
Seperti rencana sebelumnya, kedua wanita dari hunian dilantai 10 PIK Tower itu kini telah berada di rumah sakit.
Nyonya muda Ezra tengah di periksa oleh dokter wanita. Bibi memaksa ikut masuk ke dalam bilik yang tersekat tirai agar ia dapat melihat dengan jelas perkembangan cucunya.
"Dok, ini apa?" tanya Bi Inah.
"Itu bakal jadi tempat si kecil berkembang, ini janinnya dan suara detak jantung, kuat, sehat in sya Allah. Usianya baru genap empat minggu, menurut perhitungan siklus haid," ungkap dokter pada Bibi.
"Ada keluhan tidak Nyonya?" dokter beralih bertanya pada Dilara.
"Enggak begitu. Hanya terkadang mual dini hari atau menjelang petang." Nyonya muda enggan bicara, maka dia menulis diatas catatannya.
"Nanti cek darah ya, setelah keluar hasilnya jika ingin kembali konsul kemari, silakan. Atau bila ke dokter gizi, itu lebih baik. Usahakan stretching ringan ya agar tetap bugar," saran dokter kemudian.
"Baik. Terimakasih, Dok." Dilara mengucapkan terimakasih dalam bahasa isyarat. Ia dibantu oleh suster merapikan kembali pakaiannya.
Dokter lebih banyak bicara pada Bibi karena merasa komunikasi mereka lebih cepat dan lancar bila dibandingkan dengannya.
Dilara memaklumi itu, lagipula dia memang sedang enggan mengeluarkan suaranya.
Lima belas menit kemudian.
Keduanya keluar dari ruangan Dokter Obgyn menuju instalasi farmasi, tak jauh dari sana.
Tiba-tiba, saat akan menyerahkan slip resep dari dokter. Sebuah suara mengejutkan mereka.
"Dila, Dilara...." Seru seorang pria.
Kedua wanita ini menoleh ke arah sumber suara.
"Ustadz Zaky?" tanya Dila.
"Iya, alhamdulillah ketemu disini ya, sakit?" tanya Zaky.
"Enggak. Aku...."
"Loh, Dila sudah bisa mendengar? dan lancar bicara?" manik mata pria berwajah menawan, yang pernah singgah di hati Dilara, menorehkan senyum sekaligus kekaguman.
"Sedikit. Ustad dengan siapa?" tanya Dila karena ia tak melihat siapapun disamping pria itu.
"Dengan istri, nanti Ana kenalkan. Pasti kamu terkejut jika mengetahui siapa dia...."
"Biasa aja, gak akan ngaruh sama Non Dila. Suaminya lebih tampan," Bi Inah nyeletuk begitu saja. Ia tak suka majikan wanitanya di tatap oleh pria lain selain anak asuhnya itu.
"Bi, gak sopan dan gak nyambung," tegur Dila.
__ADS_1
"Afwan, Ana Zaky. Dulu pernah ngajar di pondokan Yai Sa'id. Beliau santri tak langsung yang ikut kajian, Ana paham Dilara sudah menikah dengan Tuan Qavi. Ini hanya sekedar memastikan saja bahwa kami pernah satu naungan... afwan Dila, permisi. Assalamu'alaikum," Zaky pamit dari hadapan keduanya.
Bi Inah melengos, melenggang pergi mengambil obat-obatan dan membayar tagihan. Dia tak suka bila ada yang menyapa Nona muda milik tuannya itu.
"Ustadz, tinggal di Jakarta?" tanya Dila menahan langkah pria itu.
"Betul, disekitar sini ko. Ada misi jadi Ana dipindahkan ke Yayasan Yai Sa'id yang di Jakarta, monggo Dila, Bu," imbuhnya lagi melanjutkan langkah. Meski Zaky tahu, wanita tadi tak mengindahkan kehadirannya.
"Wa'alaikumussalaam ... Siapa istrinya ya?"
"Non, ayo pulang."
"Obatnya?" tanya Dila heran, ia merasa tak ada yang memanggil namanya.
"Ini, daritadi ngelamun sih? naksir laki-laki tadi? dosa loh," tegur Bibi sembari mengangkat tangan kanan yang memegang kantong berisi obat-obatan.
"Dih, Bibi ko sewot? aku gak ngelamunin siapa-siapa ko. Lagian hatiku sudah gak muat, penuh sama Abang," bisik Dila sambil lalu meninggalkan wanita paruh baya yang tercetak senyum mengembang diwajahnya.
"Alhamdulillah, Non ... Non, tunggu ih, tega amat ninggalin emaknya."
...***...
Satu jam kemudian, PIK Tower.
Wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengabarkan pada sang tuan muda.
