SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 51. FIRASAT


__ADS_3

Sesuai kesepakatan antar dua wanita pekan lalu di sebuah club. Kini keduanya kembali bertemu.


Wanita cantik semampai dengan riasan naturalnya kali ini begitu menawan bahkan di mata Cheryl.


Dia duduk dengan anggun di sudut lounge ditemani oleh satu gelas red wine. Sungguh berkelas.


"Hai," sapanya kala janda Ezra itu mendekati meja yang telah di reservasi.


"Hai ... to the point. Mana uangku?" tanya Cheryl tepat saat bo-kong sintalnya mendarat di sofa.


"Check your account," sahut Sang wanita misterius.


Simpanan seseorang yang memakai gaun dengan belahan dada rendah itu merogoh tas tangannya. Mengeluarkan benda pipih dibalut casing bertabur kristal.


"Norak," cibir Sang wanita.


"Sama seperti seseorang yang memakai kostum aneh di siang hari. Its not Halloween, please," cibirnya sinis melihat pakaian yang dikenakan oleh lawannya.


Wanita misterius ini mengenakan jubah hitam menjuntai dipadu rok skirt pendek juga belt dengan aksesoris rantai. Bagai ke pesta kostum disiang bolong, meski dia sangat cantik.


"Ok, done. Ini benda yang kau minta," Cheryl menyodorkan satu kotak hitam ke hadapan gadis itu. Tak lama, ia pun beranjak pergi.


Namun, rupanya putri pemilik perusahaan cargo itu menyadari sesuatu. Ia baru ingat sosok sombong yang baru saja bertransaksi bisnis dengannya.


"Anastasya Sanjaya. Pemegang kekuasaan Klan Sanjaya, meski posisi yang ia dapat berkat permainan cantik yang bagiku terlihat biasa. Thanks, semoga ini bisnis terakhir kita." Cheryl melenggang kembali, menghentakkan heels sepatunya selaras goyangan pinggul nan menggoda.


Anastasya hanya tersenyum sinis melihat sebongkah daging bernyawa itu pergi dari harapannya.


"Kau, akan jadi milikku. Semuanya. Kapan kau kembali? aku tak sabar ingin memberi sebuah kejutan kecil ... karena dia, tak pantas di sisimu," ujarnya seraya menyesap minuman dingin yang baru saja dia pesan.


...***...


Hari berganti, hingga beberapa bulan kemudian.


Nyonya Dilara sibuk mencari sesuatu didalam kamarnya. Ia bolak-balik kamar mandi. Karena merasa tadi pagi saat akan ke rumah sakitx semua benda miliknya masih ada, namun kini telah berganti dengan yang baru.


"Bi, sabun muka, shampo, body wash, pasta gigi. Toner, essence, micelar water, tisu, handbody bahkan sisir ku, kemana semua?" tanya Dila pada Bi Inah yang sedang berada di dapur.


"Loh, bukannya ada disana semua, Non?"

__ADS_1


"Ada, tapi kan itu baru. Dua bulan lalu juga gitu, tiba-tiba semua berganti dengan yang masih segel," ungkap Dila.


Glekk.


Bi inah terdiam sejenak. Jangan sampai ketahuan bahwa semua skincare dan body care milik sang Nyonya raib karena di ambil olehnya untuk dikirimkan pada Ezra.


Menurut Rolex, tuan mudanya itu akan mual muntah hebat bila tak ada benda bekas pakai istrinya di samping tubuh atau menemani saat Ezra bekerja.


"Ngidam yang aneh. Mahal ongkos kirim daripada produknya," keluh Bibi suatu hari pada Rolex saat aspri itu meminta dikirimkan benda yang sama. Namun Rolex hanya menanggapi dengan kata entahlah.


"Bii," Dila masih berbicara pada Bibi.


Wanita asisten rumah tangga nan sepuh ini tergagap.


"i-iya Non. Bibi gak tahu tapi coba bantu mencari," ucapnya terbata. Dia pun memilih membantu mencari semua keperluan nona mudanya itu untuk menghindari kecurigaan.


*


Sudah tiga bulan tuannya tak pulang. Kehamilan Dilara sejauh ini lancar dan tak mempunyai keluhan berarti.


