SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 132. BERTATAP MUKA


__ADS_3

Keesokan Pagi.


Ezra masih menempeli Dila kemana-mana, termasuk saat memandikan Shan, pria itu enggan jauh dari keduanya.


"Kenapa sih, senyum-senyum gitu daritadi," tegur Dila mulai risih, dia bagaikan punya dua bayi, satu besar dan satu lagi masih batita.


"Enggak apa, suka aja liat kamu sibuk ngurusin Shan. Adek Shan kapan launching ya?"


Uhuk. Uhuk.


Pertanyaan absurd yang keluar dari Ezra el Qavi. Dilara hanya menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Adek Shan? itu apa mommy?" tanya bocah gempal yang sedang dioles lotion seluruh badannya oleh sang Bunda.


"Baby, new born dan usianya di bawah Shan. You're gonna be a big Brother," jawab Dila, masih di hadiahi senyuman menawan dari prianya.


"Wooww, brother? like a Doraemon, he's have a young sisters," seru Shan, riang.


"Hem, something like that," kali ini Ezra yang menjawab pernyataan putranya.


"Abang, ish. Sana lah, breakfast. Aku mau mandi, basah semua kena Shan tadi." Dila mulai risih, dirinya rikuh di tatap sedemikian rupa oleh Ezra.


"Samaan keluar Sayang, biar enak ... mau aku mandiin enggak?" usilnya sembari menciumi Shan yang sudah wangi, sementara Dilara mendelik sangar namun tak dihiraukan.


"Mommy sudah besar, bisa mandi sendiri Daddy," protes Shan, dia mendengar kalimat aneh sang ayah.


"Nah kan, repot. Jangan mengatakan suatu kalimat yang memiliki arti berbeda untuk Shan cerna." Tatap tegas Dila pada Ezra, namun hanya ditanggapi senyuman tipis tanpa rasa bersalah membuat ibu muda itu kesal.


Dia lalu meninggalkan kedua prianya menuju bathroom sekaligus mengumpulkan semua barang milik putranya yang berserakan.


"Shan bantu mommy packing ya, kita pergi setelah sarapan karena Bunda mau cari panti asuhan."


Suara Dila meninggi menghilang di balik pintu kamar mandi, ia kesal suaminya tak peka.


Satu jam berlalu.


Davina meminta waktu pada Devanagari agar bersedia duduk untuk membicarakan masalah waris sebelum ia pergi.


"Kak, masalah waris itu sudah di bagi Ayah, Kakak tahu bukan? lagipula aku tidak akan menarik yang bukan hakku," Vina menunduk merasa tak enak hati.


Devanagari menanggapi dengan tenang untuk masalah satu ini. Hartanya telah ia temukan, Dilara.


Karena Ezra tak ingin ikut campur masalah keluarga Dila, dia mengajak Mita juga Leon menuju mobil. Bersiap pergi meninggalkan kediaman Danuarta.


Dilara membimbing ibundanya agar duduk di sofa ruang keluarga.

__ADS_1


"Maafkan Kakak ya Vina, sudah merepotkan juga membebani keluarga hingga kemarin. Aku berterimakasih ... bahkan tak sempat melihat rupa suamimu yang telah berpulang. Aku bersyukur Vina kami tegar dan kuat menghadapi cibiran atas ketidakwarasan diriku ... pamit ya, masalah waris, ku amanahkan padamu," tutur putri sulung Danuarta.


Dilara menggenggam jemari ibunda erat, menyalurkan kekuatan juga ketenangan yang ia miliki.


Entah apa yang keduanya bicarakan, Dila tak ingin mengusik. Pelukan kedua putri Danuarta menjadi tanda bahwa mereka ikhlas satu sama lain untuk berpisah jarak setelah sekian puluh tahun bersama.


"Jaga diri ya Kak, pasti bakal mampir jika ke Jakarta. Maafkan aku belum bisa memberikan pengobatan maksimal untukmu," sedu Vina menghantar kepergian Deva dengan air mata.


"Kamu juga. Sudah, sudah ... terimakasih banyak ya Vina," eyang Shan, membalas pelukan mereka untuk terakhir kali.


Lumayan lama waktu bergulir, hingga tepukan di bahu Ezra oleh Mita membuyarkan lamunan.


Dila dan Ibu mertuanya mendekat ke mobil.


"Bye rumah, aku akan pulang sesekali," ujar Deva saat menatap rumah tinggal sejak ia kecil. Lambaian tangan Davina mengantar kepergiannya dengan keluarga baru.


