
"Assalamu'alaikum." Suara Ezra di depan pintu kamar tamu yang terbuka, dimana Dila berada.
Para wanita menoleh ke sumber suara. Suami tampan menantu Devana berdiri berdampingan dengan Akbar dan seorang ustadz terpandang di karanganyar.
"Wa'alaikumsalam," jawab pendamping mempelai wanita bersama.
"Punten, Nak Ezra mau serahkan mahar juga mendoakan kebaikan untuk rumah tangga mereka," sesepuh membuka obrolan masih di depan pintu.
Pasangan yang baru saja menikah ulang, mengenakan setelan couple berwarna marun. Gamis juga hijab panjang Dila, terlihat biasa saja namun justru karena kesederhanaan itulah, memancarkan kecantikan alami sang Nyonya muda. Sedangkan busana Ezra juga Shan, hanya memakai kemeja koko casual dengan cutting tak kalah simple.
"Silakan masuk," ujar Davina membuka lebar kedua daun pintu agar para pria bergabung dengan mereka.
Kedua kakak beradik putri Danuarta, Ermita juga Shan menepi ke sisi kiri Dila. Berjajar rapi didepan lemari sementara ketiga pria berdiri di belakang Ezra.
Putra Emery duduk disamping Dila, saat sang ustad mendoakan keduanya.
"Kita keluar dulu, beri mereka waktu berdua sebelum ramah tamah sepuluh menit lagi," ujar Davina pada semua penghuni yang masih berada di dalam kamar, tepat setelah mengamini doa.
Senyum mengembang di wajah mereka. Mita mengajak Shan agar menjauh sejenak dari orang tuanya, bergabung dengan anak-anak panti asuhan yang Vina kumpulkan di pendopo.
Sementara Akbar, berusaha menahan Devanagari dan mengejar ke teras samping. Lelaki ini meminta waktu untuk bicara. Namun bunda Dila masih enggan menerima kehadiran pria yang dulu pernah mengisi hidupnya hingga ia terus menghindar dari kejaran Akbar.
"Tinggalkan aku. Nanti lagi jika ingin bicara serius, hari ini kebahagiaan ku dan Dila. Jangan merusaknya," ketus Deva kemudian, berharap lelaki itu menyerah.
"Ok. Aku tidak akan pergi selama kita belum bicara," Akbar mengikuti kemauan wanita yang masih ayu meski sudah memasuki usia awal empat puluh tahun. Dia meninggalkan Devana diteras belakang, seorang diri.
Sendiri dalam sunyi, karena semua orang fokus di area depan rumah. Devana tenang memandang halaman luas yang tak pernah ia lihat semenjak menginjakkan kaki kembali ke rumah ini.
"Sudah berapa puluh tahun, namun keasriannya masih sama, bahkan lebih rindang dan modern," gumamnya seorang diri.
Asik menikmati desiran angin malam yang sejuk, samar ia mendengar seorang wanita terkekeh. Rasa penasaran menjalar diri yang telah lama abai pada sekitar. Deva mengendap menuju sumber suara.
Tak mengerti siapa dan apa, tengah dikerjakan oleh wanita itu, seperti bukan sesuatu yang baik. Deva, mengamati dari tempat persembunyiannya diam-diam.
...*...
Sementara di dalam kamar.
Bukan hanya Dila yang dilanda kecanggungan berada sedekat ini dengan Ezra setelah banyak hal mereka lewati. Putra Emery pun terlihat bingung, akan memulai dari mana.
Hening.
Degh.
Degh.
"A-abang."
"Sayang."
Keduanya saling menatap, membagi senyuman manis, mencairkan suasana.
"Kamu duluan, Sayang."
Degh.
__ADS_1
Degh.
"A-abang, gak bacain doa buat aku?" tanya Dila sekilas melirik padanya lalu menunduk.
"Lupa. Kamu sih, cantik kebangetan."
"Gak ada hubungannya sama itu, ayo bismillah." Dila menyerongkan tubuh agar Ezra lebih mudah membacakan doa kebaikan baginya.
Ezra lalu memperbaiki posisi duduk agar mereka berhadapan. Kini dia lebih leluasa memandang wajah sang istri. Perlahan, jemari kekar pun terjulur meraih dagu Dilara, mendongakkan kepala putri tunggal Devana agar pemandangan ayu itu lebih tegas terukir dalam ingatan.
"Bismillah."
C-up. Ezra mengecup cepat bibir tipis sensual yang sedari tadi menggoda.
Binar mata Dila membelalak sempurna. Dia terkejut sekaligus kesal. "Ish, bismillah itu maksudnya buat baca doa Abang, bukan begini?"
Ezra justru tertawa. "Salah ya? kan itu di sunnah kan juga Sayang, menunjukkan welas asih bagi istriku," ujarnya sengaja menggoda Dila yang masih saja malu jika sedang berduaan.
"Ulangi deh ya ... sini donk."
Dila beringsut mundur. "Baca doa dulu, ayo," cebiknya sebal.
"Bangun yuk, baca doanya sambil berdiri," pinta Ezra mempunyai maksud tersembunyi dalam kalimatnya.
Dilara yang polos, mengikuti permintaan suaminya itu. Tanpa mencurigai sesuatu, dia pun bangkit. Namun...
"Aaah," pekik Dila seraya menutup mulut, sadar suaranya meninggi karena terkejut.
