SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 57. AKU PULANG


__ADS_3

"Sayang, aku pulang ... padamu," gumam Ezra saat akan boarding seraya mengubah setting ponselnya ke flights mode.


"Bos, aku tidur duluan ya. Kepalaku sakit," ujar Rolex setelah mereka berada dalam kabin.


Tak berapa lama, burung besi pun mulai naik membelah angkasa, melayang di luasnya jumantara. Membawa berjuta harapan, doa, serta impian milik setiap insan yang berada dalam rengkuhannya, perlahan larut dalam buaian rasa rindu nan syahdu kala membayangkan ciptaan Yang Maha Kuasa.


Tak terkecuali Ezra. Hatinya gelisah, jemari tangannya menggenggam parfum beraroma apel milik Dila.


"Aku gak sabar ketemu kamu," lirih Ezra, entah rasa apa yang hadir, ia merasakan begitu kuatnya dorongan untuk kembali.


"Masih enam jam lebih Bos, baiknya tidur dulu agar saat ketemu Nyonya nanti, wajah Anda enak dipandang. Siapa tahu, anak dalam kandungan justru enggan melihat muka kusut bapaknya," seloroh Rolex disela kantuk, ia tertawa, bahagia menggoda sang majikan yang sejak tadi hanya diam menutup mulutnya rapat.


Sang Aspri belum menyadari tatapan tajam Ezra padanya. Ia masih saja setia dengan tawa renyah yang keluar dari bibir seksi pemilik nama Rolexander.


"Benarkah begitu, Lex? ada istri hamil yang enggan bertemu suaminya?" tanya Ezra penasaran.


"Banyak Bos. Bahkan gak ingin disentuh, ada juga minta berpisah. Yang ekstrim malah dia muak dan membenci setengah mati suaminya itu," tutur Rolex menjahili Ezra.


"Hah, serius? jadi jika Dila cuek dan seakan membenciku apakah itu artinya anakku tak bersedia mengenal ayahnya?" desak Ezra semakin penasaran.


Ingin rasanya tertawa lepas, tatkala melihat wajah polos dan kegelisahan yang jelas tertoreh diwajah tampan majikannya itu. Andai bukan dalam perjalanan diatas pesawat, rasanya ia akan koprol atau goyang ngebor untuk merayakan betapa ia beruntung melihat tampang konyol si Bos muda El Qavi.


"Bisa jadi, itu tanda-tanda bahwa Anda tak di dinginkan oleh mereka berdua. Makanya Bos, jangan kasar jika bicara. Bukan pula dengan amarah menghadapi wanita apalagi tengah hamil. Coba pikir, Nyonya berhutang apa pada Anda? gak ada kan? kenapa juga mau berkorban?"


Kesempatan bagi Rolex menyentuh sisi emosional lelaki yang dia nilai hampir kehilangan kehangatan dari hatinya.


"Iya ya Lex. Aku jahat sama Dila." Ezra memainkan botol parfum berbentuk lonjong dalam genggaman.


Setelah percakapan singkat yang ternyata mencubit hatinya yang kebas. Anak sulung Emery itu memejamkan mata, menarik nafas panjang nan berat.


"Jangan membenciku ya, Dila."


Suami Dilara membuka jendela kabin disampingnya. Ia melepaskan pandangan sejauh mata menjangkau. Luas, namun pasti memiliki tepi.


"Dilara, dalam dekapan senja aku memohon sebuah asa agar rumah tangga kita lebih berwarna karena semesta berkenan memberikan warna yang bukan sekedar fana."


"Aku harap kita bukanlah senja, yang sekedar bersama. Saling melihat tapi tidak saling terikat, saling menatap namun tak jua menetap," lirih sang architect muda nan berbakat.


Ezra masih melihat ke luar jendela, belum puas rasanya ia mengadu pada sang Bayu, yang mungkin akan melunturkan kekauan hubungan mereka.


Memang benar, senja ibarat sebuah candu. Selalu ditunggu meski hadirnya sejenak, hanya agar dapat melepas rindu.

__ADS_1


Lima jam kemudian, Soetta Indonesia.


Kedua pria perlente menjejakkan kaki kembali ke tanah air setelah berbulan meninggalkan pangkuan ibu Pertiwi.


"Langsung pulang Bos? aku nginap ya, malas pulang," pinta Rolex.


"Iya, aku ingin ketemu Dila, biasanya jam segini dia bentar lagi bakalan bangun buat tahajud," ucap Ezra seraya menarik cepat travel bag miliknya.


