SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 113. MISTERI BOX IDENTITY


__ADS_3

"Daddy, Shan miss you," kalimat itu berulang kali keluar dari mulut mungilnya.


Ezra hanya mendengar, tak menampik semua yang Shan keluhkan. Usianya belum genap dua tahun, namun perkembangan sang putra, diatas anak seumurannya.


"Kak Dila." Mita duduk di kursi sebelah iparnya itu, mereka pun saling memeluk.


Peristiwa sendu berlangsung beberapa menit ke depan, hingga Shan kembali berkata setelah Ezra menghapus air mata dari wajah chubby itu lalu menghujani dengan kecupan.


"Lanjutkan makan ya, lalu kita pulang. Shan kesini sedang vacation, holiday kan? jadi kita harus happy, no more sedih lagi. Ok?" ucap Ezra mengusap pipi tomat Shan.


Bocah yang masih enggan melepaskan pelukan, hanya mengangguk mengikuti arahan sang ayah. Dia meminta pada Ezra agar menyuapkan sisa donut juga minumannya.


Ermita, hanya berani menatap dari seberang meja. Dia masih sungkan mengganggu keintiman yang baru saja tercipta. Akan tetapi moment mengharukan tadi berhasil dia abadikan dengan kamera ponselnya.


"Shan, kenalkan Onty Mita. Adik Ayah yang tinggal di sini, Indonesia," ujar Dilara mengenalkan keduanya.


"Hallo Shan." Mita melambaikan tangan dan tersenyum manis untuk keponakannya yang lucu.


Namun, Batita itu hanya diam tak menanggapi perkataan ibunya.


"Shan...." tegur Dila lagi.


Tik. Tok. Tik. Tok.


"Shan, gak boleh mengabaikan Bunda, Nak," kali ini Ezra ikut menasehati.


"Aku hanya mau daddy," jawab Shan cuek kembali memeluk ayahnya.


"Hmmm, anak Ayah ya. Ok, Bunda pulang ke Dubai lagi nih," Dila berpura beranjak mengajak Mita untuk memilih snack bagi suaminya.


Shan tak bergeming, dia masih mengacuhkan Bundanya.


Satu detik.


Dua detik.


"Mommyyyyyyyy...." teriakannya terdengar, tak lama setelah Dilara pergi menjauh.


"Ssstt ... Bunda cuma godain Shan aja. Mau beliin snack untuk Ayah. Tuh...." ujar Ezra menunjukkan kemana ibunya pergi.


"Shan mau berdua." Dia merajuk, bibirnya mengerucut tanda Shan kesal.


"Maksud Shan, mau berdua sama Bunda atau Ayah?"


"Both of you, Moms and Dad." Batita bertubuh gemuk itu mendekap sang ayah erat, enggan melepaskan cekalan tangannya yang melingkar di lengan kanan Ezra.


"My boy."


Keluarga kecilnya sementara ini lengkap meski hanya untuk dua hari. Inginnya seterusnya tapi tergantung bagaimana keputusan Dilara nanti. Karena Ezra telah berjanji, di masa ini dia akan meloloskan segala permintaan istri kecilnya itu.


Selang satu jam kemudian.


Shan hanya mau dekat dengan ayahnya. Saat Ezra memegang kemudi pun, dia meminta daddy agar diizinkan duduk di pangkuan. Dilara melarang karena takut mengganggu konsentrasi saat mengemudi, namun Ezra mengabulkan.

__ADS_1


"Pulang ke Mansion atau rumah Ibu, Sayang?" tanya Ezra saat mobil mereka keluar dari Bandara.


"Ibu. Mahira sudah menunggu di sana. Abang, tidur dimana?" tanya Dila bingung, mereka tidak boleh satu atap, juga karena bukan publik area.


"Sama kamu lah."


"Eh Pak. Bukan mahram, Bapak ke pondok saja. Kata Mahira, kita di rumah Ibu di temani santri wanita. Lagian jarak pondok dengan rumah Ibu kan dekat," ujar Mita menyela obrolan pasangan muda.


"Ide bagus," sahut Dila cepat.


"Shan, bobok sama Ayah ya. Dengan Eyang Yai," ajak Ezra pada putranya.


Hening. Tak ada sahutan.


"Tidur ... ya ampun, Kak Dila anaknya gemesin sih. Pengen cubit pipinya," ujar Mita saat mengintip Shan dari celah kursi bagian belakang.


"Boleh cium tapi Shan gak suka di cubit pipinya. Nanti ngambek kayak tadi, gak mau ngomong," jawab Dila atas ucapan Mita, sang adik ipar.


Dilara tampak tak tenang, berkali ia berusaha melihat posisi duduk Shan di jok depan. Dirinya khawatir bocah gemuknya akan merasa pegal saat bangun nanti.


"Posisi tidurnya nyaman gak," Ibu muda ini mulai senewen.


Ezra mengerti, dia menepikan sejenak kendaraan yang mereka gunakan. Pria beranak satu itu menarik tuas di sisi kursi Shan agar lebih landai dan nyaman untuk berbaring.


"Segini sudah cukup, Sayang? Kamu sempit gak di situ?" Ezra menoleh ke arah kirinya, memastikan posisi duduk sang istri juga lega.


Dilara mengangguk. "Iya, sudah lumayan landai. Aku masih cukup ruang juga di sini," jawabnya kemudian.


Mobil pun perlahan melaju kembali, mengikis jarak yang semakin dekat dengan kediaman Ruhama.


"Dilaaaaaaa," serunya. Memeluk Dilara yang baru saja keluar dari mobil.