Menantu Devanagari, menarik lengan kanan Dila hingga wanita itu jatuh terduduk di pangkuan Ezra. Lalu mendekapnya erat.
Tangan kanannya meraih wajah Dila agar menempel dengan kulitnya. Kemudian dia membisikkan banyak doa dan harapan untuk kekasih hati dalam pelukan.
"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi. Aamiin."
Ezra mencium pipi Dila, lalu membuat wajah merona itu menghadapnya.
"Aamiin," lirih Dilara, menatap dalam kedua manik mata dengan iris hitam.
"Jangan tinggalin aku lagi, yaa Sayang. Tegur jika salah dan aku janji akan dengerin kamu. Ok?"
Dilara huwaida hanya diam, lalu menunduk seraya mengangguk tak lagi kuasa menerima ketulusan yang terpancar dari iris hitam mempesona.
"Aku minta, teruslah sabar menghadapi aku. Beritahu cara yang benar padaku agar dapat berkeluh kesah dengan leluasa pada Abang nanti,," balas Dila.
Ezra mengerti, sikap diam Dila karena belum sepenuhnya percaya padanya dulu. Dia pun tersenyum menyadari kesalahannya kala itu.
"In sya Allah. Sama-sama ya Dila, belajar jadi orang tua yang baik untuk Shan juga adik-adiknya kelak. Nambah segera ya Sayang, mau kan?" pintanya masih mendekap tubuh Bunda Shan dalam pangkuan.
"Eh, Shan baru juga ketemu sama Daddynya, masa udah saingan sama calon adek sih? gak kasihan?" Dila ragu, meski sangat cerdas dan mandiri, namun tetap saja kodrat Shan adalah batita yang terkadang ego kerap mendominasi.
"Nanti dia juga paham, Shan cerdas, sama seperti Bundanya," kecup Ezra pada kening Dila.
"Mahar kamu, Sayang. Aku kembalikan dobel ya, dengan yang lalu. Ini bebas mau kamu gunakan untuk apa." Ezra menyerahkan kotak mahar berisi uang tunai senilai lima puluh juta rupiah.
"Banyak banget, buat apa ya?"
__ADS_1
"Besok survey yuk, panti asuhan penyandang disabilitas. Bisa kamu gunakan untuk membeli kebutuhan penunjang harian mereka, gimana?" saran Ezra yang di angguki cepat oleh Dila.
Tok. Tok.
"Kak, foto dulu. Tamu nunggu juga," suara Mita dari balik pintu.
"Ok." Ezra menjawab kali ini, namun tak jua melepaskan tautan.
"Ini lepas," Dilara mulai berontak.
"Yuk." Ezra membimbing istrinya bangun dari pangkuan agar dirinya dapat bangkit. Dila pun perlahan melangkah menjauh dari tepi tempat tidur hendak membuka pintu, sebelum jemarinya ditarik kembali oleh Ezra.
Brugh.
Tubuh Dila menabrak badan tegap Ezra. Kembali masuk dalam dekapan dada bidang pria keturunan Turki itu.
"Mau kemana sih, buru-buru amat."
C-up. C-up. C-up.
Habis sudah wajah Dilara karena banyaknya jejak kecupan basah tanda kepemilikan Ezra padanya.
"Dilanjutkan nanti," ujarnya lagi kala menghapus sudut bibir Dila yang basah akibat ulahnya.
"Ish, mesum."
Ezra tak menghiraukan protes putri Devanagari, ia menggenggam jemari Dilara keluar dari kamar bergabung dengan para tamu di pendopo.
Sepuluh menit berlalu.
Para tamu mulai meninggalkan lokasi kediaman almarhum Danuarta. Hanya tersisa keluarga Akbar, juga penghuni inti.
Anastasya lalu datang membawa minuman jeruk dingin, dia menyodorkan ke hadapan Dila. "Ayo diminum Dila, ini hadiah dari ku atas pernikahan kalian."
Ezra melarang Bunda Shan menyentuh gelas itu, hingga Anastasya marah memancing keributan yang membuat Dila tak enak hati. Putri angkat Ruhama akhirnya mengangkat gelas itu hendak meminumnya.
"Dila, jangan. Biarkan saja, toh tak ada yang menggubris ocehannya," ujar Ezra menahan telapak tangan yang memegang gelas.
Dilara meragu, melihat Ezra menggeleng samar.
"Kenapa, kau takut aku racuni Dila? picik sekali, inikah gadis berhati mulia yang di bangga-banggakan? cih, ternyata naif," cibir Anastasya.
"Jika upaya mu ini mencelakai istriku, tunggu siksaan pedih dari El Qavi," kecam Ezra pada wanita kakak seayah istrinya.
Anastasya terus memanasi suasana, hingga Dewa pun ikut hanyut dalam permainan licik wanita itu. Akbar tak dapat membela salah satunya, ia bingung memilih di antara mereka. Toh hanya minum, dan Anastasya tak mungkin mencelakai saudara sendiri, pikir pimpinan Sanjaya Grup.
Didesak oleh banyak orang, Dila terpaksa mengikuti apa yang Anastasya inginkan.
"Sayang, jangan. Percaya aku, No. Biarkan dia," bujuk Ezra masih menahan tangan Dila agar tak meneguk air dalam gelas.
"Bismillah Abang, semoga gak apa," ucap Dilara meski dalam hati meragu.
.
.
__ADS_1
...__________________________...