Satu jam kemudian, PIK Tower.


Menjelang dini hari, Ezra membuka pintu unitnya pelan.


Biiipp.


"My home, aku pulang. Dila," gumam Ezra, meski wajahnya lelah namun sebaris senyum tercetak samar di bibirnya.


"Lex, selamat istirahat. Besok aku gak ngantor dulu," ujar Ezra menoleh ke sisi kanan dimana sang asisten nyeleneh itu berdiri masih membenahi bawaannya.


"Ok, Bos. Selamat melepas rindu." Rolex menarik travel bag menuju kamar tamu yang terletak di sebelah kanan ruang kerja tuan mudanya.


Setelah kepergian Rolex, Ezra memandang sekeliling.


Lelaki tampan keturunan Emery, sibuk membenahi semua perlengkapan miliknya yang baru saja ia bongkar dari travel bag.


Semua skincare milik Dilara yang masih utuh, ia tata bersebelahan dengan miliknya didalam bathroom.


Menggantungkan satu lagi bathrobe hitam di sana. Menggeser tempat sabun juga shampo, meletakkan kepunyaan istrinya berderet rapi dalam wadah stainless disudut shower cabin.


"Apalagi ya?"


Ia memandang puas hasil kerjanya, semua miliknya kini bersanding dengan milik gadis kecil itu.


"Baru gini aja aku udah happy. Semoga dia mau pindah, tapi aku gak akan maksa. Namanya juga gak cinta, sabar Za. Pelan-pelan diperbaiki," ucapnya memberi tekad pada dirinya sendiri.


Setelah memisahkan baju kotor dalam keranjang, ia pun bergegas mandi sekaligus berwudhu.


"Dila bangun belum ya? sudah mau jam tiga pagi," ujarnya terburu keluar dari bathroom, berganti baju lalu melakukan dua rokaat sunnah.


Dua puluh berlalu.


Lelaki tampan dengan rambut basah serta sisa tetesan air wudhu masih membasahi wajah, melangkahkan kaki turun ke lantai dasar.

__ADS_1


Ia mendengar suara berisik namun samar dari arah dapur. Dengan langkah mengendap, Ezra menghampiri sumber suara.


Degh.


"Alhamdulillah, Sayang." Batin Ezra kala melihat istrinya sedang berdiri di pantry, nampak membuat sesuatu.


"Lapar kan? sabar ya, Bunda hangatkan dimsum nya dulu dan bikin air jahe, biar kamu hangat. Setelah ini, kita mandi yuk. Sudah jelang subuh," ucap Dila lembut, mengajak berbicara pada bayi dalam perut yang terus menendang karena kelaparan hingga dirinya tak dapat tidur dengan lelap.


Ezra diam, berdiri jauh dari pintu pantry agar helaan nafasnya tak terdengar Dilara, sehingga ia dapat lebih lama memandang sosok mungil yang kini terlihat lebih berisi.


"Kamu hamil hampir enam bulan, namun tak terlihat mengandung jika dilihat dari belakang, Sayang," ucap Ezra dalam hati.


Dilara tak enah hati, ia menyentuh tengkuknya. Rasanya ada seseorang yang memandangi punggungnya namun ia tak berani menoleh.


Ezra menyadari gestur tubuh Dila yang mulai tak nyaman. Perlahan dia mendekat.


Sementara, debaran jantung wanita hamil makin intens berpacu, merasa bahaya mengancam, Dilara pun meraih pisau dalam. jangkauannya.


Saat hendak berbalik.


Sett. Ezra menahan tangan Dila diudara, tak mengizinkan wanita itu berbalik badan.


Grep.


"Ini aku, Sayang. Aku."


Ezra memeluk Nyonya muda, yang ia rindukan dari belakang. Menciumi pucuk kepala yang terbalut hijab marun tua lalu menyimpan kepalanya di bahu kiri, rambut basah itu menyentuh pipi gembil istrinya.


Tubuh yang terasa lebih berisi hanya diam mematung. Ia mengenali bau ini, wangi yang sangat dirindukan namun tak kuasa bibir mengucap.


Dilara mulai terisak pelan, dalam dekapan lengan Ezra yang memeluk erat diatas dadanya.


"Maaf. Maafkan aku...."


.


.


...________________________...


...Kasih Visual Dila gak ya sekarang? apa nanti? kalau udah glow up? 🙄...

__ADS_1


__ADS_2