
Ezra baru tiba di apartemen saat Sonny mengatakan tentang kecelakaan yang menimpa mantan istrinya.
Reaksi yang di berikan pimpinannya itu sungguh di luar dugaan. Ezra mengatakan akan menjenguk jika dia telah lebih segar. Dirinya juga meminta pada Sonny agar membawakan semua pekerjaan yang tertunda. Ezra masih enggan menginjakkan kaki di kantor untuk satu minggu ke depan.
...***...
Enam bulan berlalu, Australia.
Wanita berusia awal dua puluh tahun sedang menata semua perlengkapan milik mereka berdua. Sebagian telah dia kirimkan ke Surabaya, menitipkan pada Mahira.
Dila berencana akan menetap sementara di sana, mengenalkan Shan pada lingkungan kampung halamannya. Karena rumah Ibu masih tetap terawat berkat bantuan sang sahabat, Mahira.
Semenjak Ezra memberikan laptop padanya di hari mereka berpisah enam bulan lalu, Dila merasa bahwa benda itu bukanlah sesuatu yang biasa.
Meski suaminya tak mengatakan apa keistimewaan benda berbentuk kotak yang kerap ia gunakan. Namun Dilara mengerti, dirinya akan selalu menyalakan laptop milik sang suami saat hanya berdua didalam kamar dengan Shan.
Seperti saat ini. Mereka melambaikan tangan ke arah kamera, mengajak Ezra berbicara seakan tengah mengobrol bertiga.
Sesekali batita itu bertanya, disela aktivitas Dilara packing saat ini.
"Where is Daddy, mommy? kenapa ayah masih gak sama kita? why mommy," ujar Shan.
Bayi berusia tiga belas bulan itu telah lancar bicara, meski kosakatanya belum banyak, tapi Shan sudah dapat mengutarakan apa yang dia rasa.
"Bunda Shan, not Mommy," ralat Dila. Kebiasaan Kesih mengajarkan sebutan Mommy, berimbas pada Shan yang kesulitan membiasakan panggilan Bunda.
Dila menjelaskan sebisanya dengan bahasa yang Shan pahami, hingga satu pernyataan lolos dari mulut mungil itu.
"I remember, Mommy tried to make it work here with me ... for my Dad, its that true?" ucap Shan pilu. (aku ingat, Bunda mencoba melakukan sesuatu agar ini dapat berhasil, dengan ku disini ... untuk ayah, benarkan?)
Wanita muda itu menatap kamera laptop, meminta kekuatan dari Ezra untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Sure. With me, and eventually, for yourself, Son," balas Dila lembut mengusap bahu putranya. (Dengan ku, dan pada akhirnya semua ini untukmu, putraku)
"I do not have much memories with Daddy, can we meet again, someday Mommy? seperti yang pernah Mommy bilang" cecar putra Ezra.
"Oh, Abang, anakmu sangat kritis ... tentu Sayang, kita akan jumpa dengan Ayah lagi. Beri Ayah kiss, terbaik dari Shan ... lepas ini kita bikin konten ya, agar Ayah bisa lihat Shan. Ngajinya sudah Ok belum, kan nanti mau test dengan syech di Dubai," balas Dila, masih merapikan koper mereka.
__ADS_1
Shan meminta Bundanya membuka satu folder disana. Istri Ezra merasa, anak mereka mempunyai kemampuan diatas usia sebaya. Sehingga Dilara getol memberikan berbagai stimulasi, baik pengajaran bahasa, aktivitas keseharian ataupun motorik lainnya.
"What are you looking at, Shan?" tanya Dila melihat putranya masih belum mengambil wudhu.
"My picture, with my Dad. He's nampan, seperti aku, yah," Shan tersenyum lucu, kedua telapak tangannya menutup mulut mungil kala tertawa.
Dilara tersenyum simpul mendengar ocehan Shan. "Tampan, bukan Nampan. Nampan itu baki," sambungnya meralat ucapan sang putra.
"Baki itu apa? cookies?" tanya Shan lagi dengan wajah polos, matanya mengerjap dua kali tanda ia heran.
Dilara tertawa melihat mimik menggemaskan wajah putra sulungnya itu.
"Abang, putramu," ucap Dila disela tawa ... "Baki itu sejenis peralatan dapur untuk membawa makanan atau minuman. Seperti yang suka Mbak Kesih bawa jika akan memberikan botol susu Shan, did you see that?" ungkap Dila, bayi mungil itu hanya mengangguk. Entah dia paham atau tidak.
