
"Ini, maksudnya Abang? sama aku?" Gadis ayu yang masih meragu itu sekali lagi membaca kalimat akhir.
"Berat meninggalkanmu...."
Bukannya melanjutkan isi surat yang masih terdapat beberapa kalimat tersisa, Dilara justru tanpa sadar meremas kertas yang ia pegang.
Entah rasa apa yang hadir dalam hatinya, ia memejamkan mata, mendekap erat kertas itu seakan tak rela bila angin yang mulai berhembus kencang akan membawanya terbang.
"Jadi Abang, gak benci kita?" gumam Dila, bibirnya mengucap banyak sholawat. Menekan tuts tasbih digital yang kerap melingkar di telunjuk kanannya.
Setelah debaran jantungnya mereda, sesak karena bahagia pun mulai surut. Dila kembali membuka matanya, memegang erat lembaran berisikan tulisan sang suami.
"Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, Dila. Termasuk rencana untuk memeriksakan kondisimu ke USA, apakah bisa dilakukan tindakan medis sehingga kamu lebih mudah untuk mendengar atau opsi lainnya."
"Dilara Huwaida, aku minta maaf atas segala sikapku. Mungkin aku belum bisa mengutarakan kata cinta, tapi terimakasih kamu sudah banyak berkorban untukku."
"Semoga saat aku kembali nanti, hubungan kita lebih baik dari sebelumnya. Tunggu aku pulang ya, Dila Sayang."
"Wassalamu'alaikum."
Lama, istri Ezra ini memandang paragraf yang tersusun apik.
Bahunya bergetar halus, ia terisak, menekuk lutut dan menyandarkan kepala yang tertutup pashmina di atasnya.
"Apakah benar yang Abang tuliskan? bukan sekedar menghiburku bukan? tapi terimakasih ya Robb, Engkau memberikan seberkas bahagia dikala hati ku ingin menyerah," lirih Dila di sela isakan.
Bi Inah yang sedari tadi berada di balik tembok, mendengar semua ucapan, keluhan Dilara atas hubungan mereka.
"Yang teguh kalian berdua, saling percaya. Ujian rumah tangga ini memang dimulai karena minim komunikasi sejak bermula ... Ezra bagai anakku, bahkan dia lebih mendengar semua perkataanku dibanding Ayahnya ... dia pria baik, Dila ... sangat baik, meski disakiti pun jika ibunya datang meminta sesuatu, pasti dikabulkan meski ia membencinya ... anakku pantas mendapatkan bahagia."
"Za, Bibi akan ikut berjuang denganmu kali ini ya Nak, lekas pulang dan temui anak istrimu, kukuhkan lagi hubungan baik dengan wanita sholihah ini," Bibi ikut menitikkan air mata yang hampir tak pernah menetes sejak ia melihat wanita itu meninggalkan Ezra dan Mita kecil.
"Sudah lama sekali, aku bahkan lupa bagaimana irama menangis yang enak ... ck, Inah, ikutan drama. Ayo, semangat bantu kedua anak itu bahagia, Inah." Bibi menyemangati dirinya sendiri seraya beranjak dari sana.
Menjelang Maghrib.
Bibi memanggil Dila yang masih berada di balkon. Tangannya membawa sweater milik Ezra sebelum di minta.
"Non, masuk mau maghrib dan anginnya kenceng banget. Ini dipakai biar hangat terus naik gih, sholat di atas," ujar Bibi seraya memakaikan sweater ke tubuh Dila.
__ADS_1
"Ke atas? kenapa?" tanya Dila heran.
"Ya kali kangen ama bau suaminya, pintu kamar Den Ezra gak dikunci," ujarnya lagi.
Dila hanya tersenyum, enggan menanggapi meski ingin. Dia malu.
"Eh, ini punya Abang?" batin Dila.
Hatinya sedang berbunga-bunga, ia menghirup wangi parfum suaminya lalu masuk ke kamar bersiap melakukan sholat maghrib.
Dila akan memulai rutinitas barunya dalam berdzikir, membaca Al-Quran juga doa selama awal kehamilan.
"Aku masih belum bisa sempurna melafalkan waladdholliin, susahnya ... sedangkan al-fatihah adalah surat utama untuk segala hal, sebagai penyembuh juga...."
"Pantas saja Nyai Syuria selalu menegur untuk huruf satu ini, ternyata Dho, adalah huruf yang susah di lafalkan selain 'ain."
