SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 46. KEBIASAAN YANG TERTUKAR


__ADS_3

"Hah, pergi lagi?" tanya Dilara disela rasa mual hebatnya.


"Iya, Den Ezra menitipkan surat buat Non Dila. Dibaca ya nanti," ujar Bibi.


Hampir sepuluh menit berdiri di depan wastafel membuat gadis yang tengah hamil muda itu lemas.


Bi Inah membawanya duduk di kursi makan. Ia lalu membuat secangkir lemon tea hangat untuk meredam rasa mual yang masih kerap hadir.


"Diminum," pinta Bibi.


"Kopi, boleh? hmm pake...."


"Pake apa?" tanya Bibi lagi


"Cawan yang biasa di pake Abang." Dila mengambil satu lembar kertas kecil dari blocknote di atas meja makan. Ia menulis keinginannya.


Semenjak Dilara menghindari Ezra meski pria itu yang meminta hal demikian. Diam-diam keturunan Emery itu menyediakan buku catatan serta pulpen di setiap sudut ruang.


Meja keluarga, ruang tamu, buffet pajangan, pantry, meja makan, dapur, bahkan di ruang cuci dan jemur. Lantai dua pun tak luput dengan hal yang sama.


Ezra El Qavi, telah banyak berubah tanpa banyak yang menyadari, bahkan wanitanya.


"Boleh. Tapi dikit aja ya," ujar Bibi kembali ke dapur setelah membaca tulisan Nonanya itu.


Gadis manis itu mengangguk antusias keinginannya dikabulkan Bibi.


"Ini, habiskan." Bi Inah menaruh cangkir kopi di hadapan Dila.


Jemari kurus itupun mengangkat gagang cangkir perlahan. Menghirup aroma khas kopi seperti angan dalam benaknya. Ia memejamkan mata, membiarkan wanginya merasuk hingga ke sukma.


"Bumil itu begitu, minum kopi aja pake gaya dan drama," ujar Bibi melihat Dila begitu menikmati wangi kopi panas yang baru disajikan.


Dila meletakkan cangkirnya lalu menulis kalimat panjang. "Wangi banget Bi, sayang kalau diminum. Aku kalau liat Abang mau minum kopi kan gitu. Kopinya di baui dulu, baru di cecap."


"Diam-diam suka merhatiin ya, pantes cinta," tebak Bibi.


Dilara hanya tersenyum mendengar penuturan wanita bagai ibunya itu.


Sementara di pesawat.


Rolex bingung, tuan mudanya bolak balik toilet karena mual.


"Seperti baru pertama kali naik pesawat saja, Bos," sindir Rolex.


"Aku juga gak ngerti, tadi kan udah breakfast sebelum boarding," sahut Ezra saat telah selesai membuang has-rat mualnya itu.


Dengan langkah lemas, dia kembali ke kabin miliknya. Ia mencari sesuatu di dalam tas kecil hitam yang ditenteng sejak tadi.


"Cari apa Bos? sini aku bantu," tawar Rolex melihat Ezra sibuk mencari sesuatu yang tak kunjung dapat.


"Tisu basah Dila, tolong," ujarnya menyerahkan tas kecil hitam itu pada Rolex.

__ADS_1


"Apel, apel, apel, ya ampun. Ini semua skincare Nona, parfum juga?" gumam Rolex kala melihat isinya.


Pantas saja sejak boarding tadi, Rolex terheran karena Ezra tak pernah membawa pouch apapun selain tab dan ponsel jika bepergian. Semua peralatan kerja ada di ransel Rolex. Namun kali ini berbeda. Tas hitam yang dipegangnya tak pernah lepas dari genggaman tangan seorang Ezra.


"Ini, Bos."


"Thanks, aku pusing. Jangan bangunkan aku." Ia menerima tisu basah dari tangan Rolex. Mengambil satu lembar lalu di tempelkan menutupi wajahnya.


"Dila, baumu sudah bikin aku kangen rumah."


Keberangkatan kali ini membuatnya berat meninggalkan rumah. Selain karena jangka waktu yang lama, dia pun khawatir akan kondisi wanita yang tengah mengandung calon bayinya itu.


Lima jam kemudian.


Rolex dikejutkan dengan langkah tergesa majikannya saat menuju toilet.


Ezra kembali mual muntah meski belum ada makanan masuk ke lambungnya sejak siang tadi.


"Lex, tolong pouch tadi dan baju gantiku," pintanya membuka pintu toilet saat Rolex mengetuk beberapa kali.


Sang asisten membawakan baju ganti, kemeja hitam lengan panjang dengan pouch milik nyonya mudanya.