"Come on, ngaji dulu. Doakan Ayah agar selalu sehat," putri Ruhama, menarik perlahan lengan bayi gemuk berusia lebih dari satu tahun, turun dari ranjang mereka menuju bathroom.
Shan melepaskan cekalan tangan Bundanya, berbalik lari ke hadapan laptop dan memberikan ciuman sayang untuk sang Papa.
"Ayah." C-up.
Istri Ezra dibuat takjub oleh perkembangan putranya. Dia sangat cepat bertumbuh, menangkap segala sesuatu yang di lihat, dengar bahkan temui. Dilara terkadang kerepotan menjelaskan apa yang putranya ingin ketahui.
Ezra banyak melakukan sesuatu tanpa ia minta. Meski raga tak bersama, namun pria itu memegang janji terus menjaga keduanya. Bahkan ikut andil, dalam mendidik Shan.
Saatnya mengaji.
"Baca Bismillah yang betul, seperti yang Bunda ajarkan," ucap Dila saat keduanya telah menghadap pada mushaf di hadapan.
"Bismillahi. Ini ada lafadz jalalah, Allah, dibaca tipis ya Shan, karena ada harokat kasroh ... Arrohmaani, ini ada huruf alif lam, dinamakan alif lam syamsyiah ... dibaca melebur menjadi satu, pada huruf ro, di depannya ... Arrohman. Paham sampai sini? ucapkan...."
Batita tampan itu mengangguk. "Bismillahirrohmaan, gitu?"
"Good Boy, lanjutkan sama kala menghadapi Arrohiim ... hati-hati panjang bacaan akhir ya Shan. Mad aridh, dibaca?" Dila mereview pelajaran tajwid sebelumnya.
"Dua sampai empat atau enam harokat ... Bismillahirrohmaanirrhiiim ... mom, aridh itu apa, aku lupa," senyum Shan malu-malu.
"Ayah tahu gak? coba tanya?"
__ADS_1
"Dad, help me please." Tatapnya pada layar laptop yang masih menyala.
"Huruf mad itu kemarin Bunda ajarkan ada tiga ya Shan ... wawu sukun setelah huruf berharokat dhommah, ya' sukun setelah huruf berharokat kasroh dan alif sukun setelah huruf berharokat fathah ... mad aridh itu memanjangkan bacaan jika bertemu dengan huruf bersukun sebab adanya waqaf (berhenti) di akhir ayat."
"Paham Shan? bilang Bunda jika belum ngerti, kita ulang lagi. Ok?"
"Shan Ingat. Iya," balasnya lirih, tanda dia sedang berpikir.
"Nah tadi kan Arrohiim ... ujung, kalau Shan mau mewaqofkan, atau berhenti maka hukumnya menjadi mad aridh lisukun."
"Bingung ya?" tanya Dila melihat sang putra diam.
"Little bite, but Shan pasti ingat," senyum manis wajah gembul itu merekah.
Dilara mengusap kepala tertutup peci putih kecil itu lembut dengan telapak tangannya.
" ... huruf hidup dalam satu kalimat menjadi dibaca mati karena tanda waqaf. Kita pelan saja ... lanjutkan bacaan Shan, hati-hati saat mengucap huruf Dho, Bunda dengarkan lebih dulu Al Fatihah versi Shan."
Dila paham, belum cukup usia bagi Shan belajar tajwid hal berat begini, namun usia dua tahun nanti sang putra akan menjalani aktivitas yang hanya penuh dengan jadwal mengaji, itulah kenapa, Dilara sedini dan sesabar mungkin menjejali Shan dengan tajwid dasar.
"Ok, moms. Shan mau kasih Mommy, tiara, pearl eh diamonds nanti." Batita kecil mulai melafalkan bacaan surat yang Dila minta.
Netra mana yang tak mengembun melihat putra sekecil itu namun telah banyak mengerti banyak hal. Mungkin pola didik saat orang tuanya terpisah lah, membuat Shan kecil memiliki rasa yang komplek. Dia peka, cerdas dan bawel, khas anak yang baru bisa lancar bicara, semua hal tak luput dari pertanyaan.
Namun yang membedakan hanyalah, ungkapan Shan sering tidak terduga, apalagi jika berkaitan dengan Ezra.
"Why my Daddy, hanya menggambar setiap hari? bukan bekerja seperti di kantor Mommy?"
atau "Kenapa Ayah tidak menemui Shan, apa Ayah malu dengan Shan, juga Mommy because telinga Mommy ada tambahan? like elf."
Bahkan pernah Shan berkata, "Apa Ayah tak punya uang, untuk bertemu Shan?"
.
.
..._____________________...
__ADS_1
...Shan, kamu gemesin 😌...