Lima menit berlalu.


Mobil yang mereka kendarai perlahan meninggalkan pelataran sang pejabat karanganyar menuju homestay di pusat kota Jogja.


"Ma, jangan sedih lagi ya."


"Enggak, kan ada Shan," jawab Deva cepat. Tak ia pungkiri hatinya sedikit merasakan pedih saat rumah kuno nan asri itu perlahan menjauh dari pandangan seiring laju mobil mereka meninggalkan desa.


...***...


Pagi ini Al Zayn memasuki cottage yang Ezra sewa. Dia mengedarkan pandang ke sekeliling mencari celah untuk melakukan sesuatu.


"Tuan Muda, bodyguard yang berjaga disini hanya dua orang, bertiga dengan Katrin, yang masih cedera berada dalam homestay satunya," lapor sang asisten.


"Satpam tadi gak kenapa-kenapa kan Zayn. Dia gak tahu apa-apa loh, jangan menyakiti yang tidak ada hubungannya dengan kamu," tegas Emery.


Al Zayn hanya diam, duduk di bawah kursi taman dengan payung besar sebagai peneduh.


"Jika Katrin disana, maka Ezra akan masuk ke rumah yang itu," tunjuknya pada satu bangunan lain.


"Buka pintu, aku ingin melihat seberapa loyal dia memanjakan wanitanya," cibir Al Zayn seraya bangkit, menuju bangunan etnik yang digunakan Ezra.


Emery melihat sekelebat sosok yang akrab dengan keseharian Dila selama di Surabaya, bahkan gadis itu pindah ke Jakarta demi sang menantu yang tengah berduka kala itu. Ayah kandung Ezra, terdiam heran.


"Mau apa dia kesini? bukannya di Jakarta ya?" batin pendiri EQ Building.


Al Zayn membuka pintu depan. Menimbang fasilitas di dalamnya, ia akui selera Ezra mumpuni.


"Not bad."

__ADS_1


"Ckck, putraku mana mungkin memilih sesuatu yang biasa Zayn," Emery seakan berada di atas awan melihat betapa lux penginapan yang digunakan putranya. Bukan hanya satu, tapi dia menyewa tiga hunian dalam satu Cottages sekaligus.


"Kemana dia," tanya Al Zayn pada sekretaris pribadinya itu.


"Sebentar lagi tiba, Tuan Muda."


Hingga satu jam kedepan, rombongan Ezra tak jua muncul membuat Al Zayn gusar. Dia mengirimkan pesan beruntun pada Ezra namun tidak satupun yang di respon olehnya.


"F-uckkk, susah sekali memancing kamu keluar," seru Zayn emosi.


Emery kali ini lebih santai, dirinya yakin bahwa putranya punya rencana.


Tik tok tik tok.


Kijang innova hitam masuk ke pelataran homestay beberapa menit berikutnya.


Dari dalam mobil, pria bermata elang itu telah menduga bahwa Al Zayn menunggu didalam sana.


"Sayang, jangan turun dulu ya, tetap di sini dengan Mama dan Mita. Jaga Shan," pesan Ezra seraya mengecup sekilas bibir sang Nyonya di hadapan mertua.


Devanagari hanya tersenyum simpul melihat kebucinan Ezra pada putrinya. Dia mendengar dan mencerna lamat-lamat maksud sang menantu sebelum dia turun dari mobil.


"Leon, sudah siap?"


"Bos, banyak bodyguard di dalam, namun area luar hanya dua. Aku telah mengirim signal untuk Katrin," lirih Leon seraya membetulkan jasnya.


Ezra hanya mengangguk samar dan melangkahkan kaki menuju rumah yang ia sewa sementara.


"Assalamu'alaina," ucap Ezra menganggap tiada orang didalamnya.


"Wa'alaikumussalaam," sahut Emery.


"Hai Pa, sampai juga disini ... dia gak melukai Papa kan?" sapa Ezra menghampiri Emery, mencium tangan juga memeluknya.


"Enggak. Zayn, masih anak baik seperti dulu.... " balas Emery.


"Lama tidak bertatap muka ya. Not bad, kamu terlihat lebih tampan kini." Ezra duduk tepat di hadapan pria muda itu.


"Ckck, basa basi."


.


.


..._______________________...

__ADS_1


...Malam estafet maaf baru Up, handle kelas online juga grup Mitra, ditambah tamu, haish... 😌...


__ADS_2