SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 59. MENCOBA LAGI


__ADS_3

Ezra tak sengaja tertidur di kamar setelah dirinya sholat berjamaah dengan Dila subuh tadi, hingga ia pun melewatkan waktu sarapan.


Rolex terpaksa berkali mengetuk pintu kamar yang tak kunjung membuka. Sebab ia butuh tanda tangan pemilik EQ Building itu pagi ini. Dirinya memang telah berpesan tak masuk kantor sehingga banyak berkas yang harus aspri nya itu siapkan.


Tok. Tok.


"Bos, sign please. Aku sudah terlambat meeting pagi awal kita kembali," serunya dari depan pintu kamar.


Senyap.


Pria ber setelan serba hitam masih setia menunggu.


"Bos!" serunya lebih lantang.


"Eengghh, Lex?"


Terdengar suara parau dan lemah milik Ezra dari dalam kamar.


"Iya, ini aku. Sudah siang Bos. Nyonya nungguin loh," pancing nya lagi agar sang pimpinan lekas bangun.


Hening.


"Jam berapa ini?"


"Hampir pukul sembilan pagi. Come on, Bos!" Rolex kembali mengetuk pintu kamar.


"Whatttt! DILA!" Ezra lupa, ia baru menyadari kesalahannya, lagi.


Terdengar oleh Rolex suara bedebum langkah menuju pintu. Ezra membuka pintu sekaligus menabrak Rolex yang tengah berdiri didepannya.


Brugh. Sraak.


"Bos! berkas ku!" teriak Rolex terhuyung, tumpukan berkas di tangannya jatuh berserakan.


Suami teledor menantu Ruhama tak memedulikan umpatan asisten pribadinya. Ezra berlari menuruni tangga menuju ruang kerja, namun tak ia dapati Dila di sana.


"Bi? Dila?" tanyanya cemas masih dengan muka bantal yang kentara, saat melintasi area dapur.


"Ngaji, di kamar."


Ezra melanjutkan langkah mendekati kamar istrinya. Di menit berikutnya, ia kembali pada Bi Inah yang masih setia di dapur.


"Tapi sunyi, gak ada suara," ucapnya lagi.


"Bos, sign. Berkas ku berantakan gara-gara Anda tadi," Rolex akhirnya menarik sekuat tenaga lengan Ezra menuju ruang kerja, mendudukkan sang pimpinan di kursi kebesaran.


"Baiknya Anda mandi dahulu, agar ketika bertemu Nyonya, sudah wangi Bos. Gak kucel macam tuh," ujarnya memberi saran, menyadarkan pria yang selalu terlihat sempurna agar tak melupakan kebiasaannya.


"Mana yang harus di tanda tangani?" sahutnya tak memedulikan saran Rolex.


Asisten sekaligus sahabat kecilnya itu menyerahkan beberapa tumpukan berkas, permohonan kerjasama juga kontrak kerja lainnya.


Netra tajam milik Ezra seketika membola tatkala jemarinya meraih sebuah map berisi sebuah undangan. Tak salah bacakah ia?

__ADS_1


"King Abdeen?" tanya Ezra pada sang aspri.


"Hmm, itu nanti di wakilkan olehku juga tak mengapa, Bos."


"Jangan, aku akan mengajak Dila ke acara ini. Gak formal kan? hanya acara barbeque santai," pikirnya lagi meminta kepastian pada Rolex agar lebih dulu menyelidikinya.


"Akan aku pastikan. Lanjut Bos," pinta Rolex agar Ezra mempercepat pekerjaannya.


Tiga puluh menit berlalu. Sejak Rolexander meninggalkan hunian dilantai sepuluh. Ezra kembali naik ke kamar, melakukan apa yang disarankan oleh asistennya itu.


Kini dia telah rapi, turun dari lantai dua memakai setelan trouser khaki dengan kemeja lengan pendek coklat tua, menyambangi kamar Dilara.


Tok. Tok.


"Dila. Bisa kita bicara sekarang?" Ezra menyelipkan catatan dari celah pintu bagian bawah.


Lama dia menunggu di sana, hingga Bibi menegur.


"Mata gimana sih? itu Non Dila, di ruang tamu, lagi kerja. Sarapan belum Den?" tegur Bibi.


"Belum, tolong bawakan ke depan ya Bi," pintanya sambil lalu.


Saat mencapai pintu ruang tamu, Ezra berhenti. Dia terheran melihat Dilara mengenakan earphone di kepalanya.


"Apakah dia sudah bisa mendengar, memakai alat bantu?" batin Ezra.


Perlahan tubuh tegap yang terbalut pakaian branded itu duduk di sofa. Mengagetkan gadis ayu dengan homy dress motif floral dan hijab hijau tua yang tengah duduk di lantai.


"Den, sarapan ... Non, vitamin tadi belum diminum." Bi Inah menyodorkan dua baki dengan isi berbeda untuk kedua majikannya.


Setelah pembantu rumah tangga itu pergi. Ezra memulai menulis sesuatu. Mengabaikan sarapan yang di letakkan di atas meja.


