
Dilara lupa memberi kabar pada Kesih bahwa ia akan pulang terlambat karena Ezra mengajak keluarga kecilnya menghabiskan waktu berjalan kaki di sepanjang dermaga hingga menemukan sebuah resto sebelum mereka kembali pulang.
Kring. Ponsel Dila berbunyi.
"Ya Kesih? aku masih dengan Shan jalan-jalan. Bentar lagi pulang ko ... Ok, thanks," jawab Dila.
"Siapa?" tanya Ezra, saat mendengar mereka bicara tadi.
"Asisten yang Nyonya Asyraf Hamid berikan untukku ... Shan, sama Bunda ya sini. Ayah pegal gendong seharian," Dila hendak meraih putranya dari dekapan Ezra.
"Jangan, biar sama aku. Dia berat. Lagipula, besok sore aku sudah harus kembali. Biarkan Shan denganku dua hari ini ya. Boleh gak?"
"Nginep sama Abang di hotel maksudnya?" tegas Dila.
"Iya, kalau boleh," Ezra memohon.
"Aku gimana? pulang sendiri? terus kalau nanti Kesih laporan ke majikannya, aku mesti jawab apa? bukannya Abang kesini itu diam-diam?"
"Andre mengizinkan, entah jika wanita itu. Kamu nginep satu hotel denganku. Pisah kamar gak apa, asal Shan malam ini tidur sama aku. Dila please," lelaki itu masih gigih memohon ketika mereka memasuki ruangan resto dan memilih tempat duduk paling ujung, jauh dari keramaian.
"Baju ganti Shan, gimana?"
"Beli baru dicuci pake laundry hotel, habis ini shopping kebutuhan Shan untuk esok. Ok?" Ezra mencoba memberikan penawaran pada Dilara, dan disetujui oleh Bunda Shan itu.
Tak lama di resto, keduanya bertolak menuju Mall ba'da Maghrib. Mungkin hari ini adalah paling membahagiakan bagi Shan. Bayi berusia enam bulan itu tak henti mengoceh jika Ezra mengajaknya bicara.
Keluarga kecil yang terlihat harmonis meski pada kenyataannya, tidak. Menyusuri berbagai outlet khusus perlengkapan bayi di sana.
Ezra lebih banyak memilih barang kebutuhan Shan hingga kelak ia berusia satu tahun ke depan.
"Ayah gak setiap saat bisa nemenin Shan dan Bunda shopping dalam masa ini. Jadi, kita puas-puasin mumpung Ayah punya kesempatan, Ok Shan?" ucapnya pada putra sulung, saat semua barang telah ia bayar, dibarengi tawa bayi menggemaskan miliknya.
"Shan aktif banget ya, kamu gak cape Sayang?"
"Lumayan, apalagi kalau rewel." Balas Dila cepat.
Keduanya menghabiskan waktu hingga jelang tengah malam baru tiba kembali di hotel. Dila memesan kamar tepat di depan ruangan Ezra.
Sementara Shan dengan sang Ayah menghabiskan sisa malam, Dila langsung memilah baju yang akan putranya kenakan esok hari. Pakaian lainnya akan dia kirimkan menggunakan jasa hotel ke tempat tinggalnya sekaligus menitipkan sebuah surat untuk Kesih. Agar esok hari, ketika mengantar Ezra pulang, tas bayinya tidak terlalu penuh.
Keesokan pagi.
__ADS_1
Setelah breakfast, keluarga kecil itu melanjutkan aktivitas selayaknya pasangan muda lain.
Mengunjungi wahana bermain. Banyak sudah moment yang Ezra abadikan sebagai kenangan pengobat kerinduan.
Hingga tiba saatnya mereka berpisah, entah kapan lagi jumpa.
Bandara.
Didepan gate keberangkatan. Mereka memulai moment pedih bagi siapapun yang melihatnya, mungkin akan terbawa suasana trenyuh.
"Bye Shan, kita jum-pa lain wak-tu ya," suara ayah beranak satu, mulai kembali parau dan terbata.
"Thanks Sa-yang. Sudah menemani dua hariku dengan sempurna ... jaga diri ya, Dila. Love you so much, Honey," ucapnya lagi berusaha meneguhkan hati.
Bayi gemuk dalam gendongan Ezra pun telah berpindah tangan. Shan menangis, meronta tak ingin berpisah. Ia tahu, ayahnya akan kembali pulang dan tak akan berjumpa dalam waktu dekat.
Dila terisak melihat Shan gelisah. "Baby, kita akan ketemu ayah lagi, lain waktu. Kuatlah dengan Bunda. Ok?"