"Shan, mana? aku gak sabar mau peluk, guwes-guwes, jiwel-jiwel, unyel-unyel," kekehnya saat mereka mengurai pelukan.


Ezra dan Mita tak memedulikan kedua wanita yang masih asik bercengkrama di sisi mobil, hingga lelaki tampan itu membopong Shan masuk ke dalam rumah.


"Cakep sih, tampan," pekik Mahira sekilas melihat Shan.


"Bibit unggul dari Ayahnya, gimana gak tampan coba anakku," sahut Ezra sambil lalu, tak lupa mengajak istrinya untuk segera masuk.


Ermita persis sang kakak, telaten tanpa banyak bicara menata semua bawaan Dila ke kamar Ibu bersama dengan ransel miliknya. Ezra pun membaringkan Shan di atas ranjang.


"Kak Dila, aku tidur bareng ya di sini. Dengan Mahira juga kita sekamar ... Shan dengan Kak Ezra kan?" tanya Mita pada dua orang berbeda.


"Pake tambahan tempat tidur di bawah, kan gak muat bertiga. Ada Shan pula," saran Dila. Mahira mengangguk, ia terlihat sigap menyiapkan semuanya.


"Sayang, aku tidur di mobil saja, agar tenang nemenin kalian disini ... tapi, temani aku makan dulu ya. Mita bawa bekal dari rumah," pinta Ezra kemudian yang diangguki oleh wanita cantik itu.


Dua orang santri khidmah membantu Mahira dan Mita, mulai menggelar tikar di ruang tamu lalu menata makanan di atas sufrah. Sementara Dila menyiapkan air hangat untuk mereka mandi.


Dua jam dilewati dengan canda tawa, ruang tamu rumah Ruhama seketika kembali menghangat atas kehadiran putri angkat yang telah lama meninggalkan kota ini. Hingga jelang tengah malam, para penghuni mulai masuk ke kamar dan Ezra mengunci pintu depan dari luar, agar ia tenang beristirahat di dalam mobil.


Satu jam ke depan para wanita muda masih menghabiskan waktu dengan canda tawa yang lama tak mereka bagi. Perlahan satu persatu netra lelah itu mulai menutup memasuki alam mimpi.

__ADS_1


Satu jam sebelum subuh.


Mahira sudah bangun, terdengar suara gaduh didapur tanda dia tengah memasak air untuk mandi. Dila pun membuka mata, melihat sekeliling kamar. Ia kangen dengan daster Ibu yang kerap menggantung di belakang pintu. Perlahan dirinya menurunkan kaki dari atas ranjang, bangkit dan menjulurkan jemari membuka lemari.


Lama ia memandangi tumpukan baju rumahan yang tersusun rapi. Mahira bilang, dia tak berani melakukan permintaan Dilara agar membagikan pakaian ibu.


"Bismillah, biar jadi manfaat ya Bu. Baju yang masih layak pakai dan bagus, Dila bagi," ucapnya lirih.


Tangannya menarik satu persatu tumpukan pakaian dari tempatnya. Memilah antara layak dan tidak, hingga.


Pluk.


Bunyi sebuah benda berwarna coklat, jatuh dari atas rak, saat Dila menarik baju paling bawah.


"Eh, amplop apa ini?" tangan berhias cincin nikah couple itu meraih barang yang terjatuh.


Matanya memicing melihat isi amplop usang di dalamnya. Kemudian, jari lentik Dilara menarik kertas dari sana.


Tring.


Kali ini bunyi nyaring, seperti sebuah perhiasan yang jatuh. Dila pun berjongkok, mencari kemana arah sumber bunyi saat benda itu tergelincir tadi.


"Nah, ketemu. Ka-lung? milik siapa? liontin huruf D ... indah sekali," binar matanya takjub melihat perhiasan klasik di telapak tangan.


"Mommy...." suara serak Shan mencari Dila.


"Ya sayang, Shan mau sholat subuh juga, dengan Ayah? kalau iya, yuk mandi dulu," ujar Bunda seraya mendekati sang putra yang masih malas membuka mata.


Dila meletakkan surat juga perhiasan yang baru saja dia temukan di atas meja rias ibu. Bersebelahan dengan tumpukan baju yang masih layak pakai.


Tok. Tok.


"Sayang, aku subuh di Masjid pondok ya. Shan bangun belum?" suara Ezra memanggil dari luar.


"Sudah tapi malas bangun, mau sama Ayah." Dila menirukan keluhan putranya saat bangun tadi. Sedangkan Shan, hanya tertawa mendengar Bunda menirukan suaranya.


"Aku masuk ya, Mita belum bangun?"


"Belum, masih tidur, pulas."


Ezra masuk ke kamar Ruhama sementara Dilara langsung keluar ruangan menuju dapur bergabung dengan Mahira.


Saat lelaki itu membujuk putranya agar lekas bangun dan mandi. Tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang berkilau di meja rias samping tempat tidur, karena terkena pantulan cahaya lampu.


Jemari kanan Ezra, meraih benda yang menarik perhatiannya.


"Apa ini? surat, tapi sudah usang? milik ibu kah? atau wasiat? dan ini, perhiasan siapa?"


Menantu almarhumah Ruhama, memilih meletakkan kembali kedua barang yang mencurigakan itu di tempat semula. Ia akan mengurus putranya dahulu dan membangunkan Mita.


"Surat siapa ya? penasaran, apa Dila sudah baca?"


.

__ADS_1


.


...________________________...


__ADS_2