
Kedua pria yang berada di dua tempat berbeda, melakukan sebuah ritual berlainan. Ezra membantu Dilara turun dari brangkar setelah melewati masa observasi menuju bathroom sedangkan Rolex mengurus pemakaman pria asing dan memikirkan dimana gadis belia itu akan tinggal.
Rumah sakit.
"Mau mandi wiladah," lirih Dilara setelah belajar menyusui.
(Wiladah dalam bahasa Arab artinya melahirkan. Cara mensucikan diri seorang wanita dari hadats besar atau darah yang dikeluarkan saat melahirkan. Hukumnya wajib, dengan niat nawaitul ghusla lirof'il hadatshil wilaadatii lillahi ta'ala).
"Ayo aku bantu, setelah ini cerita apa yang Bibi sampaikan kemarin. Dua hari lagi kita pulang," balas Ezra kemudian.
Sang pengasuh tuan muda, masih belum bisa banyak bergerak. Dia hanya mampu mendengar suara di sekitar. Kabar mengenai kematian Ruhama juga kelahiran putra anak asuhnya sukses membuat hatinya luluh lantak dengan dua perasaan yang bergolak.
Dalam hatinya menyesal juga bersyukur ia masih di berikan kesempatan hidup untuk menebus segala kesalahan atas peristiwa ini. Serta terharu melihat majikannya selamat akibat tak meminum cairan itu.
Satu pekan berlalu.
Karena banyaknya insiden, Emery memutuskan menggelar aqiqah cucu pertamanya juga peringatan lebih dari sepekan Ruhama berpulang, di Jakarta. Dia dan Mita telah tiba sejak kemarin.
"Siapa namanya Dila?" tanya Sang mertua pada menantu saat akan menggendongnya.
"Kata Abang, El Shareef, agar Allah memuliakan juga supaya adek mempunyai sifat jujur," jawab Dila meski masih samar pelafalan R dan L nya.
"Maa sya Allah, aamiin. Ezra mana? gak kelihatan?"
"Keluar, siapin ballroom Pa, dengan Rolex karena tamu sudah banyak yang datang. Kita juga di minta ke bawah, acara mau mulai. Biar Bibi, aku yang dorong. Velma bisa dorong kursi roda Kak Dila," jawab Mita mewakili iparnya.
"Aku, bisa jalan meski pelan." Dilara menolak diperlakukan khusus. Akhirnya Mita bertukar posisi, gadis manis itu yang menggandeng istri kakaknya turun ke lantai dasar.
Selama acara, netra bulat Nyonya Qavi memindai sekeliling. Ia khawatir apakah ada Anastasya atau sejenis ular cantik lainnya hadir di acara mereka. Ibu muda itu mendekap erat Baby El meski pengawalan terhadap mereka cukup ketat.
Bahkan ketika Ezra meminta bergantian menggendong, Dila menolak halus. Tidak ada yang bisa dia percaya sekalipun Ezra.
Hatinya masih resah, ia menyimpan rapat apa yang Bibi ucapkan malam itu. Menunggu situasi tenang meski suaminya kerap menanyakan.
Seketika, ingatannya kembali ke masa saat Ruhama berpulang.
"CCTV telah aku periksa, namun dia cerdik, wajah dan posturnya selalu tertutupi, belum dapat dipastikan apakah itu Cheryl atau lainnya," Rolex berujar pada Ezra setelah insiden.
Kala itu Dila samar mendengarnya. Kedua pria berbicara menjauh saat dia masih menangisi jenazah almarhumah sebelum peti di tutup. (bab 76)
Kini, hatinya menyimpan dendam. Diam-diam dia menyelidiki melalui laptopnya, siapa sosok Anastasya, kala Ezra tidur.
"Sayang, mikirin apa sih? daritadi kelihatan murung?" bisik Ezra membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Enggak apa, kangen Ibu," jawab Dilara dengan raut wajah sedih. Tak banyak yang bisa lelaki itu perbuat saat ini, dia hanya memberikan pelukan hangat bentuk dukungan untuk istrinya.
Menjelang dzuhur semua acara sudah selesai, keluarga El Qavi kembali ke Unit hunian mereka.
Malam nanti sang mertua juga adik ipar akan kembali ke Surabaya, namun Velma tinggal di Jakarta untuk menemani Dila selama Bi Inah belum pulih.
Seperti kebanyakan malam para ibu menyusui, saat baru saja memiliki bayi mungil, Dila kerap terbangun saat putranya lapar.
Ezra setia menemani kedua orang yang ia sayang meski terkadang kantuk mendera. Banyaknya pekerjaan, tuntutan para pegawai yang merajalela membuat CEO El Qavi itu lelah berkali lipat.
"Kalian obat segala letihku," ucapnya saat baru pulang menjelang pukul dua pagi.
Akhir-akhir ini komunikasi mereka kembali tersendat. Dilara asik dengan dunia barunya sedang Ezra sibuk menyelesaikan berbagai konflik internal perusahaan. Lelaki itu berkeinginan melakukan babymoon setelah Dila suci dari nifas nanti, sehingga dirinya memaksimalkan kinerja saat ini.