"Den, belanjaan tadi bayarnya pake kartu ya? Non Dila memaksa," lapor sang asisten, termasuk menjelaskan kondisi kandungan Dilara dan saran menu sehat hasil konsultasi singkat dengan petugas farmasi tadi siang.
"Makasih ya Bi, keduanya sehat? ... lain kali jangan. Iya, memang itu kartu dariku untuk semua kebutuhannya ... Bibi tahu gak? barusan ada dana masuk sejumlah yang dikeluarkan. Dilara cerdas, ia bisa mengetahui nomer rekening kartu itu, dari website M-banking miliknya," jelas Ezra.
"Alhamdulillah sehat semua Den ... waduh, Bibi gak tahu. Lagipula kenapa harus sembunyi-sembunyi begini sih Den? gak langsung aja nanya sama beliau?"
Ezra terdiam. Dia punya alasan yang baginya masuk akal.
"Bi, pekerjaan aku kali ini banyak berpindah tempat. Membangun sebuah tunnel dengan tiga architect lainnya itu gak mudah buat aku. Pemikiran dan karakter kami berbeda makanya butuh waktu agar sinkron."
"Jangka waktu yang kami punya untuk membuat struktur kokoh tunnel ini menguras tenaga, waktu dan pikiran. Belum lagi faktor keselamatan."
"Aku bagai cacing, hidup di dalam tanah. Tak selalu dapat menghubungi kalian. Bibi mungkin bisa mengerti sikon aku, namun Dila, belum tentu."
"Kan moodnya sering berubah. Aku gak ingin dia stres hanya karena memikirkan keselamatan atau menunggu kabarku ... aku juga beban, tertekan bila tak segera menghubungi nya ... Bibi paham kan maksudku?"
"Iya Den, menjaga hati agar emosi Non Dila sehat. Lebih baik dia gak tahu. Maaf ya Den, Bibi baru ngerti sekarang," sesalnya tak peka.
"Gak apa. Titip Dila ya Bi, kirimkan semua benda yang sering dia gunakan, kegiatan dia dan lainnya. Aku kangen dia," suara Ezra terputus-putus.
__ADS_1
"Den, Den ... iya iya, pokoknya siap. Hati-hati disana. Lekas pulang ya," Bi Inah terbawa suasana melow.
"Aku akan menebus waktu kami yang terbuang begitu saja," ujarnya menutup panggilan.
Bi Inah memandangi gawai jadul miliknya. Rasanya tak tega melihat Ezra berjuang sendiri. Bahkan Tuan besar tidak mengetahui perihal masalah keuangan perusahaan putranya.
"Kamu pinter nyembunyiin masalah sejak dulu. Sing kuat ya Den."
Netra tuanya melihat jam dinding diatas pintu kamar sederhana. Menjelang larut malam, tubuh renta itupun berangsur masuk dalam buaian peraduan.
...***...
China.
Lelaki yang biasanya berpenampilan rapi. Hari ini terlihat stres berat. Belum ada titik temu untuk struktur bagunan kedua dalam site plan yang akan diajukan lusa nanti.
Jika begini terus, ia akan lebih lama pulang. Hatinya tak tenang mengingat laporan Sonny yang mengatakan bahwa kepergian wanitanya hari ini, diikuti sejumlah pria asing. Meski berhasil di halau team miliknya namun tetap saja, Ezra khawatir.
"Jaga mereka ya Allah. Jaga anak istriku, jika dosaku kian menumpuk maka timpakan lah hanya padaku," gumam Ezra saat memandang foto hasil usg yang Sonny kirimkan padanya.
Ezra lupa, Handphone Bibi sudah seharusnya diganti. Maka mumpung ada signal, ia pun mengirim pesan pada Sonny agar membelikan beliau sebuah ponsel baru.
"Bos, mulai kangen ya? belum juga satu pekan," sindir Rolex saat melihat Tuan mudanya sangat gundah hari ini.
"Anakku, Lex." Ezra tak menanggapi sindiran asistennya itu. Ia justru memperlihatkan foto usg milik Dilara padanya.
"Gimana rasanya, Bos?" bisik Rolex.
"Happy ... entah, gimana sih? bingung jelasinnya, jomblo lapuk gak akan paham," ujar Ezra bangkit meninggalkan pria yang secara usia tak berbeda jauh dengannya itu.
"Bos, jawab dulu ... gimana rasanya?"
"Tadi udah jawab," seru Ezra terus menjauh.
"Bukan itu."
"Lalu?"
.
.
...________________________...
...Anu Bos... Anu... Nganu.. Maaf baru UP ya, mommy ngebut kerjaan... ...
__ADS_1