Pengasuh setia sejak Ezra kecil itupun baru saja mengirimkan sebuah foto usg terbaru kepunyaan istrinya.


"Cepat pulang ya Den."


Wanita berwajah teduh ini memandang pada gawai di telapak tangannya. Ponsel baru yang dibelikan Sonny lebih canggih daripada milik sang majikan kecilnya.


Ia merasa tak pantas, tapi mau bagaimana lagi. Ezra melarang mengungkit semua yang Dila beli menggunakan uang pribadinya.


Ezra berkata padanya bahwa dirinya mencoba mengerti, sebab teringat akan kalimat yang di tulis oleh gadis itu saat lamaran dulu.


"Non, dipakai uangnya. Den Ezra udah ngasih kan? perkara dia ngasih secara kasar ya dimaafkan saja ... juga saat diberi lembaran cash, Den Ezra waktu itu kan belum sempat ngambil lagi, saat ngasih Non Dila lima ratus ribu itu, bukan dia gak punya uang."


"Kalian ini, salah paham terus. Kapan ketemunya kalau begini," keluhnya seiring nafas terhembus.


Sudah dua hari, Dilara mulai mengurung diri kembali, alasannya karena ia akhir-akhir ini sangat sering mengantuk.


...***...


Surabaya.

__ADS_1


Tuan Emery melarang Mita yang akan berkunjung ke Jakarta menemui kakak iparnya itu.


Beliau mengatakan bahwa gadis yang usianya tak terpaut jauh dengan sang menantu, harus menepati janji saat akan pindah kuliah dulu.


"Tepati janji dulu, Mit. Kan baru pindah masa udah mau cuti lagi? kapan kamu gantikan Papa di perusahaan jika begini terus?" ucap sang Ayah mencoba membujuk gadis manisnya saat merajuk didalam kamar.


"Aku penasaran, kenapa Kakak seakan menyembunyikan Dila, Pa? setiap kali di tanya kabar pasti Kakak bakalan jawab iya iya ada, disampaikan, sehat, happy ... masa gitu terus? kan aku ingin meluk kakak iparku, siapa tahu dia sudah hamil kan?" tuturnya panjang lebar berusaha meyakinkan Emery.


"Ezra gak bilang hamil ya berarti Dila belum isi, Nak. Mungkin kakakmu gak ingin di ganggu privasinya," sahut duda yang masih terlihat sangat tampan meski usianya telah memasuki setengah abad.


"Lagi nih ya, masa mau vcall aja gak boleh. Alasannya Dila lagi belajar, bobok, cape. Ah, bikin penasaran aja jadinya. Please donk Pa, tiga hari aja jelang weekend ini," Mita tetap gigih membujuk pria sepuh kesayangannya itu.


"Enggak, nanti bulan depan saja setelah kamu ujian, titik."


"Dih, itu sih dua bulan lagi donk. Lagian kakak sekarang susah banget di hubungi nya. Aneh tau Pa, coba deh Papa call...." Mita terus membombardir Emery dengan segala argumennya.


Jawaban pria pendiri klan El Qavi itu tetap bersikukuh terhadap keputusannya. Mita terlalu dimanja, ia kali ini akan sedikit lebih tegas pada anak bungsunya itu agar saat tiba waktu peralihan kepemimpinan, mental Mita telah siap.


...***...


Jakarta.


PIK Tower, lantai 10.


Hari ini Dila lebih banyak tidur. Rasa hatinya gelisah entah mengapa. Ia berkali mencoba menenangkan kegundahan dengan berwudhu dan sholat hajat agar kembali tenang, namun tetap saja was-was menyergap jiwa.


"Lindungi kami, juga suamiku di sana ya Robb. Aku tahu, pekerjaan dia kali ini sangat beresiko. Mudahkan segala urusannya, ringankan beban dipundak kokoh itu dan izinkan kami untuk bertemu kembali ... aamiin...."


Dila mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit. Ia mengajak buah hati nya itu bicara.


"Do'akan Ayah ya Nak...."


...***...


"Bos, No.... Bos!"


.


.

__ADS_1


...___________________________...


__ADS_2