"Dila, terimakasih telah berkorban banyak untukku. Maaf jika harus menanggung akibat yang mungkin kamu enggan menjalani pada awalnya ... Aku menerima darah dagingku, tak pernah berniat sekalipun memintamu menghilangkannya apalagi mencampakkan kalian berdua. Kita akan merawatnya bersama-sama, mau kan?"


" Kepergianku ke China bukan menghindarimu. Larangan bagi Mita agar tak berkunjung kemari pun bukan ingin mengekang, menyembunyikanmu dari keluarga namun karena aku tak ingin kamu tertekan bila dia mengetahui hubungan kita yang sebenarnya."


"Begitu banyak kesalahan yang dipicu olehku. Mulai dari niatan menikah hingga malam saat aku melanggar janji. Apakah aku selalu melukaimu?"


"Aku ingin memperbaiki semuanya. Masih bersediakah kamu menjadi istriku, Dilara?"


Ezra menuliskan banyak kalimat panjang. Ia lalu mendorong kertas di atas meja, pada gadis yang masih berkutat dengan pekerjaan seakan tak ada sosok lain di dekatnya.


Dilara membaca semua barisan kalimat di atas kertas, tanpa menyentuhnya. Dia kemudian memastikan keseriusan akan rangkaian kata itu dengan melihat ke wajah yang juga tengah menatapnya.


"Aku serius," ucap Ezra meyakinkan dengan sorot mata tajam nan berharap. Wajah tampan itu diliputi ketegangan, semakin menegaskan garis rahangnya.


"Beri aku kesempatan. Setelah itu, kau boleh pergi bila aku ingkar atas perilaku tidak semestinya atau tak dapat menjagamu dengan baik. Aku janji, gak akan mengusikmu lagi." Tulis Ezra di kertas kedua.


"Sayang, semua akan tetap seperti ini sampai kamu bersedia menerimaku. Aku gak maksa." Bujuk Ezra kembali menyodorkan kertas ketiga pada Dila.


Wanita yang hanya diam ini terlihat berpikir, nampak sangat hati-hati menimbang jawaban yang akan dia berikan.


Bagai menunggu punishment, Ezra gugup saat melihat Dilara mulai menulis.

__ADS_1


"Ok, untuk semuanya." Tulisan singkat wanita yang telah berhasil memporak-porandakan hati Ezra.


"Hanya ini?" tanya Ezra dengan mimik heran, tak percaya menatap Dilara.


"Iya. Buktikan saja dulu, Tuan." Sambungnya lagi di kertas lainnya.


"Ck, Sayang. Ko Tuan sih? gak enak banget," keluh nya saat membaca balasan tulisan di kertas baru.


"Ok lah, gak apa. Kita mulai dengan periksain adek yuk. Aku ingin melihat anakku langsung. Setelah itu, jajan jalan kemanapun kamu mau, aku temani seharian."


Dilara terdiam, sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Alhamdulillah, makasih Sayang. Aku makan dulu sambil nunggu kamu siap-siap. Jangan lupa bawa buku kontrol adek." Ezra sumringah saat menorehkan tinta hitamnya di atas catatan Dila.


Kakak ipar Ermita, lalu membenahi semua buku, juga peralatan penunjang kerjanya dari atas meja lalu perlahan bangkit dari duduk. Ia menampik bantuan dari suaminya itu bukan karena enggan namun sebab tak ingin mengganggu acara sarapan yang sudah sangat terlambat.


Setelah Dila pergi.


"AVT, kamu cerdas ya Dila. Menyembunyikan semua dariku sejak lama. Pantas saja, menolak semua pemberianku karena ternyata kamu sudah mandiri," gumam Ezra di sela kunyahan makanan, ia sekilas melihat buku, modul, berkaitan dengan kondisi istrinya itu.


"Mulai kini, semua keinginanmu akan aku ikuti, Sayang."


Beberapa menit dilewati dalam sunyi, hingga terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Sudah si-ap?" tanya Ezra terbata, saat ia menoleh ke arah wanita hamil yang begitu mempesona, meski dalam balutan gamis longgar berwarna khaki dengan pashmina menjuntai menutup dada juga punggungnya.


Dilara hanya mengangguk, ia menundukkan wajah saat tatapan mata pria yang masih duduk di sofa, tak melepaskan pandang darinya.


Ezra bangkit. Menghampiri sosok di hadapannya. Jemarinya mengangkat wajah Dila.


C-up.


"Cantiknya, istriku." Suami Dilara mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil nan menggoda pagi itu.


Ezra tersenyum melihat semburat rona merah terpancar dipipi istrinya.


"Yuk," ucapnya seraya meraih telapak tangan kanan Dila, menautkan dengan jemari kirinya.


Degh.


Degh.


Degh.


Dilara bagai boneka, pasrah mengikuti langkah tegap pria tampan miliknya itu. Jemari kirinya tanpa sadar menyentuh bibir, merasakan bukti nyata kepemilikan Ezra atas dirinya kini.


"Bolehkah aku memanggilmu, Abang?"


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2