Ezra tak kuasa menahan bulir bening yang kembali muncul di ujung netranya. Dia menciumi semua bagian tubuh putra semata wayang itu dengan sayang, meninggalkan tetes air di pipi chubby membaur dengan tangisan kencang Shan yang juga membelai wajahnya.
Suara announcement menggema, memanggil para penumpang untuk segera boarding.
Shan kecil terus meronta dalam gendongan Dila, dia menangis semakin kencang kala Ezra menyeret kopernya menjauh dari mereka.
Jangan tanya bagaimana perasaan ibu kandung Shan. Keputusan ini membuat duka tertoreh di hati ketiganya.
Dila hanya mampu mendekap bayinya erat. Hatinya sakit, melihat Shan begitu mudah mengenali sang ayah kandung. Saat dia akan melangkah menjauh, Ezra kembali, memeluk keduanya terakhir kali.
"Kuatlah Sayang, untukku dan Shan."
"Love you Abang, so much." Bisik Dila kala dalam pelukan. Sebaris senyum muncul terukir di bibir Ezra.
Putra Emery melepas dekapan, menenangkan Shan. Lalu perlahan, dia melambai pada keduanya. Kali ini hatinya lebih tegar dibanding tadi, berbekal kata cinta dari Dilara, wanita yang berhasil membuat hidupnya jungkir balik, terlambat menyadari bahwa dialah cinta yang selama ini Ezra cari.
"Bye, Sayang. Love you, both of you...." seru Ezra seraya melambaikan tangan semakin jauh. Sosok yang ia cinta itu perlahan menghilang.
Shan seakan kehilangan sesuatu, dia meronta gelisah. Hingga pesawat yang membawa Ezra terbang, mengudara. Dila mengajak Shan melambai dari ruangan kaca didepan gate.
"Bye Daddy, Shan will be miss you and Shan love you so much, gitu kan maunya Shan? bilang sama daddy, kalau Shan sayang Ayah?" lolos lagi, bulir bening membasahi wajah.
Bayi gemuk dalam gendongan Dila menengadah menghadap wajah sang Ibu. Dengan sorot mata teduh yang ia bagi, kini Shan berangsur tenang. Dia mendekap Bundanya dengan sayang, menempelkan kepala di dada Dilara lalu memejamkan mata.
__ADS_1
Entah, hanya perasaan Dila saja atau halusinasi. Shan menangis dalam diam, ada satu tetes butiran bening di sudut matanya yang kecil.
Wanita muda dengan bayi lucu itu pun melangkah gontai keluar Bandara, kembali ke tempat tinggal semula, berharap dapat menjalani hari berat yang akan mereka jelang.
...***...
Belahan bumi lainnya, Jelang dini hari.
Wanita seksi berada dalam ruangan gelap sebuah kamar hotel itu berhasil menyelinap keluar, setelah ia melakukan penawaran dengan salah seorang pria yang berhasil dia goda.
"Susah payah keluar dari sini. F-uckk Ezra, hampir empat bulan aku disekapnya. Aku akan pulang dan menyusun rencana baru. Abdeen, tunggu pembalasan ku." Cheryl bermonolog, seraya kakinya melangkah cepat menuju basemen hotel dimana mobilnya berada.
"Si tua Smith semoga sudah mampus perlahan, atau bahkan mengalami disfungsi e-re-ksi, hingga aku dapat dengan mudah terbebas darinya," senyum menyebalkan tergambar di wajah ayu sang putri sulung Patrick Chedi, pengusaha kargo internasional itu.
Baru saja ia berhasil keluar dari jeratan Ezra, tiba-tiba.
Ciiiiittt.
Mobil sport mewahnya dijegal sekelompok orang berjas hitam, yang turun dari mini van.
"Enggak, aku tidak akan kembali pada Abdeen." serunya seraya menginjak pedal gas menerobos barikade mobil yang menghadangnya.
Suasana Jakarta pada dini hari yang lengang itu seketika berubah menjadi mencekam. Kedua mobil saling salip menyalip menghindari benturan dengan lainnya.
Braaakkkkk. Dhuaarrrr.
Cheryl kehilangan keseimbangan, body belakang mobilnya menyenggol bumper depan kontainer saat ia memaksa masuk menghindari kejaran mini van.
Mobil sport merah itu terguling dua kali hingga berhenti membentur marka jalan. Lalu lintas mendadak semrawut akibat laka lantas.
"Hubungi ambulance," seru suara seseorang.
Wushh, booom.
"Minggir, minggir."
.
.
...________________________...
__ADS_1