"Nyai bilang ... tidak ada huruf hijaiyah yang lebih panjang makhrojnya dari pada huruf ini, dan tiada yang lebih sulit diucapkan selainnya ... meski sebagian ulama berfatwa bahwa orang yang keliru mengucapkan huruf dho dima'fu karena yang bisa mengucapkan huruf dho dari kedua belah sisi hanya : Rasullulah, Umar bin Khottob & Ali bin Abi Tholib." Dila berusaha mengingat pelajaran mengajinya langsung dari sang Nyai. Kala kegundahan itu kembali datang.
"Dila, ngaji itu amalan yang baik, makhrojl huruf ya wajib namun jika kamu kesulitan dan adaa kekurangan, Allah maafkan dan Allah langsung yang akan menjaga bacaanmu, asal istiqomah," tutur sang Nyai.
Dila kembali memperagakan cara membaca huruf Dho.
Ujung lidah ditempelkan dengan ujung gigi seri bagian atas, adapun cara pengucapannya, ujung lidah sedikit keluar, seperti Dza, namun tebal (Dho). Dilara kesulitan karena penjelasan Nyai yang mengatakan bahwa Dho adalah jenis huruf al-lisan (lidah), tempat keluar bunyinya dari pangkal tepi lidah.
Berulang-ulang Dila berusaha semaksimal yang ia mampu, hingga adzan maghrib terdengar, istri Ezra pun bersiap sholat.
Setelah tiga rokaat ditunaikan, ia melantunkan dzikir lalu melanjutkan dengan beberapa bacaan surah khusus untuk ibu hamil termasuk surat yang sulit baginya. Al-insyiroh.
"Bismillah, demi Adek. Bunda giat belajar makhrojl huruf dan tajwid lagi...." tekadnya kuat.
Ba'da isya, Bi Inah memberanikan diri mengetuk pintu kamar nyonya mudanya. Karena sejak maghrib dia mendengar gadis itu getol membaca Al-Quran, Bibi sungkan bila menganggu.
Tok. Tok.
"Non, makan dimana?" suara lembut Bibi memanggil Dilara.
"Di meja makan, bentar Bi, aku bereskan ini dulu." Dila menulis, menyelipkan catatan dari belah pintu seraya merapikan mushaf juga perlengkapan sholatnya.
"Ok, jangan lama-lama ya," ujar sang asisten rumah tangga kepercayaan El Qavi.
__ADS_1
Tak berapa lama, ia pun keluar kamar menemui Bibi di pantry. Bau harum masakan wanita sepuh itu menguar memenuhi rongga indera penciumannya.
"Dihabiskan ya, ini kesukaan Dengan Ezra," ujar Bi Inah menyodorkan sepinggan tumis bayam juga telur dadar yang diirisi isian cabe rawit.
"Abang, doyan begini?" tanya Dila.
Bi Inah hanya mengangguk, ia sudah lama tak memasak untuknya.
"Non, sekarang kalau bicara sudah lumayan tegas ya, belajar dimana?" tanya Bibi.
"Kursus online, mentornya dari Australia. Pake bahasa Inggris tapi kadang aku gak ngerti, jadi cuma bisa lihat cara di video saja." Tulis Dila panjang sembari menunggu makanannya hangat agar aman disantap ketika menyentuh lidahnya.
"Pantesan ... besok kontrol ke dokter yuk. Bibi penasaran pengen lihat bayi di perut. Kan jaman Bibi gak ada begituan ... ya," bujuknya lagi.
"Iya, nanti aku daftar dulu ya Bi, kan sekarang kalau mau ke rumah sakit harus daftar online." Dila kembali menulis.
"Oh gitu, Bibi gak paham. Non Dila bisa daftarnya?"
"Bisa donk. Nanti pilih dokter wanita biar Abang aman." sambungnya lagi dibawah kalimat awal.
"Aman?" Bibi terheran.
"Kan Abang gak ada disini. Kalau periksa kan disentuh, di lihat, aurat. Jika masih ada dokter wanita, usahakan begitu. Kecuali urgent, mendesak, genting nah baru, di bolehkan dengan izin dan redho suami."
"Gitu ya ... Non Dila menjaga itu?" ucap Bi Inah lagi.
"He'em ... aku sudah boleh makan?" tanya Dila malu.
Bibi mengangguk. "Deeen, makan juga ya," seru Bibi.
Dilara heran, Bibi bicara lantang entah ditujukan untuk siapa. Tapi dia tak ambil peduli, cacing diperutnya sudah sangat meronta minta diisi.
...*...
"Makan yang banyak, Sayang," Ezra menutup panggilan dengan pengasuhnya.
.
.
__ADS_1
...__________________________...
...Jangan lupa, hadir maulid yaa... ...