Malam-malam selanjutnya, kesibukan Ezra makin menjadi meski pria itu tak pernah melewatkan segala perkembangan kondisi penghuni rumahnya.
Sang Nyonya memang tidak pernah protes. Justru kian rapat mengunci mulutnya. Dilara hanya akan bicara seperlunya pada Ezra. Ada baby El sebagai pelipur lara, setidaknya itu yang ada di pikiran gadis abege yang baru menjelma menjadi Ibu.
Saat El tidur lebih awal. Putra Emery mengajak istrinya bicara di atas ranjang mereka.
"Dila, maaf yaa. Aku sangat sibuk, tapi semoga ini bisa mengikat dan mencerminkan hubungan kita. Jangan pernah lepaskan apapun keadaannya nanti ... karena benda ini dapat melindungimu," ucap Ezra saat menyematkan sebuah cincin di kelingking kanan Dilara.
"Aku juga pakai dan takkan pernah ku lepas. Kamu istriku satu-satunya, happy first anniversary Sayang. Meski sudah kelewat," imbuhnya lagi, ada banyak penyesalan disetiap kata yang dia ucapkan. Ezra sangat rindu suara Dilara yang jarang didengarnya belakangan ini.
"Say something. Aku banyak salah ya sama kamu sampai enggan bicara denganku," keluh Ezra ketika melihat istrinya masih bungkam.
"Pekan depan, kita pergi ya. Liburan dengan El juga," bujuk Ezra lagi, seraya memperlihatkan dua buah perhiasan custom yang baru saja rampung di pesan.
"Iya."
"Suka?" tanya Ezra saat membuka dua box aksesoris mahal hadiah untuk istrinya itu.
Dilara hanya tersenyum, menyentuh dua buah gelang set dengan cincin berlian yang indah.
"Maafkan aku ya, Sayang."
"Abang gak sa-l-ah ... hmm aku ngantuk. Maaf tidu-r du-l-uan," balas Dila. Dia tidur menyamping membelakangi sang suami.
Ada yang salah dengan istrinya, Ezra yakin itu karena sikap Dilara mencerminkan seakan dia membenci seseorang.
Satu pekan masih dengan kehampaan, berlalu begitu saja.
Ezra masih berkutat dengan segala kesibukannya. Hingga Dila siang ini harus rela pulang dengan Rolex dan Velma setelah kontrol ke rumah sakit.
__ADS_1
"Singgah di masjid dulu. Aku mau sholat di sana, agar hatiku tenang," pintanya pada Velma saat mobil mereka melintasi sebuah masjid megah.
Rolex menepi, masuk ke parkiran masjid agung yang letaknya dua blok dari PIK Tower.
Saat baru melepas alas kaki, sebuah suara menyapanya.
"Dilara bukan ya?"
Nyonya Qavi menengok ke arah sumber suara.
"Iya ... kamu? Rengganis kan? santriwati pemenang kedua saat lomba tilawah di pondok Nyai Syuria?" seru Dila dengan wajah bahagia.
"Iya dan kamu pemenang BTQ terbaik kategori menulis kaligrafi dengan khat tsuluts yang sangat indah," balasnya tak kalah antusias.
"Alhamdulillah bertemu kawan lama, kamu tinggal di sini? dengan siapa?" tanya Dilara menyambut pelukan sahabat lama.
"Suamiku, dan kau pasti mengenalnya," jawabnya malu seraya mengurai tautan tubuh mereka.
"Siapa?"
"Assalamu'alaikum, Dila ... sudah ku bilang saat kita bertemu di rumah sakit, kamu akan terkejut jika mengetahui siapa istriku," suara seorang pria menghampiri keseruan para wanita.(bab 48)
"Wa'alaikumussalam. Beliau suamimu?" tanya Dila memastikan.
"Iya," balas Rengganis.
"Wah bayi? laki-laki ya? aku juga baru lahiran dua bulan lalu," tanya kawan lamanya saat melihat Velma memberikan baby El pada sang Nyonya.
"Dek, ditunggu sekretariat. Lekas ke sana yuk," ajak ustadz Zaky pada istrinya.
"Eh maaf ganggu jadinya," ujar Dila sungkan.
"Kami kerja disini Dila. Main yaa kapan-kapan. Kita butuh support nih, ada banyak anak dengan kebutuhan khusus seperti mu disini yang butuh bantuan," imbuh Rengganis di ujung pembicaraan.
"In sya Allah," jawab Dila melepas mereka, orang-orang yang ia kenal baik saat di kampung.
"Nona, ayo...."
.
.
...___________________...
__ADS_1
...Nulis kaligrafi itu tekniknya macam2. Khat paling dasar disebut khat Naskhi. Dirinya mudah dibaca karena bentuknya tak jauh beda dengan tulisan Arab pada umumnya. ...
...Nah kalau Khat tsuluts, khat yang dipakai oleh mereka yang telah pandai menulis dengan khat naskhi. Sering dianggap sebagai khat kelas menengah karena gak gitu sulit atau mudah. Banyak digunakan untuk hiasan dinding karena keindahannya. ...