso, Bos. Ayah Akbar saat masih berjaya, mobil itu kini telah di museum kan dalam garasi. Sesekali keluar sekedar mengitari komplek elite mereka," ujar Rolex di ujung sana.

__ADS_1


"Ok, fix. Yang Ibu kenali adalah benar, milik keluarga Sanjaya. Lex, apakah dugaanku benar? Vega?" tegas Ezra.


"Yang membuang Nona adalah Vega, betul Bos. Karena dia sekretarisnya kala itu. Tapi, apakah Anda menduga hal sama dengan ku, otak kejahatan ini?" imbuh sang aspri.


"Binggo. Betul, satu nama dalam otakmu, aku yakin sama denganku bukan?" senyum Ezra terbit.


"Pointnya adalah, berkenaan dengan harta warisan, ku rasa Lex. Jika benar, karena Anastasya mewarisi dua pilar kokoh industri real estate milik keluarganya sejak turun temurun," Ezra meletakkan pulpen yang dia genggam sedari satu jam lalu. Sorot matanya berpijar bagai lampu mercusuar.


"Kapan Anda ke Jogja, Bos?" tanya Rolex.


"Nanti jika Arjuna telah membagi info kembali. Pakualaman, asal muasal kerumitan ini akan berakhir. Siapkan keperluan ku di sana sementara menunggu Dila sehat. Leon akan menemani kami," ujar Ezra meminta Rolex agar berkoordinasi dengan salah satu ajudan elite keluarganya.


Jika Ezra berkutat dengan data dan informasi akurat. Berbeda dengan kedua gadis yang sedang asik bermain dengan Shan.


Hari sudah hampir sore jika Leon tidak memberitahu batas waktu untuk mereka di ruang publik.


"Leon, makan dulu yuk. Itu kayaknya ada outlet baru deh disana. Rame banget," tunjuk Mita pada sebuah resto makanan khas Jawa pada Leon.


"Nona, jangan. Terlalu ramai, baiknya Anda segera pulang sesuai batas waktu izin dari Tuan Muda," sanggah sang aspri.


"Aku saja yang antri Kak Mita. Tunggu di resto sebelahnya aja, kita makan disana. Kalau kena charge ya gampang lah, paling penting itu biar gak penasaran," Mahira menawarkan diri. Ia pun ingin mencicipi salah satu hidangan yang hits jika melihat dari ulasan media sosial resto ini.


"Silakan," ujar Leon memberi izin. Sementara dirinya menggendong Shan yang mulai kelelahan. Mencari tempat duduk di ujung cafe.


Mahira melangkah ke barisan antrian, mulai menulis beberapa menu sesuai keinginan Mita tadi sebelum dirinya pergi meninggalkan mereka di resto sebelah, untuk dia serahkan pada waiter di meja order.


Karena jenuh menunggu, gadis itu memanjakan netra sipitnya. Berkeliling mengagumi ornamen Jawa yang mendominasi bagian dalam resto. Binar matanya takjub, menelisik detail interior hingga tanpa sengaja melayangkan pandang ke arah kumpulan pewarta berita. Tampak seorang wanita cantik memakai kebaya berhijab tengah di wawancarai.


"Hah, astaghfirullah ... Eh subhanallah, mataku gak salah lihat kah?" Mahira mengucek kedua bola mata yang mulai memicing.


"Apa cuma mataku, perasaanku ko ya mi-rippp meski dari sam-ping...." gadis itu mengarahkan ponselnya, membidik sosok yang berkecamuk dalam benak.


"Pawon Ratu...." eja Mahira pada standing banner di depan resto.


.


.


...____________________...

__ADS_1


...Hari ini loss doll kata 😌...


__ADS_2