Rolex kembali mengetuk pintu toilet pelan dan menyerahkan dua benda pesanan sang Bos.


"Thanks," ujarnya saat menerima uluran benda dari tangan Rolex.


"Dila, ya Allah. Kamu nyumpahin apa sama aku?" keluhnya menahan perih akibat matanya memejam saat mual tadi.


"Bener-bener ini sih," Rolex menggelengkan kepalanya heran.


"Makananku mana? aku lapar," ujarnya saat telah duduk kembali. Rolex menyodorkan menu makan siang milik tuan mudanya yang tertunda.


"Tolong mintakan Apel atau teh apel atau sari apel, Lex," pintanya lagi pada sang asisten.


"Persis Nona. Bawaan bayi ya Bos," tebak Rolex kala lelaki itu berdiri hendak menuju pantry dimana flight attendant berada.


Degh.


"Betulkah? tapi aku memang nyaman dengan bau dia dan anehnya mual seketika hilang. Untung Bibi mengingatkan dan memberikan ini padaku. Awalnya gak percaya, tapi alhamdulillah ternyata ini obatnya," gumam Ezra menyadari kebodohannya.


Tangan kanannya mengeluarkan gawai dari saku celana. Dia membuka galery, jemarinya menggeser cepat sejumlah foto. Ezra memandang gambar Dila yang ia ambil semalam saat wanita itu tertidur pulas.


"Kalian, sedang apa? jangan nakal ya Boy. Kasihan Bunda nanti, cukup Ayah aja yang merasakan begini," gumamnya masih memandang foto Dilara.


"Hmm, mulai cinta deh," sindir Rolex, seraya meletakkan satu cangkir sari apel hangat untuk sang tuan.


...***...


Sore hari, PIK.


Bi Inah menghampiri Dilara yang sedang duduk dikursi malas, di balkon ruang tengah. Jari keriput itu menyodorkan sebuah surat.

__ADS_1


"Baca sampai tuntas, jangan menyimpulkan sendiri. Tanya sama Bibi jika ada yang kurang dipahami," ujar Bi Inah tak lepas menatap manik mata Dilara, dengan wajah serius.


"Iya," jawab Dila.


Jantungnya berdebar saat akan membuka sampul surat berwarna merah itu.


"Assalamu'alaikum, Sayang."


Degh.


Degh.


Degh.


"Sa-yang ... say-say-ang?" lirihnya.


Dila mengucek matanya berkali, tidak salah bacakah? atau ini bukan surat untuknya?


Gadis itu membolak balik kertas yang ia pegang, hingga Bibi menegur atas perilakunya itu.


"Buat Non Dila. Kan jelas itu di sampul tertulis ... Dilara Huwaida ... disini yang dari namanya saja cantik begitu, siapa lagi? gak mungkin juga itu nama lain Rolex atau sonny, apalagi Bibi," Bi Inah gemas sendiri, meski ia tak kuasa menahan senyum atas sikap polos majikan ciliknya.


"Eh, iya ya." Dila kikuk menyadari kebodohannya. Ia pun melanjutkan membaca barisan kalimat yang tertata rapi.


"Sedang apa? maaf aku pergi gak pamit padamu. Semalam pulang jelang dini hari, dan harus pergi lagi pagi-pagi."


"Aku ke China, selama lima bulan. Terpaksa pergi karena jika tidak, maka keberlangsungan hidup ratusan pegawai yang bergantung padaku, berada diujung tanduk."


"Doakan agar apa yang ku kerjakan di sana berjalan lancar dan dapat pulang secepat yang aku mampu, ya Dila."


"Jangan terlalu lelah. Ikuti nasehat Bibi selama aku gak ada di rumah."


"Jaga diri baik-baik. Setelah aku pulang, kita ke Surabaya menemui Ibu dan Mita, syukuran di sana, Ok?"


"Sejujurnya, kali ini aku berat meninggalkan mu, Dila...."


Menantu Emery El Qavi terdiam, mengulang ulang barisan kalimat hasil tulisan tangan suaminya.


"Abang minta aku mendoakannya? dia juga bilang berat meninggalkanku?"


"Ini maksudnya, Abang? sama aku?"


.


.


...________________________...


...Mbok Bang Ezra kalau nulis itu yang jelas, tau ndiri cewek mah suka pura-pura gak paham. Pengen jebret jebret yang jelas 😂 gak pake kiasan, umpamaan dsb.....


...Mommy tunggu kembang setaman, atau kopi dari kesayangan juga boleh haha.....

__ADS_1


__ADS_2